
"Tidak usah Pi, dia hanya belum kenal aku, jadi bawaannya kesal." kata Nanta tenangkan Mario.
"Tapi itu kurang ajar namanya, sudah jelas kamu datang sama Papi, harusnya dia sudah tahu kamu siapa." kata Mario.
"Sudah beres kok, kemarin Ayah sudah jelaskan." Nanta tersenyum manis, dari sorot matanya Mario tahu Nanta tidak mau masalah ini dibesar-besarkan.
"Anak lu Ken, bikin gue meleleh." kata Mario membuat Kenan terbahak.
Sementara itu Andi dan Erwin asik menikmati aksi panggung Doni sambil beberapa kali kasih masukan. Sudah seperti mau konser di JHCC saja.
"Seru nih, ingat kita dulu tapi beda gaya." kata Andi pada Erwin.
"Hahaha lu pasti mau ikutan main saxophone kalau begini." Erwin menebak apa yang Andi pikirkan.
"Iya, maunya begitu, tapi sudahlah biarkan saja sekarang bagian mereka." Andi jadi tertawa sendiri.
Sekitar tiga jam mereka berlatih, hingga akhirnya selesai sudah latihan Antra as Friend. Bertambah seru dengan hadirnya Doni di panggung.
"Latihannya cukup ya, Pak. Tinggal jumat kita tampil." kata Kuskus pada para petinggi. Andi acungkan jempolnya
"Waduh jumat rasanya mau ke Cabang Selatan saja. Siapa yang mau disini?" tanya Andi pada sahabatnya.
"Pantau sebentar disini lanjut ke Cabang Selatan, atau sebaiknya gampang kan." jawab Reza terkekeh.
"Gue langsung ke Selatan deh dari pagi sama Nanta." kata Andi terkekeh.
"Gue juga begitu." kata Mario tidak mau kalah, tinggal Reza dan Erwin pandang-pandangan sambil tertawa. Kalau sudah begini pasti mereka di Cabang Utama.
"Setuju kan?" Mario tersenyum jahil, Kenan dan Micko tertawakan Mario jadinya.
"Abang, bilang dong aku mau wawancara." bisik Winner pada Nanta.
"Kus, wartawan sekolah nih mau wawancara." kata Nanta merangkul Winner.
"Boleh, beresi alat dulu ya." Kuskus tersenyum pada Winner.
"Iya Kak." jawab Winner sabar menunggu Kuskus didekat Nanta.
"Abang kesana dulu ya." bisik Nanta pada Winner.
"Iya." Winner menganggukkan kepalanya.
Nanta berjalan hampiri Cyla, Jonathan dan Wari yang juga berjalan menuju panggung.
"Mbak Cyla..." sapa Nanta sambil tersenyum.
"Eh..." jadi kaku sendiri antara mau senyum apa tidak.
"Bagus kan?" Nanta menunjuk atraksi di panggung tadi.
"Jadi minta lihat latihan ini untuk buktikan mereka bagus, Pak?" tanya Cyla pada Nanta.
"Justru ingin memastikan agar mereka tampil lebih bagus lagi saat acara, kalau sekarang ada yang tidak pas bisa kita atasi, seperti tadi kalau tidak latihan disini saat acara mereka panggil saya yang naik kepanggung untuk nyanyi, bisa malas pengunjung mendengar suara saya." Nanta tertawa jadinya, Jonathan dan Wari jadi ikut tertawa.
"Betul Pak Nanta, tambah bagus saat Mas Doni ikut bernyanyi, Pak." Jonathan ikut menyampaikan pendapatnya.
"Iya seru, semoga nanti di Cabang Selatan bisa lebih seru karena ditambah jumlah pengunjung ya." harapan Nanta seperti itu. Jonathan dan Wari anggukan kepalanya, Cyla diam saja walau berharap hal yang sama.
"Sudah mau pulang?" tanya Nanta pada semuanya.
"Iya Pak." Jawab Wari, Nanta melangkah bersama ketiganya sambil bercanda dengan Wari dan Jonathan, Cyla jadi seperti asing ditengah keramaian.
"Mas..." panggil Dania yang sudah berdiri dekat panggung.
"Kamu disini..." Nanta tersenyum dan merangkul istrinya.
"Ini istri saya." katanya pada Jonathan dan Wari, pada Cyla ya kalau dia mau mendengar kalau tidak pun tidak masalah.
"Halo Bu..." sapa Jonathan hangat.
"Dania, panggil saja Dania." kata Dania menganggukkan kepalanya sopan.
"Cantik, istri Pak Nanta." kata Wari spontan. Nanta terkekeh menepuk bahu Wari.
"Saya masih disini ya, hati-hati di jalan. Sampai jumpa besok in syaa Allah." kata Nanta pada ketiganya.
"Besok beneran ke Cabang Selatan kan Pak?" tanya Jonathan memastikan, jangan sampai ada yang kena semprot lagi karena tidak tahu Nanta dimana.
"Iya dong, kan harus kerja." Nanta terkekeh. Setelah bersalaman dengan semuanya termasuk Cyla yang tidak banyak bicara dan tidak terlalu sinis lagi. Ketiganya meninggalkan ruangan setelah berpamitan pada Reza dan petinggi yang lainnya.
"Itu yang perempuan siapa sih?" tanya Dania pada suaminya.
"Cyla, kepala Cabang Selatan." jawab Nanta.
"Kaku ya, aku nanti kalau kerja sekaku itu kali ya?" Dania langsung meringis.
"Memangnya kamu boleh kerja?" tanya Nanta mencubit pipi istrinya gemas.
"Ih memang tidak boleh? kan kamu suruh aku selesaikan kuliah, tidak boleh berhenti."
