
"Serius sekali, bahas apa?" tanya Nona yang datang dengan dua kantongan kertas ditangannya, berisi makanan dan minuman untuk mereka bertiga.
"Rahasia." jawab Nanta nyengir lebar bersamaan dengan pengumuman pintu theater telah dibuka.
"Papa tengah." bisik Nanta pada Papa, niat sekali mengatur posisi duduk agar Nona disebelah Kenan. Tak ingin berdebat Kenan mengikuti saja keinginan Nanta.
Nanta dan Nona tampak tertawa hingga terbahak menyaksikan tayangan pada layar, tidak dengan Kenan, ia sibuk memikirkan perasaannya dan juga ucapan putranya tadi, lihatlah mereka berdua seperti tanpa beban, dengan santainya tertawa bebas, pikir Kenan. Akhirnya ia ikut tertawa bukan karena film yang Kenan sendiri tidak tahu dimana lucunya, karena jujur Kenan lebih banyak melamun, Kenan tertawa karena kelakuan dua kesayangannya yang tampak lucu, yang sekarang ada di sebelah kanan dan kirinya.
"Lucu ya filmnya?" bisik Nona pada Kenan, tangannya sibuk dengan popcorn yang tadi dibelinya.
"Lebih lucu kamu." bisik Kenan apa adanya, jangan tanya film karena sepertinya Kenan harus menonton ulang kalau tidak mau ketahuan melamun Dari tadi.
"Idih." dengus Nona sedikit kesal, kalau dekat saja manisnya minta ampun, kemarin kemana saja seperti tidak kenal gue, pikir Nona sambil menjauhkan kepalanya dari Kenan. Kembali menyaksikan tayangan yang ada dilayar. Wajahnya yang cemberut membuat Kenan terkekeh gemas.
"Aku mau ke toilet." kata Nanta segera berlari meninggalkan ruangan ketika lampu studio menyala, film sudah berakhir. Kenan masih duduk saja karena masih banyak orang yang mengantri untuk turun. Setelah antrian mulai sepi barulah Kenan berdiri diikuti oleh Nona yang berjalan dibelakang Kenan.
Saat akan menuruni tangga Kenan mengulurkan tangannya pada Nona.
"Kenapa?" tanya Nona sedikit ketus, wajahnya tidak begitu ramah.
"Sini saya gandeng." kata Kenan tersenyum, duh manis sekali, pertahanan Nona mulai goyah. Melihat Nona tampak ragu, Kenan segera meraih tangan Nona dan menggenggamnya erat.
"Oma-oma kalau turun tangga harus digandeng, nanti jatuh." kata Kenan sambil terkekeh.
"Ish menyebalkan, Mas Kenan pikir aku Nenek jompo." Nona langsung saja terbahak sambil memukuli bahu Kenan sebal tak sebal akhirnya pasrah juga digandeng Kenan hingga mereka tiba di depan pintu toilet, menunggu Nanta yang belum terlihat batang hidungnya.
Tak lama Nanta keluar dari pintu toilet dengan senyum mengembang, terlebih melihat Papa dengan santai menggandeng tangan Nona sementara Nona tampak salah tingkah dan berusaha melepas genggaman tangannya.
"Yuk!" ajak Nanta yang tidak terlihat terkejut ataupun menggoda keduanya. Nanta malah berjalan disamping Nona dan ikut menggandeng tangan Nona yang satunya. Tinggal Nona yang bingung dengan kelakuan ayah dan anak ini, mereka kompak sekali.
"Mau makan lagi?" tanya Kenan pada Nona dan Nanta.
"Aku kenyang." jawab Nanta.
"Beli es krim saja." pinta Nona mendongak pada Kenan.
"Iya aku mau kalau es krim." sahut Nanta bersemangat. Kenan kembali terkekeh melihat keduanya yang langsung heboh membahas rasa es krim yang akan mereka pesan berikut alasan kenapa mereka menyukai rasa itu. Pembahasan tidak penting tapi melihat keakraban keduanya, cukup menimbulkan rasa hangat di hati Kenan.
"Papa vanilla kan?" teriak Nanta ketika mereka berada didepan counter es krim kesukaan Nanta. Kenan mengangguk setuju, apapun yang dipesankan Nanta ia akan makan.
Menjelang magrib, mereka baru sampai di rumah Oma.
"Jalan-jalan bertiga, Om tidak diajak." protes Oma pada Nanta.
