
"Cerita dong Om." serbu Nanta saat Om Deni kembali sore hari. Sahabatnya sudah pulang setelah makan siang tadi.
"Rahasia." jawab Om Deni cengengesan. Nanta langsung mendengus kesal, kan Nanta yang kenalkan malah rahasia-rahasiaan segala. Melihat Nanta cemberut Deni langsung terbahak mengacak anak rambut Nanta.
"Thank you ya." katanya sumringah. Ah sudahlah mungkin karena sudah dewasa jadi hal seperti itu malas untuk diceritakan, tapi dari raut wajahnya sih bahagia. Semoga memang benar begitu adanya.
"Jadi kapan mau bertemu lagi?" tanya Samuel sok kalem padahal juga penasaran sama seperti Nanta, Kenan cengengesan saja.
"Belum janjian lagi sih." jawab Deni, Samuel langsung mendorong bahu sahabatnya.
"Gerak cepat lah, keburu tua lu." katanya sombong.
"Ck... terburu-buru juga tidak baik." jawabnya berdecak kesal
"Ya sudah ditunggu kabar baiknya." Nanta tersenyum manis.
"Seperti menawarkan apa saja." Deni terkekeh.
"Aku menawarkan jodoh." jawab Nanta sok kalem, Samuel tersenyum cengengesan.
"Karena obrolan dengan Om Deni tidak seru, aku mau ke kamarku saja lebih seru pastinya." kata Nanta lagi.
"Nih gendong si kembar pasti seru juga." Samuel menawarkan baby kembarnya yang belum dua tahun.
"Pasti nangis kalau aku gendong." jawab Nanta sudah pernah mendengar bocah histeris.
"Coba lagi, kemarin itu belum akrab." Samuel memaksa, Nanta menuruti keinginan Samuel.
"Huaaaaa mama..."
"Tuh aku bilang apa?" Nanta memonyongkan bibirnya.
"Kamu setengah hati sih." sungut Samuel segera berdiri menenangkan anaknya. Nanta meringis, malah menyalahkan lagi. Istri Samuel segera datang setelah meletakkan yang satu di pangkuan Deni.
"Kenapa?" tanya Mariam segera mengambil alih anaknya yang langsung terdiam digendong Mamanya.
"Tadinya aku mau gendong, malah nangis." adu Nanta pada Mariam.
"Memang begitu, maunya sama Mama saja ini berdua." gerutu Mariam.
"Papa tidak laku ya?" tanya Nanta.
"Ya mau juga, tapi kalau bisa Mama saja."
"Capek dong Tante?" tanya Nanta serius.
"Ya begitu lah, nikmati saja." jawab Mariam sambil menggendong anaknya.
"Nanti kalau anakku sih diletakkan saja di kursi atau kasur, biar saja menangis." kata Nanta pada Mariam dan Samuel.
"Nanti saja komentarnya kalau kamu sudah punya anak." Samuel terkekeh.
"Yang pasti tidak akan aku titip pada Mamon dan Papon." Nanta menyampaikan cita-citanya jika sudah punya anak.
"Istrimu jaga sendiri?"
"Ada yang bantu lah, tapi tidak merepotkan orang tua." jawab Nanta.
"Padahal lebih aman sama orang tua." kata Deni mencubit gemas anak Samuel yang ada dipangkuannya.
"Nanta nangis Den." teriak Nona yang ternyata perhatikan di ruangan lain.
"Lihat saja lagi." Deni terkekeh.
"Lu cuma pangku sebentar langsung mau dibikin nangis." Omel samuel, Deni tertawa.
"Gara-gara kamu om dimarahi terus." kata Deni menciumi keponakannya.
"Om nya jahil, nanti balas saja keanaknya." kata Samuel pada putranya.
"Parah anak kecil diajari yang tidak-tidak." Deni menggelengkan kepalanya, Samuel terkikik geli.
"Aku ke Nona ya." pamit Mariam pada suaminya. Samuel menganggukkan kepalanya.
"Jadi bagaimana Dini?" tanya Samuel lagi penasaran.
"Ya begitu saja kan baru pertama kenal." jawab Deni apa adanya.
"Secara garis besar?" Nanta ikutan interview Om Deni.
"Biasa saja." jawab Deni
"Kalau jawabnya begitu, berarti tidak sreg ya?" tanya Nanta pada Samuel.
"Tergantung sih, dia suka menyembunyikan perasaannya." jawab Samuel melirik Deni.
