
"Apa kabar adek sayang?" Kenan melihat seorang pria dengan jas dokter masuk menyapa tetangga dibalik tirai. Tidak terdengar respon dari Nona.
"Masih sakit?" tanya pria itu lagi. Disini Kenan memang hanya bisa menguping. Nona masih belum terdengar jawabannya.
"Jangan marah dong, gue habis rapat langsung kesini loh, demi adek tersayang."
"Masih berasa punya adek?" suara Nona terdengar ketus.
"Ya ampun, elu tuh satu-satunya kesayangan keluarga."
"Tidak merasa disayang tuh, buktinya elu sama papa sibuk terus. Gue dirawat dari kemarin, lu baru datang sekarang, itupun setelah gue bilang mau tuntut kalian. Papa malah sampai sekarang belum datang, meneleponpun tidak." dengus Nona lagi.
"Kita sibuk juga untuk kamu sayang."
"Untuk gue??? terdengar mengharukan sekali, kenyataannya hidup gue menyedihkan. Gue mau pindah kamar, Mas yang disebelah sudah sadar."
"Kamu sudah sehat, sudah boleh pulang hari ini."
"Mau menghilangkan bukti kalau gue ada dikamar laki-laki? Gue serius loh mau tuntut Abang gue dan Papa yang sampai sekarang juga belum besuk gue sekarang."
"Barang bukti apa sih? jangan begitu lah, Gue ngerti kenapa lu marah, mogok makan. Tapi jangan konyol, sayang. Kamu jangan sampai sakit. Kenapa kamu tidak pilih berlibur saja dari pada mogok makan sih? Gue rela kasih uang untuk liburan kok."
"Memang kalian senang kan kalau gue pergi? Kenapa dulu gue tidak mati saja ikut mama sih? Biar elu sama Papa bebas." Nona mulai histeris.
"Nona jangan konyol!!! kamu selalu berpikir negatif tentang gue dan Papa ya. Asal lu tahu kita sayang banget sama kamu. Gue kasih ijin Papa menikah lagi biar ada yang merawat dan menemani hari tua Papa. Biar hidup kamu juga tidak hanya terfokus sama Papa, biar kamu bisa aktifitas bebas dan bergaul sama teman-teman kamu!!!" Suara abangnya terdengar tegas.
"Gue cuma butuh elu sama Papa, bukan yang lain!!!" Nona mulai menangis. Cengeng juga ternyata dibalik cerewet dan galaknya, Kenan mulai penasaran, seperti apa bentuk rupa tetangganya.
"Hei... sayang. Sini peluk, gue selalu ada untuk kamu kok. Kemarin gue masih diluar kota, tadi pagi datang langsung rapat, baru bisa kesini setelah rapat selesai. Gue minta maaf kalau gue terlalu sibuk, tapi gue juga mesti tanggung jawab sama kerjaan gue. Gue harap lu bisa mengerti." Sweet sekali punya abang begini.
"Jangan menangis, berisik. Nanti pasien disebelah kamu dengar, malu kita. Pulang saja ya hari ini, Papa tidak mungkin besuk, sekarang masih di Bali. Gue janji selalu ada buat elu. Kalaupun gue diluar kota lu bisa main sama teman-teman lu. Mereka juga teman gue kan. Atau lu cari pacar sekalian calon suami, kenalin sama gue kalau lolos seleksi gue restui, atau mau gue yang carikan?"
"Jangan bercanda, gue lagi sedih begini, elu malah bahas calon suami, pacar segala. Kalau gue bilang gue mau sama Samuel elu setuju?"
"Tidak lolos seleksi sayang. Kan gue bilang kalau lolos seleksi gue restui."
"Yang lolos seleksi yang bagaimana?"
"Yang seiman, takut sama Allah, bertanggung jawab, ulet, rajin, sayang sama kamu, menerima kamu apa adanya. Mengerti kan kenapa Samuel tidak lolos seleksi?"
"Ulet, rajin, memang cari pembantu."
"Kalau malas bekerja kamu mau makan apa?"
"Oke."
"Oke apa?"
"Carikan gue calon suami."
Kenan menahan tawanya. Lucu sekali gadis ini. Benar-benar penasaran. Dari kemarin hanya mendengar suaranya saja. Suntuk juga hanya tidur, sulit bergerak, Reza kemarin datang hanya sebentar. Hari ini janji akan datang bersama Raymond dan istrinya. Kenan menghela nafas panjang. Keponakannya sudah mempunyai istri. Sementara om nya sudah tiga tahun ini menyendiri.
