I Love You Too

I Love You Too
Rumit



"Rumi boleh minta nomor handphone kamu?" tanya Femi pada Rumi.


"Boleh, mau curhat soal Larry?" Rumi tersenyum sodorkan handphonenya pada Femi.


"Aku tidak suka curhat, aku senang berteman dengan kamu, apa adanya." jawab Femi sambil menekan tombol pada handphone Rumi, menyimpan nomor handphonenya di kontak Rumi, lalu lakukan panggilan tak terjawab.


"Save nama Femi ya." Rumi memeriksa kontaknya.


"Iya." jawab Femi.


"Terima kasih mau jadi temanku." Rumi tersenyum.


"Aku juga terima kasih dong." Femi terkekeh. Letakkan mukena yang masih ditangannya lalu menarik Rumi bergabung dengan yang lain.


"Duh kalian bicara apa sih serius sekali?" tanya Seiqa saat keduanya mendekat.


"Hahaha kasih tau tidak ya?" Rumi terbahak.


"Tidak usah, aku sudah dengar tadi." jawab Dania terkekeh.


"Kamu menguping ya?" tanya Rumi


"Terdengar Rumi, bukan menguping. Harusnya yang lain juga dengar, tapi mereka terlalu konsentrasi." kata Dania tertawa.


"Iya, aku dengar selintas saja." jawab Dini. Rumi dan Femi tertawa.


"Kami sekarang berteman." kata Rumi tertawa senang.


"Iya temanku nambah Bu Dini." Femi ikut senang.


"Alhamdulillah, aku kebagian berkahnya deh ya." Dini jadi ikut senang.


"Ini es krim tidak ada yang makan, masukkan kulkas saja ya." kata Dini kemudian.


"Aku mau deh." Rumi mengambil satu sebelum Dini masukkan kulkas.


"Aku juga mau." Dania ikut ambil, eh yang lain ambil juga, dasar mereka, tadi saja jual mahal. Setelah pastikan semua kebagian Dini masukkan kotak yang lain ke kulkas. Semua nikmati es krim sambil menunggu para lelaki kembali dari Mesjid.


"Assalamualaikum..." yang ditunggu akhirnya datang.


"Waduh pada makan es krim, enak betul." Nanta gelengkan kepalanya. Dania tersenyum ulurkan es ditangannya suapi Nanta.


"Masih ada?" tanya Nanta sambil nikmati suapan istrinya.


"dikhulkhas." jawab Dania dengan mulut penuh es. Nanta terbahak mencium pipi istrinya gemas.


"Tidak usah bicara, nanti ngences lagi." kata Nanta tertawakan Dania. Dania terdiam nikmati es nya setelah habis baru tertawa.


"Kamu yang ajak bicara." katanya kembali suapi suaminya.


"Ish apa sih mengumbar kemesraan." protes Larry pada keduanya.


"Sudah halal." Nanta julurkan lidahnya.


"Pamer." sungut Larry membuat semua terbahak.


"Ayo jalan." ajak Deni tidak mau berlama-lama. Semua beranjak keluar menuju Mobil masing-masing.


"Seperti tadi saja ya." pesan Doni pada sahabatnya.


"Aku dimobil Bang Mike ya, lebih seru." dasar Daniel membelot.


"Sempit." kata Larry pikirkan Dania yang sedang hamil.


"Biar saja dimobil gue." kata Mike lagi.


"Terserah deh." kata Larry akhirnya tidak bisa memaksa.


"Ada yang mau disini?" Doni tawarkan karena Daniel pindah mobil.


"Aku sih sebenarnya mau, tapi Seiqa cewek sendiri." jawab Rumi lambaikan tangan pada seisi mobil Larry.


"Ih sombong." Larry tertawa menggoda Rumi.


"Kamu juga sombong." Rumi mencibir lalu masuk ke mobil Mike. Larry tertawa saja memandangi Rumi.


"Depan Lu." kata Larry, tidak mau dijadikan supir oleh Doni.


"Femi dimana?" tanya Doni, sibuk atur posisi.


"Aku sama Fino." jawab Femi tunjuk Mobil Fino.


"Tidak disini saja satu mobil, Fino tinggal disini saja mobilnya." Doni menawarkan.


"Tidak sempit?" tanya Fino.


"Kamu didepan, kita bertiga dibelakang." kata Doni pada Fino.


"Boleh." jawab Fino akhirnya masuk kemobil Larry duduk didepan, sedangkan Dona ambil posisi tengah.


"Sempit tidak dibelakang?" tanya Larry pastikan semuanya nyaman.


"Es krim Balen sudah belum Om?" tanya Larry saat melihat Deni keluar dari rumahnya, hentikan kendaraannya.


