I Love You Too

I Love You Too
Bersyukur



Hari minggu semua bersiap menuju rumah Micko, Mama Nina yang tak terbantahkan membuatkan Tante Misha sambal goreng sebanyak dua kilo, sebanyak itu? biar Tante Misha bisa jadikan stok di kulkas, sewaktu-waktu ingin masakan balado tinggal goreng lauknya saja kemudian dicampur.


Sementara Kenan dan yang lainnya tidak membawa apapun sesuai perkataan Micko. Tanpa beban, tidak seperti Mama Nina yang punya perasaan.


"Ma, berarti kalau tamu kerumah Mama harus bawa-bawa dong ya? aku kemarin tidak pernah bawa apapun untuk Mama." kata Nona pada Mama Nina.


"Tidak usah, Mama tidak perlu dibawakan apapun, didatangi saja Mama sudah senang." jawab Mama Nina membuat Kenan terkekeh.


"Tante Misha juga begitu Ma." kata Reza ikut terkekeh.


"Ya beda kalau Mama yang ke rumah orang, Mama harus bawa sesuatu, kalau tidak bawa rasanya tuh bagaimana ya?" Mama Nina sulit untuk menjelaskan.


"Sudah berapa tahun kita tidak bertemu Misha ya Ma?" tanya Papa Dwi pada istrinya.


"Tiga tahun lah Pa, mulai Kenan menyendiri itu, kan kita di Malang terus temani Kenan." jawab Mama Nina membuat Kenan terasa miris. Segitunya Mama berkorban untuk anak cucu. Selalu saja mondar-mandir, begitu Kenan bermasalah langsung saja terus mendampingi Kenan sampai Kenan menikah lagi, baru tenang pergi sana-sini.


"Terima kasih Mama sayang." kata Kenan sambil menyetir. Hari ini hanya mereka berenam, tidak minta diantar Pak Atang, karena Pak Atang sedang menjemput anak dan istrinya.


"Hmm... tahu juga berterima kasih." Mama terkekeh dengan hidung kembang kempis.


"Mama tuh dari dulu lebih sering temani Kenan dari pada aku." protes Reza menggoda Mama.


"Kamu kan adem ayem, Ja. Kenan agak bergejolak kemarin itu." jawab Mama membuat yang lain terbahak.


"Doakan selanjutnya terus adem ayem ya Ma, jangan sampai bergejolak lagi." kata Kenan disela tawanya.


"Pasti, Mama selalu mendoakan anak, cucu dan menantu Mama." kata Mama menghela nafas lega, sekarang semua tampak bahagia.


"Kemarin itu kenapa aku bisa bergejolak pasti tidak didoakan ya?" tanya Kenan menggoda Mama.


"Sembarangan, Mama doakan terus, hanya saja Mama lupa mendoakan supaya kamu jauh sama Sheila." jawab Mama membuat Kenan terdiam.


"Kena kan lu." bisik Reza terkekeh, ia duduk dibangku pengemudi depan.


"Makjleb." jawab Kenan ikut terkekeh.


"Sekarang sudah jauh toh?" tanya Papa menggoda Kenan.


"Kalau dekat pasti tidak menikah dengan Nona dan tetap dimusuhi Nanta sampai sekarang Pa, bisa stress aku." jawab Kenan membuat Nona menjulurkan lidahnya pada Kenan melalui kaca spion.


"Jadi sudah move on Ken?" tanya Kiki ikut menggoda Kenan.


"Dari dulu juga move on Ki, saat Sheila patah hati karena kalian menikah, aku juga move on. Tapi tetap tidak tega begitu dia telepon dan nangis-nangis karena diabaikan sama siganteng ini." tunjuk Kenan pada Abangnya yang terkekeh.


"Saking tidak teganya jadi hancur sendiri." kata Reza tertawa.


"Tapi bersyukur Bang, kalau tidak begitu, tidak bertemu Nona. Iya kan sayang? jadi kamu harus berterima kasih sama Sheila tuh." kata Kenan sambil fokus menyetir melihat Nona dari kaca spion.


"Kenapa aku berterima kasih sama Sheila. Pengen sekali aku bersahabat sama cinta pertama Mas Kenan itu." dengus Nona mencibir.


"Ih Cinta pertama Kak Eja juga itu." Kiki ikut mendengus. Reza menggeleng menoleh pada Kiki, mengulurkan tangannya, tidak mau Kiki membahas masa lalu. Nona yang menanggapi jadi terkekeh.


"Kalau Sheila tidak bikin Tari marah dan meninggalkan saya, kita tidak menikah sayang." kata Kenan lagi pada Nona.


"Tetap akan menikah karena semua sudah tertulis dijalan hidup kalian." kata Mama Nina pada Kenan.


