I Love You Too

I Love You Too
Push Nanta



Nanta melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi, sementara tidak memikirkan Dania dulu, Nanta fokus agar bisa sampai di kampus paling telat pukul sepuluh, sehingga tidak terlambat terlalu lama. Syukur-syukur bisa sampai sebelum pukul sepuluh.


Sepertinya keberuntungan sedang di pihak Nanta, jalanan dari rumah Dania ke kampus hanya lima belas menit, tidak bertemu macet sama sekali. Dengan begitu Nanta tidak terlambat sama sekali. Didepan kelas tampak Ando tampil rapi dengan pakaian kantornya, kemeja navy dan celana bahan warna khaki.


"Sudah mulai bekerja hari ini?" tanya Nanta pada Ando.


"Hu uh, tadi pagi jam delapan sudah bertemu bagian HRD, siang ini bertemu user, kantornya hanya lima menit menuju kampus, jadi aku ijin kuliahnya enak." kata Ando menjelaskan.


"Selamat ya, semoga sukses dan lancar." Nanta menyalami Ando, ikut senang.


"Elu mulai saja dari sekarang di Warung Elite." saran Nanta pada Ando.


"Tidak bisa, bulan depan sudah sibuk persiapan pertandingan se-Asia Tenggara." kata Nanta pada Ando.


"Berarti ini pertandingan terakhir lu?" tanya Ando.


"Belum tahu, kalau sudah bekerja baru bisa tentukan, masih bisa aktif atau harus berhenti sama sekali. Semoga masih bisa terus aktif sampai usia maksimal" jawab Nanta terkekeh.


"Usia berapa?"


"Tiga puluh lima tahun kalau memungkinkan." jawab Nanta berharap.


"Bagaimana semalam, Wilma?" tanya Nanta yang tiba-tiba ingat Wilma.


"Alhamdulillah Mama dan Papaku sudah kenalan sama Daddy dan Mommy Wilma." Ando tersenyum dengan mata berbinar-binar.


"Bagaimana tanggapan kedua orang tua?" Nanta penasaran ingin tahu.


"Tertawa, mana ada yang tidak tertawa sih liat kelakuan Wilma." Ando terbahak.


"Yang bikin senang, pada dasarnya mereka setuju dan yang bikin bingung, Daddy tuh santai sekali ya orangnya, tidak ada penolakan." Ando kembali tertawa geli, ingat pertemuan kedua orang tua mereka yang terbilang singkat semalam, saat dengan santai Wilma teriak bilang pada Daddy dan Mommy agar keluar rumah karena ada calon mertuanya.


"Kenapa bingung, bersyukur saja." kata Nanta pada Ando, mereka memasuki kelas karena Dosen nampak berjalan menuju kelas. Kedua pria tampan itu duduk dibangku paling belakang, bukan karena malas, tapi badan mereka yang tinggi membuat teman-temannya tidak bisa melihat whiteboard atau layar jika Nanta dan Ando duduk di depan.


Tepat pukul dua belas siang mata kuliah berakhir, Nanta dan Ando langsung menuju mushola seperti biasa, sholat Dzuhur setelah itu makan siang di kantin baru pulang kerumah.


"Lu bawa mobil?" tanya Nanta pada Ando.


"Iya lah, mau naik apa, kan k"


"Naik motor kan bisa."


"Tidak mau ya, nanti muka gue kusut mau bertemu customer, ini yang gue jual mobil mewah loh, gue juga harus berpenampilan meyakinkan dihadapan customer." kata Ando membuat Nanta menganggukkan kepalanya.


Setelah makan siang bersama Ando, Nanta bersiap untuk pulang, rencananya sore ini Nanta akan ke gelanggang olah raga untuk latihan basket bersama timnya, harusnya hari sabtu kemarin, tapi berubah jadwal menjadi hari senin.


Sebelum menjalankan kendaraannya Nanta memeriksa handphone, beberapa pesan penting belum dibacanya.


Mas Nanta, nanti mau video call sama Mamaku jam empat sore, bisa bergabung?


pesan Dania di baca Nanta.


Jam empat sore ini, aku latihan basket, biasanya tidak pegang handphone, kalau mau video call nya dipercepat jadi jam tiga sore, bagaimana?


Aku janjiannya jam empat, mau tanya Mama sekarang pasti masih tidur, nanti aku kabari.


Ok, aku nyetir dulu, baru mau pulang dari kampus.


Sama Kakak Ando?


Sendiri, Ando siang ini bertemu user perusahaan tempatnya bekerja, mungkin besok sudah mulai aktif.


