
"Setiap hari selasa dan jumat saja." pinta Daniel dan rombongannya saat mereka sudah bersama Nanta dan sahabatnya.
"Boleh, Jam tiga sampai jam setengah lima sore ya." kata Mike pada semua calon muridnya.
"Ya." jawab mereka bersamaan.
"Yang perlu kalian bawa pada saat latihan, bola, skipping, botol air minum, disini kami sediakan galon nanti kalian tinggal isi." kata Nanta pada calon muridnya.
"Masing-masing bawa bola basketnya dua ya, karena kami akan fokuskan kalian pada dribble." kata Larry lagi.
"Perhatikan sepatu dan kaos kaki, silahkan pilih yang senyaman mungkin." Doni ikut sampaikan apa yang ada di kepalanya.
"Apa tidak pakai seragam untuk berlatih?" tanya salah satu peserta.
"Pakai dong, silahkan di list ya nama dan ukuran baju dan celana, nanti serahkan pada saya." jawab Nanta tersenyum.
"Kak, kenapa bawa bola basketnya harus dua?" tanya yang lain lagi.
"Seperti yang saja bilang tadi, kalian akan fokus pada dribbling, jadi berlatih gunakan dua bola untuk melenturkan tangan kalian." jawab Larry.
"Skipping gunanya untuk apa, Kak?" tanya yang lain lagi.
"Selain untuk pemanasan juga untuk berlatih kekuatan kaki, karena selama bermain basket kalian tidak berhenti bergerak." jawab Doni wakili sahabatnya.
"Dua jam sebelum latihan harap makan makanan yang mengandung karbohidrat ya. Karena nantinya energi kalian akan terkuras." Mike mengingatkan.
"Minum sebelum dan pada saat latihan sangat dianjurkan. Sebaiknya sepuluh menit sekali." saran Larry pada semuanya.
"Jangan lupa tidur cukup malam hari." pesan Doni lagi.
"Ada lagi yang mau ditanyakan?" Nanta pandangi para peserta yang telah mendaftar untuk berlatih basket.
"Kalau tidak ada kita akhiri sampai disini, bertemu lagi hari selasa." Nanta tersenyum akhiri pertemuan mereka siang ini. Di waktu harusnya anak-anak ini tidur siang, tapi mereka semangat untuk hadiri pertemuan hari ini.
"Kak, ini buku yang aku minta tanda tangan Kak Nanta waktu itu." Darwin hampiri Nanta.
"Oh iya kemarin belum sempat ya." Nanta segera lakukan permintaan Darwin, segera tanda tangani setiap lembarnya dan setelah selesai kembali serahkan pada Darwin.
"Fotonya belum." tagih Darwin yang belum sempat foto bersama Nanta. Teman disampingnya segera menyalakan kamera pada handphone dan siap membidik Nanta dan Darwin. Anak-anak lainpun belum ada yang bubar, mereka minta foto bersama dengan idola mereka masing-masing.
Pikir Nanta setelah sibuk didalam mereka akan segera bebas dan bisa pulang cepat, begitu bubaran semua, Nanta dan sahabatnya masih berada di ruang pertemuan. Tidak langsung keluar tapi asik membahas urusan mereka sendiri.
"Eh si Daniel anteng betul sama Ambar." Larry celingukan baru sadar setelah sholat jumat Daniel kembali bersama Ambar, tanpa mengganggu Larry.
"Biarkan saja." kata Doni terkekeh.
"Baru bertemu teman, selama ini dibatasi ruang geraknya." kata Mike ikut terkekeh.
"Iya sih. Habis bikin kelakuan sendiri." Larry terkikik geli.
"Sampai kapan mau dihukum sama bokap?" tanya Nanta.
"Sampai dia selesaikan kuliahnya dengan benar. Mulai kuliah saja belum." Larry kembali tertawa, Nanta dan yang lainnya ikut tertawa.
"Tapi boleh tuh kuliah jauh begitu." kata Nanta pada Larry.
"Boleh dengan syarat." jawab Larry.
"Syaratnya apa?"
"Selesai tepat waktu, jika tidak akan dinikahkan dengan wanita pilihan bokap." Larry kembali tertawa.
"Aih jangan-jangan elu juga nanti begitu." kata Mike pada sahabatnya.
"Tidaklah, aku kan tidak nakal." jawab Larry banggakan diri.
"Pak Nanta sudah selesai? diluar banyak yang tunggu loh." tiba-tiba Ambar masuki ruang pertemuan.
"Loh siapa lagi, kan tidak bikin janji?" tanya Nanta bingung.
"Kan Ambar kemarin itu tanya boleh diumumkan apa tidak, Pak Nanta bilang terserah. Jadi staff Ambar langsung promo deh di Media Sosial." kata Ambar pada Nanta.
"Waduh, elu harus jalan jam berapa Mike?" tanya Nanta.
"Mundur satu jam oke lah." kata Mike lalu mengambil handphonenya segera hubungi Seiqa.
"Boleh, Mbak Ambar sepertinya kita butuh Mic deh." kata Nanta pada Ambar.
"Ready itu sih. Butuh apa lagi, Organ?" Ambar bercandai Nanta.
