I Love You Too

I Love You Too
Angelina



Drrrttt.... Drrrtttt... Handphone Erwin berdering, tampak nama Sheila dilayar. Bersamaan dengan dibukanya pintu ruangan, tampak kepala menyembul, "Permisi mas Erwin, Ibu yang tadi marah-marah mau ketemu mas Erwin." Bowo ternyata yang menyembul dari balik pintu. Konsentrasi Erwin terpecah, antara mengangkat telepon dari Sheila atau menemui si Ibu.


"Ok bowo, terimakasih. Sebentar gue kesana, beresin ini dulu." jawab Erwin sambil menunjuk handphonenya.


"Hai Shei." Erwin menjawab teleponnya.


"Jadi temenin gue ke pameran buku di JCC?"


"Jam berapa?"


"Sekarang."


"Gue masih ada customer komplain, bisa tunggu? gue handel dulu sebentar."


"Gue berangkat sendiri aja deh, nanti gue telat."


Sheila mematikan teleponnya. Erwin terbengong, bimbang harus bagaimana.


"Kenapa?" tanya Reza melihat Erwin yang sedang menggaruk kepalanya bingung.


"Sheila minta ditemenin ke pameran buku. Gue udah ok sih tadi pagi."


"Ya sudah berangkat." sahut Andi.


"Iya gue mau temui si Ibu dulu, Sheila ga mau nunggu. Malah mau berangkat sendiri." Erwin menghela nafasnya mulai galau.


"Gitu aja kusut, lu temui dulu tuh Ibu, nanti kalau sudah beres lu telepon Sheila masih perlu ditemani apa ga. Susah amat sih." Mario mendengus kesal.


Hehehe erwin mulai nyengir dan merapikan rambutnya yang mulai berantakan, berkaca sebentar merapikan baju dan memperhatikan wajah dan gigi apakah ada yang nyempil, lalu bergegas keluar ruangan menemui si Ibu dan keluarganya. "Doain gue friend." katanya sebelum menghilang dari balik pintu. Ketiga sahabatnya tersenyum lebar melihat Erwin. Seakan-akan don juan yang sedang diperebutkan para wanita.


"Gimana bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Erwin berbasa basi, padahal ia tahu, anak gadis si ibu sudah hadir disana.


"Nak Erwin, Kita sudah selesai, sudah mau pulang. Terimakasih untuk bantuannya tadi." Suami si Ibu mulai bersuara.


"Iya pak, sekali lagi saya mohon maaf untuk ketidaknyamanan yang bapak dan keluarga rasakan tadi."


"Ga papa nak Erwin, walaupun tadi sempat kecewa, tapi kita puas karena nak Erwin cepat tanggap."


"Alhamdulillah, nanti kalau ada sesuatu bisa hubungi saya ya pak, bu." Erwin menyerahkan kartu namanya. Sibapak menerima kartu nama Erwin dan membacanya.


"Sukses selalu ya nak erwin,"


"Makasih ya pak, bu. Ditunggu kehadirannya lain waktu." Erwin tersenyum ramah. Kenapa belum dikenalkan dengan anak gadisnya, batin Erwin. Sambil berjalan mengikuti langkah si Bapak dan keluarganya. Erwin mengantarkan sampai ke lobby.


"Saya Burhan, kapan-kapan mainlah kekantor. Kantor saya diseberang." Burhan menunjuk gedung Burhan Plaza di seberang Warung Elite sambil menyerahkan kartu namanya pada Erwin. Burhan Komarudin CEO Burhan company. Duh siapa yang tak kenal Burhan Company, perusahaan yang bergerak dibidang food industry yang termasuk perusahaan terbesar di Indonesia, entah peringkat berapa. Yang pasti masih sepuluh besar. Entah lebih besar mana, Unagroup atau Burhan Company.


"Wah pak burhan, suatu kehormatan buat kami bapak dan keluarga mau berkunjung kesini. Mestinya difoto dulu pak." kata Erwin polos.


"Hahaha bisa aja kamu, ga perlu foto lah, Restaurant kalian sudah melekat dihati. Kalian bikin saya kagum, masih muda belum pada lulus kuliah sudah bisa bikin usaha sebesar ini."


"Loh kok bapak tau?"


"Kami yang tua-tua ini pengamat." Si ibu mulai bersuara sambil tersenyum memandang suaminya.


"Nak Erwin ini kenalkan anak saya Angela, kebetulan lagi di jakarta. Angela, kamu bisa belajar sama Erwin tuh, serap ilmunya."