"Ah hampir lupa, ambil sayang." pinta Deni pada istrinya. Dini kembali masuk kerumahnya mengambil es krim yang ia masukkan kulkas tadi, sementara Femi sudah masukkan es krimnya ke cooler di mobil Fino tadi.


"Hahaha maaf ya Om, bisa merajuk cantikku kalau sampai lupa, karena Om tadi sudah cerita." kata Larry dari mobilnya dengan jendela terbuka.


"Takut betul dia kalau Balen merajuk." Doni ikutan nimbrung.


"Bisa kesepian gue." jawab Larry apa adanya.


"Siapa Balen?" tanya Fino.


"Itu loh ponakan dokter Deni yang kita tonton iklannya semalam." Jawab Femi cepat.


"Eh iya, dari tadi mikir loh gue, lihat kalian dimana kok familiar." Fino terbahak.


"Ternyata?" tanya Larry.


"Ternyata di TV semalam." jawab Fino tertawa. Semalam seluruh karyawan rumah sakit dihimbau untuk saksikan iklan keponakan pemilik rumah sakit, terang saja Fino melihat.


"Suka nonton tv juga?" tanya Larry.


"Tidak. Semalam ada himbauan dari Bos untuk saksikan iklan." jawab Fino membuat semua terbahak.


"Om Samuel tidak ikut?" tanya Larry ingat Samuel.


"Ikut, dia sudah di restaurant sama yang lain."


Semua mulai lajukan kendaraannya ikuti Deni, walaupun Fino dan Femi tahu dimana letak restaurant yang dimaksud. Tapi berhubung Mobil Deni di depan mala biarkan suami istri itu memimpin, lagi pula mereka tuan rumahnya.


"Sering jalan-jalan begini ya?" tanya Fino pada Larry.


"Baru kali ini yang tanpa bekerja, biasanya sambil bekerja." jawab Larry tertawa.


"Ramai begini bekerja?" tanya Fino tidak percaya.


"Iya makanya kita pilih istri yang tidak bekerja, jadi kalau kita lagi tugas luar kota istri bisa ikut." kata Doni sampaikan alasannya.


"Iya sih seru juga ya, travel tapi dapat uang." Fino tertawa.


"Setidaknya bisa senangkan istri yang hobby belanja." Doni melirik Dona yang cengengesan.


"Curhat dia Fin." Larry terkekeh.


"Justru karena aku hobby belanja kamu jadi banyak rejekinya kan." kata Dona membuat Femi terbahak.


"Tertawa lagi." protes Larry.


"Aku ingat Rumi bilang tadi, kalau suami sanggup kenapa tidak, benar juga sih." Femi masih tertawa.


"Jadi kamu mau berhenti kalau nanti suamimu minta berhenti?" tanya Fino.


"Tidak." jawab Femi mantap.


"Tidak ikut travel seperti ini, mereka seru loh." kata Fino lagi.


"Ish cita-citaku dari kecil jadi dokter, masa harus kandas karena menikah. Mending aku tidak menikah." jawab Femi santai.


"Rumit..." Dona bergumam, Doni tertawa mencubit pipi istrinya.


"Kamu mau istri bekerja atau tidak Leyi?" tanya Doni pada Larry.


"Tidak, kan harus ikut gue kalau gue keluar kota atau luar negeri. Nanti kalian bawa istri gue gigit jari dong." jawab Larry mantap.


"Tambah rumit." gumam Dona lagi, kembali Doni terbahak dan kali ini mengacak anak rambut istrinya.


"Semoga kalian bertemu dengan pasangan yang sesuai keinginan kalian." kata Doni kemudian, simpulkan Larry dan Femi tidak sejalan.


"Aamiin." jawab Femi dan Larry bersamaan.


"Wah kalian tidak sepaham." Fino menggelengkan kepalanya.


"Siapa?" tanya Larry.


"Kamu sama Femi." jawab Fino.


"Iya memang." Larry terkekeh.


"Kalau begini, bagaimana?" tanya Fino lagi.


"Bagaimana? bagaimana?" Larry memandang sekilas pada Fino.


"Tidak bisa jadian dong." Fino polos sekali.


"Yah tidak sepaham kalau dipaksakan juga tidak baik." jawab Femi, Larry menyeringai.


"Dari awal Femi sudah pasang trademark kalau gue playboy jadi susah juga gue mau maju. Tambah lagi kalau menikah Femi tidak mau berhenti bekerja kan, gue juga tidak mungkin matikan cita-cita Femi. Iya kan Fem?" Larry mengarahkan spion pada Femi. Walau gelap kadang masih terlihat karena cahaya dari luar.


"Iya." jawab Femi menghela nafas. Kok Femi jadi sedih sendiri dengar Larry bilang begitu. Dona menoleh kearah Femi, tampak jelas Femi kecewa, padahal dari awal Femi yang tolak Larry.