I Love You Too

I Love You Too
Bontot



Suasana dilapangan mulai ramai, sorak sorai penonton menambah keriuhan belum lagi beberapa kelompok membunyikan gendang dan berteriak Indonesia berkali-kali. Babak penyisihan dibagi 6 kelompok dan Indonesia berada di group A bersama Filipina, Korea Selatan dan Malaysia.


Hari ini Indonesia sebagai tuan rumah melawan Korea Selatan, Nona sudah tegang duluan, ketika para pemain dari dua negara memasuki lapangan dan berbaris mendengarkan lagu kebangsaan negara masing-masing dinyanyikan.


"Ya Allah Nanta keren sekali sih." berkali-kali Nona terus mengucapkan itu karena kagum kepada anak sambungnya yang tampak bersinar dilapangan. Pada Quarter 1 Indonesia memenangkan permainan dengan selisih angka yang sangat tipis. Dilanjut Quarter 2 lagi-lagi selisih angka pun tipis dimenangkan Korea Selatan.


Nama Nanta berkali-kali diteriakkan para supporter karena beberapa kali Nanta berhasil memasukkan bola pada ring lawan. Pada Quarter selanjutnya sepertinya Indonesia tampak keteteran, tapi akhirnya dapat memenangkan pertandingan mengalahkan Korea Selatan. Kenan ikut bersorak senang terlebih euforia para supporter yang luar biasa hebohnya.


Raymond dan Roma bergaya dengan ikat kepala merah putih dikepala dan pipi bergambarkan bendera Indonesia. Reza dan Kiki yang biasanya kalem juga ikut jejingkrakan, sementara Oma dan Opa tidak kalah hebohnya saat melihat wajah Nanta di sorot close up pada layar besar dilapangan, penonton lain pun ikutan heboh memanggil nama Nanta.


Hari ini Nanta jadi bintang, bukan hanya dikalangan keluarga dan sahabat Ayah Eja, tapi juga ikut menarik minat para abege dan emak-emak gaul yang dulu penikmat bola basket.


"Nanta prok, prok, prok, Nanta prok, prok, prok." begitu saja terus riuh suara supporter di stadion hingga akhirnya semua bubar, tinggallah sekarang keluarga yang menunggu agar bisa bertemu dengan Nanta.


"Nanta ya ampun, kamu terlalu keren." kata Nona ketika Nanta berlari kearah mereka yang berkumpul dipinggir lapangan. Nanta tersenyum lebar terlihat senang.


"Aku tidak bisa lama-lama." kata Nanta menatap semuanya.


"Duh sebentar saja masa tidak boleh." keluh Oma Nina tidak rela pertemuan dengan Nanta dibatasi.


"Besok penyisihan selanjutnya menunggu hasil Malaysia dengan Filipina." kata Nanta memberitahu Oma.


"Semangat, Boy. Kembalilah pada rombonganmu." kata Kenan menepuk bahu Nanta, senang sekali bisa hadir menyaksikan pertandingan putranya.


"Besok datang lagi kan?" tanya Nanta pada semuanya.


"In syaa Allah kita satu paket datang." jawab Kiki membuat semuanya tertawa.


"Nanta Bunda mau peluk tapi kamu keringatan." kata Kiki mengacak anak rambut Nanta yang juga basah Lena keringat.


"Hihi nanti saja Bunda." kata Nanta pada Bunda Kiki. Nanta segera berlari meninggalkan keluarganya karena sudah ditunggu oleh tim basket dan pelatihnya.


"Aku kira bisa ajak Nanta makan diluar." keluh Nona pada suaminya. Mereka sudah dalam perjalanan menuju restaurant untuk makan malam, karena pertandingan Nanta selesai menjelang magrib.


"Mana bisa sayang, nanti kalau masuk final juga belum tentu bisa langsung kita ajak Nanta." kata Kenan yang duduk bersama Nona dibangku penumpang belakang, sementara Roma disamping Raymond yang sedang melajukan kendaraannya.


Keesokan harinya Kenan dan Keluarga kembali menonton pertanding Basket Indonesia melawan Malaysia untuk memperebutkan juara 1 group A. Sayangnya Indonesia harus puas diri di urutan kedua. Meski kecewa tapi wajah Nanta tetap cerah ceria. Terlebih penggemarnya bertambah banyak. Sorak sorai penonton memanggil nama Nanta, si Idola baru bintang basket Indonesia.


"Papa bagaimana sekolahku, Papa lihatkan perjalanan masih panjang, kami masih harus bertanding berapa bulan kedepan memperebutkan posisi delapan besar." kata Nanta saat ia diijinkan berkumpul dengan keluarganya.


