
Nanta sudah tiba di Bandara, ia melihat dari balik kaca Ando dan Wilma sedang berjalan sambil berjoget senang, sementara Dania disebelah mereka berjalan tenang sambil tertawa, Nanta jadi ikut tertawa, apa segitu senang mereka liburan? pikir Nanta.
"Kenapa joget-joget, Norak deh." kata Nanta terkekeh saat mereka mendekat.
"Pesawatnya kelas bisnis loh." Ando kembali joget-joget.
"Tadinya mau dipesankan first class, takut kalian gumoh." kata Nanta terbahak.
"Ish menghambat rejeki orang." protes Wilma sambil mendorong bahu Nanta.
"Sopan sama orang tua, ketemu tuh salam cium tangan." Nanta mengulurkan tangannya pada Wilma, tapi langsung ditangkap Ando mewakili Wilma menyalami Nanta dan mencium tangannya sesuai perintah Nanta.
"Rese." kata Nanta terbahak, ketiganya pun terbahak. Mereka menuju ke parkiran, dimana Pak Timbul sudah menunggu. Tidak banyak bawaan ketiganya hanya dua koper kecil yang dibawa Wilma dan Dania, sedang Ando membawa travel bag yang terselempang di bahunya.
"Paketnya sudah sampai, kata Nenek terima kasih, jadi berapa tuh?" tanya Dania pada Nanta.
"Tidak tahu, bukan aku yang belanja." jawab Nanta mengedikkan bahunya.
"Oh siapa? nanti tanyakan total yang harus dibayar ya, Nenek senang sekali." Dania tersenyum pada Nanta.
"Oke." jawab Nanta ikut tersenyum.
"Wih fasilitas tamu VIP oke juga nih." teriak Wilma begitu memasuki mobil jemputan. Ando dan Nanta terkekeh, karena sudah tahu siapa sponsor utamanya. Wilma sibuk foto selfie didalam mobil, sesekali mengajak Dania selfie berdua, ada juga yang berempat, rusuh sekali.
"Kamu bisa ketemu Papamu disini loh Dan." kata Nanta memperingati Dania, ia ingin sekali jujur tapi belum ketemu celahnya.
"Begitu ya?" tanya Dania menghela nafas.
"Hu uh."
"Kalau bertemu bagaimana?" tanya Ando.
"Hadapi saja, Kakak Ando masih ingat wajah Papa?" tanya Dania.
"Ingatlah, kan masih suka bertemu beberapa kali." jawab Ando.
"Pernah tanya aku?"
"Dulu, sekarang tidak lagi sejak kami pindah rumah." jawab Ando apa adanya.
"Bapak lu kenapa Dan?" tanya Wilma kepo.
"Sudah lama tidak bertemu, sejak aku pindah ke London." jawab Dania tersenyum pada Wilma.
"Enak kalau ketemu disini, langsung saja bilang Papa minta duit." kata Wilma membuat Nanta menjentikkan telunjuknya ke dahi Wilma.
"Sakit." dengusnya kesal.
"Duit terus otaknya, nih ada duit banyak." Nanta menunjukkan uang satu ikat yang tadi di berikan Pak Timbul pada Nanta.
"Wah bagi dong." kata Wilma kocak.
"Minta sama Dania." kata Nanta menyerahkan uang tersebut pada Dania yang tampak bingung.
"Pegang ya, kamu yang atur." kata Nanta pada Dania.
"Ah pilih kasih, gue kan adek lu Bang." protes Wilma konyol.
"Terus kenapa, lihat duit baru mengaku adek." kata Nanta sok galak.
"Bagilah." katanya sewot, Pak Timbul tertawa melihat mereka berempat.
"Waduh calon istri Abang Ando suka duit, repot ini." kata Ando terkekeh.
"Seperti biasa kalau Nanta menang basket juga aku dibagi kan Bang Ando kebagian." kata Wilma pada Ando polos, Ando cengengesan memandang Nanta.
"Bagus, selama ini kalian ternyata kerja sama ya." kata Nanta menoyor kepala Ando dan Wilma bersamaan, kembali semuanya tertawa.
"Jangan aku yang pegang deh, Wilma saja." kata Dania pada semuanya.
"Jangan." jawab Wilma cepat.
"Kenapa?" tanya Ando.
"Aku maunya dibagi bukan suruh pegang." jawabnya membuat semua terbahak.
"Kita bagi rata saja ya, jadi tidak pusing seperti bendahara." kata Dania pada semuanya.
"Aku tidak usah, jatahku untuk kamu saja." jawab Nanta, membuat Ando menyeringai, Wilma memicingkan matanya mencibir.
"Seperti suami istri ya." komentar Ando membuat Nanta memonyongkan bibirnya. Pak Timbul tertawa paling keras.
"Jangan begitu." kata Dania pada Nanta. Wilma menyimak sambil cengar-cengir.
"Jatah Bang Ando untuk aku juga?" tanya Wilma pada Ando.
"Tidak!" jawab Nanta cepat.
"Ih Daddy cepat sekali laporannya." Wilma mendengus kesal.
"Daddy bilang apa?" tanya Wilma pada Nanta.
"Daddy tanya kalian sudah sampai belum, terus closingnya manis sekali, uang jajannya sudah sama Wilma ya." Nanta menjulurkan lidahnya.
