I Love You Too

I Love You Too
Kontrak.



"Kalian ikut." Dania langsung tersenyum lebar saat membuka pintu mobil melihat kedua adiknya ada bersama Nanta.


"Boleh kan?" tanya Lucky balas tersenyum.


"Tentu saja boleh, senang malah." jawab Dania jujur, rindu juga sama kedua adiknya ini, walau baru saja bertemu saat di Semarang. Dania belum lagi ke rumah Papanya, karena bawaannya malas saja keluar rumah jika tidak mendesak.


"Dan, kita mau ke Warung Elite Cabang Utama loh, kamu mau kan?" tanya Nanta pada Dania.


"Kamu kerja bawa kita?" tanya Dania heran.


"Itu kan Restaurant, siapa saja boleh datang." Nanta terkekeh.


"Iya sih, mau traktir di Warung Elite ya?" goda Dania pada suaminya.


"Mau ditraktir kah?" Nanta balas menggoda tertawakan Dania.


"Aku saja yang traktir." kata Dania sombong, terang saja ATM Nanta sudah Dania pegang. Nanta tertawa mendengar jawaban istrinya.


"Mereka sekalian mau lihat Antra as friend latihan." kata Nanta mulai lajukan kendaraannya.


"Siapa tuh?" tanya Dania yang tidak mengikuti perkembangan musik.


"Itu loh group musik yang sedang naik daun, Indi band." Lucky ikut menjelaskan.


"Aku tidak tahu." jawab Dania terkekeh.


"Terang saja tidak tahu, yang dilihat hanya Drama Korea." Nanta tertawakan Dania.


"Bukan Korea saja, sekarang sudah merambah ke Hollywood dan Serial turkey." jawab Dania jujur.


"Nonton seperti itu apa tidak membosankan, Kak?" tanya Winner pada Kakaknya.


"Kenapa harus bosan, ceritanya bagus-bagus. Kalau jelek ya pasti tidak kutonton." jawab Dania pada Winner.


"Sampai lupa makan kalau sedang asik menonton." adu Nanta pada kedua Iparnya.


"Lagi hamil malah tidak makan, kasihan sekali keponakan aku." Winner gelengkan kepalanya.


"Iya sih, untung saja suamiku baik, ambilkan aku makanan dan suapi." Dania senyum-senyum bangga.


"Kebetulan aku lagi dirumah, kalau aku tidak pulang siang, kamu beneran tidak makan kah?" tanya Nanta ingat saat beberapa hari lalu sempat pulang ke rumah saat siang hari, ternyata istrinya tidak makan siang, asik saja menonton.


"Bukannya makan selalu bersama dimeja makan?" tanya Lucky pada Kakaknya, sesuai kebiasaan mereka dirumah.


"Kalau siang jarang terjadi, semua kan sibuk, kadang pulang kampus Mamon tidak ada dirumah atau bahkan sudah makan." jawab Dania tertawa.


"Kebetulan saat Mas Nanta pulang sebentar aku belum makan. Malas saja mau bergerak ke dapur." lanjut Dania lagi.


"Itu yang tidak boleh, makan harus teratur, apalagi ada anak bayi didalam perut, butuh asupan. Jangan sampai anak kita kekurangan gizi." pesan Nanta sambil membelai perut istrinya.


"Iya jangan begitu sih, Kak. Aku jadi ngilu bayangkan keponakanku kelaparan didalam perut." Winner bergidik ngeri.


"Lebay ah." Dania tertawa.


"Bukan lebay, memang begitu. Sekarang sudah makan belum?" tanya Nanta pada Dania.


"Tadi sambil menunggu dijemput aku makan roti." jawab Dania pada suaminya. Nanta menganggukkan kepalanya, anak dan istrinya baru makan roti siang ini, sementara Nanta sudah kenyang saat tadi makan bersama di Unagroup.


Tidak terasa mereka sudah sampai di Warung Elite, Mobil ketiga sahabatnya sudah terparkir rapi bersebelahan, Nanta jadi tersenyum sendiri, karena petugas parkir langsung mengangkat pembatas jalan berwarna orens yang ada disebelah mobil Larry, lalu mengarahkan Nanta untuk parkir disana. Sepertinya temannya sengaja betul berpesan pada petugas parkir agar menyiapkan satu tempat parkir dekat mereka untuk Nanta.


"Terima kasih, Pak." kata Nanta saat turun dari Mobil.


"Sama-sama Pak Nanta, di dalam tamunya sudah menunggu." petugas parkir sampaikan pada Nanta.


"Oh iya, saya kedalam dulu ya." Nanta tersenyum lalu menggandeng Dania, masuk ke dalam restaurant. Sementara Winner dan Lucky mengikuti dari belakang tanpa berkata apapun. Baru juga membuka pintu Mike sudah semangat lambaikan tangannya pada Nanta dan rombongan, menunjukkan posisi mereka ada dimana.


