
Mereka berempat tiba di restaurant yang sudah banyak pengunjungnya, mata Nanta menyapu ruangan mencari keberadaan Mama. Tampak Mama melambaikan tangannya kearah Nanta.
"Itu Mamaku." kata Nanta pada ketiga temannya, mereka pun berjalan menghampiri Tari, Bagus dan Wulan.
"Masanta..." teriak Wulan senang melihat Nanta.
"Adek sayang makan apa?" tanya Nanta mencium Wulan setelah menyalami Mama dan Om Bagus.
"Woti." jawab Wulan sambil mengunyah roti ditangan kanannya.
"Pintar ya makan sendiri." komentar Dania tersenyum memandang Wulan.
"Oh iya Ma ini Dania, Ando dan Wilma." Nanta mengenalkan temannya pada Tari.
"Ah senangnya bisa bertemu kalian. Kamu sudah sehat, Dania?" tanya Tari langsung pada Dania.
"Sudah Tante." jawab Dania tersenyum sopan.
"Ya sudah sana ambil makan dulu, itu mejanya sudah disiapkan." Tari menunjuk meja dengan empat bangku di sebelah mejanya.
"Om, ayo." ajak Nanta pada Bagus yang tampak belum makan apapun.
"Kalian duluan saja, Om temani Wulan dulu." Bagus menunjuk Wulan dengan dagunya sambil tersenyum.
"Mau apa aku ambilkan?" Nanta berbaik hati menawarkan.
"Boleh, ambilkan infuse water dan buah saja." jawab Bagus.
"Oke, aku juga mau itu." jawab Nanta kemudian meninggalkan Bagus, Tari dan Wulan, sementara ketiga temannya sudah jalan lebih dulu.
Mereka menikmati sarapan pagi dengan khusu, apalagi Wilma benar-benar khusu, apa saja dilahapnya.
"Test food." katanya setiap membawa menu baru dipiringnya, membuat yang lain tertawa.
"Wilma, Mommy dan Daddy kamu apa kabar?" tanya Tari pada Wilma.
"Alhamdulillah sehat Tante, ke Jakarta dong biar bertemu, sudah lama loh Tante tidak ke Jakarta." cerocos Wilma pada Tari.
"Susah sekarang ada anak kecil, ini saja repot." kata Tari menunjuk Wulan yang belum selesai memakan rotinya.
"Nanti Wulan aku yang asuh, Tante." jawab Wilma terkekeh.
"Jangan percaya, Ma." sahut Nanta menggoda Wilma.
"Memang tidak boleh percaya sama gue, percayanya sama Allah." sungut Wilma pada Nanta, langsung saja Nanta terbahak.
"Sejak jadi calon istri Ando, pintar ya." kata Nanta disela tawanya.
"Bodo amat." Wilma masih saja bersungut, Ando ikut tertawa dibuatnya, sementara Dania hanya tersenyum dan menyimak.
"Itu Papa kamu dan Tante Lulu, dibelakang mereka adik-adik kamu tuh." kata Nanta begitu melihat Om Micko bersama keluarganya berjalan memasuki restaurant, Dania tersenyum ke arah Papanya. Sedikit berdebar karena akan bertemu dengan istri dan anak-anak Papa.
"Tidak panik kan?" tanya Nanta khawatir.
"Jangan menjauh ya." pinta Dania pada Nanta. Nanta menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, Dania selalu merasa aman bersama Nanta.
"Sayang..." sapa Micko tersenyum lebar saat melihat Dania. Dania pun berdiri memeluk Papanya.
"Ini istri Papa." Micko mengenalkan Lulu pada Dania.
"Apa kabar Tante." sapa Dania tersenyum dengan badan sedikit membungkuk.
"Dania sayang." Lulu menarik tangan Dania masuk kedalam pelukannya.
"Alhamdulillah ketemu juga kamu sama Papa ya." kata Lulu tersenyum haru.
"Alhamdulillah Tante." jawab Dania masih dalam pelukan Lulu, ia melambaikan tangannya dan tersenyum pada kedua adiknya. Kedua remaja tanggung yang sama besar itu pun tersenyum melambaikan tangan pada Dania. Semua yang ada memandang dengan senyum bahagia.
"Aku Winner." adik Dania yang paling dekat memperkenalkan diri begitu Dania sudah tidak lagi dipeluk Mamanya.
"Aku Lucky." sahut si ganteng yang berdiri dibelakang Winner.
"Ih namanya bagus-bagus sekali." Dania tersenyum lebar dan memeluk kedua adiknya.
