
Malam hari Kenan, Nona dan Nanta tiba di bandara Juanda Surabaya, Raymond sudah tersenyum saja dari jauh saat melihat Kenan, Nanta dan Nona. Ia dan Roma semangat menjemput kesayangannya. Perut Nona yang sudah terlihat sangat besar seperti badut, menjadi pokok pembahasan mereka saat ini. Kadang terkekeh dengan komentar mereka sendiri. Raymond dan Roma, bergosip membahas kehamilan Nona.
"Apa anaknya kembar? besar sekali perutnya." tanya Raymond pada Roma yang berdiri disebelahnya.
"Tidak tahu, nanti tanya saja." jawab Roma sambil melambaikan tangan pada Nona.
"Naik berapa kilo itu Kak Nona, hidungnya saja jadi besar begitu." masih membahas Nona.
"Lumayan banyak, tapi tetap cantik." kata Roma.
"Harus cantik lah, istri Om Kenan gitu loh."
"Istri Raymond apalagi, lebih cantik." Roma memuji dirinya sendiri.
"Masa???" jawab Raymond menyebalkan, langsung saja Roma mencubit pinggang suaminya dengan sedikit kesal. Raymond terkekeh merangkul Roma dan mengecup dahinya.
"Contoh yang tidak baik untuk anak dibawah umur, bermesraan di depan umum." protes Nanta pada Raymond ketika sudah mendekat pada keduanya.
"Makanya cepatlah diatas umur." jawab Raymond terkekeh memeluk adiknya mengacak rambut Nanta.
"Badan kamu semakin berisi." puji Raymond pada Nanta.
"Badan Nona apalagi." sahut Kenan terkekeh, semua tertawa jadinya.
"Kak Nona anaknya kembar kah?" tanya Raymond penasaran.
"Tidak." jawab Nona tertawa, ia menyadari berat badannya naik cukup banyak, kemarin pun dokter Vina meminta Nona untuk mengurangi makanan berlemak dan juga es krim.
"Naik berapa kilo Kak?" tanya Roma pada Nona.
"Dua puluh kilo." jawab Nona menutup wajahnya. Kenan terkekeh dibuatnya.
"Bang Ray, Kak Roma aku sudah punya panggilan baru untuk Kak Nona." lapor Nanta bangga.
"Sudah tahu, Babon kan?" semua terbahak mendengarnya, Raymond mendengar curhatan Nona pada Roma saat Kenan mengatakannya Babon.
"Ray, aku tuh cerita sama Roma bukan untuk kamu bully." Nona mendorong bahu Raymond sambil tertawa. Lagi-lagi semua tertawa. Kenan segera merangkul istrinya sementara Nanta menggeret koper. Mereka berjalan menuju parkiran kini.
"Ah rindu sekali aku suasana seperti ini. Kenapa sih kita harus pisah kota." Roma masih saja belum terima mereka harus terpisah.
"Jakarta Malang dekat sayang, kapan kita mau, tinggal berangkat." Raymond mengelus bahu Roma supaya tidak rewel. Roma hanya mencebikkan bibirnya, tak seindah perkataan mengingat Raymond sedikit lebih sibuk dibanding saat ada Om Kenan.
"Memangnya sama yang lain tidak bisa seperti kita?" tanya Nanta polos.
"Ya beda saja, Nan." jawab Roma beralasan.
"Sabar saja dulu, nanti kita akan berkumpul semua. Aku juga pisah kota dengan Mama." kata Nanta ikut menenangkan Roma.
"Oma dan Opa apa kabar? malam ini menginap dirumah Oma dulu ya, Pa? Besok pagi kita jadwal kerumah sakit ya." Nanta mulai mengatur jadwal.
"Kamu yang atur jadwal kali ini ya Nan, asal kamu tahu kalau Oma dan Opa itu selalu tidur dirumahku, mana ku kasih pulang kerumahnya. Jadi kalian menginap dirumahku saja malam ini ya." kata Raymond pada semuanya.
"Rumah Oma kamu bikin kosong, Ray?" kata Kenan sibuk menaikkan koper yang berisi oleh-oleh untuk anaknya Tari dan Bagus juga Oma dan Opa.
"Iya Om, lebih enak kumpul, lagi pula Oma dan Opa sudah tua, harus diawasi." kata Raymond pada Kenan, mulai melajukan kendaraannya.
"Pintar juga kamu ya." Kenan menepuk bahu Raymond yang fokus menyetir.
"Kesayangan Oma dan Opa." kata Roma pada Raymond.
"Aku juga disayang, Oma dan Opa tuh sayang kita semua." sahut Nanta, yang lain tampak menganggukkan kepalanya.
"Om tidur dirumah Om saja Ray, ketularan Nanta ini kok jadi kangen kamar Om yang di Malang." kata Kenan terkekeh menoleh kebelakang, kearah bujangnya. Nona terbahak dibuatnya.
