I Love You Too

I Love You Too
Bintang Utama



"Aban ajain beenangna tok bedini, temaen Ban Leyi ndak." ini sudah yang kesekian kalinya Balen protes cara Nanta mengajarinya berenang, padahal Nanta merasa ia melakukan hal yang sama dengan yang dilakukan Larry.


"Apanya yang beda sih?" tanya Nanta bingung.


"Tau..." Balen memonyongkan bibirnya, ia bingung bagaimana harus menjelaskannya pada Nanta.


"Jadi kamu lebih suka diajarin Abang Larry ya?" tanya Nanta ikut memonyongkan bibirnya.


"Hu uh." jawab Balen jujur.


"Abang ngambek ah." Nanta melipat tangannya di dada.


"Iih, Aban mah." Singkong Rebus malah ikutan ngambek, keningnya berkerut sama seperti tangannya yang mulai berkerut terlalu lama di dalam air.


"Masih mau berenang tidak? karena yang ajari orangnya beda, jadi cara mengajarnya juga beda, yang penting Balen jadi pintar berenang kan?"


"Aban Leyi aja." sungut Balen membuat Nanta terkekeh, baru kali ini Nanta kalah pamor. Memang sih Larry lebih jago dibanding Nanta, tapi bocah kecil ini sampai bisa menilai sih, Nanta tidak habis pikir.


"Singkong Rebus." sungut Nanta memanggil adiknya. Untung saja Richi sore ini tidak berminat untuk berenang. Jadi Nanta hanya melayani satu bocah rewel saja.


"Baen mauna sama Aban Leyi." malah tambah marah.


"Ya sudah Abang pulang kerumah Papa Micko saja. Sana kamu sama Aban Leyimu itu." Nanta menyirami Balen dengan air di kolam.


"Janan..." langsung merengek mau menangis.


"Jangan apa?" tanya Nanta menghentikan tangannya.


"Janan teumah Om Mito, Aban sini aja."


"Habis Balen maunya sama Aban Leyi, Aban Leyi sih. Abang jadi kesal." Nanta serius, sedikit cemburu juga kesayangannya selalu membanggakan Larry sahabatnya.


"Sama Aban Juda." Balen mendekat dan memeluk lengan Abangnya.


"Jadi mau diajari tidak?"


"Iya, tapi janan teumah Om Mito." Balen mengajukan syarat.


"Balen juga jangan Abang Larry terus." Nanta jadi seperti anak kecil ikutan mengajukan syarat.


"Iya ajain sama Aban aja." jawab Balen merayu Abangnya.


"Jadi Larry tidak usah kesini lagi ya, biar Abang terus yang ajari Balen." Nanta senyum-senyum memandang adiknya.


"Janan..." Balen terlihat gusar, Nanta jadi tertawa tanpa dilihat Balen. Dasar Singkong Rebus pintar sekali merayu Abangnya, rupanya tetap mau Abang Larry yang ajari. Tahu saja si unyil siapa yang lebih pintar berenang.


"Ya sudah belajar berenang hari ini selesai, sebentar lagi magrib." Nanta menepuk tangannya.


"Beum."


"Sudah ah, nanti Abang dimarahi Papa."


"Papon don." ish ingin sekali Nanti cubit adik kecilnya ini, sore ini Balen membuat Nanta hampir hilang kesabaran karena cemburu pada Larry, Nanta ternyata bukan lagi Idola Balen satu-satunya.


"Balen sudah bisa berenang ya?" tanya Dini pada Balen saat makan malam bersama.


"Beum." jawab Balen dengan wajah datar.


"Kok belum, kan sudah bisa gaya luncur." kata Nanta pada adiknya.


"Iya itu teus." jawab Balen malas.


"Maunya bagaimana? itu saja belum lancar." protes Nanta.


"Aban sih suuh Baen geaikin tati Baen teus, satit nih sekaang." Nanta tertawa mendengarnya.


"Oh, setelah berenang tidak dipijiti jadi marahi Abang ya kamu?" Nona terkekeh melihat kedua Abang beradik lagi sewot-sewotan.


"Iya, Aban Leyi tan pijiti, Aban ndak." sungut Balen kesal, karena tadi setelah selesai berenang Nanta menyerahkan Balen pada pengasuh, sementara Nanta langsung masuk kekamarnya bersiap untuk Sholat magrib.


"Bandikan saja terus sama Larry. Abang sentil juga nih Larry." kata Nanta pura-pura mau menghubungi Larry.


"Mau napa tepon Aban Leyi?" tanya Balen.


"Iya mau Abang marahi." benar-benar hubungi Larry


"Eh janan don, Papon Aban tuh natal." Kenan tertawa mendengarnya, kalau sudah terpojok pasti minta Papon yang selesaikan semuanya.