"Aku hanya menjalankan misi yang diminta Oma." bisik Nanta pada Oma sambil lewat.
"Iya Oma juga pura-pura." balas Oma terkekeh tapi ikut berbisik. Opa menggelengkan kepalanya, kelakuan istrinya memang suka ajaib tapi Opa tidak marah.
"Minggu depan yuk Ma, kita ngemal." ajak Nona pada Mama Nina.
"Boleh, kalau Mama dan Papa tidak jadi ke Jakarta." jawab Mama Nina dengan senyum melebar.
"Mama dan Papa mau ke Jakarta?" tanya Kenan yang duduk disebelah Papa.
"Tidak." Kenan menggelengkan kepalanya.
"Kamu menginap saja disini, kasihan nanti Nona kesepian." kata Mama Nina pada Kenan.
"Ada Bibi kan Ma, aku berani kok." kata Nona tak ingin merepotkan Kenan, selain itu ia risih sendiri, takut bertambah besar rasa sukanya pada Kenan.
"Aku dirumah saja, Ma. Lagi pula kamarku dipakai Nona." kekeh Kenan menolak permintaan Mama.
"Tidurnya dikamar Opa dan Oma saja, Pa." saran Nanta pada Kenan.
"Kamu menginap disini juga temani Papa dan Kak Nona." kata Opa ikut bersuara.
"Nanti aku ijin Mama dulu. Lagi pula masih minggu depan kan?"
"Iya sayang, itu juga kalau jadi." jawab Mama Nina mengerlingkan matanya pada Nanta. Nanta tersenyum melebar pada Oma.
"Jangan dipaksakan ya Nanta, aku tidak masalah tidak ditemani karena disini banyak pegawai juga. Jadi tidak kesepian." kata Nona apa adanya. Kenan diam saja seperti tidak ambil pusing.
"Aku pulang dulu, belum mandi nih. Nanta mau ikut ke rumah?" ajak Kenan pada Nanta.
"Nanta disini saja." protes Opa pada Kenan.
"Iya, setelah mandi kamu kesini lagi ya. Menginap saja disini, tidur sama Nanta di kamar Eja. Nanti Mama telepon Kiki supaya semua makan malam bersama disini." kata Mama pada Kenan.
"Tidak usah pulang, koper Papa ada disini, tadi Bang Ray chat aku. Masih ada baju bersih Papa dikoper kan?" tanya Nanta pada Kenan.
Malam ini, Kenan sudah tampak rapi dengan baju santai yang ada dikopernya. Nona belum selesai mandi, sementara Nanta sudah duduk manis bersama Opa dan Oma di meja makan, saling bercerita sambil menunggu yang lain datang.
"Nanta, good news nih, kata Kevin kamu masuk nominasi untuk U16 basketball, siap-siap masuk asrama." Nona menunjukkan handphonenya pada Nanta dengan wajah sumringah, tak perhatikan wajah Kenan yang tampak memerah kesal menahan cemburu. Kevin lagi Kevin lagi, batinnya.
"Pengumuman resmi menyusul." kata Nona melompat senang, Nanta tak kalah senang, tapi senyumnya menyurut begitu melihat wajah Papanya.
"Boleh, Pa? ikut seleksi U16?" tanya Nanta pada Kenan.
"Terserah kamu saja, Boy. Selama sekolah kamu tidak terganggu, Papa tidak akan melarang. Ingat tahun depan kamu bersiap masuk kuliah." Kenan menyerahkan keputusan pada Nanta, tak ingin membatasi ruang gerak anaknya.
"Iya nanti aku juga konsultasi dengan guruku di sekolah."
"Jangan lupa ijin Mama." kata Kenan lagi. Nanta mengangguk sambil tersenyum lebar.
"Kak Nona kapan kita bertemu Kak Kevin lagi?" tanya Nanta semangat.
"Untuk apa bertemu Kevin, nanti dikira kamu pakai orang dalam." ketus Kenan tak bisa menyembunyikan rasa cemburunya.
"Iya juga ya." Nanta terkekeh, tahu Papa sedang cemburu.
"Masa begitu saja dikira pakai orang dalam." protes Mama Nina.
"Hmm... namanya fitnah, Ma. Jaga-jaga saja." jawab Kenan berlagak acuh. Papa Dwi tersenyum melihat Kenan, rupanya Papa bisa membaca rasa tak suka Kenan saat nama Kevin di sebut Nona dan Nanta.