
Ando dengan setia menemani Nanta menemui Dosen, padahal Ando ada kelas, tapi melihat sahabatnya ia jadi ingin berlama-lama bersama Nanta.
"Lu ditunggu Dosen di kelas tuh." kata Nanta khawatir Ando jadi tidak kuliah gara-gara Nanta.
"Ayo masuk." ajak Ando.
"Gue kan masih dapat dispensasi." Nanta menyeringai.
"Padahal gue masih kangen." kata Ando membuat Nanta tersenyum.
"Setelah ini mau ke kantor lagi?" tanya Nanta. Ando menganggukkan kepalanya.
"Setelah pulang kantor ayo bertemu." ajak Nanta pada sahabatnya.
"Dimana, ayolah."
"Terserah, gue kerumah Nek Pur dulu. Dania sudah lama tidak kesana." kata Nanta tiba-tiba ingin mengajak Dania ke rumah Nek Pur. Bagaimanapun Nek Pur sudah seperti Nenek Dania sendiri.
"Apa aman mengajak Dania kesana?" Ando tampak khawatir.
"In Syaa Allah, Dania kan tidak sendiri. Gue sama Tomson juga."
"Ganteng ya Tomson." Ando mengangkat alisnya.
"Iya." Nanta terkekeh.
"Cemburu?"
"Sedikit, tapi tidak mengganggu." jawab Nanta jujur.
"Tomson itu anak staff Oma Misha dulu, tenang saja." Ando menjelaskan agar Nanta tidak khawatir.
"Makanya Papa dan Om Micko rekomendasikan ya?"
"Iya, selain itu dia memang bisa diandalkan. Istrinya ikut mengawal Dania, tapi hari ini lagi ijin." Ando menjelaskan lebih detail, tambah tenang saja Nanta
"I see." Nanta tersenyum senang, Tomson bisa dipercaya.
"Ya sudah lu ke kelas deh. Gue ke ruangan dosen yang lain. Masih ada tiga nih." Nanta menunjukkan makalah yang ada didalam tasnya.
"Oke nanti kabari mau bertemu dimana." Ando melambaikan tangannya pada Nanta.
Dania selesai kelas lebih dulu, ia sudah mengabari Nanta jika menunggu di mobil. Sementara Nanta masih bertemu dengan Dosen yang terakhir. Banyak yang mereka bahas. Dosen yang baik hati memberikan kuliah singkat secara privat pada Nanta, mengingat Nanta akan absen hingga dua minggu ke depan Dan begitu Nanta masuk akan langsung ujian akhir semester.
Setelah mendapatkan point-point yang harus Nanta perdalam yang terdapat dari beberapa buku hasil referensi Dosen tersebut, Nanta pun pamit. Karena sudah pukul dua belas, Bapak Dosen juga harus istirahat makan siang.
"Lama sekali." protes Dania begitu Nanta masuk kedalam mobil dan duduk disebelahnya.
"Dosennya kasih aku kuliah singkat, lumayan materi untuk ujian akhir." jawab Nanta tersenyum, menarik nafas lega. Tomson masih menunggu diluar Mobil. Mungkin sungkan jika berdua-duaan dengan Dania tanpa menyetir kendaraan.
"Kita ke rumah Nek Pur ya, kamu kangen kan?" kata Nanta pada istrinya.
"Kok kamu tahu sih aku ingin sekali kesana." Dania langsung sumringah, senang tiba-tiba suaminya punya ide mampir kerumah Nek Pur.
"Aku hubungi Nek Pur dulu." kata Dania mengambil handphonenya. Tomson yang sudah disuruh Nanta masuk kedalam Mobil, mulai melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan gedung parkir. Dania menutup sambungan teleponnya dan langsung memeluk suaminya.
"Terima kasih Mas Nantaku." katanya bahagia. Nanta tersenyum saja sambil mengacak anak rambut istrinya.
"Kita mau makan apa siang ini?" tanya Nanta pada Dania, ia melihat jam dipergelangan tangannya. Sudah lewat sepuluh menit dari waktu makan siang, ia khawatir Dania dan anaknya kelaparan.
"Nanti saja dekat rumah Nek Pur ada restaurant langgananku." kata Dania.
"Kuat tidak menahan lapar?" Nanta mengelus perut istrinya.
"Kuat, tadi bawa cemilan kok, jadi di kelas aku sambil makan." Dania terkekeh. Nanta menganggukkan kepalanya.
Drrrtttt... drrrtttt... handphone Nanta berdering, dari Ncusss dirumah mungkin Balen ingin bicara.
"Aban..." benar saja Balen yang menghubunginya.
"Iya sayang, Abang kira masih marah." Nanta tersenyum lebar.