"Iya selesaikan kuliah saja, kalau kerja kasian dedek bayi dong." Nanta mengusap perut Dania yang mulai membesar. Dania langsung monyongkan bibirnya.
"Kalau kamu kerja juga tidak bisa ikut aku kalau lagi tugas." Nanta tersenyum jahil.
"Sayang, Mike lagi pedekate loh, lucu dari tadi semua tertawakan Mike." Dania terkekeh menunjuk Mike yang terus nempel dengan Seiqa.
"Takut diambil Larry." kata Nanta ikut tertawakan Mike.
"Larry sama Rumi bagaimana?" tanya Nanta pada istrinya. Mereka bukan ghibah loh ya.
"Ngobrol biasa saja." jawab Dania cengar-cengir.
"Kenapa cengar-cengir, ayo gabung sama mereka, kamu kenapa turun?" tanya Nanta pada istrinya, perlahan berjalan hampiri temannya.
"Tadi habis dari toilet." jawab Dania, Nanta anggukan kepalanya.
"Keren lu Don." kata Nanta begitu sudah dekat dengan rombongan sahabatnya. Doni tertawa saja, tidak menyangka juga bakal disuruh ikut bernyanyi.
"Kalau sudah begini, tidak ada alasan untuk tidak datang." kata Mike pada Doni.
"Ya kali tidak datang, mana enak sama Pak Andi." kata Doni terkekeh.
"Kamu juga harus datang, Qa. Nanti biar aku jemput." kata Mike pada Seiqa. Sahabatnya langsung cengar-cengir saja mendengarnya, tidak ada yang menggoda khawatir Seiqa tidak nyaman. Beda dengan Rumi yang selalu memberi cela untuk digoda.
"Rumi langsung dari kantor ya?" tanya Nanta pada Rumi.
"Iya lah, harus kerja dulu kan, Kecuali dikasih libur satu hari." Rumi terkekeh.
"Kalau libur kan bisa dijemput Larry." celutuk Mike, kembali rusuh menggoda Larry.
"Kalau dari kantor mau gue jemput juga bisa kok, tapi kan Rumi bareng Aditia dan Rosa." kata Larry pada sahabatnya.
"Kasih tahu kalau Mobil Aditia tidak muat." kata Doni pada Rumi. Semua kembali tertawakan Larry dan Rumi.
"Terus saja ya menggoda saya dan Larry, nanti sabtu kalian saya balas loh." ancam Rumi pada geng kuartet.
"Sabtu kita serius bekerja." kata Nanta tertawa.
"Loh sabtu mau kemana?" tanya Dona pada suaminya.
"Aku belum bilang kamu ya, syuting iklannya hari sabtu di S'pore." kata Doni pada Dona.
"Iya, yang sudah menikah boleh bawa istri kok, sudah difasilitasi juga. Yang belum menikah sudah ditawarkan ajak orang tua, tapi pada tidak mau." Rumi terkekeh.
"Tidak bisa bukan tidak mau." Larry meluruskan, karena kedua orang tuanya tidak di Indonesia. Kalau Mike temani Larry saja kalau Larry tidak bisa ia juga pilih berangkat sendiri.
"Seiqa juga ke S'pore tuh sabtu." kata Dona pada Mike.
"Oh ya, sama siapa?"
"Sendiri." jawab Seiqa tersenyum.
"Ada urusan?" tanya Mike kepo deh mau tahu.
"Ambil obat Mama senin pagi, tapi aku mau reuni hari minggunya. Jadi sekalian deh." jawab Seiqa pada Mike.
"Lu dulu sekolah di S'pore?" tanya Rumi pada Seiqa.
"Iya." Seiqa menyebutkan nama sekolahnya.
"Bercanda, angkatan berapa?" lagi-lagi Seiqa sebutkan angkatannya.
"Sama dong, tapi kita kok tidak saling kenal ya. Coba-coba buka topeng, ini aneh." Rumi langsung saja heboh. Seiqa dan yang lain jadi tertawa geli bayangkan mereka sedang pakai topeng.
"Lu tahu cewek yang selalu pakai hoodie kalau disekolah tidak?" tanya Seiqa, Rumi anggukan kepalanya.
"Beda kelas, tapi gue tahu." jawab Seiqa.
"Itu gue, kan dulu tidak ada yang pakai jilbab ya disekolah jadi gue tutupi pakai hoodie." jawab Seiqa tertawa ingat masa sekolahnya. Tambah seru saja keduanya membahas masa sekolah.
"Reuni apa minggu?" tanya Rumi lagi.
"Khusus geng gue saja. Mau ikut?" Seiqa menawarkan.
"Kalau sabtu belum selesai syuting lanjut minggu." jawab Rumi terkekeh.
"Makan siang sih semoga sudah selesai syutingnya." kata Seiqa lagi.
"Pasti kami sibuk menjamu para model." kata Rumi lagi.
"Kita flexible kok." jawab Larry.
"Tidak enak sama rombongan Pak Kenan dan Pak Micko, kalian semua harus kami jamu." jawab Rumi lagi.
"Lihat saja nanti, rombongan kita ini semuanya flexible, tidak ada yang merepotkan dan minta perhatian lebih." kata Nanta pada Rumi.
"Iya kalau kamu mau ikut reuni tidak masalah." jawab Doni.
"Tidak, lagi pula itu gengnya Seiqa, walaupun kenal kami beda kelas." jawab Rumi, berbarengan dengan suara Mario yang menggelegar mengajak semuanya pulang.
"Sholat dulu." ajak Mike pada semuanya.
"Ayo." jawab yang lain karena sudah waktunya magrib. Mereka pun beranjak dan mulai keluar dari studio rahasia di Warung Elite.