I Love You Too

I Love You Too
Geng Gosip



Muka-muka kepo terselubung memandangi Deni dan Dini yang ijin langsung ke kamar lebih dulu mengantar barang bawaan Dini. Baron cengengesan saja, lega rasanya Deni sudah menikah dengan anak gadis dari keluarga baik-baik. Kesan pertama dapat Baron lihat keluarga Jonas menyenangkan. Semoga seterusnya begitu.


"Om, bagaimana ya rasanya menikah sama orang yang baru dikenal?" bisik Nanta pelan pada Samuel, matanya masih mengarah pada Deni dan Dini yang semakin menjauh.


"Mana Om tahu, nanti tanya langsung sama Om Deni." kata Samuel yang sebenarnya juga penasaran. Bayangkan saja kenal hari minggu, hari selasa menikah. Pasti mereka belum terlalu dekat. Apa saja yang sudah mereka obrolkan selama dua hari bersama.


"Kamu juga sama Dania baru kenal, eh sudah hamil saja." kata Samuel terkekeh sambil ikut berbisik.


"Aku sudah kenal lama sama Papanya, Sama Dania juga sudah kenal beberapa minggu, sudah sering jalan juga. Kalau Om Deni sama Kak Dini kan benar-benar baru kenal." Nanta membela diri, istrinya sudah masuk kamar lebih dulu.


"Kalian bahas apa sih, berdua saja bisik-bisik. Padahal disini banyak orang." protes Baron pada keduanya.


"Hahaha maaf Padeh." Nanta langsung terbahak melihat ekspresi Baron yang sebenarnya tidak kalah Kepo.


"Sini mendekat kalau mau dengar." kata Samuel tertawa jahil. Kenan terkekeh melihat ketiganya, Baron benar-benar mendekati Nanta dan Samuel, mereka kembali bisik-bisik.


"Mas Kenan tidak penasaran?" tanya Samuel pada Kenan, ia melihat Kenan menggelengkan kepalanya.


"Hahaha tidak sudah terbaca apa yang kalian bahas." Kenan terbahak.


"Ah Papa sok tahu." kata Nanta cengar-cengir jadinya.


"Apa yang Papa tidak tahu, Boy? kalian kepo." kata Kenan kembali terbahak.


"Ini cowok-cowok suka gosip juga rupanya." kata Nona yang baru selesai berganti pakaian, ia mendekati geng gosip itu, bukan mendekati suaminya.


"Siapa yang gosip Mamon. Kita cuma penasaran." Nanta membela diri.


"Apa sih yang bikin penasaran?" tanya Nona mulai bergabung berharap mendapat cerita.


"Elu juga samanya, kepo juga." celutuk Samuel pada Nona. Mereka terbahak, istri Samuel dari jauh senyum-senyum saja, sudah tidak heran melihat suaminya kalau sudah kumpul keluarga dan tambah rusuh kalau sudah ada Nanta dan Nona.


"Mamon aku tadi tanya Om Samuel bagaimana rasanya menikah sama orang yang baru dikenal. Baru kenal tiga hari kan." Nanta senyum lebar.


"Kamu mikirnya telat, kan kamu yang dorong Om Deni supaya menikah sebelum ke Abu Dhabi." kata Nona dengan hidung sedikit mengembang.


"Hahaha iya sih, tapi kan Om Deni juga mau. Aku hanya bantu melancarkan, Papa dan Om Samuel mendukung, eh Padeh bela-belain datang tengah malam." Nanta terbahak.


"Sekarang kenapa tanya?"


"Aku kepikiran saat lihat Om Deni dan Kak Dini masuk kamar." Nanta langsung cekikikan. Eh semua ikut cekikan, Nona sampai tutup mulut. Pikiran mereka langsung jalan-jalan saja mengarah ke malam pertama.


"Hei sudahlah, nanti mereka keluar kamar jadi salah tingkah lihat kalian bergerombol bisik-bisik begitu." Kenan mengingatkan anak, istri, Ipar dan mertuanya itu.


"Aduh ini kakek-kakek juga ya tidak kenal umur." Tante Mita menggelengkan kepalanya tapi ikut tertawa, ia duduk didekat Kenan tidak ikut bergabung dengan geng gosip.


"Sayang, saya kan diajak Samuel." Baron membela diri.


"Ya sudah sini sekarang saya yang ajak." celutuk Kenan, Baron malah menjulurkan lidahnya seperti anak kecil, membuat Kenan meringis melihatnya.


"Apa perlu kita interogasi Deni, benar juga jadi penasaran." kata Nona kemudian.


"Hahaha Mamon." Nanta terbahak.


