I Love You Too

I Love You Too
Tuan Putri



"Kamu tuh susah ya dibilangin." omel Nanta pada Dania via telepon, sudah seminggu ini Nanta di Amerika. Baru saja mendapat laporan dari Dania karena ia harus mencari ATM disalah satu Mal baru di Jakarta Selatan, lagi-lagi Dania kehabisan uang cash. Konyolnya ATM terdekat di Mal tersebut sedang ada gangguan, jadi Dania harus berjalan jauh ke gedung sebelah. Putar satu Mal saja sudah capek apalagi harus berjalan ke gedung sebelah.


"Yah aku cerita malah kena marah." keluh Dania dengan suara terengah.


"Kan aku sudah bilang kamu harus stock uang cash." kata Nanta melunak.


"Tadi ada, tapi kan aku bayar makan Dan ini itu, pas mau ambil ke ATM malah rusak, aneh deh Mal sebagus ini minim ATM." sungut Dania masih dengan suara terengah karena lelah berjalan jauh.


"Kamu sama siapa di Mal?" tanya Nanta.


"Sama supir, satu lagi ya sekarang ternyata bayar parkir harus pakai e-money, dan si Tomson tidak bawa e-money lagi. Tapi tadi sih saat masuk sudah bilang sama security." lapor Dania lagi.


"Nanti pulangnya bagaimana?" tanya Nanta khawatir, sudah pukul dua malam waktu Amerika, Nanta baru saja sholat tahajud.


"Kata security nanti lapor saja sama petugas parkir." jawab Dania yang sedang antri ATM saat ini.


"Beli saja e-money nya." Nanta memberi saran.


"Sudah aku cari disupermarket didalam Mal, tidak jual mereka." jawab Dania mulai mendapat giliran mengambil uang di ATM.


"Aku ambil berapa uang cashnya?" tanya Dania konyol, padahal dia yang akan menggunakan.


"Terserah kamu saja, kan kamu yang tahu kebutuhannya untuk apa."


"Biasanya minimal berapa sih harus ada di dompet?" tanya Dania bingung, karena ia lebih suka cashless atau tidak suka pegang cash lebih suka non tunai, tapi ternyata tidak bisa mengandalkan debit seratus persen.


"Secukup yang kamu tahu saja, apa tidak antri kamu tanya terus?" Nanta terkekeh.


"Eh iya-ya, panjang sekali dibelakang." bisik Dania saat melihat bayangan antrian memandang dibelakangnya. Ia buru-buru menekan tombol penarikan dan langsung pergi saat transaksi sudah selesai.


"Mas Nanta cepat pulang." rengeknya pada Nanta.


"Iya sabar empat minggu lagi." jawab Nanta terkekeh.


"Sayang, kamu tuh jalan sendiri, aku khawatir sama Om Peter." kata Nanta pada istrinya.


"Oh aku belum cerita, Papa dan Om Peter ribut besar, Om Peter datang kerumah Papa, teriak-teriak diluar pagar karena proposalnya di tolak Bang Atan."


"Nah kamu hati-hati." Nanta mengingatkan.


"Iya, aku ada Tomson, ikutin aku terus ini dari belakang. Sebenarnya Papa kasih aku supir atau bodyguard sih?" tanya Dania lagi bingung karena Tomson Multifungsi.


"Kalau ada Tomson kenapa tidak suruh dia yang ambil uang, kamu kan bisa transfer ke Tomson."


"Iya lupa." Dania terkekeh.


"Sekarang masih mau di Mal? kalau sudah tidak ada perlunya, lebih baik kamu pulang." kata Nanta pada istrinya.


"Iya sayang, oh iya Papa juga sudah bertemu Tante Julia." lapor Dania lagi.


"Wah Mike tidak cerita." kata Nanta.


"Mungkin Mike juga belum tahu, Papa dan Oma Misha besuk Kakek Kris. Akhirnya mereka bertemu."


"Kamu ikut?"


"Tidak, aku kuliah."


"Oh, jadi bagaimana urusan Om Peter itu?" tanya Nanta lagi.


"Semakin sulit dia karena Oma Misha dan Kakek Kris sudah semakin dekat. Dia janji tidak akan ganggu Papa dan Oma Misha lagi, pokoknya kami sekeluarga, asal perusahaan yang dipegang Om Peter sekarang dibantu suntik Dana."


