
"Yeaaay tiduuuur." teriak Doni dengan suara tertahan khawatir mengganggu tetangga kanan, Kiri dan depan kamar sahabatnya saat ini. Baru terasa lelahnya setelah dirasa semua beres dan hati mereka tenang.
"Selamat tidur kakak." Larry menyeringai bayangkan kedua sahabatnya menunggu di lounge hampir dua jam, sementara ia dan Mike bersenang-senang nikmati malam minggu di Clark Quay.
"Bodo amat." jawab Nanta, mengingat betapa menderitanya ia dan Doni tadi menunggui duo pria perawan ini kembali.
"Janan maah don." Larry menirukan gaya Balen. Mereka jadi terbahak ingat singkong rebus.
"Besok kita balik Jakarta jam berapa?" tanya Mike pada Nanta.
"Belum tahu, kenapa tadi tidak tanya Rumi." sungut Nanta, sudah jelas habiskan malam bersama dengan Rumi yang mengatur semuanya untuk para model dadakan disini.
"Bagaimana sih kalian ini, yang jalan sama panitia juga siapa, malah tanya kita." Doni ikut ngomel.
"Masih banyak energi ya, masih bisa ngomel." kata Larry terkekeh memandang kedua sahabatnya. Doni monyongkan mulutnya sebal-sebal sayang.
"Besok saja tanya saat sarapan pagi. Yang penting packing setelah mandi." saran Nanta, disambut anggukan kepala dari sahabatnya. Nanta dan Doni pun kembali ke kamar masing-masing.
"Sudah pulang Larry dan Mike?" tanya Dania saat Nanta memasuki kamar, rupanya ia terbangun mendengar ada yang membuka pintu.
"Sudah." Nanta tersenyum anggukan kepala.
"Kamu tidak tidur?" tanya Nanta pada istrinya.
"Baru saja terbangun." jawab Dania kembali menguap, masih terasa mengantuk karena baru pukul satu malam.
"Bobo lagi deh, aku juga ngantuk." kata Nanta berbaring disebelah istrinya, langsung ambil posisi peluki Dania sambil mengelus perut, seakan meninabobokan anaknya yang masih didalam perut.
Tak lama keduanya kembali tertidur pulas. Eh tapi cuma sebentar karena begitu Nanta hentikan gerakan tangannya Dania kembali terbangun dan minta dielus lagi perutnya. Begitu saja terus sampai menjelang adzan shubuh, Nanta tidak bisa benar-benar pulas.
"Dan, sholat shubuh dulu." Nanta lepaskan tangannya dari perut Dania, sudah pasti Dania terbangun.
"Masih ngantuk." jawab Dania dengan suara bantalnya.
"Sholat dulu yuk, nanti bobo lagi." ajak Nanta pada istrinya.
"Mas Nanta tidak sholat di Mesjid?" tanya Dania pada Nanta.
"Sholat di kamar saja, ayo berjamaah." ajak Nanta segera bergegas ambil wudhu. Mereka lakukan sholat bersama, ini pertama bagi Dania, sholat di Imami oleh suaminya sendiri, biasanya Nanta selalu sholat di Mesjid.
"Tidak ada makanan ya?" tanya Nanta begitu mereka selesai sholat berjamaah. Dania terkekeh, suaminya biasa minum jus atau makan buah setelah Sholat shubuh.
"Ada tuh." tunjuk Dania pada parcel buah yang tersedia diatas meja kecil dipojok kamar.
"Mau dipotong?" tanya Dania, bersiap hubungi petugas hotel untuk pinjamkan pisau.
"Tidak usah." Nanta tersenyum lalu duduk santai mulai nikmati air mineral dan buah yang bisa disantap tanpa pisau yang ada dihadapannya.
"Sini..." Nanta menepuk pahanya minta Dania duduk dipangkuannya.
"Aku berat." jawab Dania ragu. Nanta menggeleng dan ulurkan tangannya. Mau tidak mau Dania ikuti keinginan suaminya, ia duduk dipangkuan Nanta sambil mereka nikmati buah yang Nanta suapi kemulutnya.
"Mas Nanta, tidak berat kah?" tanya Dania kasihan pada suaminya. Keduanya sudah selesai makan buah yang ada di meja.
"Nanti kaki Mas Nanta sakit loh. Tidak bisa main basket lagi." kata Dania lagi.
"Ish bicara sembarangan." dengus Nanta peluki istrinya. Dania jadi tertawa membelai rambut suaminya.
"Tidak kangen ya? biarpun kamu selalu ikut aku, tapi aku sibuk sama teman-temanku, maaf ya. Kamu merasa tidak?" tanya Nanta masih memeluk Dania erat.
