I Love You Too

I Love You Too
Keluarga Suryadi



Akhirnya Nanta benar-benar pergi, dengan sedikit berkaca-kaca Dania melepaskan suaminya sampai Bus menghilang dari pandangan Mata, sesak sekali rasanya dada Dania, baru sebentar merasakan kebersamaan dengan Nanta sekarang harus terpisah, walaupun hanya satu setengah bulan tetapi rasanya lebih lama dibandingkan dengan kebersamaan Nanta dan Dania dari awal bertemu.


"Nanti juga bertemu lagi." Micko merangkul bahu putrinya yang tidak bisa menyembunyikan kesedihannya.


"Jadi sepi deh." Kekeh Kenan yang juga sedih, biasanya Nanta hanya dua minggu training camp, kali ini satu setengah bulan, belum lagi Nanta sekarang sudah menikah, waktunya terbagi antara Keluarga besar dan istrinya. Bagaimanapun itu jalan hidup yang harus Kenan hadapi.


"Ish kalian ini, Nanta hanya satu setengah bulan, seperti mau ditinggal bertahun-tahun saja." Micko menggelengkan kepalanya.


"Iya-iya, ini terbawa perasaan." kata Kenan terkekeh.


"Ok kita pulang, Bapak Kenan mau diantar kemana Pak?" tanya Micko sambil tertawa.


"Kerumah Bang Eja saja ya, Nona menunggu disana." kata Kenan, Micko menganggukkan kepalanya, mereka bertiga menuju ke parkiran.


"Pa, apa benar itu Mike?" tanya Dania pada Papanya.


"Sepertinya benar, memang ada sih anak Om Kris yang bernama Julia." jawab Micko.


"Siapa Om Kris?" tanya Kenan.


"Abang kandungnya nyokap, cuma dia dari kecil dirawat Kakek gue sama Nenek tiri gue. Kalau nyokap ikut Mamanya kan. Setelah Mamanya meninggal mau diajak Kakek, tapi nyokap tidak mau karena keluarga besar Kakek ribut." Micko menjelaskan. Kenan menganggukkan kepalanya.


"Kira-kira Mike Tim siapa? Papa apa Om Peter?" tanya Dania lagi.


"Kalau Oma Misha tidak percaya mereka semua, bahkan sama Bapaknya sekalipun."


"Kenapa begitu, Pa?"


"Merasa ditelantarkan." jawab Micko mencebik.


"Padahal Kakek buyut selalu Kirim semua kebutuhan Oma kan." Dania menghela nafas.


"Ada orang yang tidak hanya butuh materi tapi juga kasih sayang." Micko tersenyum.


"Ya itulah hidup, bersyukur saja lah dengan kondisi yang kita terima sekarang." Kenan jadi menghela nafas.


"Elu sih memang mestinya bersyukur Ken, keluarga lu bikin iri."


"Abang kan sudah jadi keluarga gue juga." Kenan terkekeh.


"Iya alhamdulillah dari kecil gue sering dengar nyokap selalu bersyukur bisa kenal Papa Dwi dan Mama Nina."


"Alhamdulillah." Kenan ikut senang mendengarnya.


"Sampai gue mikir, nyokap kenapa tidak menikah dengan Om Dwi saja, hahaha." Micko terbahak mengingat pikiran konyolnya.


"Ish bisa jadi musuh kita." Kenan terbahak.


"Iya nyokap juga bilang begitu, jangan lagi cari musuh, cukup keluarga Suryadi saja."


"Kalau Oma menikah sama Opa Dwi, nasibku bagaimana lagi." celutuk Dania membuat Kenan dan Micko terbahak.


"Kamu takut tidak jadi menikah dengan. Nanta ya." tanya Kenan.


"Iya." jawab Dania pasti.


"Kalau sudah tertulis pasti suami kamu tetap Nanta, mungkin ceritanya berbeda." kata Micko tersenyum.


"Iya sih, pusingnya beda lagi ya, Pa."


Terus saja ngobrol sepanjang perjalanan sampai Dania tidak lagi mengecek handphonenya, sementara diseberang Nanta tiap sebentar melihat kelayar handphone, pesannya belum juga dibaca istrinya.


"Bagaimana?" tanya Mike.


"Belum dibaca, mungkin lagi ngobrol di Mobil." jawab Nanta. Begitu didalam bus, Mike langsung menghubungi Mamanya menceritakan apa yang baru saja dialaminya, bertemu Om Micko anak Oma Misha. Bahkan Nanta menjadi menantu Om Micko pun Mike ceritakan pada Mamanya.


Melalui Nanta, Tante Julia yang sudah Nanta kenal minta no telepon Micko, tapi Nanta harus minta ijin dulu pada mertuanya, apakah nomornya boleh disebar apa tidak. Julia juga minta nomor telepon Dania, lagi-lagi Nanta perlu ijin dari Micko karena, keluarga Oma Misha setahu Nanta tidak mau terlibat dengan keluarga Suryadi.


"Langsung kasih saja, tidak usah ijin." pinta Mike pada Nanta.