"Dari aku kecil Papa selalu cerita tentang kakak Dania, aku jadi penasaran kapan bisa bertemu, syukurlah hari ini bisa berkenalan dengan kakak." kata Winner sambil duduk di bangku meja yang masih kosong dekat Dania.
"Masa?"
"Hmm... tiada hari tanpa nama Kak Dania." sahut Lucky, Micko dan Lulu tertawa mendengarnya.
"Kalau aku ke London, kakak bisa jadi guide aku dong." kata Lucky yang ingin sekali traveling ke Eropa.
"Kapan kita keliling Eropa, aku bisa jadi guidenya." jawab Dania semangat.
"Wah boleh tuh Pa, Aku sama Lucky ke Eropa bersama Kak Dania. Tahun depan ya Kak, liburan sekolah." kata Winner tak kalah semangat.
"Sudah tentukan jadwal saja. Papa lihat situasi kantor dulu." jawab Micko pada anak bujangnya.
"Ih kenapa Papa yang lihat situasi kantor sih?" Lulu menepuk bahu suaminya.
"Kita ikut juga dong, masa mereka saja." kata Micko pada istrinya, sebenarnya ia agak keberatan membiarkan ketiga anaknya berlibur tanpa mereka dampingi, mengingat Maya, mantan istrinya masih menutupi keberadaan Dania dari Micko. Khawatir malah akan menjadi masalah.
"Asik, kalau Papa ikut kita tidak perlu menabung." Lucky bersorak senang.
"Hei kata siapa Papa yang akan bayari liburan kalian, tetap ya bayar sendiri-sendiri." Micko tertawa menggoda Lucky.
"Papa tuh selalu saja pelit." sungut Lucky.
"Bukan Papa yang Pelit, kamu tuh yang kepintaran, sudah dikasih uang bulanan masih saja minta lagi setiap minggu." Lulu tertawa menatap Lucky.
"Itu kan supaya tabunganku utuh." jawab Lucky.
"Seperti kamu tuh Lucky." bisik Nanta pada Wilma, Ando tertawa menganggukkan kepalanya setuju.
"Ih, memang harus begitu." jawab Wilma tanpa dosa, lagi-lagi Nanta dan Ando tertawa. Tari dan Bagus tersenyum saja dan kembali fokus pada Wulan.
"Pintar betul kamu, Lucky." Dania mentertawakan Lucky.
"Nanti Kak Dania tiru saja gayaku, kalau mau tabungannya banyak." jawab Lucky bangga.
"Ish, Papa mau saja dibegitukan Lucky." sungut Winner pada Papanya.
"Kamu kenapa protes, tiru saja gayaku, Papa tidak keberatan selama ini." kata Lucky pada Winner.
"Hahaha iya yang penting kalian punya tabungan." Micko terbahak.
"Ini badannya sama besar siapa yang lebih tua?" tanya Dania pada keduanya.
"Aku." jawab mereka bersamaan.
"kembar, Pa?" tanya Dania pada Papa.
"Tidak, hanya mirip saja." jawab Micko terkekeh.
"Mereka beda setahun." sahut Lulu pada Dania.
"Jadi siapa Abangnya?"
"Winner yang lahir lebih dulu." jawab Lulu.
"Tapi aku Abangnya." jawab Lucky membuat semua tertawa.
"Lucky selalu mau jadi Abang." jawab Winner terkekeh.
"Hahaha kenapa memangnya kalau jadi adik?" tanya Dania.
"Seperti anak kecil, aku tidak suka." jawab Lucky.
"Ya sudah aku saja yang jadi adiknya." kata Dania sambil terbahak.
"Mana bisa begitu, semua temanku tahu aku punya kakak perempuan di London, namanya Dania." jawab Lucky tanpa senyum.
"Kamu cerita?" tanya Dania.
"Iya bahkan foto kecil kakak aku letakkan didompetku." Lucky mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan pada Dania.
"Ya ampun, Lucky kamu mengharukan sekali." Dania jadi berkaca-kaca. Tidak menyangka ia diterima dikeluarga Papanya.
"Karena aku sudah punya kakak jadi aku tidak perlu Abang, makanya winner kujadikan adik." kata Lucky tersenyum jahil pada Winner.
"Iya terserah kamulah, tidak apa aku jadi adikmu, asal saja kamu tidak suka minta uang jajan sama aku disekolah, Abang yang selalu traktir adiknya, ingat itu." Winner tersenyum pada Lucky tidak kalah jahil.
"Ah mana bisa begitu." protes Lucky.
"Kalau mau jadi Abang ya harus begitu, iya kan Bang Nanta?" tanya Winner pada Nanta.
"Hahaha iya betul." jawab Nanta terbahak, sementara lucky menggaruk kepalanya yang tidak gatal.