I Love You Too

I Love You Too
Intermezzo



Perjalanan ke Bromo segera dimulai, Mereka dijemput minibus tengah malam di rumah, kemudian berganti jeep di rest area. Dari Kota Malang menuju Bromo memakan waktu kurang lebih tiga jam dengan jarak tempuh 53km, jalan yang dilalui pun cukup terjal, sempit dan mendaki, makanya hanya kendaraan tertentu yang boleh menuju kesana, sangat seru apalagi ramai-ramai begini.


Mereka menggunakan tiga jeep, satu jeep diisi empat orang, Jeep pertama diisi oleh Kenan, Micko, Nanta dan Dania. Jeep kedua berisi Lulu, Winner, Reza dan Kiki. Sedangkan Jeep ketiga berisi Raymond, Wilma, Ando dan Lucky.


"Om bayangkan dengan medan seperti ini Dania seminggu yang lalu travel sendiri ke Bromo, kupikir Dania benar-benar nekat." Nanta berkata pada Micko, menyampaikan apa yang ada dipikirannya.



jalur yang mereka lalui, yang bikin Nanta ribut bilang Dania nekat.


"Itulah setelah ini kamu tidak boleh lagi travel sendiri sayang." kata Micko pada Dania.


"Habis aku bingung mau ajak siapa, Pa. Tidak mungkin ajak Nek Pur." kata Dania terkekeh.


"Lebih baik tidak travel, coba kalau bertemu orang jahat, walaupun disini orangnya baik-baik." kata Nanta memandang Dania.


"Setelah ini minta Nanta yang temani kamu travel." kata Kenan pada Dania.


"Kalau keluar kota berdua saja boleh Om?" tanya Dania pada Kenan.


"Wah bahaya juga itu." Kenan terkekeh.


"Boleh kalau kalian sudah menikah." jawab Micko ikut terkekeh, Nanta jadi tersenyum saja, Dania apalagi, sementara Kenan hanya memperhatikan ekspresi bujangnya, tidak mau berkomentar, takut salah saja.


Jalanan sempit dan ajrut-ajrutan, membuat Nanta dan yang lain terkadang tertawa sambil menahan badan supaya tetap pada posisi. Pukul tiga pagi mereka tiba di bukit penanjakan satu, bukit yang paling tinggi, banyak warung disana, bisa minum yang hangat-hangat sambil menunggu sunrise, karena udara sangat dingin.


"Papa dingin." kata Dania manja pada Micko. Micko segera memeluk anak gadisnya.


"Mama juga dingin loh." kata Lulu pada Micko, semua terbahak melihat Micko kebingungan.


"Tante sini peluk aku." kata Dania pada Lulu.


"Hahaha tumpukan ya kita." Lulu terbahak.


"Kemarin bagaimana itu sendirian kedinginan?" tanya Micko pada anak gadisnya.


"Kan bawa jacketnya yang tebal, persiapan matang minggu lalu, hari ini tidak ada rencana mau ikut Ke Bromo, tiba-tiba ikut." Dania menjelaskan. Micko menganggukkan kepalanya.


"Wilma nih, pucat pasih." Raymond terbahak melihat wajah Wilma.


"Takut aku Bang, jalannya gelap." kata Wilma membuat yang lain terkekeh.


"Gayanya saja yang tengil, ternyata penakut, cengeng juga." kata Nanta menggoda Wilma.


"Minum dulu Wilma." Ayah Eja menepuk bahu Wilma yang pucat pasih ditambah lagi kedinginan.


"Kamu tidak bawa sarung tangan?" tanya Nanta pada Wilma, kemudian memandang Ando, tadi ia sudah pesan agar Ando membawakan Wilma sarung tangan.


"Bawa." jawab Wilma.


"Pakai sayang." bisik Ando pada pujaan hatinya, takut terdengar yang lain bilang sayang sama anak sekolah hahaha.


"Minuman berasap, tapi saat diminum tidak terasa panasnya." Lucky terbahak mengulurkan minumannya. Winner juga ikut tertawa.


"Minum, makan, atau ada yang mau tidur dimobil sambil menunggu sunrise." kata Kenan pada semuanya.


"Aku tidur dimobil dulu deh." Dania memandang Kenan dan Papanya.


"Tuh Wilma temani." kata Nanta pada Wilma.


"Ah aku tidak mengantuk, mau ngobrol sama Bang Ray." Wilma menolak.


"Tidak apa aku sendiri." kata Dania pada Nanta.


"Nanta kamu temani Dania." kata Om Micko pada Nanta, mau tidak mau Nanta menuruti.


"Bang, masa mereka dimobil berduaan gelap-gelapan." kata Kiki pada Micko.


"Biarkan, Dania sudah setuju menikah dengan Nanta." kata Micko tersenyum jahil.


"Yang benar saja, kapan Bang Micko bicara pada Dania?" Kenan tidak percaya.


"Tanya saja Lulu dan Anak-anakku, tanya Wilma juga tuh, salah satu yang mengajarkan anak gue tips and tricks menghadapi Nanta." Micko terbahak memandang Wilma yang cengengesan.


"Kamu bilang apa sama Dania?" tanya Raymond penasaran.


"Abang merasa tidak sebenarnya Nanta suka dan selalu perhatian ekstra sama Dania?" Wilma balik bertanya.


"Iya." jawab semuanya bersamaan, mereka setuju Nanta termasuk jungkir balik mengurus Dania. Maksimal lah pokoknya.


"Aku bilang Dania, minta kepastian biar bisa take it or leave it, eh tadi Dania sudah bilang begitu waktu kita makan bakso." Wilma tertawa puas.