"Tidak berani, sabar sebentar." kata Nanta pada temannya itu.


"Masa tidak percaya sama gue." sungut Mike yang sudah berapa tahun ini jadi teman Nanta.


"Iya sabar dulu kenapa sih." Doni ikut menenangkan.


"Ini sudah bertahun-tahun mau mendekat ke mereka susah sekali." kata Mike menjelaskan.


"Karena ada sebabnya. Kamu sering bertemu Om Peter?" tanya Nanta pada Mike.


"Sekali waktu, kenapa memangnya?" tanya Mike, Nanta menggelengkan kepalanya, tidak mungkin menceritakan tentang Peter pada Mike, bagaimanapun itu Om nya juga, mungkin Mike tidak tahu kelakuan Om Peter pada Om Micko.


"Ada yang mau kamu ceritakan?" tanya Mike.


"Apa? tidak ada."


"Bohong!"


"Memang." Nanta terbahak.


"Teman macam apa serba tertutup." keluh Mike mendorong bahu Nanta. Nanta menjulurkan lidahnya saja, membuat Mike bertambah kesal.


"Ternyata gadis cantik keturunan Suryadi yang jadi istri elu ya." kata Mike kemudian.


"Yap. Saya beruntung." jawab Nanta terkekeh.


"Bayangkan kalau dibandara ketemunya gue, terus gue udah naksir-naksiran ternyata sepupu gue sendiri." Mike menghela nafas.


"Jangan kebanyakan menghayal." gantian Doni yang mendorong bahu Mike, Nanta terkikik geli.


"Eh tapi ternyata teman kita keturunan Suryadi ya Nan." Doni terkekeh.


"Kan sudah jelas nama gue ada Suryadinya juga." Mike memonyongkan bibirnya.


"Ya kan nama Suryadi juga banyak, mana gue sangka ternyata keluarga konglomerat."


"Psstt... nyokap gue bakal marah kalau dengar ada yang bilang begitu." kata Mike pada Doni.


"Marah kenapa?" tanya Nanta.


"Kakek gue tidak merasa dia keluarga konglomerat, perusahaan Kakek gue memang dari Kakek Suryadi, tapi Kakek Kris rintis dari nol, beda sama yang dipegang Om Peter, itu sudah perusahaan berkembang dan menghasilkan yang mereka dapat." kata Mike menjelaskan.


"Suryadi corporate siapa yang handel? Kakek lu apa bokapnya Om Peter?" tanya Nanta.


"Ada orang kepercayaan Kakek Buyut. Anak lelaki dikasih pegang anak perusahaan, yang Suryadi corporate itu sebenarnya untuk Oma Misha, makanya keluarga Om Peter langsung naik darah." Mike berbisik khawatir didengar oleh temannya yang lain.


"Oma Misha tahu?" tanya Nanta.


"Tahu, kamu kira Mobil mewah yang dikirim ke rumah Oma Misha dan Om Micko itu karena apa? Suryadi corporate terus saja menghasilkan pundi-pundi."


"Anak perusahaannya memangnya tidak menghasilkan?" tanya Nanta ikut berbisik, tinggal Doni yang kerepotan mau mendengar cerita karena posisi duduknya yang tidak menempel dengan Nanta dan Mike.


"Menghasilkan juga tapi tidak sebesar perusahaan Inti lah." jawab Mike.


"Kenapa malah dikasih ke Oma Misha, harusnya dikasih ke anak lelaki." kata Nanta berpikir.


"Itu untuk menebus dosa Kakek Suryadi karena menelantarkan Oma Misha. Kakek Kris bantu awasi perusahaan dan mengontrol pembagian hasil agar benar-benar sampai ke Oma Misha dan Om Micko." kata Mike menghela nafas.


"Repot jadi orang kaya ya." Nanta terkekeh.


"Tidak repot kalau tidak serakah." jawab Mike.


"Nyatanya ada keluarga yang tidak puas dengan keputusan Kakek Suryadi." gantian Nanta menghela nafas.


"Kata Kakek, itu karena Kakek Kripto tidak bersyukur, Om Peter juga ikut-ikutan, kalau perusahaannya dikelola dengan benar mereka paling tidak dapat hasil minimal sama dengan yang Oma Misha terima."


"Kakek Kripto itu siapa?"


"Anak tunggal Kakek Suryadi dari istri sahnya."


"Kakek Suryadi playboy juga punya istri lebih dari satu." Nanta terkekeh.


"Eh Kakek gue tuh. Dia sudah menikah dengan Nenek Lani, Ibu Oma Misha, tapi keluarga tidak setuju, karena beda kasta. Jadilah Kakek dipaksa menikah dengan Nenek Joy. Yah rumitlah pokoknya, semoga gue tidak mengalami hal yang sama. Jangan sampai dijodohkan." Mike bergidik ngeri.


"Ya tidak apa kalau sama-sama suka dan tidak ada yang tersakiti." sahut Doni, rupanya berhasil juga dia menyimak pembicaraan kedua sahabatnya itu.