I Love You Too

I Love You Too
Ospek



"Assalamualaikum, selamat pagi waktu London, perkenalan saya Kenan Papanya Nanta, disini juga ada istri saya, Nona kebetulan kami lagi pisah tempat, saya masih dikantor dan istri saya dirumah." Kenan memperkenalkan dirinya dan juga Nona pada Maya Mama Dania dan Jack suaminya. Nona bernamaste sambil tersenyum. Tampak Balen dibelakangnya berlarian mengejar Richi.


"Ada juga Mamanya Nanta, silahkan memperkenalkan diri." kata Kenan pada Tari.


"Waalaikumusalaam, menjawab Salam dari Mas Kenan dulu ya, hehehe. Perkenalkan saya Tari Mamanya Nanta dan juga suami saya tersayang yang sedang berada di kantor Bagus. Kebetulan kami pisah kota dengan Nanta dan Papanya. Kami berdomisili di Malang." Tari memperkenalkan diri dan Bagus melambaikan tangannya.


"Salaam Kenal, saya Maya dan ini suami saya Jack, senang bisa tatap muka walau lewat virtual." jawab Maya ramah, matanya berbinar-binar melihat background pada layar Nona dan Tari karena terlihat kemewahan rumah mereka disana. Sudah dipastikan Maya yakin Nanta selain sudah punya penghasilan sendiri, juga anak orang berada.


"Oh iya disini juga ada Ibu Pur, yang sering juga dipanggil Nenek oleh anak saya Dania. Saat ini Dania tinggal bersama Ibu Pur, silahkan Bu Pur memperkenalkan diri." kata Maya pada Bu Pur.


"Salam kenal semuanya, saya Neneknya Dania, anggap saja begitu, saat ini hanya mendampingi Dania, selanjutnya saya persilahkan." kata Nek Pur ramah.


"Baiklah tanpa berbasa basi lagi niat kami sore ini... langsung saja ya Bu Maya, Pak Jack." Kenan menebar senyumnya.


"Kami berniat melamar Dania menjadi menantu kami, menjadi istri dari anak pertama kami Nanta." kata Kenan menarik nafas lega sudah menyampaikan niatnya, sementara Nanta yang duduk disebelahnya senyum-senyum karena Om Micko terus menggodanya dari balik layar.


"Baiklah Bapak Kenan, sebelumnya kami minta maaf karena Papa kandungnya Dania berhalangan hadir pada acara lamaran virtual ini Dan juga saat pernikahan nanti, karena itu kami sudah mintakan surat kuasa untuk Wali hakimnya. Mungkin Nanta sudah terima ya Nan?" tanya Maya pada Nanta.


"Sudah Tante." Nanta menunjukkan surat kuasa yang Micko berikan tadi.


"Eh jadi bagaimana, apa lamaran kami diterima?" tanya Kenan terkekeh.


"Sudah pasti diterimalah Pak Kenan, surat kuasanya saja sudah ditangan Nanta. Ini kan lamarannya tidak usah kaku-kaku seperti orang-orang, saya tidak biasa mengikuti aturan atau adat, mohon maaf ya hahaha. Pada dasarnya saya setuju, iya kan Dania, kamu juga mau toh jadi istri Nanta." tembak Maya langsung pada Dania.


"Hehehe iya mau, Ma." kata Dania malu-malu.


"Baiklah kalau begitu kita tentukan hari pernikahan, mengingat sabtu depan Nanta sudah masuk asrama dan keinginan anak saya ini menikah di hari jumat, bagaimana kalau mereka kami nikahkan hari jumat ini." Kenan meminta persetujuan.


"Silahkan saja bagaimana baiknya, karena saya tidak bisa hadir untuk acara pernikahan kami di London menyerahkan pada Ibu Pur sebagai wakil kami, silahkan Bapak koordinasikan. Mengingat jumat ini saya dan suami juga harus mengunjungi mertua kami, disana signal agak susah, Maka saya mohon maaf tidak dapat menyaksikan secara virtual." kata Maya membuat Micko bersorak senang, tidak harus bersembunyi dari layar kamera.


"Baiklah nanti akan kami koordinasikan dengan Bu Pur." jawab Kenan.


"Kemari Nanta bilang orang tuanya tidak bisa datang ke London karena punya anak bayi, saya memaklumi itu. Tapi kalau sudah besar anaknya wajib silahturahmi ke London loh Pak Kenan beserta istri dan Bu Tari beserta suami." kata Maya menuntut.