"Dia bengong hahahaha dan sepanjang jalan sibuk berpikir. Biarkan saja, sampai Jakarta nanti kuminta Dania acuhkan Nanta. Kita lihat saja Bang Nanta bagaimana jadinya."


"Kalau Nanta tidak peduli?" tanya Reza.


"Berarti Leave it, aku kenalkan Dania sama cowok lain, banyak kok." semua tertawa, dasar Wilma semua dianggap mudah saja olehnya.


"Pantas Ando cinta mati sama kamu." kata Raymond terbahak.


"Ah belum tahu Bang, ini kan awal-awal." jawab Wilma terkekeh.


"Eh tidak berasa ya, aku senin sudah mulai kerja loh, iya kan Om?" Ando menatap Micko.


"Iya, kamu jangan bilang sama karyawan disana orangnya Om ya, laporkan semua yang mencurigakan sama Om. Nanti detail ya kita bahas setelah kamu ke kantor itu dan negosiasi gaji." kata Micko senang bisa menempatkan Ando di perusahaan keluarganya.


"Buset, lagi liburan masih melobi." Lucky terkekeh.


"Cocok kan jadi marketing." Micko menepuk bahu Ando.


"Papa kamu setuju tidak?" kata Kenan lagi pada Ando.


"Aku sudah cerita sih semuanya tadi saat telepon, tidak masalah, setuju saja katanya." jawab Ando tersenyum pada Kenan.


Sementara di Mobil, Nanta menemani Dania yang sedang kedinginan karena tidak membawa jacket tebal.


"Maaf ya harusnya aku pinjamkan jacketku dirumah, kupikir kamu sudah pernah jadi persiapan matang." kata Nanta pada Dania.


"Pakai sarung tanganku nih." Nanta melepas sarung tangannya menyerahkan pada Dania.


"Makasih Mas Nanta, coba sudah halal enak bisa peluk." kata Dania tersenyum jahil. Nanta terkekeh mendengarnya.


"Mau halal cepat kah?" tanya Nanta.


"Iya supaya aku ada yang jaga, musuh Papa banyak ternyata, bahkan Mamaku sendiri rupanya bagian dari musuh Papa." jawab Dania menitikkan air mata, kasihan pada Papanya.


"Dan, nanti dikira aku yang bikin kamu nangis." Nanta tampak khawatir.


"Maaf." Dania menghapus air matanya yang terus saja jatuh.


"Sini bobo." Nanta menarik tangan Dania dan merapatkan badannya, membiarkan kepala Dania bersandar dibahunya.


"Kalau Mas Nanta tidak mau, jangan dipaksa ya." kata Dania pada Nanta.


"Kalau aku tidak mau, kamu menjauh?" tanya Nanta. Dania menganggukkan kepalanya.


"Tetap berteman tapi menjaga jarak." kata Dania pada Nanta.


"Menjaga jarak itu seperti apa?" tanya Nanta.


"Tidak usah telepon kalau tidak perlu, tidak usah janjian untuk bertemu, kalaupun kebetulan kita bertemu, sekedar say hello saja. Hanya sekedar kenal karena orang tua kita bersahabat." Nanta menarik nafas panjang mendengarnya.


"Nanti kamu siapa yang jaga?"


"Aku bisa jaga diriku sendiri sampai aku bertemu pria yang tepat, harapan aku minimal seperti Mas Nanta yang bikin nyaman, perhatian dan melindungi. Doakan aku menemukan pria yang tepat ya."


"Eh aku kan belum jawab tidak." Nanta mengacak anak rambut Dania.


"Tapi tidak jawab Iya, maaf aku tidak mau digantung. Jadi kuanggap penolakan." Dania terbahak.


"Kamu ketularan Wilma ya." Nanta ikut terbahak.


"Memang dia guruku." Dania terkekeh.


"Bocah begitu bisa jadi guru juga." gumam Nanta menggelengkan kepalanya. Baru saja senang berteman dengan Dania, sekarang harus memilih bersedia dijodohkan atau tidak, jika tidak berarti selanjutnya sekedar kenal saja dengan Dania, rasanya kok seperti intermezzo saja, Dania numpang lewat.



Nanta membangunkan Dania, mereka pun sholat shubuh kemudian berjalan mendekati kawah bromo agar bisa melihat dan berfoto dari dekat. Udara tentu saja masih dingin, berulang kali Nanta meniup tangannya agar terasa hangat lalu memasukkan tangannya ke kantong jacket.


"Bagus." teriak Wilma senang. Mereka pun mulai berfoto bersama, ada juga yang sendiri, ada juga yang berpasang-pasangan bagi yang sudah halal, Dania berfoto keluarga, kemudian Kenan berfoto bersama Nanta. Raymond berdua Nanta, Raymond bersama Ayah dan Bunda. Semua senang dengan senyum mengembang dibibir. Selanjutnya mereka menuju pasir berbisik dan bukit teletubbies.


"Nanta suka melamun ya sekarang." sindir Raymond yang pura-pura tidak tahu cerita Nanta dan Dania.


"Capek dia Abang." jawab Kenan terkekeh, ia tahu anaknya sedang berpikir keras karena Dania sudah berani menyampaikan keputusannya pada Nanta. Biarkan saja Nanta memutuskan sendiri tanpa ada intevensi dari Kenan, karena yang akan menjalani Nanta bukan Kenan.


"Apa sih Bang, mencurigakan." desis Nanta memicingkan matanya pada Raymond yang senyum-senyum penuh arti.


"Kalau ada masalah cerita, Dek." Raymond menepuk bahu adiknya, kasihan juga, biasa santai sekarang harus berpikir keras.