I Love You Too

I Love You Too
Hajar



"Nan, jangan pulang dulu." pinta Ando pada sahabatnya.


"Iya." jawab Nanta menurut, tadi tidak temani Ando, masa sekarang mau pulang duluan, sementara sahabatnya itu masih saja terlihat tegang. Butuh teman tampaknya, walaupun ada Wilma disampingnya.


"Kamu masih mau lama disini kan? Papa pulang duluan ya." pamit Micko pada Nanta dan Dania.


"Papa langsung ke Kakek Suryadi?" Tanya Dania pada Papanya.


"Iya." jawab Micko merangkul Dania.


"Salam dulu ya Pa." Kata Nanta pada Papa Micko.


"Nanti Papa sampaikan. Ando, Wilma, Om pulang dulu." pamit Micko pada Ando.


"Makasih ya Om." Ando dan Wilma bersamaan tersenyum lebar pada Micko.


"Sama-sama, Salam untuk mama Papa kamu, mereka masih sibuk banyak tamunya." Micko menunjuk kedua orang tua Ando, mantan tetangganya. Sementara Micko sudah berpamitan dengan Liana dan Leo orang tua Wilma.


"Iya Om, nanti aku sampaikan." jawab Ando maklum, banyak saudara dan kerabat Papa dan Mamanya. Walaupun hanya akad nikah tapi sangat ramai.


"Om makasih loh dipinjami mobilnya, jangan lama-lama ada disini deh, nanti aku malas kembalikan." kata Wilma konyol.


"Hahaha pakai saja dulu sampai bosan." Micko terbahak.


"Ah aku kira om mau bilang, ya sudah untuk kalian saja." Wilma bercandai Micko.


"Bisa habis gaji Ando untuk biaya perawatan dan perpanjang STNK." Micko terkekeh, bukan bermaksud mengecilkan, tapi memang begitu adanya, Mobil mewah butuh biaya tinggi.


"Kita masih paket ekonomis." kata Ando pada Wilma, semua tertawa mendengarnya.


"Suami aku hitung-hitungannya mantap." kata Wilma pada yang lainnya.


"Memang harus begitu, jangan sampai besar pasak dari tiang, gaji lebih besar dari pengeluaran." Micko mengingatkan pengantin baru agar pandai-pandai mengatur keuangan.


"Kebanyak sekarang pada begitu." Wilma mencebik.


"Sebelum kejadian, harus pandai mengatur keuangan dari sekarang. Tidak harus terlihat kaya untuk menjadi kaya." Micko menaikkan alisnya sambil tersenyum.


"Om Micko berbagi ilmu nih, Sekarang lu dapat ilmu bisnis, Ndo. Tutorial malam pertama bagian gue sama Nanta." Arkana ikut bergabung, padahal Micko sudah mau pulang.


"Eh Nan, sudah bisa kasih training kamu?" Micko terbahak menepuk bahu menantunya.


"Tidak Pa, Bang Atan saja dari tadi jahili aku, belajar sama yang professional, Ndo." Nanta menunjuk Arkana.


"Ini buktinya." tunjuk Dania pada perutnya, semua kembali terbahak.


"Padahal gue tinggal ke Amerika tuh." lanjut Nanta lagi.


"Nah berarti elu bisa jadi penerus gue Nan, ajari Ando." kata Arkana tertawa.


"Sebenarnya tidak usah diajari, Wilma ini lebih rajin mencari tahu." kata Nanta menunjuk Wilma.


"Gue sih tahu teori, praktek mah Ando." dasar Wilma malah menimpali, padahal ada Micko disana.


"Oke selamat belajar dan mengajari." kata Micko kemudian lambaikan tangan pada semuanya.


"Aku antar Papa dulu ke mobil." pamit Nanta pada yang lainnya, Arkana menyusul. Dania tidak ikut mengantar, lebih memilih ngobrol santai dengan Wilma dan Sarah.


"Kak Sosa dan Kak Risa dimana?" tanya Dania pada Sarah.


"Itu dikumpulan ibu-ibu gaul." jawab Sarah tunjukkan jarinya pada rombongan Bunda Kiki.


"Kak Sarah tidak ikutan?" tanya Dania.


"Terlanjut tersangkut disini." Sarah tertawa.


"Nah Wilma, bisa tanya Kak Sarah nih secara kedokteran." kata Dania pada Wilma.


"Sudah gue tanya duluan dari seminggu yang lalu." jawab Wilma membuat Ando menepuk bahu istrinya.


"Beneran Bang, gue kan penasaran pada bilang sakit." kata Wilma dengan suara seperti pakai toa, bikin Ando malu takut terdengar oleh yang lain.


