
Sepulangnya Kenan, Raymond dan Nanta dari mesjid, mereka langsung naik ke rooftop. Roma dan Nona sudah memulai aksi bakar-bakaran. Ray langsung menghampiri dan ikut membantu, Nanta sebenarnya ingin membantu tapi terlalu penuh, jadi cukup yang sudah standby saja.
"Opa sama Oma belum datang?" tanya Nanta yang tidak melihat keberadaan Opa dan Omanya.
"Coba telepon." kata Kenan pada Nanta.
"Oma dan Opa masih ada tamu." sahut Roma yang tadi sudah video call dengan Oma Nina, ia dan Nona tadi menghubungi Oma dan memberitahu keberadaan Nona di rumah Kenan. Oma sangat bersemangat, apalah daya saat akan menyusul Opa dan Oma kedatangan tamu, jadi harus menyambut tamu dirumah dulu.
Kenan duduk di sofa sambil menunggu makanan matang, ia juga meminta Bi Wasti untuk merebus sayur mayur dengan racikan kuah tomyun andalan Bi Wasti yang dipelajarinya saat bekerja di Malaysia dulu.
"Enak nih." lagi-lagi Nona datang mengulurkan cumi di garpu kemulut Kenan, Kenan menyambutnya dengan senang hati, sepertinya ia harus terbiasa dengan gaya Nona yang terkesan acuh dengan lingkungan sekitar, tanpa malu-malu menyuapi Kenan, walau tadi sudah digoda Raymond.
"Enak kan?" tanya Nona lagi.
"Hu uh" Kenan mengangguk setuju.
"Kamu mau apa Nanta?" tanya Nona pada Nanta kemudian.
"Aku sedang tunggu sayur." jawab Nanta sesekali menoleh pada Bi Wasti dan Pak Ali.
"Sebentar lagi ya, mas." kata Bi Wasti pada Nanta. Nanta menganggukkan kepalanya sabar, lalu duduk di sebelah Kenan. Tentu saja ini hal yang menggembirakan bagi Kenan, baru kali ini Nanta mendekat kepadanya.
"Papa mau menikah sama Kak Nona?" tanya Nanta setelah Nona menjauh.
"Hei berita dari mana itu?" kekeh Kenan menggelengkan kepalanya,
"Papa belum terfikir untuk menikah lagi." kata Kenan kemudian.
"Boleh saja menikah kalau Papa mau sama Kak Nona." kata Nanta memandang Kenan.
"Belum terfikir kesana, Nak. Oh iya besok kita ada undangan makan siang dirumah Papanya Kak Nona. Kamu mau menemani Papa kesana?" tanya Kenan pada Nanta.
"Papa mau melamar Kak Nona?" tanya Nanta penasaran. Kenan tergelak mendengarnya.
"Tidak-tidak. Hanya makan siang. Mau ya?" tanya Kenan lagi.
"Kita berdua saja?"
"Dengan Nona juga, bahkan kalau Ray dan Roma mau ikut sama mereka juga. Tapi kalau Ray ada acara, kita saja bagaimana?"
"Setelah itu Papa antar aku pulang ke rumah Mama kan?"
"Iya, meskipun Papa lebih senang kalau kamu mau tinggal sama Papa."
"Nanti saja kalau libur, aku akan lebih lama menginap disini."
"Terima kasih ya, Nak." Kenan menepuk bahu Nanta.
"Sama-sama."
"Terima kasih juga kamu sudah memaafkan Papa."
"Sejak Papa mengusir sahabat wanita Papa saat di cafe itu, aku memaafkan Papa." jawab Nanta tersenyum,
"Dan jangan lagi pernah berhubungan dengan dia kalau Papa masih mau baikan sama aku." ancam Nanta.
"Kamu mengancam Papa, boy. Tenang saja, sudah tidak lagi." jawab Kenan pasti sambil tergelak. Hari ini sepertinya hari yang sangat membahagiakan bagi Kenan.
"Ngobrol apa sih, ajak-ajak dong." Ray datang dengan piring besar hasil bakarannya. Tak lama Bi Wasti pun datang dengan mangkok rebusan sayur olahannya. Pak Ali membawa mangkok-mangkok kecil dan sendok.
"Nasinya bawa sini, Bi." kata Raymond pada Bi Wasti. Nasi yang diinginkan pun segera terletak di meja.
Semua berkumpul meriung. "Bi Wasti, Pak Ali sini sekalian makan." ajak Roma.
"Sudah ada dibelakang." jawab Bi Wasti. Pak Ali senyum-senyum saja.
Semua sudah menyendok menu yang diinginkan, sementara Nona masih sibuk dengan panggangannya.
"Sebentar sedikit lagi, ini bumbu khusus." kata Nona kembali berkutat dengan panggangannya.
"Jago masak rupanya." kata Raymond menunjuk Nona.
