
"Mama sudah diceritakan Papa sampai mana?" tanya Nanta pada Mamanya via telepon, saat Tari menanyakan perkembangan kisah Nanta dan Dania.
"Sampai kalian mau makan siang bersama Micko dan Lulu." jawab Tari, berarti Papa dan Mamon rajin melaporkan setiap perkembangan yang ada.
"Oh berarti yang pembina tidak permasalahkan aku menikah cepat, Mama sudah tahu ya?" tanya Nanta sambil membelai rambut Balen yang sudah tertidur dipangkuannya, mereka masih di sofa saat ini.
"Sudah, pokoknya cerita saat makan siang tadi juga Mama sudah tahu. Terakhir kata Micko kamu sudah mendapat restu dari Maya?" tanya Tari lancar. Berarti Mama juga sudah dapat laporannya.
"Iya, sedang disiapkan surat kuasa oleh Om Micko." kata Nanta pada Mama.
"Kapan mau lamaran virtual? Mama dan Om Bagus ikut." Tari sudah siap melamar Dania rupanya.
"Belum bahas sama Papa." jawab Nanta.
"Ma, aku sepertinya tidak bisa ke Malang deh, dua minggu lagi sudah Training Camp, lanjut berangkat ke Amerika." Nanta menjelaskan pada Mama.
"Oh iya tidak apa, Mama saja yang ke Jakarta kalau kamu jadi menikah sebelum Training Camp." kata Tari santai.
"Ma, kenapa ijinkan aku menikah cepat?" tanya Nanta ingin tahu apa yang ada dalam pikiran Tari.
"Karena secara keuangan kamu sudah mampu sayang, Mama juga mau kamu terhindar dari zina, kamu dan Dania sudah saling suka, orang tua saling mengenal, apalagi?" jawab Tari menjabarkan apa yang membuat Tari mengijinkan Nanta menikah muda.
"Selain itu?" tanya Nanta.
"Banyak Atlit yang menikah dengan artis, Mama tidak sanggup punya menantu artis, sibuk semuanya suami istri kalau begitu." kata Tari terkekeh.
"Dania juga kan seperti artis." jawab Nanta terbahak.
"Eh Nanta, bilang Dania ya jangan sampai jadi artis, Mama tidak setuju. Nanti Mama akan bilang pada Micko." kata Tari panik, mengingat Dania cantik, bisa saja saat ke Mal ada yang menawarinya jadi model.
"Tenang Ma, Dania tidak pernah bicara dengan orang asing, selain aku hahaha." Nanta kembali terbahak, ingat Dania rusuh perkara uang cash, kalau saat itu Dania bawa uang cash pasti tidak akan pernah berkenalan dengan Nanta.
"Jadi menurut Mama, kalau semua urusan sudah beres, kamu bisa menikah sebelum kamu berangkat deh sayang."
"Ma, minggu ini tidak mungkin, belum juga lamaran, minggu depan sih masih mungkin ya." kata Nanta menghitung hari.
"Ups Ma, aku maunya menikah hari jumat, berarti sehari sebelum aku training camp." kata Nanta pada Tari, hari sabtu ia sudah masuk asrama. Tari tertawa mendengarnya.
"Apa tidak masalah menikah sehari sebelum masuk training camp?" tanya Tari menyeringai jahil, ia memikirkan urusan ranjang pengantin baru. kasihan sekali Dania hanya satu malam langsung ditinggal suami tugas negara.
"Masalahnya dimana Ma? kan sudah tahu aku harus tugas." Tari terkekeh, sepertinya Nanta belum terpikir kesana. Tidak mungkin juga Tari menjelaskan.
"Iya, kamu sudah lapor Oma?"
"Belum."
"Kali ini harus kamu yang lapor, Oma marah loh kamu seperti menghilang tidak pernah menjawab di group." kata Tari.
"Hah...? group saja tidak pernah bunyi." Nanta heran, sementara Tari terdiam karena keceplosan, setiap laporanasuk selalu di group Push Nanta. Ah hampir saja Tari keceplosan.
"Bikin group baru ya?" tembak Nanta teringat group yang mereka bikin untuk Papa dan Mamon saat itu.
"Group baru apa ya, group itu saja." jawab Tari berkelit, Nanta terkekeh sudah terbaca ada group bayangan.
"Ghibah itu dosa loh." kata Nanta menggoda Mama.