Hati-hatiđź’•


eh, kok pakai simbol hati, Nanta jadi senyum sendiri, sering dapat pesan dengan simbol cium dan sejenisnya dari nomor tidak dikenal, tapi kok rasanya beda ketika mendapat pesan dengan simbol hati dari Dania. Mungkin terbawa perasaan, pikir Nanta berusaha untuk tidak ambil pusing.


Pesan lainnya dari Oma di group keluarga yang harus Nanta baca.


Bagaimana Nanta, Oma dapat kabar Dania kamu ajak pulang kerumah semalam?, kalau tidak mau dijodohkan jangan memberi harapan juga. *Oma


Jeng jeng. *Bang Raymond


Yang pasti-pasti saja, Nanta sayang. *Bunda


Hanya semalam, Ma. Sudah pulang kok. *Papa


Hahaha banyak betul tanda serunya, Oma. *Roma


Hahaha jangan galak-galak dong Mamaku sayang.*Papa


Iya Oma, tadi malam Dania tidak bangun juga saat kuantar pulang, aku tidak enak membangunkan Nek Pur, biasanya Dania pegang kunci sendiri. *Nanta


Sampai rumah kamu gendong lagi, apa itu tidak memberi harapan namanya. Dijodohkan tidak mau. Tapi perhatian berlebihan. *Oma


Galak betul Oma nih. * Ayah


Ini serius loh, kalian jangan pada bercanda. *Oma


Iya Oma, Nanta serius. *Nanta


Serius bagaimana? *Oma


Tadi Nanta sudah bilang Dania, kenalkan Nanta sama Mamanya. Nanta tidak mau terlibat intrik antara Mama dan Papa Dania, fokus Nanta hanya Dania saja, jadi kalau Mama Dania merestui, perjodohan bisa diteruskan, kalau tidak dapat restunya, berarti kami tidak berjodoh. *Nanta


Hening, tidak ada yang berkomentar termasuk Oma, Nanta melihat semua sudah membaca pesannya, mungkin mereka shock pikir Nanta, ya sudah yang penting sudah dijelaskan. Nanta meletakkan handphonenya dilaci mobil, kemudian mulai melajukan kendaraan, pulang, istirahat sebentar kemudian bersiap dan berangkat lagi menuju gelanggang olah raga.


Nanta tidak tahu saja di group sebelah yang baru dibikin Raymond dengan judul "Push Nanta." semua member tiap sebentar handphonenya berbunyi Ting, Ting, Ting, Ting, tanpa henti. Kenan terkekeh, melihat kesibukan keluarganya membahas Nanta.


Siap-siap mantu kita. *Reza


Ya ampun beneran itu Nantaku, pikirannya dewasa sekali. *Kiki


Semoga Maya tidak mempersulit. *Micko (sudah membaca forward pesan Nanta sebelumnya dari Oma.)


Kenan dan Nona mana nih tidak Komen. *Oma


Lagi ngobrol Sama Bang Micko, Mamaku. *Kenan


Nona baca saja deh, Ma sama doa hahaha. *Nona


Diruang kerja Kenan,


Dania belum cerita sama gue kok ya, kenapa Nanta bisa bilang begitu." Micko jadi penasaran.


"Coba tanya, Bang." hahaha Kenan tidak kalah penasarannya.


Micko langsung menghubungi Dania melalui handphonenya.


"Ya, Pa." jawab Dania dari seberang.


"Ada kabar apa?" tanya Micko langsung saja ke pokok permasalahan.


"Mas Nanta?" Dania sama seperti Papanya tembak langsung.


"Iya, cerita dong kalau ada kabar baik." kata Micko setengah protes.


"Baru mau kukenalkan sama Mama, Mas Nanta bilang begitu tadi waktu mengantar aku pulang. Kenalkan sama Mama untuk minta restu."


"Ceritakan dari awal." Micko tidak sabaran.


"Jadi, Mas Nanta itu mulai pulang dari Bromo banyak diamnya seperti orang tertekan, aku tidak suka lihat Mas Nanta begitu." lapor Dania pada Papa.


"Iya, Papa juga lihat begitu."


"Aku minta Mas Nanta lupakan saja apa yang Papa bilang. Lupakan soal perjodohan. Kami berteman saja."


"Waduh kamu tarik ulur sayang."


"Bukan begitu, aku hanya pikir apa yang dipaksakan itu tidak akan baik akhirnya." kata Dania menyampaikan pemikirannya.


"Iya kamu benar sayang."


"Ya sudah akhirnya jawaban Mas Nanta bikin aku seperti mimpi. Aku belum berani cerita karena sampai sekarang juga aku masih tidak percaya."


"Itu bukan mimpi sayang." Micko terkekeh menutup sambungan teleponnya.


"Besanan kita." katanya kemudian pada Kenan dengan wajah sumringah.