"Cepat juga." kata Doni saat Nanta duduk di dekatnya.


"Tidak macet, kalian dari tadi?" tanya Nanta.


"Iya kan langsung kesini." jawab Mike menggeser kursinya mendekati Dania.


"Perut lu sudah kelihatan Dan, padahal baru berapa bulan." kata Mike memandang perut Dania.


"Ish gue tidak bilang begitu, ini bayinya kembar tidak?" tanya Mike pada sepupunya.


"Tidak ya Mas?" Dania malah bertanya pada suaminya.


"Dokter sih tidak pernah bilang kembar." jawab Nanta terkekeh.


"Mau pesan apa?" tanya Nanta saat salah satu pegawai menghampiri Nanta.


"Siang Pak Nanta." senyum pegawai begitu menyadari ternyata ada Nanta disana, pikirnya tadi datangi karena meja tamu masih terlihat kosong, hanya ada dua gelas minuman saja, ia mau pastikan apakah sudah pesan apa belum.


"Siang, bantu istri dan teman saya ya." kata Nanta tersenyum.


"Baik Pak."


"Gue ke kantor dulu sebentar ya, kalian pesan saja makanannya. Kamu juga sayang, tadi baru makan roti." Nanta menepuk bahu Dania.


"Iya." jawab Dania mengambil buku menu dihadapannya.


"Assalamualaikum..." Salam Nanta saat membuka pintu ruangan Ayah dan sahabatnya, komplit empat geng ganteng ada disana.


"Waalaikumusalaam..." jawab Reza tersenyum, memanggil Nanta dengan tangannya.


"Mana Dania?" tanya Reza pada Nanta anaknya, katakan saja begitu, perlakuan Reza pada semua keponakannya seperti pada anaknya sendiri. Nanta yang sudah menyalami ketiga sahabat Reza segera duduk dihadapan Ayahnya.


"Didepan sama adik-adik dan Sahabatku." jawab Nanta.


"Sahabat kamu yang Tim Basket?" tanya Reza. Nanta anggukan kepalanya.


"Friend, TimNas tuh di depan." kata Reza pada sahabatnya.


"Nah bahas basket corner bisa sekarang?" tanya Mario langsung berdiri mendekati Nanta.


"Bisa, Pi." jawab Nanta tersenyum mumpung sahabatnya berkumpul disini.


"Ayo ke depan, temui mereka." Mario menepuk bahu Nanta.


"Suruh kesini saja." kata Andi pada Mario.


"Empat orang, friend. Tidak nyaman bahas disini, diruang VIP saja." jawab Mario pada Andi, segera hubungi staffnya agar siapkan ruangan VIP. Ia juga minta jika ada makanan yang sudah dipesan oleh rombongan Nanta dimasukkan keruangan VIP.


"Oke." jawab Andi, sementara Erwin menyimak karena sudah beberapa minggu ini tidak datang ke Warung Elite.


"Biarkan mereka santai dulu." kata Erwin kemudian.


"Kita kan juga ngobrol santai, Win." Mario terkekeh. Erwin anggukan kepalanya.


"Pi, tadi dikantor bertemu Mbak Rumi, ternyata keponakan Papi ya?" tanya Nanta pada Mario.


"Masih anak sepupu Papi " jawab Mario.


"Eh jangan panggil Mbak, dia seumuran kamu kok." kata Mario lagi.


"Punya pacar?" tanya Nanta to the point.


"Hahaha kenapa temanmu ada yang berminat?" Reza terbahak.


"Kita mau jodohkan sama Larry saja, sepertinya mereka cocok." jawab Nanta jujur.


"Rumi malas bertemu Papi karena itu, takut Papi jodohkan." jawab Mario memandang Nanta.


"Tadi kan Mamon belum tanda tangan kontrak, kata Mas Aditia Papi mau bertemu Papa?" tanya Nanta tersenyum.


"Iya, maksud kamu suruh Rumi antar kontrak, supaya Papi dan Papamu bertemu disini ya, Begitu gaya menjodohkannya? sudah Papi baca apa yang ada di otak kamu, Boy." Mario mengetuk jidat Nanta dengan telunjuknya. Nanta terbahak jadinya.


"Mau jadi biro jodoh si Nanta." Andi tertawa.


"Namanya juga usaha." jawab Nanta terkekeh. Mario mengambil teleponnya menghubungi Kenan agar mereka bertemu sore ini di Warung Elite untuk membahas kontrak Balen, kemudian Mario menghubungi Rumi agar membawa kontrak milik Balen ke Warung Elite.


"Baik, nanti Aditia yang akan ke sana, Pak." jawab Rumi kaku.


"Saya minta kamu yang antar kontraknya ya Rumi, jangan diwakilkan." tegas Mario lalu matikan sambungan teleponnya, kemudian mengajak Nanta tos samb tersenyum lebar.