"Siapa yang ghibah sih, kami hanya membahas setiap perkembangan yang ada." ups Tari terpancing.
"Hahaha oke berarti memang ada group bayangan. Panitia pernikahan ya judulnya?" tebak Nanta terbahak, sudah tahu kelakuan keluarganya terlebih Bang Raymond.
"Kamu ini ya, jadikan Mama pembocor rahasia." dengus Tari, mereka terbahak berdua.
Nanta memindahkan Balen ke kamarnya, kasihan kegerahan, karena di ruang keluarga tidak ada AC, lagi pula paha Nanta mulai kesemutan akibat tekanan Dari kepala Balen. Setelah memastikan posisi Balen nyaman, Nanta pun membersihkan diri, mandi dan bersiap menyambut magrib, walaupun masih lama yang penting mandi saja dulu.
Hari ini group tidak memberikan pengumuman baru, Nanta tersenyum mendapatkan pesan dari Dania.
Awas ya kalau berani cium aku lagi sebelum menikah!!!
Wih penuh ancaman dan pakai tanda seru, Nanta jadi ingin tahu.
Mau diapakan kalau cium lagi? mau balas cium ya?
tanya Nanta jahil.
Aku lapor Papa.
jawab Dania, Nanta tertawa membacanya.
Lapor saja sekarang.
tantang Nanta, iseng. Mana mungkin Dania lapor Om Micko perkara cium pipi.
Betul ya? aku lapor.
Dania menerima tantangan Nanta, paling hanya mengancam pikir Nanta.
iya.
jawab begitu saja, biar kesal. Nanta kembali tertawa sendiri.
Ok
Eh tidak ada pesan masuk lagi dari Dania, apa benar dia akan melapor pada Om Micko ya? Nanta jadi panik sendiri. Tidak mungkin lah, pikir Nanta lagi.
Drrrtttt... drrrtttt... handphone Nanta berdering, Nanta melihat pada layar, Om Micko menghubunginya, ah Dania begitu saja mengadu, pikir Nanta, mau kesal memang Nanta yang menantangnya Nanti. Mau tidak diangkat kok pengecut sekali rasanya.
"Iya Om." jawab Nanta sesantai mungkin.
"Kata Mamamu, kamu bersedia menikah minggu depan?" tanya Micko membuat Nanta menarik nafas lega, ternyata Mama sudah berkoordinasi pada semuanya, digroup bayangan itu pasti
"Kalau memang semua sudah beres, siap Om." jawab Nanta.
"Apa tidak terlalu mepet menikah hari jumat, sabtunya kamu sudah masuk asrama?" tanya Micko, terdengar suara Papa dibelakangnya.
"Tidak masalah Om."
"Kenapa tidak jumat ini saja? masih ada waktu seminggu untuk kalian bersama, masa tidur sekamar satu malam langsung ditinggal." kata Micko lagi.
"Masalahnya dimana ya Om? kalau minggu ini apa tidak terlalu mepet, sementara surat-surat belum diurus dan Papa juga belum melamar virtual." jawab Nanta.
"Melamar virtual bisa besok sore." kata Micko lagi.
"Nanta lapor Oma dulu deh Om, soalnya Nanta belum komunikasi sama Oma dan Opa." kata Nanta memikirkan Oma dan Opa yang kata Mama merajuk karena Nanta tidak melapor langsung.
"Oh iya lapor saja, Oma sih memang minta kamu menikah secepat mungkin, kalau bisa besok kalian menikahnya." Micko terbahak, Papa dibelakang pun ikut tertawa.
"Ih kenapa begitu, Om. Oma mau buru-buru saja." Nanta jadi ikut tertawa m
"Iya kan Oma bilang kalau ketahuan kamu pegangan tangan langsung dinikahkan, lah ini kamu malah sudah berani mencium Dania." Micko dan Kenan tertawa bertambah kencang, ah Nanta jadi malu sendiri, Dania betul-betul mengadu pada Papanya.
"Nanta..." Micko memanggil Nanta yang sedang cengengesan menggaruk kepalanya, salah tingkah.
"Hehehe iya Om." tambah cengengesan saja.
"Om dan Papa juga pernah muda, kok." kembali terbahak dan mematikan sambungan teleponnya, ah Dania awas saja kalau ketemu nanti, gantian Nanta yang mengancam dalam hatinya.