
"Maaf ya, pasienku main bilang kamu pacarku saja tadi." Femi tidak enak hati, sampaikan maaf pada Larry.
"Tidak masalah, kebetulan kan sekarang sabtu sore, makanya dia kira aku pacar kamu." jawab Larry tidak gunakan kesempatan, padahal moment yang tepat kalau Larry mau tembak ke arah sana.
"Iya sih, waktunya tepat ya." Femi terkekeh.
"Fem, aku mau tahu deh, kamu kenapa tidak pernah mau angkat telepon aku?" tanya Larry penasaran, ingin tahu saja. Benar-benar penasaran, karena baru Femi saja yang tolak Larry, Balen yang kecil saja begitu memujanya.
"Hmm... soalnya kamu playboy." jawab Femi polos.
"Eh kata siapa?" Larry mengernyitkan dahinya, sampai juga berita masalalu Larry di Cirebon. Tidak marah sih, hanya bingung saja.
"Kebetulan ada yang cerita." jawab Femi tersenyum tidak enak hati tapi harus sampaikan itu.
"Cuma dengar cerita langsung tidak mau angkat telepon aku ya, kenapa kamu tidak tanya langsung?" tanya Larry serius.
"Kalau tanya mana mau mengaku, sekarang saja kamu menyangkal." jawab Femi, Larry tertawa, tidak tersinggung. Tapi penasaran juga siapa yang bilang dirinya playboy. Bukan Playboy sih gue, sering putus iya, terus cepat dapat ganti, batin Larry. Sekarang saja rekor hampir setengah tahun menjomblo, abaikan cewek-cewek yang minta perhatiannya.
"Benar kan berarti berita itu?" tanya Femi setengah mendesak.
"Mesti jawab apa ya?" Larry tertawa.
"Berarti iya, sampai bingung sendiri." Femi menyimpulkan.
"Playboy tuh maksudnya bagaimana sih?" tanya Larry bingung sendiri.
"Pacarnya banyak, suka duakan wanita." jawab Femi berdasarkan pemikirannya.
"Hehehe kalau mantan pacar memang banyak sih, tapi aku tidak pernah mendua tuh. Satu saja, begitu putus ya cari pacar baru." jawab Larry tertawa.
"Seperti itu playboy bukan?" tanya Larry lagi pada Femi.
"Tidak tahu, mungkin iya seperti itu termasuk playboy. Kenapa juga kamu sering ganti pacar? ketahuan selingkuh?" Femi berasumsi bikin Larry gemas.
"Tidak pernah selingkuh tuh, dicemburui sering." jawab Larry nyengir.
"Jadi putus karena pacar-pacar kamu cemburu?" tanya Femi. Larry anggukan kepalanya.
Berarti kamu tebar pesona." Femi lagi-lagi berasumsi.
"Kamu dari tadi bikin kesimpulan sendiri ya atau sedang pancing untuk tahu tentang aku detail ya?" tanya Larry, Femi langsung tersenyum malu.
"Ya sudah yang penting sekarang aku sudah tahu kenapa kamu tidak mau angkat telepon aku, sementara teman kamu Rima hampir setiap hari menelponku, bahkan siang tadi pun masih coba hubungi aku, padahal sudah berapa bulan ini aku abaikan teleponnya." Larry apa adanya.
"Rima, hubungi kamu?" tanya Femi tidak percaya.
"Hu uh." Larry anggukan kepalanya.
"Kalian sempat dekat?" tanya Femi lagi. Larry gelengkan kepalanya.
"Terima telepon Rima hanya dua tiga kali, itu pun hanya sebentar karena aku sibuk." jawab Larry jujur.
"Kamu abaikan Rima?" tanya Femi.
"Bisa dibilang begitu, sudah ah jadi terkesan sok ganteng aku." jawab Larry.
"Satu lagi, kenapa diabaikan?" penasaran, karena banyak yang suka Rima.
"Ya karena aku bukan Playboy, tidak semua perempuan yang hubungi aku, aku ladeni." jawab Larry tertawa.
"Bisa saja bersihkan nama." Femi tertawa.
"Berarti Rima tidak tahu kalau aku dicap playboy ya, dia masih berani hubungi aku loh, apa dia tertantang ya?" Larry tertawa.
"Sorry, aku justru tahu dari Rima kalau kamu playboy, Salah satu mantan pacar kamu teman sekolah Rima dulu." Femi menjelaskan.