"Mungkin saja Kenan tetap pisah dengan Tari dengan jalan cerita yang berbeda. Toh sudah tertulis juga Tari menikah dengan Bagus." jawab Mama Nina tertawa.


"Sudahlah tidak usah dipikirkan, itu rahasia Allah." kata Mama lagi.


Mereka tiba di rumah Micko tepat waktu. Tidak lewat tidak kurang. Tante Misha sudah berdiri diteras menyambut tamu agungnya.


"Rumahnya besar sekali Mas, ini sih istana." Nona seperti orang kampung yang baru melihat rumah mewah, padahal lingkungannya juga dari orang berada.


"Kan saya sudah bilang, keluarga konglomerat." jawab Kenan santai.


"Mas tamunya banyak sekali." kata Nona lagi begitu melihat sekitar dua puluh mobil mewah berderet dihalaman rumahnya. Kenan dan Reza hanya tertawa, Sementara Kiki santai saja bergelayut manja di lengan Reza.


"Kenan, Masyaa Allah senang sekali Tante mendengar kabar kamu dari Micko." sambut Tante Misha memeluk Kenan setelah saling heboh bicara dengan Mama Nina dan Papa Dwi.


"Ini Nona Tante." kata Kenan mengenalkan Nona pada Tante Misha.


"Ya Allah Nak, ketemu juga kita. Tante baru tahu dari Micko kalau Kenan sudah menikah. Tidak undang-undang lagi." Tante Misha memeluk Nona dan sedikit menitikkan air mata.


"Aku juga tidak kasih tahu kamu ya, Mis. Aku pikir yang penting Kenan cepat beres deh, tidak resepsi hanya syukuran saja. Keluarga inti." Mama Nina menjelaskan.


"Iya lah dengar Kenan bahagia saja aku jadi nangis terharu." kata Tante Misha menghapus air matanya.


"Terima kasih ya Tante." Kenan merangkul Tante Misha, bagaimanapun Tante Misha ikut andil atas keberhasilan usaha Papa.


"Aku tuh kebayang Nanta, jangan sampai seperti Micko, musuhan sama keluarga bapaknya." kata Tante Misha setengah berbisik tak ingin Micko mendengarnya, walaupun Micko tidak ada disana.


"Alhamdulillah Nanta aman Tante." kata Kenan tersenyum haru, Tante Misha ternyata ikut bahagia dengan kebahagiaan Kenan.


"Mana Micko, Tan?" tanya Reza mengelilingi pandangannya.


"Ada didalam, ayo masuk kita langsung makan saja." Tante Misha menggiring mereka ke ruang makan. Jauh sekali jaraknya dari teras. Lumayan bikin Nona tersengal karena bawaan hamil.


"Jalan pelan-pelan saja." kata Kenan menggandeng Nona sementara Tante Misha berjalan lebih dulu. Nona mengangguk menuruti Kenan berjalan santai meski tertinggal jauh dari yang lain.


"Keluarga konglomerat malah kerja sama keluarga kamu ya Mas." heran Nona melihat kehidupan Micko yang jauh lebih mewah dari keluarga suaminya.


"Tidak kerja juga bisa sih kalau mereka mau. sudah jangan bingung, jalan hidup orang beda-beda, rejekinya orang juga begitu beda-beda." kata Kenan tersenyum lebar melihat wajah bingung Nona.


Tibalah mereka dimeja makan, hanya ada Micko dan Keluarga kecilnya, sementara makanan sudah tertata rapi dengan susunan seperti dihotel. Kenan mengenalkan Nona pada Lulu istri Micko. Sambutannya sangat ramah tidak ada yang menyebalkan, anak-anak Micko juga cantik-cantik dan santun, yang satu seumuran Nanta, yang satunya seperti diatas Nanta. Sudah gadis-gadis.


"Kamu aku bikinkan nasi mandhi Nin. Kamu suka kan? ada kismisnya juga. Tidak terlalu rempah seperti yang kamu suka, ada jus Kurma juga. Anggap saja kita lagi di Dubai." kata Tante Misha sambil terbahak yang lain ikut terbahak.


"Tamu yang lain mana, Mas?" bisik Nona pada Kenan.


"Tidak ada hanya kita saja." jawab Kenan santai.


"Tadi banyak Mobil diluar, acara apa?" tanya Nona lagi masih berbisik. Kenan menahan tawanya.


"Sayang jangan heran, itu mobil pribadi mereka." bisik Kenan kemudian tertawa geli, istrinya benar-benar seperti orang kampung saat ini, sementara Nona ikut tertawa malu, untung saja ia berbisik, kalau keluarga Micko dengar sudah terbayang seperti apa malunya Nona.


Ya ampun sudah eps 200 aja, terima kasih sudah terus mendukung aku, tinggal beberapa chapter menuju TAMAT supaya tidak muter kesana kemari yaa hahaha, Terima kasih untuk semua bentuk dukungannya all. I Love u