Erwin mengulurkan tangannya pada Angela sambil tersenyum ramah. Angela menyambut juga sambil tersenyum "Aku pernah nonton kalian perform disini." kata Angela.


"Oh iya, karena belum kenal jadi ga tau kalau kamu hadir. Tapi kalau belajar, justru saya yang harus banyak belajar sama bapak nih bu. Biar bisa punya gedung seperti itu."


"Nah main lah kekantor ya, saya tunggu. Tapi telepon dulu, takutnya saya lagi diluar." sambut Burhan ramah.


"Hahaha main kerumah aja nak Erwin, Enji ga punya teman nih. Dari pada berkurung dikamar." sahut bu Burhan sambil merangkul anak gadisnya.


"Aku bukan ga punya teman ma, tapi mama selalu menyeleksi teman-teman aku. Bahkan sampai mengusir." sungut Angela sambil curcol. Erwin hanya tersenyum, bingung mau komentar apa. Kalau salah bicara bisa kena usir juga.


"Ya sudah kami pamit dulu. Terimakasih ya nak Erwin. Kapan-kapan kita jumpa lagi." kata bu Burhan pada Erwin


"Saya yang terima kasih bu. Oh iya Angela, kalau berkenan bisa hubungi saya disini." Erwin menyerahkan kartu namanya. Mau menanyakan nomor handphone Angela rasanya sungkan.


"Kasih nomor handphonemu Nji." kata bu Burhan. Angelapun menyebutkan nomor handphonenya. Segera saja Erwin sigap menyimpan langsung di handphonenya. Kemudian mengirim pesan kepada Angela yang ada didepannya.


"Aku sudah kirim pesan, itu nomorku." kata Erwin senang. Burhan menepuk bahu Erwin pelan, seakan mendukung Erwin mendekati putrinya. Anaknya yang lain sudah menunggu dimobil sedari tadi.


"Nanti saya undang ke kantor." katanya sambil bergegas menuju mobil.


"Saya tunggu pak." Erwin melambaikan tangannya, setelah mobil menghilang dari pandangannya, Erwin segera menekan tombol hijau dihandphonenya, menghubungi Sheila seperti saran Mario tadi, ingin menanyakan apakah masih perlu ditemani.


"Halo.." suara gadis diseberang. Terdengar asing, bukan suara Sheila. Erwin segera memandang layar handphonenya. Oh Allah, Angela. Hahaha bodohnya Erwin langsung menekan tombol hijau, pantas saja ia mendengar suara asing.


"Ini nomor aku ya, Erwin. Simpan ya." katanya tak ingin ketahuan salah menelpon.


"Iya sudah aku simpan, tadi kan kamu sudah kirim pesan. Gimana sih."


"Ah iya hihi, aku takut kelewat pesanku."


"Hmm."


Erwin segera menutup teleponnya, kemudian segera mencari nama Sheila dan menghubunginya.


"Ya win." Suara Sheila terdengar sedikit berteriak, karena suasana disana sangat ramai.


"Masih perlu ditemani?


"Ga usah, aku sudah ketemu Farhan."


"Ok, takecare."


"Tengkiu win."


"iyuuppp."


Erwin menutup teleponnya. Ada sedikit rasa kecewa mendengar Sheila ditemani Farhan. Walaupun baru saja Erwin dikenalkan dengan Putri seorang pengusaha kelas kakap. Tapi tetap saja ada Sheila dihati Erwin. Terserah Allah sajalah baiknya gimana, hamba ikuti alurmu ya Allah, doa erwin dalam hati. sambil berjalan kembali masuk kedalam menuju ruangan kerjanya.


"Lemes amat lu." Reza menyambut kehadiran Erwin.


"Sheila ditemani Farhan." kata Erwin sambil duduk di sofa, menyenderkan seluruh badannya seakan tak bertenaga.


"Biarin aja, gimana kenalan sama cewek baru." kata Mario semangat ingin tau.


"Oh iya, lu tau ga barusan itu ternyata pak Burhan dan keluarganya. Burhan Komarudin dari Burhan Company." Erwin menjelaskan mulai semangat.


"Beda ya sama dimajalah, tadi terlihat santai. Lu dikenalin sama Angelina Burhan?" tanya Andi


"Angela bukan Angelina, lu tau ndi?"


"Cuma tahu namanya Angelina, ga pernah lihat orangnya dimanapun"


"Sama kaya gue kali diumpetin identitasnya. Jangan dilepas win. Track record keluarganya bagus." Mario menjelaskan. Erwin tersenyum penuh arti, cuma Erwin yang mengerti apa arti senyumnya. Apakah ini jodohku, batin Erwin.