"Merasa, tapi kan aku punya teman juga, kalau aku sendiri pun aku sudah biasa, anggap saja lagi solo travelling." jawab Dania tertawa senang, ia sudah sangat akrab dengan Dona, walaupun belum akrab dengan Seiqa dan Rumi tapi tidak masalah. Dania tetap merasa nyaman tanpa ada rasa khawatir. Biasanya ia selalu khawatir dengan kehadiran orang baru, rasa tidak nyaman selalu muncul dihatinya.
"Solo travelling, aku dianggap tidak ada dong." kesal Nanta digigitnya bahu Dania.
"Hehehe habisnya aku dianggap tidak ada." Nanta jadi tertawa sendiri.
"Mas Nanta kan sibuk sama temannya, aku harus bikin senang hatiku sendiri dong." Dania sampaikan alasannya.
"Tidak boleh, senang harus sama-sama." kata Nanta lagi menarik tengkuk Dania dan mulai menciumi bibir istrinya perlahan. Dania pun menikmati apa yang dilakukan suaminya.
"Mas Nanta..." panggilnya begitu Nanta melepaskan ciumannya. Mata mereka berdua sudah tampak sayu.
"Hmm..." pandangi istrinya menunggu kalimat berikut.
"Mau besuk dedek?" tanya Dania tanpa malu-malu, Nanta jadi tertawa.
"Kamu mau?" Nanta cengar-cengir.
"Kalau Mas Nanta tidak capek, kan tadi malam Mas Nanta tidak benar-benar tidur." Dania tahu diri, tapi bagaimana? Nanta sih mancing-mancing.
"Yuk." Nanta membawa istrinya ke kasur, mulai deh beraksi saling mempreteli, lalu terjadilah.
Papa, aku sarapan jam sembilan saja. Aku mau tidur dulu, semalaman dedek diperut minta dielus terus, kalau tidak Dania tidak bisa tidur.
pesan untuk Kenan, Nanta kirimkan pada Papanya supaya tidak menunggu untuk sarapan bersama. Pada sahabatnya pun Nanta mengirimkan pesan serupa untuk mereka berempat.
Ok, Boy. Restaurant hanya sampai jam sepuluh, jangan kesiangan. Kasihan Dania dan Anakmu.
balasan dari Kenan di baca Nanta.
"Kamu kalau mau sarapan tepat waktu sama Papa saja ya, aku mau bobo dulu." kata Nanta pada istrinya yang masih berbaring dikasur bertutupkan selimut.
"Hu uh." jawab Dania menurut.
"Aku bilang Papa ya kamu nanti ikut sarapan." kata Nanta mengambil handphonenya.
"Tidak usah, kalau lapar aku turun saja sendiri." jawab Dania santai. Keluar lagi jiwa solo travellernya.
"Jangan sendiri, hubungi Papaku atau Papa kamu." tegas Nanta lalu memeluk guling dan menutup kepalanya dengan bantal, perlahan mulai terdengar dengkuran halusnya. Begitu suaminya tertidur pulas, Dania pun beranjak dari kasur dan bergegas ke kamar mandi, mulai bersihkan diri.
Setelah mandi dan berdandan cantik, Dania hampiri suaminya yang masih tidur pulas tanpa terganggu aktifitas Dania yang mondar-mandir sana sini. Entah mengambil baju, mengeringkan rambut dan lain sebagainya.
"Baik banget sih suami aku." gumam Dania dan ciumi pipi suaminya. Ia bersyukur dalam hati bersuamikan Nanta, berharap seterusnya suaminya akan sebaik ini.
"Jangan pernah berubah ya." bisiknya lagi, kembali ciumi suaminya. Sementara Nanta masih saja mendengkur halus, benar-benar pulas.
Dania hubungi Papanya, tanyakan mau sarapan jam berapa.
"Papa lagi tunggu Winner dan Lucky, mereka lagi mandi." jawab Micko pada Dania.
"Nanti Papa kabari kalau sudah mau sarapan ya, aku ikut." kata Dania pada Papa.
"Nanta masih tidur?" tanya Micko pada Dania. Rupanya sudah saling berkabar dengan Kenan.
"Masih."
"Kamu bisa tidur tadi malam?" tanya Micko khawatir.
"Bisa, tapi kalau perutnya tidak dielus terbangun, dedeknya tendang-tendang." adu Dania pada Papanya.
"Kasihan Nanta loh, nanti Papa kasih tahu anakmu supaya tidak merepotkan Papanya." kata Micko membuat Lulu menepuk bahunya.
"Mana ada anak merepotkan, dia hanya minta perhatian Papanya." omel Lulu terdengar oleh Dania.
"Iya nanti saya kasih tahu kalau malam tidur saja, jangan bergerak-gerak begitu. Kasihan Papa dan Mamanya." kata Micko meralat ucapannya, Dania tertawakan Mama Lulu dan Papa Micko. Dedek diperut siap-siap dinasehati Opa, kata Dania dalam hati.