
"Maaf Om aku lama." kata Dania sopan, meskipun tidak suka dengan Om Peter Dania tetap menjaga tingkah lakunya.
"Oh iya tidak apa. Kenapa menikah tidak undang Om?" tanya Peter pada Dania.
"Aku tidak kepikiran." kata Dania terkekeh.
"Padahal Om urus kamu dari kecil." kata Peter pada Dania. Urus? bukannya merecoki ya, pikir Dania.
"Siapa yang menikahkan kamu?" tanya Peter pada Dania.
"Papa." jawab Dania jujur.
"Papa mana? Papa kamu kan saya." jawab Peter mulai naik pitam, sekarang mengaku sebagai Papa Dania.
"Papa Micko kasih surat kuasa." jawab Nanta menghindari Dania dari masalah, karena barusan Peter wajahnya mulai menyeramkan.
"Bertemu Micko dimana?" tanya Peter menyelidik.
"Mama Maya kasih alamat untuk aku ambil surat kuasa." kata Nanta jujur, memang Maya memberikan Nanta alamat.
"Kurang ajar Maya, mau main-main sama gue." gumam Peter terdengar oleh Nanta.
"Maksudnya Om?" tanya Nanta tersenyum pada Peter.
"Tidak." Peter menggelengkan kepalanya
"Om siapanya Dania?" tanya Nanta ingin dengar versi Peter.
"Saya Papanya Dania." jawab Peter membuat kening Dania berkerut.
"Loh Kenapa Om Micko yang kasih surat kuasa?" tanya Nanta sedikit heran Peter mengaku sebagai Papa Dania.
"Karena Micko pikir Dania anak Micko." kata Peter terkekeh.
"Apa sih Om, kalau mabok jangan disini deh." Dania mulai judes. Peter terkekeh mendengarnya.
"Kamu pikir kamu Anak Micko?" tanyanya tidak kalah judes.
"Kalau aku anak Om, kenapa dibiarkan tinggal sama Nek Pur begitu aku kembali dari London?" tanya Dania pada Peter, selama ini Peter tidak pernah mencari Dania, padahal sudah tahu ia di Jakarta.
"Karena Mama kamu sama bodohnya dengan Micko, dibilang Dania anakku tidak percaya." kata Peter lagi tertawa.
"Atas dasar apa Om bilang aku anak Om?" tanya Dania lagi, tidak terima.
"Tes DNA dong, kan hasilnya sudah saya berikan pada Maya." kata Peter lagi kesal melihat Dania.
"Kalau aku anak Om, harusnya Om biayai kebutuhan hidup aku dong dari lahir, kenapa Papa Micko yang selalu mengirimi aku uang, bahkan uang itu masuknya ke rekening Om lagi." Ketus Dania, Peter tersentak mendengarnya tidak menyangka Dania tahu masalah Micko Kirim uang.
"Maya cerita sama kamu?" tanya Peter.
"Aku tahu sendiri." jawab Dania.
"Kamu sudah bertemu Micko?" tanya Peter pada Dania.
"Urusan apa sama Om kalau aku bertemu Papaku?" tanya Dania.
"Tolong ya Om tidak usah mengusik Papaku dan keluarganya lagi." tegas Dania.
"Sudah berani kamu sekarang ya? ingat Dania aku Papamu." tegas Peter dengan mata menyala.
"Aku tidak percaya aku anak Om, kita tidak mirip." tegas Dania
"Iya kamu memang mirip Micko sialan itu." Peter tampak sengit.
"Om yang sialan." kata Dania tidak suka Micko dikatai Peter.
"Dan..." Nanta merangkul istrinya yang tampak emosional.
"Hei Dania, ini Papa kamu, bodoh sekali menangis untuk mereka." tunjuk Peter pada dadanya.
"Dari bayi yang kulihat Papa Micko bukan Om Peter." teriak Dania, untung saja suasana Taman sangat sepi.
"Maaf Om, buktikan saja dengan test DNA terbaru." kata Nanta pada Peter.
"Untuk apa diperiksa lagi, sudah jelas buktinya ada pada Maya." kata Peter terkekeh, ia tidak berusaha membujuk Dania yang sedang menangis. Nanta belum tahu apa motif Om Peter.
"Agar Dania lebih yakin, aku juga tidak mau jika Istriku menjadi anak durhaka." kata Nanta beralasan.
