I Love You Too

I Love You Too
Flu



"Aku berangkat dulu ya." Nanta mengecup bibir istrinya saat pamit akan ke sukabumi secara mendadak. Mereka hanya berdua dikamar saat ini, Balen dari tadi sudah keluar dan bermain bersama Richi dan pengasuhnya.


"Aku tidak diajak." rengek Dania yang sedikit kesal karena suaminya harus berangkat diluar rencana.


"Ini tugas bukan main-main." tegas Nanta sambil kembali mengecup pucuk kepala Dania.


"Mau apa sih? kemarin tidak bahas mau ke sukabumi." Dania bersungut.


"Tugas mendadak sama Bang Ray juga. Semalam baru dapat perintah." jawab Nanta apa adanya.


"Apa sering begini?" tanya Dania.


"Ya tidak tahu, ini pertama kalinya, biasanya selalu terencana." jawab Nanta


"Doakan lancar semuanya ya." pesan Nanta lagi. Dania menganggukkan kepalanya.


"Hari ini aku terapi." kata Dania pada Nanta.


"Loh kok tidak kasih tahu aku?" protes Nanta.


"Lupa." jawab Dania singkat, masih sedikit kesal.


"Nanti aku bilang Om Micko, mau pakai Pak Atang atau ada supir khusus untuk kamu." kata Nanta pada istrinya.


"Hmm..." jawab Dania malas.


"Sayang..." Nanta memeluk Dania erat.


"Jangan cemberut dong doakan aku. Ini untuk kamu juga." bisik Nanta pada istrinya. Hati Dania serasa mencelos mendengarnya.


"Iya." jawab Dania melunak.


"Mau kiss seperti semalam?" Nanta terkekeh.


"Nanti Mas Nanta yang sakit kepala." jawab Dania serius, ia sih siap saja.


"Tidak." jawab Nanta dan mulai ******* bibir istrinya, semakin lama semakin menuntut. Nanta merapatkan badannya dengan badan Dania.


"Ah Sayang..." pekik Dania pelan saat Nanta menggigit bibirnya, malah Dania yang tidak tahan. Nanta terkekeh menghentikan ciumannya.


"Doakan aku." bisik Nanta saat hidung keduanya beradu dan mereka saling tatap. Dania menghela nafas dan menganggukkan kepalanya.


"Abaaan... pandil Papon." teriak Balen berlari masuk kekamar Nanta, untung saja Nanta dan Dania sudah tidak saling berpelukan. Nanta segera menyambut dan menggendong adik kesayangannya.


"Kenapa?" tanya Nanta tersenyum pada Balen.


"Ban Lemon udah siap." lapor Balen sambil mencium pipi Abangnya.


"Oke." jawab Nanta menggandeng Dania keluar kamar sambil menggendong Balen.


"Tania napa tuh bibilna bentat." Balen menunjuk bibir Dania.


"Masa?" Dania langsung saja panik.


"Eh iya sayang." kata Nanta terkekeh mengusap bibir Dania dengan tangannya.


"Huhu Mas Nanta bagaimana ini." Dania langsung panik.


"Kakak Dania flu, sepertinya harus pakai masker biar tidak menulari kita ya." kata Nanta pada Balen.


"Iya tuh, tutup mulutna Tania pate puna aban tuh di lemaii." kata Balen menunjukkan posisi masker Nanta yang ada dilemari.


"Iya Dan, kamu ambil maskernya di lemari." perintah Nanta pada Dania.


"Ya sudah Mas Nanta ke Papa duluan deh, aku ambil masker." jawab Dania balik lagi ke kamar.


"Mana Dania?" tanya Nona saat Nanta hanya berdua dengan Balen.


"Lagi ambil masker dia flu." jawab Nanta tersenyum.


"Tasian Mamon Tania bibilna bentat." Balen membuat yang lain terbahak.


"Flu?" tanya Raymond menaikkan alisnya.


"Hu uh." jawab Nanta sok acuh.


"Kasihan, sudah tidur bertiga flu lagi, pasti pagi-pagi dihajar itu saat tidak ada Balen." timpal Roma konyol.


"Iyaa terus saja adiknya digangguin." kata Nanta sambil mendudukkan Balen dikursi makan, Raymond terbahak.


"Ray, kamu ini seperti tidak pernah saja." Omel Opa pada Raymond.


"Justru karena pernah Opa, jadi tahu yang sesungguhnya dan tidak." sahut Raymond tertawa geli.


"Pssst... jangan bahas depan Istriku." omel Nanta pada Abangnya.


"Jangan bahas flu juga." Nanta mengintimidasi.