"Bangkrut?"


"Hampir, sudah kembang kempis." Dania terkekeh, lancar sekali kasih laporan pada suaminya.


"Aku belum bisa pulang karena Tante Julia mau menyusul ke Mal sama Mama Lulu." kata Dania lagi.


"Iya aku diminta menunggu, ini baru saja di kirimi pesan." kata Dania sambil mengoprak aprik handphonenya.


"Sayang, kamu telepon balik Mama Lulu, jangan percaya sama pesan terkirim. Takutnya pesan palsu." Nanta khawatir, berjaga-jaga saja.


"Ah kamu sih kebanyakan nonton film." Dania tertawakan suaminya.


"Aku serius, dengarkan aku bicara. Kita berjaga-jaga saja. Banyak kasus seperti itu. Apa salahnya kroscek." kata Nanta menarik nafas panjang.


"Iya-iya." kata Dania terkekeh.


"Ya sudah tutup dulu teleponnya, tanya Mama Lulu benar apa tidak."


"Mau aku telepon lagi apa tidak?" tanya Dania kemudian.


"Aku mau bobo lagi, boleh ya? shubuh masih lama." ijin Nanta pada istrinya.


"Ya sudah, nanti kalau Sudah tidak sibuk telepon aku sayang." pesan Dania pada suaminya.


"Iya nanti setelah sarapan pagi aku telepon kamu." kata Nanta sebelum menutup sambungan teleponnya.


Dania menuruti perintah Nanta untuk menghubungi Mama Lulu via telepon.


"Mama..." panggilnya saat Lulu mengangkat teleponnya.


"Iya, kami masih dijalan, setengah jam lagi sampai." kata Lulu pada Dania.


"Oh berarti betul ya mau susul aku ke Mal." kata Dania terkekeh.


"Iya betul, ini perintah Kakek kamu." kata Lulu tertawa.


"Kakek Kris?" tanya Dania.


"Siapa lagi coba? Mama sama Tante Julia. Nanti dari Mal, kita kerumah Kakek Kris, Papa menunggu disana." kata Lulu lagi.


"Oke, jadi aku menunggu dimana? aku sudah kenyang habis makan."


"Restaurant A, pilihkan bangku saja dan pesankan makanan, jadi saat Mama dan Tante Julia datang sudah tinggal makan." pesan Lulu pada Dania.


"Oke, tadi juga aku makan disana." Dania terkekeh.


"Ada siapa lagi?" tanya Dania kemudian.


"Hanya kami berdua. Dania, Tomson sudah disuruh makan?" tanya Mama Lulu.


"Tadi sih makan sama aku. Duh Tomson ini menempel terus, aku risih." kata Dania jujur.


"Dia menjaga kamu." kata Mama Lulu


"Apa tidak ada yang perempuan, nanti Mas Nanta cemburu kalau tahu betapa gantengnya Tomson." kata Dania terbahak.


"Hahaha kamu ya nakal."


"Bukan nakal, memang terlihat jelas, tiga minggu ini aku sama Tomson terus seperti apa saja. Kenapa tidak seperti pengawal lain sih, tidak terlihat tapi serba tahu." keluh Dania lagi.


"Iya nanti Mama bilang sama Papa, kamu minta pengawal perempuan dan Tomson diganti begitu kan?"


"Tidak usah diganti, paling tidak aku tidak berduaan terus dengan Tomson." kata Dania yang sekarang sudah tiba direstaurant yang diinginkan.


"Oke jadi tambah pengawal ya, siap tuan Putri." Lulu terkekeh.


"Ih Mama jangan begitu dong, aku jadi tidak enak hati." kata Dania lagi.


"Loh kamu memang satu-satunya cucu perempuan di keluarga Suryadi. Yang generasi kamu ya. Makanya Kakek Kris selalu sebut kamu tuan Putri." Lulu menjelaskan.


"Ck... aku risih." kata Dania jujur, Julia tersenyum, Dania seperti Julia dulu satu-satunya perempuan, juga seperti Oma Misha satu-satunya perempuan. Seperti sudah diatur saja."