
Dua hari menjelang pernikahan Andi, dimana Reza dan Kiki ikut sibuk, tentu saja dengan Regina, Mario juga Erwin dan Enji, semua dilibatkan dan dibikin sibuk oleh Andi. Ia minta sahabat dan para istri menjadi among tamu, tak terkecuali Monik, Intan dan suami mereka. Jadilah ke enam pasang itu yang akan menyambut keluarga Andi dan Pipit nantinya.
Ya ini hanya pesta untuk keluarga dan sahabat saja. Seperti ketiga sahabatnya, Andi tak mau ribet dengan acara resepsi besar-besaran, setelah acara pernikahan rencananya mereka akan mengadakan syukuran di panti asuhan. Ada beberapa panti nantinya yang akan mereka datangi.
The Nyo Club member sibuk dengan pakaian yang akan mereka pakai nantinya. Saat ini para Nyonya sedang berada disebuah boutique untuk mengambil baju untuk dua hari mendatang. Warna dan bahan senada dengan model yang berbeda, dibuat perancang mengikuti bentuk tubuh dan karakter masing-masing.
"Lu sakit, Ki. Kelihatan pucat sekali." Monik tampak khawatir melihat Kiki yang terlihat lesu dan tak bersemangat hari ini.
"Sepertinya masuk angin. Sudah beberapa hari ini lambung gue bermasalah, mual dan muntah, makan juga susah." jawab Kiki menjelaskan.
"Setelah ini kita ke Dokter biar saat acara tak lesu begini." kata Enji yang ikut prihatin.
"Tak usah, setelah ini cari makan saja, biasanya kalau setelah makan agak nyaman." jawab Kiki.
"Kalau cuma makan bisa nyaman, tak mungkin sampai berhari-hari mual begini, mungkin saja kamu hamil, Ki." Regini mulai menduga-duga.
"Ya sudah nanti kita antar ke Dokter Kandungan, gue juga mau periksa." Intan dengan santai memutuskan.
"Memangnya elu sudah ada keluhan atau sudah tanda-tanda, Nyo?" tanya Monik pada Intan.
"Belum, Kalau Kiki ke Dokter Kandungan, ya kita sekalian saja periksa, siapa tahu kita semua hamil." jawab Intan santai.
"Oh, ya sudah." jawab Monik pasrah.
"Hei kalian ke Dokter Kandungan seperti mau main-main saja." Enji menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.
"Mau tidak?, kita harus kompak, bahkan kalau bisa kita hamil bersama, nanti kalau ternyata kita belum hamil, kita bisa konsultasi dengan dokter kandungan, supaya kita semua segera hamil." Intan menyampaikan ide yang dianggapnya briliant.
"Ok, Ok, i follow you." jawab Enji tak ingin berdebat. Kiki yang sudah tidak enak badan hanya mendengarkan dan tak berkomentar, memikirkan kepalanya sedikit pusing.
Selesai mengambil baju, mereka melanjutkan rencananya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak yang tak jauh dari rumah mereka. Kelimanya mendaftar ke dokter kandungan yang sama. Sesuai permintaan Kiki mereka memilih dokter wanita. Rasanya risih jika diperiksa oleh dokter lelaki.
Ketika Kiki dipanggil mereka semua ikut masuk, untuk saja ruang periksa dokter tersebut cukup besar.
"Wah Ibu-Ibu semua kenapa ikut masuk, hanya mengantar Ibu Kiki?" tanya dokter Airin heran, tapi tetap tersenyum ramah.
"Kami semua juga mau periksa, Dok." jawab Intan berbinar-binar. Kemudian mengumpulkan kartu berobat sahabatnya dan menyerahkan pada Dokter Airin.
"Kita cek urine ya dulu ya." Dokter Airin tersenyum melihat pasiennya yang cantik-cantik itu.
"Kiki dulu saja." jawab Regina ragu-ragu.
"Sekalian saja, mumpung kita sudah disini." kata Enji semangat.
Setelah menunggu beberapa saat, suster pun memberikan hasilnya pada Dokter Airin. Tampak Dokter Airin tersenyum tipis membuat kelima Nyonya saling berpandang-pandangan.
"Kalau kita belum hamil, berikan kami obat yang paling ampuh supaya bisa segera hamil. Kami ingin hamil bersama." kata Intan kepada Dokter Airin.
"Iya nanti Ibu-Ibu akan saya berikan vitamin dan obat anti mual." jawab Dokter Airin.
"Maksudnya Dok? yang mual hanya Kiki kenapa kami semua diberikan obat anti mual." tanya Regina setengah protes.
