I Love You Too

I Love You Too
Teman



"Baleen..." Kiki langsung saja sumringah menyambut kehadiran Balen yang sudah membawa tas ransel seperti anak sekolah.


"Baen mo ninap ya." ijinnya pada Kiki.


"Sudah bawa pampers ya?" tanya Kiki menggoda Balen.


"Eh, Baen udah ndak nompol tau." protesnya pada Kiki membuat yang lain tertawa.


"Memang bisa?" tanya Kiki lagi.


"Bisa don, iya tan Aban..." minta dukungan Abang.


"Iya, tapi kadang suka ngompol juga." jawab Nanta jahil.


"Ih, ndak penah Aban, tan Baen beajal watu Aban di Amika." katanya menjelaskan.


"Oh iya Abang lupa." jawab Nanta terkekeh.


"Karena Larry ya?" tanya Dania terkekeh.


"Siapa Larry?" tanya Kiki pada keduanya.


"Temen Baen, yan ajain Baen beenang." jawab Balen membuat semuanya tertawa.


"Teman lagi." protes Nanta sambil tertawa.


"Abisna apa don, tan Aban Leyi ajain Baen."


"Abang, dia Abang Balen juga." Nanta menjelaskan, ternyata selama ini Balen merasa Larry adalah temannya.


"Oh ditu." mulai sok tua dan selalu sok tua gayanya.


"Matan yuk." ajaknya pada yang lain melihat Dania sudah mulai makan sementara mereka saja yang belum.


"Balen mau makan apa?" tanya Kiki gemas.


"Sop." jawabnya menunjuk menu andalannya.


"Pakai dagingnya?" tanya Kiki menyendok nasi dan sayur sop Balen."


"Ndak pate dading ya." katanya pada Kiki, Kiki menuruti keinginan Balen.


"Bunda suapi?" tanya Kiki.


"Suapi Aban aja." jawabnya menunjuk Nanta.


"Tumben biasanya makan sendiri." kata Nanta terkekeh.


"Udah ama ndak suapi Aban." jawabnya membuat Nanta terenyuh, segitunya Balen, langsung saja Nanta mengambil piring ditangan Kiki dan mulai menyuapi adiknya.


"Abang belum makan loh." kata Kiki mengingatkan Nanta.


"Aban matan Juda don, sama-sama." kata Balen sambil senyum-senyum menggemaskan.


"Iya nanti, Abang sayang Balen." kata Nanta sambil suapi Balen.


"Baen juda." jawab Balen sambil mengunyah. Reza tertawa melihat keduanya.


"Abang sayang Tania juda tok." kata Balen sambil memandang Dania, seperti menunjukkan jika Nanta tidak hanya sayang Balen.


"Iya, Tania tahu kok." jawab Dania terkekeh, meskipun sekarang suaminya sedang memunggunginya karena fokus pada Balen.


"Tania pinjam baju Bunda dih." katanya lagi pada Dania.


"Untuk apa?" tanya Dania bingung.


"Tita mo ninap tan." katanya yakin.


"Iya Mas?" tanya Dania menyolek Nanta.


"Hu uh." jawab Nanta terkekeh.


"Dimobil ada baju kok, kan selalu bawa." jawab Dania yang sudah menyiapkan baju untuknya dan Nanta di Mobil, berjaga-jaga jika harus menginap atau berganti pakaian.


"Tuh Aban, ada bajuna juda." menepuk bahu Nanta sambil terkekeh, benar-benar tua. Nanta mencium adiknya gemas, sementara Richi juga sedang asik sendiri duduk disebelah Ayah Eja.


"Mau tambah?" tanya Nanta pada adiknya, nasi sepiring sudah tersapu bersih.


"Ndak..." jawabnya mengambil minum di tumbler yang sudah dibawanya.


"Ya sudah Abang makan ya, Ichi mau Abang suapi?" tanya Nanta pada Richi.


"Nih." tunjuk Richi yang ternyata sedang disuapi Ayah Eja makan sepiring berdua.


Balen mulai sibuk dengan tas ranselnya lalu segera menuju kamar tamu. Memilih tempatnya menginap dengan Abang malam ini, tidak masuk ke Kamar Raymond seperti tahu kalau yang punya tidak ada, tidak boleh sembarang masuk.


"Tamalna disini aja ya." teriaknya pada Nanta.


"Abang biasanya diatas." kata Kiki pada Balen.


"Sini aja detat Bunda." jawabnya konyol seperti yang punya rumah. Reza kembali tertawa, suasana rumah yang biasa sepi sekarang jadi ramai karena kehadiran Balen.


"Janan."


"Kenapa?"


"Nanti Aban Leyi caiin Baen." katanya lagi ingat Larry, Nanta jadi menggelengkan kepalanya.


"Gara-gara kamu sebut nama Larry tuh, balik lagi sebut Larry terus." protes Nanta pada istrinya.