"Aban ninapna satu aja tan?" tanya Balen lagi.
"Iya satu malam saja, besok sore Abang pulang. Makanya berenangnya setelah besok." jawab Nanta masih tersenyum.
"Napa sih ninap." masih mengeluh tidak terima ditinggal menginap.
"Kan Kakak Dania rindu sama Papa Micko." jawab Nanta pada adiknya.
"Baen itut don." katanya memelas.
"Mau ikut menginap? bobo sama Abang dan Kak Dania?" tanya Nanta.
"Ndak, bobona sama Aban winei, Aban luti."
"Kalau mau ayo tapi bobo sama Abang."
"Ndak boeh sama Mamon." adunya pada Nanta.
"Kalau tidak boleh, berarti jangan ikut ya. Nanti Abang dimarahi Mamon, takut ah." Nanta bergidik ngeri, Balen tertawa melihat gaya Abangnya.
"Aban sih..."
"Kenapa?"
"Ninap ladi." diungkit lagi, Nanta dan Dania terbahak.
"Balen, temani Om Deni dulu, kasihan dia tidak ada temannya." kata Nanta pada Balen.
"Ditu?"
"Iya. Memangnya tidak kasihan sama Om Deni?" tanya Nanta.
"Ndak, itu aban aja." jawab Balen tetap pada pendiriannya, mau ikut Abang.
"Yah sabar ya, besok Abang pulang kok."
"Huhu Aban mah ditu." Kening berkerut dan mulut maju beberapa senti.
"Balen jangan marah dong, Abang sedih nih."
"Baen juda..."
"Eh Ichi janan..." berlarian mengejar Richi sambil memegang handphone, jadilah dilayar tidak karuan kadang terlihat kursi, langit-langit, lantai, tembok, apa saja yang dilewati yang tersorot.
"Kenapa Ichi? matikan dulu saja handphonenya." kata Nanta pada Balen yang masih berlarian mengejar Richi.
"Baban..." layar masih mengarah entah kemana.
"Butan itu Ichi." omel Balen pada Richi
"Ichi kenapa?" tanya Nanta.
"Ini Ambiy henpon, teus lai." kata Balen dengan nafas tersengal, rupanya handphonenya direbut Richi yang juga mau bicara pada Abangnya. Nanta dan Dania terbahak.
"Ichi mau ikut Abang juga ya?" tanya Dania disela tawanya.
"Yaa." Richi mengangguk dengan wajah penuh harap.
"Tidak usah menginap deh." kata Dania pada Nanta, kasihan melihat duo bocah berharap.
"Sudah bilang Papa Micko mau kesana." kata Nanta tidak enak sama mertuanya.
"Iya main saja tapi tidak menginap." pinta Dania pada Nanta.
"Ya sudah tuh Abang tidak jadi menginap." kata Nanta pada adiknya.
"Besok beenang don?" wajah Balen langsung sumringah.
"Iya." Nanta terkekeh, Richi tergelak senang tertawa sambil menggoyangkan kepalanya. Sepertinya sedang joget-joget seperti Ando kalau lagi senangm
"Ya sudah tutup ya teleponnya." kata Nanta lagi pada adiknya.
"Ote." jawab Balen riang.
"Baban Bai." kata Ichi yang mulai menggemaskan dan bikin Dania tidak tahan ingin dekat terus.
"Bye sayang."
"Mo tiss ndak?" Balen menawarkan.
"Tidak usah, itu handphone Ncusss nanti basah lagi." tolak Nanta sambil tertawa.
"Ndak tok." Balen mendekatkan wajahnya dan langsung banjir layar handphonenya.
"Hahaha Ncusss kamu ada tissue tidak?" tanya Nanta tapi tidak dijawab oleh pengasuh.
"Ndak ada Ncusss." jawab Balen yang wajahnya tampak buram.
"Kemana?"
"Ndak tau, ini tita di tamal aban. Ichi laina tesini." Balen menjelaskan. Waduh Nanta langsung menutup sambungan teleponnya dan menghubungi Mamon memberitahukan posisi kedua adiknya sekarang, karena posisi kamar Nanta ada paling ujung dekat kolam, khawatir kedua bocah makin mendekat dan nyemplung saja sendiri.
"Aduh anak-anak itu, pantas saja rumah sepi. Ternyata mereka ada disini, thank you Nanta." Nona menarik nafas lega menemukan keduanya dalam keadaan aman dekat jendela kamar memandangi kolam berenang. Balen masih sibuk dengan handphonenya menghubungi Nanta, kesal karena Abangnya matikan begitu saja walaupun tadi sudah closing.
*Sorry semalam ketiduran, in syaa Allah tiga lagi yaa😁