"Belum dapat bocoran dari informan?" kekeh Nona melirik Raymond.


"Apa?" tanya Nanta penasaran.


"Papa akan ikut kamu pindah ke Jakarta mulai bulan depan. Besok Papa pulang dulu ke Malang mengurus kepindahan kita. Bulan depan kita sudah jadi warga Jakarta." kata Kenan membuat Nanta bersorak senang.


"Mana teman barumu? tidak nonton?" tanya Nona pada Nanta.


"Tidak tahu, aku kan fokus sama basket dan Keluarga kita." jawab Nanta santai. Sementara beberapa abege yang lewat sibuk memanggil Nanta, ada yang minta foto bersama, Kenan dan Reza terkekeh melihatnya.


"Dulu Kiki yang begini, sekarang Nanta." kata Oma Nina ikut terkekeh.


"Memang harus ada yang mengikuti jadi Idola, Mama tidak tahu saja ada bintang baru dikeluarga kita selain Nanta." kata Reza pada Oma Nina.


"Nona dan Roma. Bermain pianonya sangat bagus, Mama dan Papa belum lihat ya?" tanya Reza pada Mama dan Papanya.


"Belum." jawab mereka kompak.


"Raymond tumben sekali tidak Kirim ke Oma dan Opa." protes Reza pada anaknya.


"Aku kira Ayah yang Kirim, aku saja dapat dari Ayah." kata Raymond pada Reza.


"Tidak, itu kan tugas kamu." kata Reza tertawa.


"Ish Ayah, aku dapat tugas begitu saat mengawal Om Kenan dan Kak Nona, selanjutnya kan sesuai instruksi." kata Raymond polos.


"Hei Boy, kamu jadi informan Om dan Kak Nona bagaimana?" tanya Kenan tidak mengertim


"Ya begitu deh, ada saja arahan dari para Bos. Termasuk meninggalkan Om Kenan lembur bersama Ayah waktu itu." Raymond terbahak seketika.


"Oh bagaimana bisa itu jadi bagian dari trik menjodohkan kami?" tanya Kenan berpikir keras.


"Ya bisa, karena ada pertemuan rahasia antar besan." kata Oma Nina yang akhirnya buka suara. Semua terbahak sementara Kenan menggelengkan kepalanya sambil tersenyum merangkul Nona yang kini sudah menjadi istrinya.


"Ada yang kusut waktu itu." Reza kembali terbahak.


"Ih itu sudah lewat, kalian sukses dan berhasil." kata Kenan ikut terbahak. Nanta tersenyum lebar karena ikut menjadi bagian itu.


"Papa, besok aku bisa pulang ke Malang sama Papa, Kami libur dua minggu." kata Nanta kemudian.


"Nah itu lebih bagus, jadi kamu bisa langsung pamit pada Mama, Om Bagus, guru dan teman disekolahmu." kata Kenan pada Nanta.


"Iya, Nanti jadinya aku tinggal sama siapa?" tanya Nanta polos.


"Sama kita lah, memang sama siapa lagi." jawab Nona cepat.


"Awalnya kan aku ingin tinggal sama Ayah Bunda." jawab Nanta tertawa.


"Kalau Papa pindah tidak jadi tinggal sama Ayah Bunda. Kita nanti rumahnya dimana?" tanya Nanta ingin tahu.


"Ayah lagi carikan lokasi yang dekat. Nanti menuju delapan besar pertandingannya di gelora bung karno kan?"


"Iya."


"Ya sudah nanti Ayah carikan yang dekat dengan rumah Ayah dan Bunda.


"Apa harus begitu, Bang?" tanya Kenan pada Reza.


"Iya daerah rumah Abang kan strategis dekat kekantor dan gelora bung karno, juga sekolah Nanta. Kalau kalian tinggal dirumah Mama lumayan jauh ya Ma, belum lagi ada gangguan dari tetangga." kata Reza terkekeh. Mama Nina dan Papa Dwi ikut tertawa sambil mengangguk tanda setuju."


"Nanti Papa dan Mama langsung isi perabot, kalian tinggal menempati." kata Mama Nina memandang Papa Dwi.


"Biar kami saja, Ma." kata Kenan tak ingin merepotkan Mama.


"Sudah tenang saja, kita kan punya Tim design interior di kantor, bisa manfaatkan mereka seperti biasa." kata Reza membuat Kenan kembali pasrah menurut saja pada Mama, Papa dan Abangnya, bontot tetap saja bontot, meski sudah mapan dan mandiri begitu. Untungnya lagi Nona tidak ambil pusing ingin turut andil menghias rumah baru mereka nanti.