I Love You Too

I Love You Too
Misi



Senin pagi kembali beraktifitas, setelah kemarin Nanta berlibur dengan keluarganya sambil bekerja, siang ini kembali ke Warung Elite. Pertandingan kemarin dimenangkan oleh Club Doni dan Larry, walau hanya dengan selisih nilai yang sangat tipis, seperti yang dikatakan pemimpin club, bukan soal menang atau kalah tapi tampilkan permainan terbaik, Nanta dan Mike beserta temannya yang lain sudah lakukan itu, hanya saja keberuntungan ada dipihak Doni.


Kecewa? sedikit, maunya memang menang, tapi tidak mungkin menang terus pasti ada kalahnya. Karena dalam pertandingan menang atau kalah itu hal yang biasa. Mereka tetap saja bahagia setelahnya, kembali bercanda seperti biasa.


"Mana oleh-oleh Semarang?" tanya Bowo pada Nanta, begitu Nanta memasuki ruangannya, Bowo selalu mendampingi Nanta seperti pesan para petinggi.


"Ada nih, aku bawakan Wingko sama lumpia khusus untuk Om Bowo." kata Nanta pada Bowo yang tersenyum senang mendapat oleh-oleh dari Semarang.


"Bos siapa saja yang diruangan?" tanya Nanta pada Bowo.


"Ada Pak Mario dan Pak Andi." jawab Bowo.


"Aku menghadap dulu." kata Nanta segera menuju ruangan para petinggi sambil membawakan Oleh-oleh yang dibelinya kemarin.


"Assalamualaikum..." Nanta tersenyum pada kedua sahabat Ayah yang sekarang menjadi bosnya.


"Waalaikumusalaam, masuk Nan." jawab Andi yang sedang ngobrol santai dengan Mario.


"Kamu tidak ikut ke Malang?" tanya Mario pada Nanta.


"Tidak, Pi. Aku ada pertandingan antar club di Semarang." jawab Nanta pada Mario. Sambil meletakkan oleh-oleh di meja mereka masing-masing.


"Menang?" tanya Mario, Nanta tertawa sambil gelengkan kepalanya.


"Payah ah, tidak menang." Andi menggoda.


"Papa sih tidak ikut ke Semarang jadi tidak menang deh." jawab Nanta terkekeh. Keduanya langsung tertawa saja mendengar jawaban Nanta.


"Papi tahu Aditia Markom Unagroup?" Mario mengerutkan keningnya sedikit berpikir.


"Kemarin bertemu di hotel, tawarkan Balen jadi model iklan produk makanan sehat." lanjut Nanta pada Mario.


"Seperti Bunda juga ya jadi model iklan Unagroup." Andi tertawa.


"Tanyakan pada Steve saja, Papi rasa Abangmu lebih tahu untuk urusan periklanan." kata Mario terkekeh, seperti dugaan Nanta, Bang Steve pasti lebih tahu.


"Nanti aku telepon Bang Steve deh, Pi." Nanta ikut terkekeh.


"Kita ke cabang selatan ya, siang ini." ajak Mario pada Nanta.


"Iya Pi, aku sudah siap kok" jawab Nanta tersenyum. Tadi sudah makan dan sholat dulu di kampus sebelum ke Warung Elite.


"Jangan lama-lama ya perginya." pesan Andi pada Mario dan Nanta.


"Kenapa memangnya? mana bisa gue atur, kalau banyak masalah pasti lebih lama. Lagi pula pasti langsung pulang ini urusannya." kata Mario pada Andi.


"Mau apa sih ke cabang selatan?" tanya Andi pada keduanya.


"Duduk-duduk santai saja, menurut lu? ya gue kan mesti kenalkan Nanta dengan situasi di cabang, kenapa sih rewel betul." oceh Mario pada Andi. Andi langsung tertawa.


"Itu juga gue tahu, kenalkan Nanta situasi cabang, maksud gue apa mesti sekarang, besok kan bisa, bantu gue dulu kali Nanta hari ini." Andi sampaikan alasannya.


"Bikin sibuk Nanta saja. Besok saja lah Nan kita ke cabang selatan. Kamu bantu Papa Andi hari ini." Nanta tertawa saja, jadi ingat Mike sama Larry melihat Papi Mario dan Papa Andi.


"Sebenarnya, gue bosan sendirian. Kalau besok kan ada Reza, kalian bisa pergi." Andi tertawa senang Mario tidak jadi ajak Nanta keluar kantor.