"Semoga dimudahkan Allah ya Bu Maya, besar harapan saya juga kami dapat bertemu dengan Papanya Dania, walaupun sekarang sudah bertemu dengan Pak Jack." jawab Tari sok polos.


"Oh iya, semoga saja nanti Papanya Dania ada waktu, mengingat dia sangat sibuk. Kalau saya beritahu Papanya Dania itu masih keturunan konglomerat terkenal di Indonesia, tapi saya tidak bisa menyebutkan namanya. Pokoknya Nanta menikah dengan Dania itu pilihan yang tepat deh, anak saya bukan dari keluarga sembarangan." Micko tersenyum mendengarnya, membuatnya salut Maya tidak mengarang cerita seperti biasa tentang dirinya. Untuk itu Micko sangat memgapresiasi Maya.


"Hahaha bu Maya bisa saja, kami tidak lihat kesana, yang penting mereka berdua saling cocok, asah asih asuh, sehingga rumah tangganya bisa langgeng, tidak seperti kita yang mesti ada kisah berpisah walaupun akhirnya bertemu orang yang tepat." kata Tari tertawa.


Acara lamaran selesai dalam waktu satu jam, mereka bicara ngalor ngidul, bahkan Jack pada akhirnya buka suara, ia sangat senang Dania menemukan jodohnya Dan juga mohon maaf pada Dania karena tidak bisa menahan Dania untuk tetap tinggal di London. Tapi bagaimanapun, Allah punya cerita, dengan kuliah di Jakarta, Dania bertemu dengan jodohnya.


Ketika Maya dan Jack undur diri meninggalkan video conference barulah Micko muncul bicara pada Nek Pur.


"Bu Pur, bagaimana kalau menikah dirumah saya?" tanya Micko minta ijin pada Bu Pur.


"Kalau begitu sore ini Bu Pur dan Dania menginap dirumah saya bagaimana? Nanti saya jemput, waktu pernikahan tinggal beberapa hari lagi saja." kata Micko.


"Aduh catering saya bagaimana, Micko."


"Kan sudah ada anak buah, apa tidak bisa ditinggal berapa hari saja. Saya khawatir kalau masih dirumah Bu Pur, berita ini terdengar oleh Peter." kata Micko menyampaikan alasannya. Semua yang ada hanya mendengar.


"Ok lah, jam berapa mau jemput kami?" tanya Nek Pur.


"Pak Atang saja yang jemput, Bang. Supaya tidak mencolok." kata Kenan pada Micko.


"Iya Pak Atang jalan sekarang ya Bu Pur." kata Micko memutuskan tanpa bertanya pada Kenan apa Pak Atang standby atau tidak. Kenan langsung memberikan instruksi pada Pak Atang untuk menjemput Dania dan Bu Pur, antarkan kerumah Micko. Untung saja Pak Atang selalu standby.


"Boy, pulang sama Papa." kata Kenan pada Nanta karena Pak Atang dipakai menjemput Dania.


"Iya dong." kata Nanta terkekeh.


"Mama, Om Bagus, Mamon, Nek Pur terima kasih." kata Nanta menutup sambungan video conferencenya.


"Dania tidak disapa." goda Micko pada Nanta.


"Dania lagi sombong, karena sedang dipingit." kata Nanta terkekeh, yang lain jadi tertawa.


"Memangnya kalau dipingit tidak boleh saling menyapa?" tanya Kenan tertawa.


"Tidak boleh." Jawab Tari dan Nona berbarengan, mereka semua terbahak jadinya.


Ok, Mama juga harus packing persiapan berangkat ke Jakarta." kata Tari pada Nanta.


"Menginap dirumah kami kan?" tanya Nona berharap.


"Tidak, kami menginap dirumah keluarganya Mas Bagus." jawab Tari, Bagus menganggukkan kepalanya.


"Ah sombongnya." keluh Nona.


"Hahaha bukan begitu Non, mumpung ke Jakarta jarang-jarang bertemu keluargaku, kalau kita kan sering bertemu." Bagus menjelaskan.


"Bosan ya bertemu terus." Nona sensitif membuat semuanya tertawa.


"Nanta jangan lihatin Dania terus dong." kata Micko lagi menggoda Nanta.


"Hahaha Dania, Papamu dari tadi sibuk kerjai aku. Seperti diospek rasanya." kata Nanta mengadu pada Dania, langsung saja Micko tertawa dan merangkul calon menantunya yang sudah dianggapnya sepertin anaknya sendiri.