I Love You Too

I Love You Too
Cabang Utara



Sampai dikamar bukannya langsung mandi, Nanta malah sibuk mengganggu istrinya.


"Mas Nanta nanti terlambat." Dania mengingatkan tapi Nanta seperti tidak peduli terus saja beratraksi kesana kemari, mau tidak mau Dania ikuti kemauan suaminya, lakukan olah raga lanjutan.


Setelahnya Nanta terburu-buru, karena Mario hubungi segera berangkat, dari rumah Papi ke rumahnya hanya lima menit. Dasar Nanta jadi heboh sendiri, untung saja baju untuk hari ini sudah Dania siapkan dari semalam.


"Aku tidak antar ke depan ya." ijin Dania karena ia belum mandi, sementara Papi Mario sudah di depan rumah.


"Iya tidak usah, aku jalan dulu ya." jawab Nanta, ciumi kening istrinya dan segera keluar kamar, sebelumnya pastikan dulu kondisi pakaian dan lainnya, aman tidak ada hal yang akan membuat malu. Masalah tanda merah dileher jangan di khawatirkan itu tidak pernah terjadi dalam hubungan mereka.


"Sayang hati-hati." kata Dania begitu suaminya keluar kamar dengan tas slempangnya.


"Iya." jawab Nanta dan segera menghilang dari pandangan suaminya.


"Wih baru keramas dia." goda Andi saat Nanta masuki mobil. Kenan dan Nona antarkan sampai teras, menyapa Mario dan Andi.


"Habis temani Balen dan Richie berenang, Pa." jawab Nanta apa adanya.


"Tapi wajahnya beda ya, ada renang lanjutan tidak Yo?" ish masih saja menggoda Nanta.


"Ada lah, seperti tidak pernah saja." jawab Mario santai sambil menyetir, Nanta sampai lupa tawarkan diri untuk menggantikan Papi menyetir.


"Pengalaman Papi dan Papa ya?" tanya Nanta senyum-senyum. Mereka berdua terbahak jadinya. Mario pinggirkan kendaraan sebelum keluar gerbang.


"Kamu saja yang setir, Boy. Papi habis kerja keras semalaman." kata Mario membuat Nanta terbahak. Kenapa jadi bahas itu sih, Nanta jadi malu sendiri.


"Kita tidur ya Nan, kalau sudah sampai kasih tahu." kata Papa Andi, membuat Nanta kembali tertawa, masih pada semangat rupanya Papa dan Papi.


Nanta mulai gantikan Papi menyetir dan lajukan kendaraan perlahan. Langsung menuju Warung Elite Cabang Utara bertemu pihak ketiga sesuai janji. Sebenarnya bisa saja hanya Papi dan Papa yang kesana, tapi mereka mulai mengenalkan Nanta sebagai pengganti mereka nantinya ke pihak-pihak yang terkait. Kalau dipikir-pikir mereka berempat nantinya akan dihandel oleh Nanta sendiri, tapi petinggi Warung Elite yakin Nanta mampu.


Selama Nanta menyetir, Andi dan Mario maksimalkan waktu untuk tidur di Mobil. Perjalanan kurang dari dua jam, agak macet menuju kesana di jam kerja, Nanta parkirkan kendaraannya. Lalu bangunkan Andi dan Mario perlahan.


"Pa..." Nanta menepuk bahu Andi.


"Sudah sampai ya, cepat juga." Andi terkekeh mengucek matanya.


"Yo sampai, Yo." teriak Andi sambil berkaca. Mario pun terbangun, melihat sekitarnya.


"Belum datang ya, Suman?" tanya Mario pada Andi.


"Mobilnya sih belum terlihat, tidak tahu kalau naik taxi atau Mobil lain." jawab Andi yang sudah merapikan tampilannya, sementara Mario masih berkaca merapikan diri.


"Telepon, Ndi." katanya menyenderkan badan dibangku belakang seperti ingin tidur lagi.


"Masih mengantuk saja, sudah sarapan belum sih?" tanya Andi pada Mario.


"Belum, minum jus saja lah nanti didalam biar tidak mengantuk." kata Mario terkekeh.


"Kamu sudah sarapan, Boy?" tanya Andi.


"Sudah tadi minum jus juga." jawab Nanta. Menunggu keduanya mengajak turun dari Mobil, mesin masih menyala belum Nanta matikan.


Andi hubungi Suman kontraktor yang mengurus renovasi cabang utara seperti, menanyakan posisinya sudah dimana.


"Telat lu?" tanya Andi pada Suman, handphone ia loudspeaker.


"Sebentar lagi Bos, tunggu ya." jawab Suman.


"Memang sudah dimana?" tanya Andi.


"Tol." jawabnya.


"Tol kan panjang, shareloc lu." kata Andi membuat Suman terkekeh. Andi tidak percaya begitu saja kalau hanya bilang sebentar lagi.


"Sudah dekat dia." kata Andi pada Mario setelah melihat posisi lokasi Suman saat ini.


