
"Waduh calon bos Warung Elite datang juga." sambut Arkana saat Nanta memasuki ruangan yang biasa Raymond dan sahabatnya pakai.
"Ish, main bilang bos saja." Nanta terkekeh.
"Loh semua sudah sesumbar tampuk kekuasaan akan diserahkan pada Nanta, mulai semester depan aktif kan?" Arkana memastikan.
"Baru mau belajar bantu Ayah, Bang." jawab Nanta tertawa. Kemudian ia mengenalkan Dania pada semua sahabat Raymond yang hadir. Ada Chico dan Romi juga, semua dengan pasangannya.
"Bikin patah hati Ame nih Nanta." Chico tertawa menepuk bahu Nanta.
"Hahaha calonnya Wilma lebih Ok." kata Nanta pada Chico.
"Hampir seperti kisah lu Rom." kata Raymond pada Romi, Romi dan Anggita tertawa saja.
"Ini Kakaknya Wilma." Nanta mengenalkan Dania pada Anggita.
"Wilma tidak kesini, Kak?" tanya Dania pada Anggita.
"Kemana tadi Wilma Rom?" tanya Anggita pada suaminya.
"Ke rumah Ando." jawab Romi pada Dania.
"Wih sudah direstui orang tua kah? dibiarkan kerumah si cowok malam minggu begini." kata Raymond terkekeh.
"Dijemput Mamanya Ando tadi." kata Romi tertawa kecil.
"Buset adek gue bilang ke Mommy, Tamat sekolah mau menikah saja." kata Anggita menggelengkan kepalanya. Semuanya tertawa mendengarnya.
"Sayang, ajak Dania gabung, kalian urus ya. Kita urus Nanta." kata Raymond menyeringai pada Roma.
"Sini sini adik ipar." kata Roma terkekeh menggoda Dania yang malu-malu duduk dibangku yang ditunjuk Roma.
"Kak Roma, sudah mulai engap?" tanya Dania mengelus perut Roma.
"Belum, jangan pakai engap ah." kata Roma tertawa.
"Sarah tuh sudah bulannya, anak kedua lagi." tunjuk Roma pada Sarah istri Arkana.
"Iya lagi enak-enaknya ini, serba salah." kata Sarah pada Dania.
"Gue kapan ya. Pengen hamil." rengek Anggita.
"Barengan sama Dania deh. Semoga kalian berdua segera hamil." Roma mendoakan.
"Aamiin." jawab Anggita cepat.
"Kamu tidak bilang Aamiin kok." kata Anggita pada Dania.
"Hehehe dalam hati Kak." jawab Dania malu-malu.
"Iya jangan ditunda-tunda, nanti kaya gue nih, terus menanti." Anggita menepuk bahu Dania.
Sementara dipojok sana, Nanta dikerubungi oleh Raymond, Arkana, Romi dan Chico.
"Bagaimana sih? tutorial sudah di kirim belum ditonton juga." omel Raymond pada Adiknya.
"Belum sempat, Bang." kata Nanta meringis.
"Ada ya orang belum sempat malam pertama setelah menikah." kata Raymond menggelengkan kepalanya.
"Ada." jawab Arkana menunjuk Chico dan Romi.
"Sue, gue kan karena Anggita halangan jadi tertunda seminggu, nah ini yang tertunda hampir setahun apa kabarnya." Romi menunjuk Chico.
"Buset, aib itu jangan disebar." kata Chico terbahak. Nanta cengengesan saja melihat sahabat Abangnya.
"Jadi semalam, tuh istri lu abaikan?" tanya Arkana pada Nanta.
"Ih Abang." Nanta jadi risih sendiri.
"Tuh tinggal jawab saja sudah. Mau dikasih enak apa tidak." kata Arkana lagi dengan wajah serius.
"Yah kan aku pulang sudah malam, Istriku sudah ngantuk juga jadi kami tidur pulas." jawab Nanta jujur.
"Lu peluk?" tanya Romi. Nanta menggelengkan kepalanya.
"Masih mending gue, libur seminggu pelukan dan kissing jalan terus." kata Romi bangga.
"Duh, Chico juga lu." kata Arkana terkekeh.
"Gue lagi saja yang disebut, Risa sudah kasih Ame cucu masih saja dibahas masa lalu." kata Chico menggelengkan kepalanya.
"Nan jangan sampai lu seperti Chico ya." kata Arkana terbahak. Nanta mesem-mesem, ia tidak tahu cerita Chico yang penting senyum saja.