"Wah kalau begitu Rima berani juga dekati playboy, tertantang mungkin ya." Larry pandangi Femi sekilas kemudian kembali fokus memandang kedepan. Ternyata Rima biangnya.
"Dia tidak tahu kan aku di Cirebon?" tanya Larry malas jika kebetulan bertemu.
"Aku saja baru tahu ada kamu dari Bu Dini." jawab Femi.
"Aku kira kalian bahas aku sebelumnya." Larry tertawa.
"Ge er." Femi membuat Larry terbahak.
"Terima kasih ya mau temani aku cari es krim." kata Larry begitu mereka tiba dihalaman rumah Deni.
"Sama-sama, terima kasih juga mau ajak aku cari es krim." jawab Femi tersenyum manis.
"Loh untuk Balen?"
"Ini sudah aku pisahkan, untuk Balen dan Richie satu kotak saja jangan banyak-banyak, Mamanya nanti marah." Larry tertawa.
"Tadi kamu beli banyak."
"Iya untuk rombongan disini juga, kami kan serombongan, kamu belum bertemu sama temanku yang lain ya, nanti aku kenalkan." kata Larry, segera bergegas keluar mobil.
"Terima kasih ya Larry."
"Terima kasih terus, terima cintaku dong." Eh keluarkan ilmu gombalnya, padahal katanya lagi malas gombal.
"Dasar playboy." Femi tertawa, masih menjaga jarak tidak berani terlalu dekat. Kapan-kapan perlu Larry ajak naik angkutan umum deh biar rapat-rapat empat anam empat anam hahaha, Larry tertawa, Femi pun ikut tertawa. Mereka masuk kedalam sambil tertawa terkesan bahagia.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumusalaam, dari mana menghilang?" sambut Mike benar seperti bapaknya Larry.
"Beli es krim, Nih makan." Larry letakan tentengan di meja.
"Ini punya Balen jangan dimakan." kata Larry lagi tunjuk kotak milik Balen.
"Singkong sudah rusuh telepon, tanya kita dimana." kata Nanta tertawa.
"Dia dimana?" tanya Larry ikut tertawa
"Di hotel." jawab Deni.
"Jauh hotelnya Om? aku mau antar es krim." kata Larry.
"Dekat kok, bisa jalan kaki." jawab Deni
"Sebentar lagi ya antar es krim untuk Balen." kata Larry lagi pada Femi, biar saja dibilang playboy, hukumannya sore ini Femi, Larry tahan. Femi pandangi Fino, takutnya Fino mau buru-buru ajak pulang. Tapi Fino santai saja.
"Adik gue mana ya?" tanya Larry tidak melihat Daniel.
"Tidur." jawab Mike tertawa.
"Eh dia sudah sholat ashar belum?" tanya Larry.
"Tadi kan sudah kita jamak Leyi." Doni ingatkan Larry.
"Pencitraan." oceh Mike.
"Percintaan." sahut Nanta, mereka berempat tertawa, selera humor mereka memang receh.
"Rumi, es krim nih." kata Larry pada Rumi yang hanya diam saja menyimak.
"Takut gendut." jawab Rumi, Larry tertawa.
"Itu baru pencitraan." kata Larry nyengir.
"Aku maunya percintaan." jawab Rumi, Larry tambah nyengir lebar.
"Ini kok beda sendiri." tanya Mike saat melihat kotak es krim blueberry.
"Gratis itu, rasa baru." jawab Larry.
"Beli berapa kotak dapat gratis?" tanya Mike.
"Tidak tahu, tiba-tiba ditawari." jawab Larry.
"Femi kenalkan ini temanku semua." Larry baru sadar belum kenalkan Femi pada yang lain.
"Halo..." Femi tersenyum anggukan kepala matanya memandangi teman Larry satu persatu.
"Aku sepupunya Fino." kata Femi menunjuk Fino yang tersenyum melihat adik sepupunya habis jalan sama Larry.
"Sudah tahu." jawab Mike konyol.
"Aku kasih tahu yang lain." kata Femi.
"Kami juga sudah tahu." Doni ikutan, Femi tertawa.
"Yang aku belum tahu kamu siapanya Larry?" tanya Rumi tersenyum.
"Calon istri." sahut Dini yang tidak tahu cerita. Femi jadi salah tingkah lagi dibuatnya, Larry tertawa saja, terserah saja mau dibilang apa, sementara Rumi tersenyum tipis, menarik nafas menyembunyikan keresahannya. Dania mengusap punggung Rumi, seakan tahu apa yang Rumi rasakan.