"Kamu sih Larry terus, Abang bosan tuh." kata Kenan pada Balen.


"Hu uh Papon sayan aban aja."


"Iya Balen sayang Opon saja, karena Papon sayang Abang tuh." kata Baron panasi Balen.


"Kenapa sih unyil uring-uringan saja?" Samuel menggelengkan kepalanya, makan malam kali ini diisi perdebatan Nanta dengan Balen.


"Pintaran Abang Nanta ya?" tanya Deni, sementara Nanta mendengarnya sambil cengar-cengir, karena Balen memandangi Nanta sambil berpikir.


"Ayo lebih pintar siapa?" tanya Oma Mita.


"Sama, tapi Baen sutana diajain Aban Leyi." jawab Balen tidak berani memandang Nanta.


"Ah itu sih kamu saja genit maunya diajari Larry." Nona memonyongkan bibirnya memandang Balen.


"Butan ditu Mamon." Balen berusaha menjelaskan.


"Jadi bagaimana?" tanya Nanta.


"Aban Leyi Baen putai toam duu, tadi Abananta suuh Baen lai lai ndak temana-mana." kata Balen menceritakan perbedaan pemanasan antara Nanta dan Larry.


"Trus?" Nanta jadi penasaran apa lagi yang membedakan.


"Aban Leyi beenangna boeh matan, aban ndak." semua terbahak karena rupanya selama dikolam tadi Balen lapar.


"Kamu kan tidak minta makan Singkong Rebus." Nanta mencubit pipi adiknya, ia duduk diapit Dania dan Balen. Balen cemberut saja sementara Larry yang mendengarnya dari telepon Nanta tertawa tidak berhenti.


"Apa lagi bedanya?" tanya Nanta pada adiknya.


"Tati Baen pijitin Aban Leyi, Aban ndak."


"Jadi Balen lebih sayang Abang Larry daripada Abang Nanta ya?" tanya Deni menggoda Balen.


"Ndak." Balen menggelengkan kepalanya.


"Makan malam keluarga gue isinya Abang Larry saja nih, bikin emosi kan?" kata Nanta pada sahabatnya via telepon, ia loudspeaker handphonenya.


"Hahaha Baleeen..." teriak Larry memanggil Balen.


"Aban Leyi sih ndak ajain Baen beenang."


"Hahaha kan nanti kalau sudah pulang dari Abu Dhabi, sekarang diajari Abang Nanta dulu biar lancar gerakannya." jawab Larry masih saja tertawa geli. Yang lain ikut tertawa geli.


"Larry nih bawa pulang saja Balen, disini sebut nama kamu terus." teriak Baron menggoda cucunya. Larry tambah tertawa saja mendengarnya.


"Iya jadi adik Larry sajalah kamu ya." kata Nanta ikut menggoda Balen.


"Ndak..." jawab Balen cepat berdiri dibangku langsung memeluk Nanta.


"Ih kenapa peluk-peluk?" Nanta terkekeh.


"Baen sayan Aban." mencium pipi Abangnya.


"Bukannya sayang Abang Larry ya?" tanya Larry yang masih menyimak melalui telepon, entah kenapa juga Nanta menghubungi Larry.


"Sayan Abananta don." jawab Balen kembali menciumi Nanta, Kenan dan yang lain terkikik melihat bintang Utama malam ini.


"Yah Abang Larry sedih deh tidak disayang Balen."


"Aban, janan nanis ya. Baen sayan Aban Leyi ditit, sayan Abananta banaaaaaak deh."


"Duh Opon jadi iri." kata Baron pada Balen.


"Baen sayan Opon juda tok."


"Banyak apa sedikit?"


"Banak." mengangguk dengan yakin.


"Kalau sayang Nanta?" tanya Baron lagi


"Banaaaaaak deh." bayangkan sendiri bagaimana menggemaskannya wajah Singkong Rebus Abang ini.


"Gombal." Nanta tertawa balas menciumi adiknya, semua pun tertawa mendengar Balen sedang menggombali Abang Nantanya.


"Aban ndak mawah tan?" tanyanya pada Nanta.


"Marah kenapa?" tanya Nanta.


"Baen sutana beajal beenang sama Aban Leyi." katanya membuat Larry dan semuanya terbahak.


"Tanggung jawab lu Leyi." kata Nanta ikut memanggil Larry dengan gaya Balen.


"Balen besok sore deh ya, kita belajar berenangnya." kata Larry akhirnya, tidak tahan juga menghadapi rayuan singkong Rebus Aban.


"Matatih Aban Leyi." kata Balen dengan manisnya, ia tersenyum dan kembali mencium Nanta. Dania tertawa saja melihat kemesraan Abang beradik itu.


"Bagaimana tidak meleleh kalau begini." kata Nanta pada semuanya sambil meringis.