"Sorry..." Dania tertawa memandang suaminya, minta maaf tapi tertawakan Nanta yang kembali cemburu sama sahabatnya.


"Assalamualaikum..." sapa Kenan saat memasuki rumah Abangnya, tampak Nona berjalan dibelakangnya.


"Waalaikumusalaam, cepat juga Pa." Nanta tersenyum menyambut kehadiran Papa.


"Karena Balen nangis jadi Papa buru-buru deh." kata Kenan pada Nanta.


"Kan aku sudah bilang jemput di group." Nanta mengingatkan.


"Papa tidak baca group lagi." Kenan terkekeh.


"Makan Ken." Kiki menawarkan, sementara Nona tidak perlu ditawari sudah mulai mengambil piring.


"Jus Tomat saja, Ki." jawab Kenan seperti biasa disore hari ia hanya minum jus dan kudapan sehat. Nanti malam baru makan, tetap selalu menjaga pola makan sehatnya. Makanya Kenan terlihat awet muda dan selalu bugar meski sudah berumur. Bunda Kiki langsung menyiapkan permintaan adik iparnya, sudah tahu Jus Tomat pakai madu tanpa es, tanpa susu dan tanpa gula. Setelah selesai langsung menyerahkannya pada Kenan.


"Papon, Baen ninap nih." kata Balen saat melihat Papanya.


"Pulang saja Nak, nanti Papon kesepian." pinta Kenan pada Balen.


"Yah Papon, Baen tan udah bawa baju.' sungut Balen karena permintaannya ditolak Papon.


"Ya sudah kamu saja yang menginap, Abang jangan." lagi-lagi jawaban Papon membuat Balen kecewa.


"Papon..." Balen memandang Papon dengan tatapan penuh arti.


"Hmmm..." Kenan menaikkan alisnya menunggu kalimat apa yang akan putrinya keluarkan dari mulutnya yang sudah bergerak-gerak ingin ucapkan sesuatu. Tampak Balen menghela nafas seperti orang yang banyak pikiran.


"Baen mo ninap sama Aban, udah ama ndak pedi sama Aban." katanya kemudian.


"Kok perginya kesini? jauh sekali." Kenan terkekeh.


"Soalna Aban pedi teus Papon, sekaang tan ndak." katanya lagi seperti mengadu.


"Kamu kangen Abang? kan bisa tidur dirumah dikamar Abang." Kenan memberitahu Balen.


"Butan ditu, itu sih ndak pedi don diumah aja." bingung bagaimana menjelaskan pada Papanya.


"Dia mau liburan Mas, kalau kesini kan seakan lagi liburan bukan dirumah sendiri." Nona menjelaskan.


"Kemarin kan sudah ke Pulau." Kenan mengerutkan alisnya tidak mengerti.


"Papon itu ndak ada Aban tan." katanya menjelaskan dengan sabar.


"Oh maksudnya mau liburan sama Abang?" tanya Kenan terkekeh akhirnya mengerti.


"Kasih sajalah, kamu repot sekali." gerutu Reza karena Kenan cari alasan supaya Balen tidak menginap.


"Sepi aku Bang." kata Kenan pada Abangnya.


"Bikin lagi kalau sepi." celutuk Kiki membuat semuanya tertawa sementara Kenan melengos.


"Ini dua saja sudah repot." kata Nona terkekeh.


"Kalau repot Kirim kesini." jawab Reza seenaknya.


"Sudahlah Raymond kamu kuasai, pinjam anakmu saja susah." omel Reza pada Kenan.


"Ayah, janan maahin Papon don." Balen mendekati Reza sambil mengusap dada Ayahnya, diminta sabar.


"Duh Balen, kamu kok gemesin sekali sih." Kiki gemeretakkan giginya, ingin mencubit Balen saja rasanya.


"Ayah cuma kasih tahu Papon kok, bukan marah." kata Reza mengusap rambut Balen.


"Jadi mau menginap apa tidak?" tanya Reza pada Balen.


"Boeh ndak Papon, janan maah tapi." katanya lembut pada Kenan.


"Boleh." jawab Kenan akhirnya mengalah, Abangnya sudah sebut nama Raymond, Kenan jadi tidak enak hati deh.


"Oh Iya, Nanta mulai minggu depan aktif di Warung Elite ya, mungkin sedikit lebih sibuk dari biasanya." kata Reza memberitahu Kenan dan Nona.


"Bukannya bulan depan? Nanta masih ujian." kata Kenan yang tahu jadwal anaknya.


"Minggu depan sudah selesai ujian." jawab Reza yang ternyata lebih tahu dari Kenan.


"Oke lah." jawab Kenan pasrah, daripada sebut nama Raymond yang katanya Kenan sudah kuasai lagi kan, lebih baik menurut saja.


Segini dulu, nanti agak sore in syaa Allah ditambah lagi, eh iya cerita Nanta udah dua bulanan nih sama kita, sebentar lagi tamat ya, biar ga pada bosen💋