
"Mas Kenan, aku sudah ada yang antar pulang, tapi minta tolong bilang supir untuk mengantar mobilnya langsung ke rumah." kata Nona via telepon pada Kenan.
"Kamu pulang sama siapa?" tanya Kenan penasaran.
"Cowok ganteng. Cepat bilang pak supir ya, nanti dia terlalu lama menunggu di lobby." Nona mematikan handphonenya.
"Ayo Pa." ajaknya pada Papa Baron lalu menggandeng sang Papa meninggalkan ruangan menuju parkiran. Bukan hal yang aneh bagi para karyawan melihat Nona bergelendot manja pada Papanya, si pemilik perusahaan.
drrrtttt....drrrtttt..... handphone Nona berdering, tampak nama Kenan dilayar.
"Kamu pulang sama siapa, ingat kamu tanggung jawab saya." tegas Kenan posesif. Suaranya terdengar sedikit emosi.
"Iya aman. Aku akan selamat sampai dirumah." jawab Nona
"Tapi siapa? ingat ya kalau cari pacar juga harus lolos seleksi saya."
"Kalau Papa setuju?"
"Tetap saja saya juga harus tahu cowok itu siapa selama Papa kamu masih menitipkan kamu sama saya." kata Kenan tak terima.
"Iya nanti aku kasih tahu. Sudah ya... eh Mas Kenan supir sudah dikasih tahu kan? Ongkos pulangnya bagaimana? khawatir dia sampai lebih dulu, suruh tunggu aku deh ya." kata Nona tanpa memberi tahu ia pulang dengan siapa, membuat Kenan penasaran.
"Tidak usah difikirkan ongkos pulangnya, aman. Kabarkan saya kalau sudah sampai dirumah."
"Iya."
Nona menutup sambungan teleponnya. Baron senyum-senyum saja mendengar percakapan Nona dengan Kenan.
"Pa, Mas Kenan itu lebih saklek dari Papa dan Deni." sungut Nona pada Papa, Baron terkekeh dibuatnya.
"Papa tertawa saja lagi." Nona tambah bersungut dibuatnya.
"Makanya cocok sama kamu yang suka ngeyel." jawab Baron santai, memasuki mobilnya, disusul Nona duduk disebelahnya.
"Kamu suka sama Kenan?" tanya Baron sambil perlahan melajukan kendaraannya.
"Suka." jawab Nona pasti.
"Tapi kalau dia tidak muncul, aku tidak bisa teror seperti ke Papa, Deni atau Samuel." sambung Nona mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa harus di teror? kalau Kenan tidak muncul ya sudah berarti dia sibuk. Kamu juga aman sama orangtuanya Kenan. Papa saja tenang jadinya." jawab Baron.
"Aku maunya Mas Kenan muncul tiap hari, memastikan aku baik-baik saja. Kan Papa menitipkan aku sama dia, malah aku dititipi lagi ke Tante Nina dan Om Dwi." protes Nona.
"Dia kan bukan suami kamu, kalau suami kamu ya muncul deh tiap hari." makjleb Nona jadi tidak bisa komplen kalau begitu.
"Iya sih. Kalau Mas Kenan menikah nanti aku pasti sedih sekali." Nona tampak sendu.
"Nanti Papa pastikan Kenan menikah dengan kamu." jawab Baron terkekeh.
"Papa, Mas Kenan jelas-jelas menolak. Jangan dipaksa, aku tidak mau menikah dengan Mas Kenan kalau dia Papa paksa." Nona jadi resah dibuatnya.
"Papa tidak pernah memaksa. Lihat saja nanti."
"Papa tidak tanya, aku mau apa tidak menikah dengan Mas Kenan?"
"Kamu?" Baron termenung, ia memang belum pernah menanyakan pendapat Nona. Tapi ia melihat banyak hal positif untuk Nona jika dekat dengan Kenan.
"Kamu mau jadi istri Kenan?" tanya Baron kemudian.
"Belum yakin juga aku dengan perasaanku sama Mas Kenan. Hanya saja saat seminggu kemarin Mas Kenan tidak muncul aku kurang bersemangat." jawab Nona jujur pada Papanya.
"Pastikan dulu perasaan kamu Non. Papa juga tidak mau memaksa kamu menikah dengan pria pilihan Papa. Hanya saja Papa merasa Kenan membawa aura positif untuk kamu." kata Baron menepuk bahu Nona pelan.