"Ikut saja yuk." ajak Mario pada Andi.


"Ini belum selesai, sudahlah besok saja. Seperti ada yang dikejar saja." gerutu Andi monyongkan bibirnya.


"Nan, Papa jelaskan soal music live dibeberapa cabang setiap weekend. Mereka mendapatkan prosentase pembagian hasil dari setiap pesanan makanan malam itu, juga tips dari pengunjung, selain penghasilan minimum yang kita siapkan." kata Andi pada Nanta.


Terus saja Andi jelaskan semua hal yang terkait dengan bagian promosi di Warung Elite. Nanta menyimak dengan seksama.


"Kami bisa bikin perluasan sampai dengan enam puluh cabang, ditangan kamu, kami mau lihat nih bisa tambah berapa cabang." Mario terkekeh.


"Paling tidak enam puluh cabang itu bisa terus bertahan, jika bisa berkembang itu lebih baik lagi." kata Mario menepuk bahu Nanta.


"In syaa Allah Pi." jawab Nanta ngeri-ngeri sedap seperti mendapatkan misi apa saja dari Papa Andi dan Papi Mario.


Handphone Mario berdering saat mereka cerita santai membahas mengenai pengembangan Warung Elite bahkan memberikan beberapa tips untuk Nanta. Andi juga menyerahkan pada Nanta untuk negosiasi dengan penyanyi yang sangat terkenal saat ini, agar dapat mengisi acara pada jumat malam di Warung Elite cabang Utama.


"Ini yang kalau nyanyi suara aslinya jauh lebih bagus dibanding saat rekaman." kata Andi menunjuk salah satu penyanyi yang terkenal saat ini.


"Iya Pa, kalau tidak salah dia juara satu disalah satu ajang pencarian bakat." jawab Nanta.


"Kamu tahu?" tanya Andi.


"Dia pernah isi acara saat kami bertanding Basket." jawab Nanta.


"Kamu kenal?" tanya Andi lagi, Nanta tertawa sambil gelengkan kepala.


"Mungkin dia yang kenal kamu." timpal Mario terkekeh sambil kembali bicara di handphonenya.


"Nanta, ini Steve mau bicara." kata Mario kemudian serahkan handphonenya pada Nanta.


"Bang..."


"Assalamualaikum Nanta."


"Waalaikumusalaam Bang, hehehe."


"Kenapa Aditia?" tanya Steve.


"Kemarin bertemu di semarang, dia tertarik jadikan Balen bintang iklan." lapor Nanta pada Steve.


"Oke, Balen mau?" tanya Steve pada Nanta.


"Mau tapi ramai-ramai hahaha." jawab Nanta tertawa.


"Iya Balen tidak mungkin sendiri lah. Nanti ada yang temani." kata Steve tertawa.


"Memang ada produk makanan itu Bang? konsepnya bagaimana? karena tahu sendiri Balen tipenya terserah dia saja mau bagaimana. Khawatir susah diatur nantinya." kata Nanta pada Steve.


"Iya ada, tadi aku sudah konfirmasi sama Aditia, besok dia temui kamu di Warung Elite ya, bisa bicarakan konsepnya seperti apa." kata Steve pada Nanta.


"Jangan bertemu aku, Mas Aditia temui Papa saja lah." Nanta menolak menurutnya tetap keputusan ada ditangan Papa.


"Apa bedanya? Papa sama kamu pasti satu suara." Steve terkekeh.


"Papa saja ya Bang, aku mau kecabang selatan sama Papi besok." jawab Nanta apa adanya.


"Oke, aku hubungi Om Kenan deh. Nanti Balen syutingnya di S'pore loh Nan." kata Steve pada Nanta.


"Jauh sekali di S'pore." Nanta berpikir


"Anakku tidak bisa ditinggal Nanta, aku mesti ikut awasi proses pembuatan iklannya." kata Steve pada Nanta.


"Gitu ya kalau punya anak." Nanta terkekeh bayangkan kalau anaknya sudah lahir nanti. Sekarang sih belum terasa, apalagi Dania selalu ikut. Tapi kalau sudah lahiran, Dania pasti tidak bisa ikut.


"Sebentar lagi kamu rasakan ya, disaat harus keluar kota tapi pikiranmu ada dirumah." Steve terkekeh.


"Iya nanti aku curhat dan belajar deh sama Bang Steve." keduanya terbahak dan akhiri sambungan telepon.