Kalau ada istri pasti sekarang ada yang menemani, menyuapi makan, menemani ngobrol. Jadi menyesal kenapa dulu bercerai? tidak... Kenan tidak pernah menyesal dengan keputusannya berpisah dari Tari. Dulu saat berumah tangga, Kenan belum bisa mengusir Sheila Dari hatinya. Kasihan Tari menjadi istri tapi di hati dan diotak Kenan hanya ada Sheila. Saat itu pertemuan tidak sengaja antara Kenan dan Sheila membuat pikiran Kenan tambah bercabang. Walaupun Kenan tahu Sheila hanya menganggap ya sebagai sahabat, tetap saja untuk Sheila kaki jadi kepala, kepala jadi kaki. Sekarang Tari sudah bahagia, Tari baru saja menikah seminggu yang lalu. Sementara nasib Kenan, membuatnya miris sendiri.
"Kenan Sayang, sedang melamun apa, Nak?" tampak Mama Nina sedang berdiri didepan pintu.
"Mama sama siapa?"
"Mama peluk aku kangen."
"Ish kamu sudah tua masih saja begitu. Kenapa sih ke Jakarta bawa Mobil. Sudah Mama larang, masih saja nakal." Mama Nina tetap saja menghampiri anaknya dan memeluknya.
"Mama... aku lagi tidak berdaya begini. Bukannya disayang. Lagi pula aku harus berkantor disana sebulan, jadi aku perlu Mobil."
"Sekarang mobilnya hancur, kamu juga Babak belur."
"Iya maaf."
"Kamu tidak pengap ya tertutup tirai begini?"
"Hmmm." Kenan hanya mengangguk.
"Buka ya. srrrrttttt." Belum sempat dijawab Mama Nina sudah membuka tirai pembatas. Tampaklah Nona sedang dalam pelukan abangnya. Mereka melihat kearah Mama Nina dan Kenan.
"Oh maaf saya tidak tahu ada orang lagi. Saya kira Kenan sendiri diruangan ini." Mama Nina merasa tidak enak hati.
"Tidak apa bu, buka saja. Adik saya hari ini sudah boleh pulang kok." kata Deni pada Mama Nina.
"Wah adiknya, saya kira pacar atau istrinya dokter." hmmm emak-emak mulai kepo ya.
"Ini lagi mau saya carikan pacar." kata Deni, membuat Nona melotot.
"Ah umur berapa? Mau tidak sama Duda." Mama Nina menunjuk Kenan. Kenan pun ikut melotot dibuatnya.
"Tapi nanti saja kalau sudah sehat. Sekarang belum kelihatan gantengnya." sambung Mama Nina lagi. Deni tertawa dibuatnya.
"Enak sekali masih punya Mama." wajah Nona tampak sendu. Mama Nina jadi ikut sendu.
"Cerewet tapi Mamanya." kekeh Mama Nina.
"Tidak apa cerewet tapi bisa dipeluk." jawab Nona.
"Kamu mau tante peluk, Nak. Boleh?" Mama Nina meminta ijin pada Deni yang sudah berdiri. Deni menganggukkan kepalanya. Spontan Mama Nina memeluk Nona.
"Boleh kok panggil tante Mama, tadi Tante hanya bercanda jangan diambil hati." kata Mama Nina dalam pelukannya.
"Beneran boleh panggil Mama atau bercanda juga?" tanya Nona konyol. Kenan dan Deni terbahak dibuatnya.
"Boleh panggil Mama, yang bercanda itu mau nawarin Duda ini ke kamu." kekeh Mama Nina lagi.
"Nama saya Deni, Bu. Adik saya Nona." Deni memperkenalkan diri.
"Wah Nona ketemu Nina." sahut Kenan cepat.
"Hahaha iya loh nama saya Nina. Berjodoh kita nih." jawab Mama Nina heboh.
"Ya ampun Oma, ada dimana saja pasti heboh deh." Raymond menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Oma gaulnya.
"Oma!!!" panggil Raymond. Ia sudah duduk dipinggiran kasur Kenan. Sementara Oma masih heboh sama Nona, yang lain diabaikan.
"Cocok." kata Deni menunjuk Mama Nina dan Nona. Entah mereka membahas apa.
"Memang begitu pak Deni, Mama selalu heboh dimanapun." Kekeh Reza, akhirnya Deni pun berpindah tempat, ngobrol bersama Raymond, Reza dan Kenan. Mama Nina dan Nona seru sendiri.