I Love You Too

I Love You Too
Komitmen



"Dimana, Boy?" Kenan menghubungi Nanta via telepon saat Nanta dan teman-temannya akan menuju ke parkiran.


"Baru mau pulang, Pa, Di Musium Angkut." jawab Nanta sambil memasuki mobil.


"Aih jam berapa ini, ingat kalian mau hadir makan malam bersama bintang tamu loh." Kenan mengingatkan, khawatir Nanta dan teman-temannya terlambat.


"Jadi bagaimana ya? kami mau mandi dulu sih rencana, ini sudah dijalan." kata Nanta meminta pendapat Papa.


"Ke Hotel saja, Boy. Om Bagus buka kamar untuk Papa dan Bang Ray, kita tidak pakai. Kalian bisa mandi disana." arahan Kenan membuat Nanta lega, Nanta langsung memberikan instruksi pada Pak Timbul agar mengarahkan kendaraan langsung ke lokasi acara.


"Pa, kamarnya tidak dipakai?" tanya Nanta lagi pada Papa.


"Kalian mau pakai?" Kenan malah balik bertanya.


"Menurut Papa bagaimana? aku hanya berpikir dari pada mubazir lebih baik kami gunakan." Nanta terkekeh, pikirnya besok sudah harus ke lokasi yang sama lagi, lebih baik temannya istirahat saja, mungkin sebelum acara inti, setelah sarapan bisa mencari oleh-oleh makanan khas Malang dulu.


"Pakai saja, hanya satu malam tapi." Kenan mengijinkan, tentu saja membuat Nanta senang.


"Ok, Pa. Pa nanti Papa temani kan saat pertemuan." Nanta memberi kode, ia ingin Papa ada saat Om Micko bertemu Dania.


"Ok, Boy. Sampai bertemu nanti ya." Kenan hendak mengakhiri sambungan teleponnya.


"Papa sudah di Hotel?" tanya Nanta ingin tahu posisi Papa saat ini.


"Dalam perjalanan ke rumah, bersiap dulu dan menjemput Mamon." jawab Kenan terkekeh.


"Kunci kamar minta sama siapa?" bawel sekali Nanta bertanya terus, tapi ia harus tahu ini.


"Papa dan Bang Ray belum ambil, masih di resepsionis atau kamu bisa tanya Om Bagus."


"Ok, Pa. Papa jangan terlambat loh. Aku belum bawa baju ganti, jadi aku ganti pakaiannya tunggu Papa saja ya." Nanta terkekeh, menggunakan bahasa halus minta Papa membawakan baju ganti.


"Nanti Papa minta Raymond, suruh orang antar ke hotel biar kamu tidak terlalu lama menunggu. Dania kira-kira pakai baju warna apa nanti?" tanya Kenan jahil, Nanta mengernyitkan dahinya.


"Kenapa memangnya?" Nanta terdengar bingung, otaknya belum sampai kesana.


"Mau Papa samakan warna baju kalian, biar serasi." Kenan terkekeh senang sekali menggoda anaknya.


"Ish Papa mulai ketularan yang lain." Nanta jadi terbahak.


"Pa, Aku bawakan kemeja hitam sama jeans hitam ya." pinta Nanta pada Papanya, langsung saja tanpa bertanya pada Dania.


"Ok."


"Terimakasih Papa." Nanta menutup sambungan teleponnya.


Ia tersenyum pada ketiga temannya yang sedari tadi diam menguping apa yang Nanta bicarakan pada Papa, hanya saja mereka tidak mendengar suara Kenan.


"Malam ini kita menginap di hotel ya, Papa dan Bang Ray tidak pakai kamarnya. Besok sarapan dan makan siang dihotel, ditanggung panitia." Nanta terkekeh memandang Wilma yang tertawa puas.


"Asiiik, yang penting uang jajan utuh perut kenyang. Capek juga ya, keliling Musium Angkut." kata Wilma yang sudah tidak jumpalitan seperti tadi, battery tubuhnya mulai berkurang.


"Baru segini sudah mengeluh capek, gayanya lagi mau minta ke Bromo." Nanta mentertawakan Wilma.


"Aduh itu luas loh tadi, kita kan naik turun tangga juga disana. Mestinya tadi gue hitung itu, berapa ribu langkah kaki gue disana." kata Wilma sedikit berpikir.


"Seperti yang suka olah raga saja hitung langkah kaki, Kamu kan sukanya mengunyah." Ando mengacak anak rambut Wilma sambil tertawa.


"Biar sehat Bang, Sehari mestinya berapa ribu langkah sih kita?" Wilma bertanya pada Nanta dan Dania.


"10.000 langkah untuk orang dewasa, kamu kan belum dewasa, masih kanak-kanak." kata Nanta menyenderkan badannya di bangku penumpang belakang. Senang sekali melihat mata Wilma berkata-kata.