"Padahal kamar Om disini tidak ada sunroofnya." kata Raymond ikut melirik Nanta melalui kaca spion.
"Tapi Om serius Ray, sekalian mau melihat situasi rumah setelah beberapa bulan Om tinggal." kata Kenan pada Raymond.
"Ya sudah, sarapan pagi dirumahku ya, tuan rumahnya sekarang aku loh." kata Raymond pada Kenan.
"Ok Boy, besok seperti biasa shubuh kita ke mesjid bersama."
"Siap Om."
Perjalanan sekitar dua jam mereka tempuh dengan berbagai macam bahasan dari yang penting hingga tidak penting. Kenan dan Nona mampir dulu dirumah Raymond menemui Opa dan Oma, rencananya baru setelah itu berjalan kaki kerumah mereka, Nanta memilih menginap di rumah Raymond karena kangen sama Oma dan Opa.
"Kamu tidak menginap disini, Ken?" tanya Mama Nina pada Kenan.
"Pulang saja Ma, aku kangen kamar." jawab Kenan, sama saja seperti Nanta.
"Lebih kangen kamar dari pada kita, Pa." Oma berkata pada Opa membuat Kenan mengurungkan niatnya untuk pulang.
"Ya sudah Kenan menginap disini, sensitif sekali Mamaku sayang." Kenan terkekeh memeluk Mama.
"Habisnya kamu begitu tidak perhatian." protes Mama lagi pada bungsunya.
"Kurang perhatian bagaimana sih Ma?" tanya Kenan heran.
"Kalau Mama tidak telepon kamu tidak telepon." sungut Mama merajuk.
"Uh pantas saja sama aku juga gitu Ma, ternyata Mas Kenan ini cuma memikirkan pekerjaan ya Ma." Nona menambahi membuat Kenan menggaruk kepalanya.
"Duh ini kenapa jadi pada komplen sih? Kenan sengaja ke Malang itu buat bertemu semuanya, rencana menginap empat hari untuk atur waktu supaya semua kebagian untuk ditemui. Apa seminggu saja disini, boleh Pa?" Kenan meminta ijin pada Papa, meninggalkan pekerjaannya di Jakarta.
"Uh samanya pasti Papa bilang jangan tinggalkan pekerjaan deh." sungut Mama lagi. Kenan memeluk Mama dan menciuminya bertubu-tubi.
"Ih bujuk-bujuk Mama kan?" kata Mama sok merajuk.
"Seperti anak kecil saja, di Jakarta saja Mama kepikiran Ray dan Roma terus. Padahal Kenan sudah minta Mama tinggal dirumah." balas Kenan ikut merajuk.
"Oma, Papa bawakan Oma roti gambang yang legend itu loh." kata Nanta membuka plastik roti kesukaan Oma.
"Itu kan jauh dari rumah, kamu sempatkan mampir Ken?" tanya Oma terharu.
"Iya demi Mamaku sayang." jawab Kenan terkekeh, Nanta paling bisa diandalkan untuk membujuk siapapun yang sedang merajuk.
"Terima kasih ya Nak." kata Mama memeluk Kenan, sementara Papa Dwi terkekeh melihat istrinya yang kadang suka drama
"Oma kita besok ke rumah sakit ya?" ajak Nanta pada Oma, ia tidak sabar melihat adik bayinya.
"Memangnya Mamamu belum keluar dari rumah sakit?" tanya Mama Nina pada Nanta.
"Kalau sudah dirumah, berarti kita ke rumah Mama saja." kata Nanta lagi pada Oma dan semuanya.
"Kamu besok menginap di rumah Mama, Boy?" tanya Kenan pada Nanta.
"Iya, minggu aku sudah ke Jakarta lagi kan." jawab Nanta pasti.
"Kalian pulangnya pisah?" tanya Oma Nina dengan kening berkerut.
"Iya Ma, aku belum menginap di rumah Papa Baron, sementara Nanta sudah terlalu banyak ijin." kata Kenan pada Mama Nina. Mama mengangguk setuju.
"Ray pesankan tiket untuk Oma dan Opa ya, kami ke Jakarta bersama Nanta." kata Oma tanpa meminta persetujuan Opa. Kenan dan Opa menggelengkan kepalanya, selalu saja memikirkan cucu yang harus dijaga dan ditemani, untung saja mereka tidak manja.
"Bagaimana Opa?" tanya Raymond meminta persetujuan Opa.
"Pesankan saja, sudah enam bulan juga kita di Malang, sambil menunggu Nona melahirkan." jawab Opa menyetujui keinginan Oma.
"Huhu aku kesepian tidak ada Oma dan Opa." sekarang Roma yang merajuk. Oma terkekeh mulai mencari cara membujuk Roma.