"Tidak nyanyi ah, tidak ada Papa Andi." tolak Doni langsung, ketiga sahabatnya tertawa ingat Doni yang dapat honor saat bernyanyi Ska di Cabang Selatan.
"Professional Fee ya, gue yang bayar." tantang Larry pada sahabatnya.
"Rese..." Doni langsung memiting leher sahabatnya.
"Waktunya hanya satu jam ya, karena setelah ini pada punya acara lagi." kaya Nanta pada Ambar.
"Oke, Ambar umumkan ya. Pak Nanta dan teman keluar berapa menit lagi?" tanya Ambar.
"Panggil nama saja sih, kok rasanya risih dipanggil Pak." kata Nanta risih sendiri, mengingat Ambar sepertinya seumuran dengan Nanta atau mungkin lebih tua.
"Professional dong, kalau bertemu diluar baru deh panggil nama." kata Ambar pada Nanta.
"Adik saya mana ya?" tanya Larry pada Ambar, pikirkan Daniel.
"Lagi ngobrol sama staff Ambar." jawab Ambar terkekeh.
"Eh sudah dapat teman dia." Doni terbahak.
"Takut mengganggu, kan pada kerja malah diajak ngobrol." kata Larry tidak enak hati.
"Loh tenang saja, kita disini digaji untuk ngobrol kok." jawab Ambar tertawa. Doni dan Larry ikut tertawa.
"Memang iya?" tanya Mike kurang yakin, Ambar tambah menggelegar saja tawanya.
"Ya kalau tidak ada kerjaan kita ngobrol saja." jawab Ambar konyol.
"Eh Ambar urus pengunjung dulu ya." Ambar segera keluar tinggalkan Nanta dan sahabatnya.
"Kocak kan." Nanta nyengir lebar pada Ketiga temannya.
"Iya." Larry ikut nyengir lebar jadinya.
"Bagus deh pimpinan cabangnya asik, tidak sok jaim seperti yang di Cabang Selatan. Jadi kita enak nih disini." kata Larry lagi.
"Iya betul. Ayo keluar." ajak Doni pada sahabatnya.
"Selamat sore..." sapa Doni saat bergabung diantara para pengunjung yang sudah duduk manis dibangku yang telah Ambar siapkan khusus untuk mereka yang ingin jumpa dengan idola mereka.
"Soree..." jawab para remaja tanggung yang kebanyakan wanita ini.
"Terima kasih sudah datang di Warung Elite Cabang Utara. Senang sekali begitu diberi kabar kalau ternyata kalian sudah menunggu kami disini. Sudah pada pesan makan belum?" tanya Doni lagi, sudah seperti artis saja.
"Sudah nambaaah." teriak mereka, disambung dengan teriakan teriakan yang lain, yang pastinya membuat mereka yang mendengarnya tertawa geli.
"Waktu kami hanya satu jam bersama teman-teman disini, kita mau apa nih?" tanya Doni lagi, memang Doni yang paling pintar hadapi Audience dibandingkan ketiga temannya, mungkin karena Doni sudah sering bernyanyi diatas panggung, jadi santai saja.
"Foto bersama saja ya, mau gaya bagaimana, oh begini saja kita duduk seperti lagi makan, nanti kalian bergantian duduk diantara kami ya." kata Larry tawarkan gaya foto baru, bosan juga jika bergaya berdiri. Kalau duduk seakan sedang makan bersama terkesan lebih akrab kan.
"Iya mau seperti itu, tapi mejanya kok tidak ada menunya." protes Salah satu pengunjung.
"Siapkan Snack ya, yang foto boleh comot snack yang disediakan." kata Nanta lagi. Tambah bersorak saja mereka yang ada disana, sudah foto bersama boleh amb snack lagi. Tentu saja mereka senang.
"Siapkan saja nanti biaya bebankan ke saya." bisik Nanta pada Ambar.
"Tenang Pak Nanta, kalau cuma snack bisa kok jadi beban kantor, mereka sudah makan banyak karena sudah menunggu dari siang tadi." bisik Ambar tertawa senang, hari ini pendapatan cabangnya jauh melebihi target.
"Sambil snack disiapkan, kami mau perkenalkan baskethall disebelah sana. Kalau teman-teman parkir kendaraan pasti lihat gedung baru ya. Yang mau berlatih basket rutin bisa mendaftarkan diri, kita berlatih bersama disana. Atau sekedar bermain basket sambil menunggu waktu bisa gunakan basketcorner." Nanta mulai promosikan baskethall pada para pengunjung.
"Kalau mau daftar syaratnya apa?"
"Boleh daftar sekarang tidak?"
"Biaya perbulan berapa?"
Banyak pertanyaan lainnya lagi yang dengan sabar Nanta dan sahabatnya jawabin satu persatu. Ternyata banyak juga yang berminat, dalam satu hari sepertinya perlu dibikin tiga sesi karena tidak mungkin gunakan hari lain, mengingat Nanta dan sahabatnya juga harus latihan di club mereka masing-masing.
Pertemuan satu jam yang mereka siapkan terpaksa harus melebihi waktu yang ditentukan, sehingga Mike kembali hubungi Seiqa karena acaranya belum selesai, tidak ingin tinggalkan sahabatnya begitu saja. Semoga saja Seiqa tidak marah.