"Iya, enak ini semua bumbu terasa." jawab Roma menyetujui.
"Aman lah Om urusan perut." kata Raymond tersenyum jahil. Kenan menggelengkan kepalanya dan kembali menyuapi udang kemulutnya.
"Mana enak pakai nasi." kata Nanta pada Raymond. Ia sibuk menyendok sayuran kedalam mangkoknya.
"Iya kalau pakai nasi cepat kenyang, payah ah." sahut Nona lalu duduk disebelah Kenan. Seperti ada magnet, ia selalu ingin duduk disebelah Kenan. Tapi kebetulan memang tidak ada bangku lain selain disebelah Kenan, kecuali Nona mau duduk dibangku yang terpisah dengan rombongan yang lain.
"Mau coba, Mas? yang ini lebih pedas." tanya Nona pada Kenan. Kenan menggelengkan kepalanya.
"Masih ada lagi tidak yang pedas? aku mau coba kata Raymond pada Nona.
"Aku cuma bakar sedikit, ini makan saja." Nona menyodorkan piring ditangannya pada Raymond.
Sedang asik berbagi lauk, Mama Nina dan Papa Dwi datang dengan nafas terengah-engah.
"Kenapa di rooftop sih kalau undang orang tua, sudah tidak kuat naik tangga Mama dan Papa rupanya." keluh Mama Nina.
"Maaf mama, aku tidak terfikir kesana, kenapa tidak naik escalator." kekeh Kenan dan menghampiri Mama dan Papa.
"Escalator dengkulmu." sungut Mama Nina kesal. Semua tertawa dibuatnya, memang di rumah Kenan tidak ada escalator.
"Om dan Tante Mau makan apa aku ambilin ya?" tanya Nona pada Mama dan Papa.
"Nanti ambil sendiri, kamu makan saja Non." kata Mama Nina pada Nona.
"Duh calon menantu Oma sigap sekali." bisik Raymond yang sedang menyalami dan mencium pipi Oma. Oma Nina menepuk bahu cucunya yang jahil ini.
"Roma bagaimana sudah satu minggu di Malang, kamu kerasan?" tanya Papa Dwi pada cucu menantunya.
"Dimana saja sama Opa, yang penting dekat Ray." sahut Raymond percaya diri.
"Iya Opa betul, kerasan kok tidak ada beda dengan saat di Jakarta. Hanya jauh dari Sosa saja bikin Roma sedikit kehilangan. Biasanya kemana-mana selalu sama Sosa." Kata Roma menyebut sepupunya, anak dari Papa Anto dan Mama Intan.
"Nanti kapan-kapan undang Sosa dan Naka kemari." kata Opa Dwi pada Roma.
"Iya Opa, mungkin saat Sosa libur kuliah dan Naka tidak ada kegiatan balapan." kata Roma lagi.
"Naka yang pembalap itu? kalian kenal?" tanya Nona dengan wajah berbinar-binar.
"Iya Naka suami Sosa sepupu aku." kata Roma sedikit bangga.
"Ih aku suka pasangan itu. Kalau kesini jangan lupa kenalkan padaku ya. Si ganteng kembar tiga itu kan?" tanya Nona memastikan.
"Iya mereka anak Erwin sahabatnya Bang Eja dan Naka serta kembarannya sahabat Raymond dan Roma juga." sahut Kenan ikut tersenyum.
"Berarti Bang Eja salah satu pemilik Warung Elite ya? aku dulu masih kecil kalau ke Jakarta ingin sekali nonton atraksi musik mereka. Sayangnya sekarang tidak bermain musik lagi ya mereka." cerocos Nona bersemangat.
"Kamu sih lahirnya terlambat, coba lahirnya lebih cepat Lima atau sepuluh tahun." Kekeh Kenan mengacak anak rambut Nona.
"Kenapa kalau lebih cepat?"
"Iya bisa saya ajak ke Warung Elite saat Bang Eja dan teman-temannya Perform." jawab Kenan masih tertawa.
"Oo aku kira apa."
"Bunda Kiki juga dulu Salah satu bintang Warung Elite loh." kata Roma pada Nona.
"Oh ya? sayang bukan dijaman kita ya. Kenapa Raymond dan anak yang lain tidak meneruskan hobby bermusik Bang Eja?" tanya Nona.
"Yang suka musik hanya Arkana dan Steve, tapi mereka tidak sempat untuk tampil karena sudah punya pekerjaan yang cukup menyita waktu, paling sekali waktu saja kalau senggang." jawab Raymond, seketika ia rindu para sahabatnya, sedang apa mereka sekarang, padahal baru seminggu Raymond dan Roma pindah ke Malang, seperti sudah lama sekali tidak bertemu mereka, terakhir bertemu saat Raymond dan Roma menikah, setelah itu belum lagi. Bahkan Raymond dan Roma belum mengadakan perpisahan dengan para sahabatnya.