"Mungkin nanti kita juga seperti Kiki akan mual-mual." sahut Intan sok tahu.
"Eh beneran Dok, bercanda ya?" tanya Enji tak percaya. Dokter Airin tertawa melihat reaksi Enji. Kemudian memberikan kelima hasil test urine kepada Enji, yang lain ikut mengintip hasil yang diberikan kepada Enji.
"Alhamdulillah, Alhamdulillah, Allahu Akbar." teriak Intan sambil jejingkrakan seperti sedang menang undian. Mereka saling berpelukan satu sama lain. Kiki yang sedang tak enak badannya tetap duduk memandang keempat dengan menitikkan air mata bahagia.
"Kalau boleh tahu, saya hamil berapa minggu, dok?" tanya Kiki pada Dokter Airin sementara sahabatnya sedang sibuk jejingkrakan.
"Bu Kiki hari pertama haid terakhirnya kapan? Apa bu Kiki ingat?" tanya Dokter Airin pada Kiki. Kiki segera mengecek handphonenya karena ia selalu mencatat pada aplikasi di handphone. Seingatnya hari pertama haid terakhir saat berangkat ke Singapore menggantikan Mama dan Papa menemani Mas Heman dan Kak Wina. Setelah itu Kiki tidak pernah menstruasi, berarti kehamilannya sudah dua bulan lebih.
"Bu Kiki usia kehamilan Ibu kira-kira 9 minggu ya. Nanti akan saya berikan obat anti mual untuk Ibu." kata dokter Airin sambil meresepkan obat untuk Kiki.
"Kenapa baru mual sekarang, kemarin-kemarin biasa saja." tanya Intan
"Itu biasa terjadi pada Ibu hamil, ada yang tidak pernah merasa mual selama kehamilan, ada yang baru mual setelah hamil beberapa bulan." Dokter Airin menjelaskan.
Setelah semua diperiksa, usia kandungan mereka sangat berdekatan, Monik dan Intan hamil 6 Minggu, Regina 4 Minggu dan Enji 2 Minggu.
"Dok kasih saya penguat kandungan, usia kandungan saya yang paling muda kan?" Pinta Enji pada Dokter Airin.
"Dok urusan ranjang bagaimana? mesti istirahat atau boleh hajar terus?" tanya Intan blak-blakan.
"Hajar saja." sahut Enji terkekeh.
"Boleh asal pelan-pelan." jawab Dokter Airin tersenyum.
"Waduh Dok selama ini saya sih maunya cepat terus, bagaimana tuh." kata Enji karena memang selama ini Enji yang selalu agresif.
"Ibu mesti jaga ya, tiga bulan pertama harus sangat hati-hati." jawab Dokter Airin lagi.
"Lu jangan bar-bar lah, Nji. Kasihan baby lu tuh." Monik memperingati Enji.
"Jangan gampang emosi juga." Regina ikut memperingati.
"Iya-iya." jawab Enji seperti sedang diomeli Mamanya. Setelah masing-masing menerima resep dari Dokter Airin, mereka segera menuju Apotik kemudian mengurus pembayaran.
"Gue sudah kabari Erwin, kalau kita semua hamil. Suami kita lagi jalan kesini." kata Enji setelah membaca pesan di handphonenya.
"Ish gue mau kasih surprise padahal." gerutu Intan, lupa memperingati Enji yang selalu spontan.
"Ini juga sudah suprise, mereka pada heboh." kekeh Enji, "handphone kalian kenapa pada tidak aktif, mereka panik." kata Enji lagi.
"Ah iya sudah tak memikirkan handphone lihat Kiki seperti mau pingsan." kata Regina mulai menghidupkan handphone nya. Monik pun mengecas handphonenya yang lowbat. Sementara Intan lupa membawa handphone dan tadi sudah memberitahu Anto supaya menghubungi Monik saja.
"Siapa saja yang sedang kesini?" tanya Intan pada Enji.
"Kata Erwin semua sedang menuju kesini."
"Bukannya Alex sedang rapat dengan Mario dan Reza?" tanya Kiki pada Monik.
"Mereka berlima sedang rapat untuk acara Private Gala Dinner." jawab Enji menjelaskan.
Sambil menunggu obat Kiki minta ijin untuk menyenderkan kepalanya di bahu Monik hingga akhirnya tertidur, mungkin karena tadi sempat diberi obat oleh Dokter Airin. Monik membiarkan saja, berharap sakit Kiki bisa berkurang setelah bangun tidur nanti.