"Siap ndoro." jawab Raymond lagi terbahak.


"Ray, suka sekali menggoda adiknya." Oma menggelengkan kepalanya.


"Iya nih Oma." Nanta bersungut mencium tangan Oma yang dari shubuh baru kelihatan.


"Oma kenapa baru muncul." tanya Nanta pada Oma.


"Oma flu." jawab Oma tidak lama kemudian mulai bersin.


"Tapi bibil Oma ndak bentat." kata Balen pada Oma.


"Lain-lain flunya, sudah jangan dipikirkan." kata Oma tidak ingin Balen terus membahas bibir khawatir Dania malu.


"Yah." jawab Balen menurut.


"Tuh Istriku tidak berani keluar kamar, karena Balen rusuh." kata Nanta setelah membaca pesan dari Dania. Semua tertawa jadinya.


"Kejadian lagi nih seperti Roma." celutuk Kenan.


"Om, masa lalu jangan dibahas dong Om." pinta Roma pada Kenan, semua kembali terbahak.


"Ih kenapa Kak Roma kasih tahu lah." kata Nanta pada Abangnya penasaran.


"Ish sudah tidak usah diperpanjang, itu aib." kata Roma lagi, semua kembali terbahak.


"Tidak adil." sungut Nanta sambil menyendokkan nasi untuk Dania.


"Aku sarapan dikamar ya." katanya meninggalkan yang lain.


"Ish tidak seru." gerutu Raymond karena ditinggal Nanta.


"Kasihan Istriku." kata Nanta terbahak. Kenan dan Nona saling berpandangan, pemandangan barusan membuatnya Nona terkikik geli, begini rupanya kalau Nanta jatuh cinta.


"Mas Nanta kenapa sarapannya dibawa ke kamar?" tanya Dania pada Nanta, ia sedang mengkompres bibirnya.


"Aku mau sarapan sama kamu." jawab Nanta terkekeh, mulai menyuapi istrinya makan bergantian dengan Nanta.


"Hu uh pada bilang apa, aku malu."


"Tidak usah malu, semua juga pernah begini." jawab Nanta tertawa geli.


"Masa?" Dania tidak percaya.


"Iya tuh tadi Papa bilang Kak Roma sama Bang Ray juga." Nanta terbahak.


"Walaupun pernah aku tidak mau begini lagi ah." sungut Dania.


"Iya-iya, tadi itu aku gemas." Nanta kembali tertawa.


Setelah menyuapi Dania Nanta pun kembali pamit pada istrinya, sudah tidak pakai kiss lah khawatir terjadi yang lain lagi. Om Micko sudah beberapa kali menghubungi Nanta menanyakan posisi mereka dimana, sekaligus mengabarkan kalau Om Micko tidak bisa menemui Nanta sementara waktu, karena menurut info orangnya Om Micko yang dikantor Peter, Om Micko sedang dipantau dan diikuti oleh orang suruhan Peter.


"Hati-hati Mas." kata Dania mengantarkan suaminya ke teras, bibirnya sudah tidak bengkak seperti tadi. Ampuh juga kompresan yang Dania baca di internet. Raymond tertawa jahil memandangi Dania dan Nanta.


"Apa?" tanya Nanta melotot tanpa bersuara pada Abangnya. Raymond memonyongkan bibirnya saja membuat Nanta tertawa geli.


"Pa, nanti Dania ke dokter psikiater, hari ini jadwal terapi." kata Nanta pada Papanya.


"Oke nanti aku temani." kata Nona langsung saja ambil keputusan tanpa persetujuan Kenan.


"Ijin dulu Mamon." Nanta menaikkan alisnya melirik Papa. Kenan terkekeh mengacak anak rambut Nanta.


"Pasti boleh Boy, seperti yang Papa bilang, Dania anak Papa dan Mamon juga." kata Kenan membuat Dania tersenyum senang


"Baen itut don te dotelna." kata Balen pada Mamon. Nona menggelengkan kepalanya.


"Dirumah saja sama Ncusss." kata Mamon pada Balen.


"Ih Mamon mah, abis te dotel tita te mal." bujuk Balen pada Mamon. Nona dan Kenan terbahak, Balen meniru Nona saat membujuk Balen.


"Iya-iya." jawab Nona akhirnya.


"Balen sama Opa dan Oma saja ke Mal, nanti Mamon dan Kak Dania menyusul." kata Opa Dwi pada Balen.


"Aku?" tanya Roma.


"Kamu langsung ke Mal saja." perintah Raymond pada Roma.


"Iya temani Opa dan Oma." kata Kenan lagi. Roma menganggukkan kepalanya setuju.