"Tidak perlu, bukti yang lama sudah cukup kuat." kata Peter.
"Tapi Istriku tidak percaya, mohon maaf Om." kata Nanta.
"Kamu tuh orang baru anak muda, tidak tahu cerita keluarga Dania, jangan ikut campur." kata Peter menatap tajam Nanta.
"Dania istri aku, Om." jawab Nanta tersenyum sopan.
"Pernikahan kalian tidak sah, karena Dania menikah tanpa seijin saya." kata Peter pada Nanta dan Dania. Keduanya jadi saling pandang.
"Aku sudah dapat ijin dari Mama dan Papaku." jawab Dania. Tangan Peter sudah keatas saat mendengar itu, hampir saja ia menampar Dania jika Nanta tidak menahannya.
"Sampai semuanya jelas, Dania masih istri saya. Jangan pernah berani menyentuh Dania." tegas Nanta pada Peter, sudah mulai keluar taringnya.
"Anak muda bodoh, tidak tahu apa-apa tapi sok tahu. Kamu kurang ajar sama orang tua istrimu sendiri." kata Peter memaki Nanta.
"Ish, Dan. Masih ada yang mau dibicarakan? aku tidak suka debat kusir." kata Nanta pada Dania.
"Jangan pernah memaki suamiku!!!" Tiba-tiba Dania menerjang Peter dan menarik rambut Peter sambil berteriak histeris, seperti anak smp disekolah yang berkelahi main jambak-jambakan.
"Dania." Nanta terperanjat dan menarik Dania yang masih saja berteriak menyerang Peter.
"Maaf Om." kata Nanta setelah Peter berhasil melepaskan diri dari amukan Dania.
"Ayo pulang." Nanta langsung menggendong Dania seperti karung beras, Dania yang masih ingin menyerang Peter terus saja berteriak meronta sambil menunjuk Peter.
"Kamu kenapa begitu, itu tidak sopan." kata Nanta setelah mendudukkan Dania dimobilnya, sementara Peter tampak sibuk merapikan rambutnya sambil menahan marah.
"Hehehe maaf Mas, ini dapat rambutnya, kita test DNA ulang." kata Dania cengengesan sambil merapikan rambut Peter dibungkusnya dengan tissue, takut tercecer.
"Parah! kamu ini anak Pak Micko atau Pak Peter sih, kamu penuh tipu muslihat juga rupanya." Nanta menggelengkan kepalanya, tidak menyangka Dania bisa brutal begitu.
"Enak saja bilang aku penuh tipu muslihat, menghadapi orang seperti itu memang harus berlagak gila." kata Dania, matanya terus melotot pada Peter yang sudah berjalan menuju mobilnya.
"Kalau kamu diculik saat lagi sendiri bagaimana? berani sekali kamu tadi." Nanta jadi khawatir.
"Sebelum dia culik, aku akan temui Kakek buyutku, kuceritakan semua kelakuan Om Peter yang sudah memisahkan aku dan Papa selama sepuluh tahun, juga dia yang menikmati uang hasil perusahaan jatah Papa dengan alasan untuk biaya aku. Mas percaya dia Papaku?" Dania menarik nafas panjang.
"Kalau dia benar Papaku, tidak mungkin memperalat Papa Micko menggunakan aku." kata Dania lagi, Nanta menganggukkan kepalanya.
"Orang jahat selalu menghalalkan segala cara. Kamu hati-hati aku jadi khawatir." kata Nanta menepuk lembut bahu istrinya. Jujur Nanta khawatir bagaimana nanti Dania kalau Nanta sedang training camp.
"Iya." jawab Dania.
"Mas Nanta..." panggil Dania setelah sekian lama mereka saling terdiam, sibuk dengan pikiran masing-masing. Nanta juga sedikit shock melihat Dania histeris tadi, ia tidak pernah membayangkan Dania yang lembut, acuh dan selebor ternyata brutal juga.
"Hmm..." jawab Nanta sambil menyetir.
"Mas Nanta menyesal menikah dengan aku?" tanya Dania pelan.
"Menyesal kenapa, jangan pikir macam-macam." Nanta merentangkan tangannya, Dania pun menyambutnya, mereka saling bergenggaman tangan kini.
"Kita hadapi sama-sama." kata Nanta menenangkan Dania, ia tahu istrinya resah saat ini.