"Kan dia bilang tadi sebentar lagi." kata Mario.


"Ye, sebentar lagi tiap orang kan beda. Gue mau pasti." jawab Andi membuat Mario dan Nanta terbahak.


"Ayolah turun." ajak Andi, Nanta pun matikan mesin Mobil, segera bersiap untuk turun. Ketiganya masuki cabang utara disambut langsung oleh pimpinan cabang yang sudah hadir lebih dulu.


"Pagi juga kamu datangnya." sapa Mario pada Ambar, pimpinan cabang utara.


"Kan Bapak mau datang." jawabnya terkekeh, kemudian tersenyum ramah pada Nanta.


"Kalau saya tidak datang, kamu datang siang?" tanya Mario lagi. Ambar tertawa tidak menjawab pertanyaan bosnya.


"Loh sudah bertemu kan waktu meeting di cabang Utama, tapi mungkin Pak Nanta belum kenal saya." jawab Ambar kembali tersenyum pada Nanta.


"Nanta sudah punya istri loh." kata Andi lagi mengingatkan.


"Siapa tahu teman Pak Nanta belum." jawab Ambar membuat Mario tertawa.


"Ada satu tuh yang masih single, tapi banyak yang naksir." kata Mario ingat Larry.


"Boleh tuh Pak Nanta, saya masih single loh." katanya membuat Nanta terkekeh.


"Mau apa nih Pak kesini?" tanya Ambar lagi.


"Mau bertemu Suman, masih single juga kan dia." jawab Andi.


"Ah tidak mau sama Pak Suman." jawab Ambar.


"Memang dia mau sama kamu?" tanya Mario tertawa.


"Justru karena dia tidak mau, Ambar juga tidak mau." lucu sekali Ambar membuat Nanta kembali tertawa.


"Temanku suka cewek humoris sepertinya." kata Nanta lagi pada Ambar.


"Beneran nih Pak Nanta?" tanya Ambar.


"Tapi belum tentu mau sama kamu." sahut Andi, Ambare langsung monyongkan bibirnya.


"Diantara semua pimpinan cabang, Ambar ini paling lucu." kata Mario pada Nanta.


"Iya saking lucunya sampai lupa kejar target." kata Andi lagi-lagi Ambar monyongkan bibirnya.


"Bulan ini lumayan loh Pak, memang sih tidak bisa ungguli cabang Utama dan cabang selatan." Ambar membela diri.


"Iya ramai setelah saya pasang iklan baskethall sama wajah Nanta." kata Andi apa adanya.


"Yah jadi bagaimana dong, live music disini yang bagus juga dong Pak." pinta Ambar.


"Basket hall bisa disewakan untuk acara wedding dan lainnya nanti Mbak Ambar." kata Nanta ada Ambar.


"Iya itu salah satu income juga." sahut Andi.


"Asik, bonus nambah ya pak." pinta Ambar.


"Baru juga bagus bulan ini sudah minta tambah bonus." Andi terkekeh.


"Nanti Ambar minta sama Pak Nanta saja lah." kata Ambar akhirnya tersenyum pada Nanta. Andi dan Mario terkekeh.


"Bapak mau makan apa?" tanya Ambar pada ketiga bosnya.


"Jus saja mbar." jawab Andi.


"Jus murni." sahut Nanti.


"Tiga jus murni ya?" tanya Ambar.


"Empat dong sama saya." sahut Suman yang baru saja masuk dekati Mario, Andi, Nanta dan Ambar.


"Oke, lima sama saya." jawab Ambar konyol, semua tertawakan Ambar yang dekati staff agar dibuatkan jus untuk mereka. Mulai lah mereka datangi tempat-tempat yang sudah diperbaiki dan juga lokasi baskethall yang membuat Nanta tersenyum puas. Hasil kerja Suman dan Timnya boleh dapat acungan jempol.


"Kalau ada yang kurang boleh nanti hubungi saya Pak Nanta." kata Suman pada Nanta. Mereka pun bertukar nomor telepon.


"Jadi Pak Nanta di cabang Utara setiap hari apa saja?" tanya Ambar pada Nanta.


"Yang pasti seminggu dua kali akan bergantian dengan Tim Basket yang lain." kata Nanta pada Ambar.


"Asik, kasih tahu yang mana yang single." kata Ambar setengah bercanda.


"Jangan Pak Nanta, dia makannya banyak." jawab Suman membuat semua tertawa. Cabang Utara cukup menyenangkan buat Nanta, karena Ambar beda dengan Cyla yang menganggap Nanta saingannya.


"Mungkin jumat saya dan teman saya akan kesini, setelah sholat jumat." kata Nanta pada Ambar.


"Sholat jumat disini saja sekalian makan siang bersama." kata Ambar pada Nanta.


"Langsung saja bergerak dia." Mario terkekeh tunjuk Ambar.


"Namanya juga usaha Pak." jawab Ambar kembali semuanya tertawa.