I Love You Too

I Love You Too
Belajar Berenang



"Aban... Baen don udah ndak pate pempes." lapor Balen pada Abangnya malam ini, ia sudah rebahan dikamarnya bersama Mamon sambil menunggu Papon yang harus lembur beberapa hari ini.


"Masa?" Nanta terkekeh sedikit tidak percaya, pasti Balen sedang berhayal pikir Nanta.


"Ah Aban mah, benel tauu." Balen jadi kesal karena Abang meragukan Balen, padahal ia sudah belajar dengan serius beberapa minggu ini, dan sudah berhasil. Tentu saja membanggakan, makanya hari ini bermaksud pamer pada Abangnya


"Kalau pipis sama pup dimana?" tanya Nanta senyum-senyum melihat ekspresi Balen yang agak sewot.


"Tamal mandi lah." jawab Balen bangga. Nanta jadi tertawa geli, sudah dapat laporan dari Mamon sejak sebut nama Larry, Mamon jadi lebih mudah menyuruh Balen, tidak pakai berdebat lagi.


"Pecaya ndak?" tanya Balen memastikan karena Abangnya masih meragukan Balen.


"Percaya dong, singkong Rebus Abang memang pintar." kata Nanta membuat Balen tertawa senang. Nanta sedang sarapan pagi bersama para sahabatnya, juga pelatih di Amerika ikut bergabung dimeja mereka.



"Aban Tapan jatata? Baen mo beajal beenang don." pinta Balen lagi yang tiba-tiba ingin bisa berenang, memang sudah seharusnya Balen dilatih, supaya tidak hanya main air saja kalau di kolam.


"Belajar sama Papon saja." kata Nanta pada adiknya, mengingat ia masih sebulan lagi di Amerika, baru juga minggu pertama. Masih ada empat minggu lagi.


"Papon teja teus, aban." keluh Balen merengut, sementara ketiga teman Nanta ikut menyimak pembicaraan Nanta dengan adiknya melalui Videocall.


"Hari sabtu atau minggu kan Papon libur." Nanta mengingatkan Balen.


"Papon tual tota, teus." adu Balen lagi pada Abang Nanta.


"Waduh kasihan singkong rebus Abang, sepi dong dirumah?" Nanta jadi tidak tega, kalau Papon keluar kota, Nanta tidak dirumah sudah pasti rumah bertambah sepi. Saat ini Balen menggunakan handphone Mamon untuk bicara dengan Abangnya.


"Matanya aban jatata don, Amika teus sih" sungut Balen pada Nanta.


"Bulan depan ya Abang pulangnya, Balen sabar dulu." bujuk Nanta pada Balen.


"Yah." jawab Balen seperti biasa sabar kalau sudah dijanjikan Nanta, senang saja bawaannya.


"Aban, nanti jatata ajain beenang ya." pinta Balen kemudian.


"Iya tunggu Abang pulang ya." janji Nanta lagi, ia memang ingin mengajarkan Balen dan Richi berenang, walaupun tidak sehebat Larry paling tidak bisalah untuk melatih Balen dan Richi nanti.


"Balen, Abang Larry saja yang ajar Balen berenang nanti, mau tidak?" Larry tiba-tiba saja memunculkan wajahnya pada layar handphone Nanta. Selalu saja ingin tampil jika Nanta berbicara dengan Balen, Mike langsung saja memonyongkan bibirnya pada Larry.


"Emanna Aban Leyi bisa beenang?" tanya Balen ragu, diotaknya hanya Abang Nanta saja yang pintar berolah raga, Abang kebanggannya.


"Bisa dong, mau diajar Abang Larry?" tanya Larry pada Balen cengengesan, melihat wajah Balen saja sudah bikin Larry ingin mencubit pipinya gemas, kebetulan Larry tidak punya adik perempuan, Larry punya adik laki-laki yang tidak suka olah raga sama sekali, hobbynya tawuran hahaha.


"Boeh ndak Aban?" tanya Balen pada Nanta, Larry terkikik geli, sopan sekali Balen minta ijin dulu sama Abangnya, seperti mau diajak kencan saja pakai minta ijin, pikir Larry.


"Pakai minta ijin lagi." gerutu Larry tertawa bersama sahabatnya.