"Apanya yang fitnah sih, kenyataan. Berapa kali kan begitu bilang biasa saja, giliran ditinggal nikah sedih." sindir Samuel mengingat gadis incaran Deni yang mantan pacar Wawan sepupunya sudah menikah, bukan dengan Wawan juga tapi dengan pria lain. Pikirnya mungkin kalau sama Deni akan bertemu Tante Gadis lagi Mamanya Wawan yang judesnya minta ampun, itu sih tebakan Deni saja.
"Bahas dia terus, bosan ah." Deni mengedikkan bahunya.
"Sudah ada Dini, sudah bisa bilang bosan." Samuel menaikkan alisnya pada Nanta.
"Suka tidak Om sama Kak Dini?" tanya Nanta to the point.
"Mesti bertemu beberapa kali baru bisa tahu suka apa tidak." jawab Deni melengos.
"Ya janjian lagi dong, mumpung masih di Jakarta. Minggu depan sudah kembali ke Cirebon." kata Samuel mengingatkan.
"Aku extend deh, kamu saja yang pulang lebih dulu." jawab Deni membuat Samuel terkekeh.
"Dalam rangka pedekate, makanya extend?" Nanta memastikan.
"Iya, kan Om bilang perlu bertemu beberapa kali." tegas Deni.
"Mesti ya begitu?" Nanta terkekeh, ada saja akal bulus Om Deni.
"Nah elu sudah ajak dia bertemu lagi?" tanya Samuel pada Deni.
"Sudah, jadi dua minggu ini gue antar jemput Dini ya." Deni minta ijin.
"Terus gue apa kabarnya? ikut antar jemput juga?" tanya Samuel bingung.
"Terserah mau bawa mobil terpisah, atau mau naik ojek online." jawab Deni santai, Samuel terkekeh.
"Begitu kan suka sok cool, nasib gue di terserahkan." dengus Samuel, Nanta terbahak.
"Pakai Mobil aku saja Om." kata Nanta pada Samuel.
"Kamu bagaimana nanti?" tanya Samuel memastikan Nanta tidak akan terganggu karena mobilnya Samuel pakai.
"Aku bisa minta antar jemput Pak Atang." jawab Nanta terpaksa mengandalkan Pak Atang.
"Baiklah demi Dendin, kita sedikit berkorban" kata Samuel menghela nafas.
"Dendin lagi." Deni terbahak, Samuel dan Nanta ikut terbahak.
"Papa mesem-mesem saja." kata Nanta melihat Kenan yang terus saja Mesem-mesem mendengar ocehan ketiganya.
"Pembahasan Abege, bukan zonanya Papa lagi." kata Kenan membuat Deni terbahak.
"Seperti Abege kah?" tanya Deni jadi malu.
"Tidak sih, tapi masa-masa pedekate itu kan lagi seru-serunya." kata Kenan berkomentar.
"Kalau sudah tidak pedekate tidak seru ya?" pancing Nona.
"Malas jawab." Kenan tertawa memandang Nona.
"Ish kenapa tidak berani jawab?" tanya Nona mulai judes.
"Sudah tahu ending ya seperti apa." jawab Kenan kembali tertawa.
"Endingnya apa?" tanya Mariam ingin tahu.
"Bisa punya adik lagi Nanta." jawab Nona vulgar.
"Hahaha kenapa begitu?" Samuel terbahak.
"Kalau salah jawab itu kan bisa ribut." jawab Kenan, Nanta senyum-senyum mulai ngerti.
"Abis ribut biasanya lebih hot ya." gumam Nanta membuat Samuel dan Deni rusuh, menyoraki Nanta.
"Ish kok malah membully aku." sungut Nanta, Kenan terbahak. Meskipun anaknya sudah dewasa dan sebentar lagi punya anak, tetap saja lucu mendengar Nanta berkata begitu.
"Kamu tuh ternyata ya omes juga." kata Deni menggelengkan kepalanya.
"Yah terus bagaimana, kan katanya kalau ribut aku bisa punya adik lagi." Nanta memandangi semuanya.
"Iya betul." jawab Kenan.
"Nah berarti kalau habis ribut lebih hot kan?" tanya Nanta dipertegas.
"Ish, kasihan ini yang belum pernah." kata Samuel menunjuk Deni, konyol.
"Om, perlu tutorial tidak?" kata Nanta menawarkan, berdasarkan pengalamannya kemarin sebelum menikah, Papa Micko dan Bang Ray sibuk untuk urusan malam pertama.
"Tidak usah, sudah ada dalam ilmu kedokteran." jawab Deni membuat semuanya tertawa.
"Yah dokter kan tidak semua mengerti." kata Nanta lagi, dasar Nanta mentang-mentang senior sudah ingin kasih training saja.