"Psssttt, suara bisa dikecilin tidak sih?" Sarah meletakkan jari dibibirnya.


"Pasti pada mau ikut ngobrol dengan kita." Wilma kepedean, Dania jadi terkikik geli.


"Mau langsung hamil tidak?" tanya Dania penasaran, bayangkan Wilma hamil nanti.


"Kata Daddy jangan dulu, takut seperti Kak Anggita hamilnya rewel, karena Mommy dulu juga begitu. Jadi kalau Kak Anggita sudah melahirkan baru deh gue hamil." jawab Wilma.


"Ish memangnya kalian hamil Daddy Leo ikut repot urus kalian?" tanya Sarah, pikirnya yang repot pasti suami.


"Kak Anggita telepon Daddy terus kalau kesakitan." Wilma terkekeh.


"Lah kamu nanti telepon aku dong, jangan Daddy." kata Ando pada istrinya, eh sudah bisa bilang istri sekarang.


"Iya Kak Anggita juga telepon Bang Romi kok, tapi tetap Daddy juga direwelin." Wilma terkikik geli.


"Nanti apa Wilma begitu juga Kak Sarah?" tanya Ando khawatir, kasihan Daddy kalau direpotkan.


"Tergantung bawaan bayi mungkin ya, seharusnya sih tidak begitu. Tapi orang hamil memang kondisinya beda, Nih lihat Dania, santai saja hanya pikirkan perut yang melendung saja, malah kudengar ikut Nanta terus kalau bertanding." Sarah tersenyum memandang Dania.


"Iya Alhamdulillah aku senang sekali, tidak rewel hamilku, pernah sih minggu lalu Mas Nanta dibikin begadang, tapi hanya sekali itu saja." jawab Dania terkekeh.


"Waduh yang gue takuti, Kak. Gue hamil maunya ikut Bang Nanta bertanding juga bayinya, bagaimana ini." Wilma jadi khawatir mengingat dirinya lumayan dekat dengan Nanta.


"Awas saja." Ando langsung menjentikkan jarinya ke dahi Wilma.


"Ih KDRT." sungut Wilma. Sarah Dan Dania tertawa.


"Jangan diladeni ya Dan, kalau Wilma hamil nanti minta ikut travel." pesan Ando.


"Kan bawaan bayi Bang." kata Wilma pada suaminya.


"Tidak boleh." sungut Ando.


"Yah kasih tahu saja anakmu dari sekarang." kata Wilma ikut bersungut.


"Dibikin saja belum, mau dikasih tahu lagi." Sarah terkekeh.


"Kasih tahu pakai bahasa batin, bilang saja dalam hati." kata Wilma konyol.


"Ikuti saja, Ndo. Kalau Wilma mau tidur bisikkan ketelinganya supaya tidak.minta ikut Nanta saat hamil nanti." kata Sarah pada Ando.


"Itu sih hypnotherapy gue, Kak Sarah." protes Wilma. Dania tertawa melihat sahabatnya ini.


"Memang kamu yang harus di hypnotherapy, karena kamu yang mau travel." Kata Sarah tertawa geli.


"Ah Kak Sarah tidak kompak nih." Semua terbahak, Ando jadi gemas tanpa malu cubiti kedua pipi istrinya dan reflek mengecup bibirnya.


"Eh sabar." kata Arkana yang baru saja kembali bergabung diikuti Nanta.


"Tuh tidak perlu ditraining mereka." kata Nanta pada Arkana, sementara Wilma tampak terkejut karena perdana mendapatkan ciuman dibibir oleh Ando, walaupun sekilas tapi masih berasa sampai sekarang.


"Aku reflek." kata Ando jadi malu sendiri.


"Sepertinya kita harus cepat pulang." kata Nanta pada Dania.


"Iya ya, pulang sajalah kita, baby juga kasihan dirumah ditinggal terlalu lama." kata Arkana pada istrinya.


"Ish katanya mau ajari aku." kata Ando berharap mendapat ilmu dari pakar.


"Elu mulai dari gerakan reflek lu tadi, nanti juga akan berjalan dengan sendirinya." kata Arkana yang kembali teringat babynya, jadi tidak semangat lagi kasih training.


"Itu saja?" tanya Ando.


"Kalau ada kendala, elu telepon gue deh, gue kasihan baby gue nih." kata Arkana menarik tangan Sarah tidak sabar.


"Ya kali gue lagi begitu, ingat nelpon Bang Atan, menurut elu apa akan ada kendala?" tanya Ando terkekeh.


"Tidak ada, hajar saja." jawab Nanta membuat semuanya terbahak, main hajar saja.


"Apanya yang elu hajar." tanya Arkana terbahak mengacak anak rambut adik kesayangan Raymond ini.