"Bang Nanta dengar ya, gue yang lu bilang kanak-kanak ini, sudah punya komitmen, Bang Nanta kan belum. Hayo siapa yang kanak-kanak kalau begini?" makin tengil saja gaya Wilma. Nanta langsung cengar-cengir tidak bisa menjawab. Ando terkekeh memandang Nanta, Dania jadi ikut cengar-cengir.


"Tidak bisa jawab dia, Bang." Wilma tertawa memandang Ando, merasa diatas angin.


"Sekolah dulu yang benar, gaya betul bahasanya pakai komitmen. PR matematika sudah dibikin belum." Nantah terkekeh menggoda Wilma.


"Mulai sekarang Bang Ando yang bikinkan PR aku. Iya kan Bang?" Wilma mencari perlindungan.


"Mana boleh dibikinkan, kamu nanti Abang ajari matematika." kata Ando yang paling saklek soal pelajaran.


"Ah tidak asik." keluh Wilma.


"Hahaha memang enak, makanya jangan ketengilan, meskipun kalian punya komitmen, Ando cita-citanya punya istri pintar tahu." kata Nanta pada Wilma.


"Aku pintar kok, hanya malas belajar saja." Wilma membela diri.


"Mulai sekarang harus rajin belajar." kata Ando pada Wilma, Nanta dan Dania terbahak.


"Enak kan punya calon suami rajin belajar?" Nanta menaikkan alisnya.


"Bang Ando, jangan terlalu kaku begitulah, Papa saja santai kalau aku tidak belajar. Seperti Bang Nanta saja yang selalu membikinkan PR ku." bujuk Wilma pada Ando.


"Kiss dulu." kata Ando seperti Nanta menghadapi Balen, tapi ini benar-benar terlihat modus.


"Jangan suka mengelabui anak dibawah umur." Nanta menoyor kepala Ando


"Hehehe sama Balen kita sering begitu." Ando membela diri.


"Itu beda Ban Ando, kali ini Aban Ando terlihat modus." kata Nanta terbahak.


"Tidak apa nanti aku kiss asal PR ku kamu yang kerjakan ya." kata Wilma pada Ando sok manja.


"Ih cuma gara-gara PR mau saja kasih Kiss." Nanta menggelengkan kepalanya, Dania terbahak melihat Ando senyum-senyum senang.


"Tapi kissnya nanti ya Bang Ando, kalau kita sudah menikah." jawab Wilma membuat Nanta dan Dania tambah terbahak.


"Kalau begini yang modus kamu dong sayang, mau PRnya dibikinkan sekarang, tapi Kiss nya nanti kalau sudah menikah." Ando jadi ikut terbahak.


"Eh gue kok dipanggil sayang rasanya gimana ya." kata Wilma memegang dadanya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Nanta senyum lebar.


"Rasanya jadi pengen kiss sekarang." jawab Wilma.


"Itu sih memang kalian modus, ish ini ada CCTV loh, aku tidak bercanda." Nanta memicingkan matanya pada Wilma dan Ando.


"Nanti saja Kiss nya kalau kita sudah menikah." kata Ando cepat membuat Nanta terbahak.


"Eh bahaya kan komitmen-komitmen belum lulus sekolah. Cari duit saja belum bisa, calon istri mau dikasih jajan apa?" Nanta memandang Ando yang cengengesan.


"Kita cari kerja yuk. Di stadion butuh karyawan tidak?" tanya Ando.


"Ada buat lap bola basket." Nanta tertawa membercandai Ando.


"Sama muka-muka lu gue lap deh Nan. Rekrut gue ya, biar cepat punya modal nikah." kata Ando ikut bercanda.


"Itu yang didompet Bang Ando saja setor ke aku." kata Wilma tertawa.


"Buat Beli Mas Kawin ya." kata Ando pada Wilma.


"Bang Ando tidak cukup itu, aku mau mas kawinnya Red Diamond." kata Wilma membuat Ando menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Beneran seperti kata Nanta harus kerja yang benar, calon istrinya tau sekali duit dan barang mewah. Nanta terbahak melihat ekspresi Ando.


"Lihat Red Diamond dimana? gaya-gayaan." kata Nanta menoyor kepala Wilma pelan.


"Dania kamu mau Mas Kawinnya nanti apa? kalau berjodoh sama Nanta minta saham perusahaan Papon saja atau satu cabang restaurant Warung Elite milik Ayah Eja." Dania terbahak mendengar perkataan Wilma.


"Warung Elite yang punya banyak, Nyong. Ngajak ribut Ame Enji ya?" Nanta kembali menoyor kepala Wilma.


"Nan kita bikin usaha saja yuk, mesti jadi CEO ini, gawat." kata Ando semuanya jadi terbahak termasuk Pak Timbul. Otak Wilma betul-betul berhubungan dengan uang banyak.