"Ih aku lagi, kamu yang mulai loh Nan, aku hanya terpengaruh." kata Nona terbahak.


"Kalian memang satu frequency ya, ini bergerombol pasti ada yang dibahas." kata Deni membuat mereka semua tiba-tiba menjauh seperti semut bubar.


"Mana istrimu?" tanya Baron sok kalem.


"Tidur semalaman ternyata tidak bisa tidur mulas bolak-balik kamar mandi." Deni menjelaskan.


"Wah kasih obat dong." kata Samuel pada Doni, percuma ada dua dokter dirumah ini kalau ada yang sakit tidak diobati.


"Sudah, makanya sekarang tidur." jawab Deni tersenyum.


"Amanlah ya jadi nanti malam sudah bisa dong." kata Baron yang ternyata tidak beda jauh sama Micko.


"Apanya yang sudah bisa?" tanya Deni memonyongkan bibirnya.


"Ck, tidak mau menyusul Nanta. Bocah bikin bocah?"


"Enak saja Toa mesjid. Tadi Pagi tidak dengar kata mesjid." protes Baron.


"Sama saja Toa-Toa juga." Kenan terbahak.


"Bedalah, kalau Toa mesjid satu kampung bisa dengar. Tidak separah itu." kata Baron.


"Padeh, Balen semalaman tidak tidur loh karena Padeh tertawa." kata Nanta mengingatkan.


"Masa sih Ken? kok kamu tidak bilang?"


"Mau apa memangnya kalau saya bilang?" tanya Kenan.


"Ya kasihan dong, mending dia tinggal saja tadi biar bisa tidur." tanpa merasa bersalah.


"Tadi tidur kok aku pangku." kata Nanta


"Papon..." Balen tampak keluar dari kamar sambil menggaruk kepalanya, rambutnya sedikit kusut sepertinya baru bangun tidur.


"Cucu Opon sini dong peluk." kata Baron pada cucunya.


"Yah." Balen membatalkan niatnya menghampiri Papon, ia segera menuju pada Oponnya.


"Opon bicik nih." katanya sambil memanjat kepangkuan Baron.


"Balen terbangun lagi dengar suara Opon?" tanya Baron, Balen menganggukkan kepalanya.


"Tidak apa kalau siang tidurnya sebentar saja, kalau malam baru tidur yang lama." kata Baron terkekeh.


"Tapi nanti Opon bicik agi."


"Tidak, nanti malam Opon bisik-bisik saja bicaranya." janji Baron pada cucunya. Balen mengacungkan jempolnya sambil terkekeh.


"Minum Baen mana Mamon?" pintanya pada Nona, tadi panggil Papon mau bilang haus tapi lupa karena Opon minta peluk. Nona mengambilkan air putih untuk Balen, langsung saja diteguknya lumayan banyak dan kembali menguap.


"Masih mengantuk?" tanya Deni pada keponakannya.


"ditit." jawab Balen kembali menguap.


"Mandi sana biar segar." kata Nanta.


"Beenang aja Aban." ajak Balen.


"Oh iya Abang janji hari ini ya. Ya sudah nanti setelah sholat ashar ya." Nanta baru ingat, ia tidak jadi menginap dirumah mertuanya karena Balen protes hari ini tidak berenang.


"Opon, Baen udah bisa beenang." pamernya pada Baron.


"Masa?"


"Iya tan Ban?" minta dukungan Abangnya.


"Sudah bisa gaya luncur dia." Nanta terkekeh.


"Mau kamu jadikan Atlit renang adikmu?" tanya Baron.


"Tergantung Balen lah, aku sama temanku cuma mengajarkan saja. Larry yang tadi itu loh Padeh, dia kuasai empat cabang olah raga, tapi malah pilih basket."


"Aban Leyi Baen." Balen tersenyum bangga. Baron terkekeh mengacak anak rambut cucunya.


"Eh Nanti Cucu bisa seumuran buyut ini." kata Baron memandang Deni dan Nanta.


"Kok bisa?"


"Bisalah, anak-anak kalian umurnya tidak beda jauh kan. Balen saja sama anak Nanta beda umur tidak sampai lima tahun." Baron tertawa wajahnya sangat sumringah meskipun dirumah berdua saja dengan istrinya, tapi cucunya akan segera bertambah, belum lagi calon buyutnya sudah ada didalam perut Dania.


"Ayolah Den, kasih Papa cucu." katanya pada Deni.


"Hahaha Papa. Doakan saja berhasil."


"Tutorial ready Om." Nanta menaikkan alisnya, gantian Kenan yang tawanya menggelegar, untung saja Balen tidak tidur.