"Dia kira lu ajak dia nge date." Mike terbahak menggoda Larry.


"Hahaha kebanyakan nge date ama model, sekarang ganti haluan." Doni ikut tertawakan Larry, Nanta cengar-cengir saja mendengar sahabatnya membanyol.


"Boleh saja, Abang Larry lebih hebat berenangnya, nanti kita berenang bertiga ya." kata Nanta lagi pada adiknya, menyetujui.


"Sibuk pacaran." kata Doni dan Mike, akur. Mereka lagi-lagi tertawa.


"Beenangna diumah Baen aja, Aban Leyi." kata Balen setelah Abangnya menyetujui Larry mengajarnya berenang.


"Boleh, mau di mana saja boleh deh, terserah Balen." kata Larry lagi, bocah kecil ini jadi hiburan untuk Nanta dan ketiga sahabatnya.


"Balen, sama Abang Mike juga." teriak Mike tidak mau kalah.


"Aban maik mah ndak bisa beenang." kata Balen terkekeh, pikirnya Mike mana mungkin bisa berenang.


"Eh gue ditolak Balen ya barusan?" tanya Mike pada ketiganya, mereka semua tertawa jadinya.


"Balen Abang Mike juga bisa berenang kok, nanti Balen diajar sama Abang Mike saja." bujuk Mike lagi, masa iya ditolak sama Balen.


"Janan banak-banak guu beenangna." kata Balen lagi, mereka semua tertawakan Mike.


"Iya nanti yang ajarkan Balen, gantian deh." kata Larry lagi sambil terkikik geli, mereka memang gabut selama di Amerika, selain latihan makan tidur latihan bercanda dengan Balen sudah menjadi kewajiban bagi mereka.


"Ndak usah dantian ya. Aban Leyi aja yan ajain Baen, Aban Maik ajain Ichi." kata Balen lagi. Semua terbahak, Mike benar-benar ditolak Balen barusan.l, malah disodorkan pada Richi.


"Sue, anak tiga tahun saja tolak gue." kata Mike membuat mereka kembali terbahak. Pembina yang tidak mengerti bahasa Indonesia jadi ikut tertawa melihat kerusuhan mereka berempat.


"Balen, Abang Mike nangis tuh." teriak Doni lagi.


"Janan nanis don." Balen jadi resah dan merasa bersalahm


"Biar saja dia nangis." kata Nanta tertawa, melirik Mike yang masih menggelengkan kepalanya karena ditolak Balen. Bukan Kali ini saja Balen lebih memilih Larry dibanding Mike.


"Janan aban, Mamana tan ndak itut Amika." kata Balen membuat Nanta dan sahabatnya sakit perut.


"Kalau nangis harus ada Mamanya ya berarti." Mike menggelengkan kepalanya.


"Balen, kalau bertemu Abang sekap loh, bikin gemas saja." kata Mike lagi pada Baen.


"Balen, sudah dulu ya, Abang makan dulu, boleh? besok telepon lagi." kata Nanta pada adiknya, melihat teman yang lain sudah mulai beranjak sementara makanan Nanta belum habis.


"Yah, tis aban." kata Balen seperti biasa sebelum menutup telepon. Kali ini tidak minta kiss Larry karena kasihan Mike sedang menangis.


"Kiss Abang Mike dulu dong." kata Mike lagi, Balen pun mendekatkan bibirnya kelayar handphone Mamon.


"Banjir deh." terdengar suara Mamon mengusap handphonenya dengan tissue.


"Kiss Abang Larry juga dong." kata Larry lagi.


"Sekaang?" tanya Balen.


"Iya dong, masa Abang Mike di Kiss Abang Larry tidak." protes Larry, tidak mau kalah sama Mike.


"Nanti aja ya talo temu." hahaha semua kembali tertawa geli. Balen memang minta digigit.


Nanta menutup sambungan teleponnya, sampai tidak bisa bicara dengan Mamon karena Nanta harus buru-buru menyelesaikan makannya. Ketiga temannya juga begitu, mereka keasikan menggoda Balen sampai belum menyelesaikan makannya. Bisa kena hukum kalau terlambat sampai dilapangan, pelatih pun tidak mengingatkan, malah asik menyimak kehebohan keempat anak asuhnya ini.