Mereka sudah sampai di kediaman Mama Nina dan Papa Dwi. Mobil Nona belum tampak terparkir di garasi.
"Papa mau turun tidak?" tanya Nona pada Baron.
"Tante dimana, bi?" tanya Nona pada salah satu asisten rumah tangga.
"Ditaman belakang, Non."
Nona segera berjalan ketaman belakang rumah, tampak Mama Nina sedang duduk santai bersama Papa Dwi.
"Om, Tante, ada Papaku di ruang tamu." katanya memberi tahu.
"Oh sudah datang ya." jawab Papa Dwi, rupanya mereka sudah janjian untuk bertemu. Papa Dwi segera berjalan cepat menemui Baron, sementara Nona bersama Mama Nina bergandeng tangan dengan mesranya.
"Kamu mandi dulu, sana. Tante siapkan minuman untuk Papamu." kata Mama Nina setelah mendekati pintu menuju paviliun.
"Aku saja yang menyiapkan minum, Tante duduk saja didepan."
"Tidak, kamu bau." kekeh Mama Nina menutup hidung.
"Ih Tante, aku wangi." jawab Nona tak terima. Mama Nina semakin tertawa saja dibuatnya.
"Tante, tadi supir Mas Kenan antar Mobil aku, sampai sekarang belum sampai ya?" tanya Nona bingung.
"Coba kamu tanya Mas Kenanmu itu."
"Mas Kenanku itu?" Nona mengulang kalimat Mama Nina.
"Hu uh." Mama Nina mengerling pada Nona, kemudian berjalan menuju ruang tamu, sementara Nona merasa wajahnya mulai panas. Tapi ia mengikuti perintah Mama Nina segera menghubungi Kenan.
"Mas Kenan masih dikantor?" tanya Nona setelah sambungan teleponnya terjawab.
"Hmm..." jawab Kenan seperti sedang mengerjakan sesuatu.
"Aku sudah sampai."
"Alhamdulillah."
"Tapi mobilnya belum sampai ya?"
"Sudah, ada dirumah saya." jawab Kenan kurang ramah.
"Ya sudah, Mas Kenan sepertinya sibuk." kata Nona kesal mendengar nada datar pada suara Kenan.
"Tidak mau kasih tahu saya, siapa cowok ganteng itu?" tanya Kenan.
"Kalau Mas Kenan pulang cepat dan mampir kesini aku kasih tahu. Sekarang lagi ngobrol sama Om dan Tante." jawab Nona jahil.
"Kamu suruh dia turun dan kenalkan dia sama Mama dan Papa?"
"Iya ternyata sudah kenal sama Om." jawab Nona tidak berbohong.
"Sudah dulu ya, aku mau mandi. Kata Tante Nina aku harus mandi biar cantik. Kan ada cowok ganteng."
"Nona, jaga diri kamu, ingat kalau kamu kenapa-napa saya tidak mau disalahkan."
"Iya, terima kasih Mas Kenanku."
Nona menutup sambungan teleponnya. Biarkan saja penasaran, salah sendiri membiarkan aku pulang sama supir, Nona mulai ngomel dalam hati. Memasuki kamarnya dan segera menjalankan perintah Mama Nina untuk mandi, sekalian saja sholat magrib.
Sementara dikantornya, Kenan tiap sebentar mengajak Reza yang masih berkutat dengan berkas untuk pulang. Tapi Reza tetap bertahan dengan pekerjaannya dan melarang keras Kenan untuk pulang lebih dulu, sementara Raymond dari sore sudah diminta Reza pulang menemui Kiki yang rindu berat pada putra semata wayangnya.
"Kamu rewel sekali sih, Ken. Seperti tidak pernah lembur saja." Reza tampak kesal pada adiknya.
"Kan bisa disambung besok." kata Kenan. Reza menggelengkan kepalanya.
"Aku besok mau quality time sama Mama dan Papa, hari ini quality time sama kamu." kekeh Reza puas mengerjai adiknya yang sedari sore sudah mengajaknya pulang. Reza tahu Kenan pasti memikirkan Nona, tapi Papa Dwi sudah pesan agar menahan Kenan sampai batas waktu yang ditentukan oleh Papa. Jadi sekarang Reza sedang menunggu arahan Papa. Hahaha Kenan kasihan deh kamu.