"Mau pegang?" tanya Wilma pada Nanta.
"Ish yang ini saja aku kasih Dania, kamu tabung saja yang dari Daddy, buat jajan? sepertinya tidak perlu jajan banyak, nanti malam kita sudah ada undangan makan malam di hotel." kata Nanta pada semuanya.
"Sarapan di rumah kamu kan? makan siang di lokasi acara ya? terus makan malam besok sama Papon pasti, belum lagi Bang Ray yang traktir kita, betul, Dan uang jajan kita utuh." kata Wilma pada Dania, kembali joget-joget membuat semuanya tertawa.
Dania kemudian membagi uang tersebut pada Ando dan Wilma, kemudian yang jatah Nanta ia pegang karena Nanta menolaknya. Dania menunjuk Pak Timbul, minta persetujuan Nanta untuk memberikan pada Pak Timbul juga. Nanta menganggukkan kepalanya setuju.
"Ini untuk Bapak." kata Dania menyerahkan sepuluh lembar pada Pak Timbul.
"Saya tidak usah, Non. Tadi sudah di kasih Bapak." kata Pak Timbul menolak.
"Itu kan dari Bapak, ini dari kita yang baru dapat rejeki nomplok." kata Wilma pada Pak Timbul. Dania meletakkan uang yang sudah ia pisahkan untuk Pak Timbul di konsol box
"Dari kita???" Nanta mencibir menggoda Wilma.
"Bang Nanta jangan gitu lah, aku tuh merasakan Bang Nanta hari ini pilih kasih. Iya kan Bang Ando?" Wilma mencolek Ando.
"Kamu mau jatah Abang?" tanya Ando pada Wilma.
"Tidak usah." Nanta menggelengkan kepalanya pada Ando.
"Tuh kan, kalau Dania saja dikasih jatah Bang Nanta, masa aku tidak boleh dapat jatah dari Bang Ando." dengus Wilma merengek.
"Itu sudah terlalu banyak untuk kamu. Belum lagi yang dari Daddy." kata Nanta pada Wilma.
"Tapi tadi Bang Ando juga dikasih sangu sama Papanya, iya kan Bang? malah Mama bilang, Wilma nanti kalau jajan minta Ando." kata Wilma pada Nanta.
"Loh memangnya kamu ketemu Mama dan Papa Ando?" tanya Nanta.
"Iya tadi kan Bang Romi antar aku kerumah Bang Ando."
"Tidak jadi dijemput Ando?"
"Lama, aku tidak sabar menunggu dirumah. Kalau dirumah Bang Ando kan makan masakan mama dulu." kata Wilma tertawa senang.
"Eh sejak kapan panggil Mama, kan terakhir masih panggil Tante?" tanya Nanta memicingkan matanya.
"Hehehe..." Wilma terkekeh tidak menjawab.
"Gile lu, Ndo. Baru sehari gue tinggal sudah banyak kemajuan." Nanta menggelengkan kepalanya.
"Mereka sepertinya sudah pacaran deh." kata Dania pada Nanta.
"Oh ya?" Nanta memandang keduanya.
"Tidak pacaran, mana boleh pacaran belum lulus sekolah." jawab Wilma mengulang kalimatnya yang tadi malam.
"Terus?" Nanta menunggu kelanjutan cerita Wilma.
"Gue kan calon istri Bang Ando, jadi panggil calon mertua ya Mama lah." jawab Wilma terkekeh.
"Sejak kapan jadi calon istri Ando?" tanya Nanta tersenyum lebar.
"Hmmm..." Wilma menggaruk kepalanya sambil memandang Ando.
"Ndo?" Nanta memandang Ando.
"Kemarin waktu antar jemput Wilma ya gue jujur lah. Tapi kan tidak pacaran ya kita." kata Ando menatap Wilma. Wilma menganggukkan kepalanya.
"Hihi..." Dania tertawa geli.
"Kenapa?" tanya Nanta.
"Mereka tidak pacaran tapi dari tadi mesra sekali." lapor Dania pada Nanta.
"Dania ish, paling tidak Ando kasih kepastian mau jadikan gue istri loh. Memangnya Nanta selama ini cuma antar jemput gue tanpa kepastian." cerocos Wilma membuat Nanta kembali menoyor kepalanya pelan.
"Masih kecil sudah minta kepastian." Nanta menggelengkan kepalanya.
"Eh Dania, lu juga harus minta kepastian, kata Kak Anggie sama cowok tuh jangan mau digantung. Yang jelas-jelas saja, iya apa tidak." Wilma kembali mengoceh, Nanta jadi tertawa melihat gadis tengil yang beberapa tahun ini sering diantar dan dijemputnya.
"Abang Ando kan pasti ya." kata Ando tersenyum bangga. Wilma menganggukkan kepalanya tersenyum pada Ando.
"Eh di Mobil ini ada CCTV loh, tanpa aku lapor cerita ini akan segera sampai ke Mommy dan Daddy." kata Nanta menakuti Wilma.
"Sumpe lu bang?" Wilma jadi panik sendiri. Nanta terbahak, senang sekali mengerjai Wilma, tanpa Nanta tahu, Om Micko, Papa dan Bang Raymond dari tadi tertawa terus melihat mereka berempat melalui CCTV yang memang Micko pasang di mobil, apalagi saat Wilma menghitung jatah makan siang, makan malam dan traktiran.