"Cium apanya?" tanya Raymond.
"Dahi, pipi sama bibir." jawab Nanta jujur.
"Widih baru sampai bibir, lama, sampai bengkak?" tanya Arkana, yang lain tertawa dibuatnya.
"Ck..." Nanta berdecak menggaruk kepalanya.
"Sebentar sih bukan cium, paling tempel saja, iya kan?" desak Arkana lagi. Raymond terbahak, diantara mereka semua Arkana yang paling mesum, makanya Raymond bilang temannya sedikit lebih nakal dibanding teman Nanta.
"Iya." jawab Nanta pasrah.
"Duh adek lu nih, dikasih makan apa sama Om Kenan, polos betul." Arkana menggelengkan kepalanya.
"Kamu yang terlalu mesum kakak." Chico mentertawakan Arkana.
"Lah gue mesum sih ada hasilnya, mau anak kedua." jawab Arkana ikut tertawa.
"Kebanyakan main sama Balen dia." jawab Raymond mentertawakan Nanta.
"Singkong Rebus..." jawab Arkana dan Chico berbarengan. Mereka tertawa bersama ingat Balen.
"Nan, nanti saat nonton tutorial lu pangku istri lu." kata Arkana pada Nanta.
"Aduh masa pangku." kata Nanta dengan wajah memerah.
"Ikuti saja." kata Raymond.
"Iya." jawab Nanta pasrah.
Arkana terus saja mengarahkan Nanta, apa saja yang harus Nanta lakukan saat melihat tutorial yang Raymond kirimkan, sementara yang lain kadang tertawa mendengar kegilaan Arkana.
"Cepat pintar deh Adek gue." kata Raymond pada sahabatnya.
"Nanti dia lebih pintar dari kita." Arkana merangkul Nanta.
"Teman lu sesama Atlet tidak ada yang mesum kah? tidak mungkin ya." Arkana tampak tidak percaya.
"Hahaha ada lah." jawab Nanta terbahak.
"Kenapa lu culun begini?" tanya Arkana kejam. Semua terbahak.
"Woi adek gue jangan dibully." kata Raymond pada sahabatnya.
"Sorry, calonnya Wilma sama seperti kamu? mesti di training juga?" tanya Chico halus tapi tetap saja yang lain mentertawakan Nanta.
"Hahaha tidak, Ando jauh lebih pintar dari aku." Nanta terbahak, sahabat Abangnya benar-benar kacau.
"Sudah ya aku pulang, lama-lama disini otak aku kacau." kata Nanta mengusap wajahnya.
"Tuh sudah tidak sabar mau praktek dia." kata Arkana sok tahu.
"Besok habis shubuh janjian berenang aku sama Tim Basket, setelah itu kita urus persiapan Training Camp." kata Nanta pada semuanya.
"Makan dulu, baru pulang." kata Raymond pada Nanta.
"Iya tuh istri lu dikasih makan lah." kata Romi pada Nanta.
"Nanti aku tanya, aku sih kenyang habis makan di rumah keluarga Om Bagus." kata Nanta tersenyum.
"Kalau berhasil kasih tahu ya." Arkana menyeringai jahil.
"Kalau hamil baru ku kasih tahu." jawab Nanta terbahak. Enak saja, masa harus lapor aktifitasnya bersama Dania di kamar pada sahabat Bang Raymond, pikir Nanta.
"Nan, kalau nanti sudah berasa enak, saat jauh dari istri bagaimana tuh?" goda Chico pada Nanta.
"Ih, ya sudah nanti saja setelah pulang dari Amerika." kata Nanta tertawa.
"Sama saja dua minggu setelahnya kamu ke Abu Dhabi." Raymond terbahak.
"Pensiun saja jadi atlet, terbang terus kacau sudah." kata Arkana terbahak.
"Halah, lu juga ke luar kota terus, kasih tips sama Nanta lah." kata Raymond terbahak.
"Ah itu sih sama saja gue buka aib gue sendiri dong." Arkana menolak.
"Hidup lu memang penuh aib sudah." kata Romi membuat Arkana menoyor kepalanya, semua terbahak.
Keseruan para lelaki tidak mempengaruhi keseruan para perempuan, mereka sibuk dengan caranya mengajarkan Dania, yang Dania ingat hanya satu, diam saja biarkan laki-laki yang bekerja, itu yang paling mudah, selebihnya bikin kepala Dania pusing mendengarnya. Kak Roma dan sahabatnya memang konyol, pikir Dania.