
Nanta tersenyum sendiri setelah mengirim pesan pada Dania, ia tidak berharap balasan, hanya menyampaikan apa yang ia rasakan.
Terima kasih sudah membuat ulah, senang berkenalan denganmu, semoga bisa bertemu lagi.
hanya itu, tidak lebih, tidak dibalaspun tidak apa, karena Nanta juga sering tidak membalas pesan yang begitu banyak di handphonenya.
Perdana ia mengirim pesan untuk seorang gadis, Nanta yang mulai lebih dulu, Nanta yang mengajaknya makan bersama, menawarkan mengantar pulang, meminta nomor handphonenya dan mengiriminya pesan, pertama kali dalam sejarah hidupnya, ia yang memulainya.
"Senang sekali Mas Nanta. Pantas tidak mau saya jemput." Pak Atang jadi senyum-senyum juga.
"Ish bukan karena itu, bayangkan kalau aku menunggu Pak Atang jemput, mau sampai jam berapa di Bandara?" Nanta menjelaskan apa adanya, tidak seperti yang Pak Atang kira kan.
"Iya juga sih." Pak Atang terkekeh.
"Cantik loh Mas, siapa namanya?"
"Dania."
"Cantik ya, Mas."
"Hu uh."
"Kenal dimana?" mulai kepo nih Pak Atang.
"Tadi di Bandara." jawab Nanta jujur.
"Baru kenal langsung diantar pulang." Pak Atang terkekeh.
"Kasihan tidak punya uang cash, tidak bawa ATM juga. Konyol deh pokoknya." Nanta bercerita sambil terkekeh. Memang lucu Dania benar-benar nekat.
"Eh tapi tadi dia bilang dari London, bahasia Indonesianya lancar saja ya." kata Nanta pada Pak Atang, ia memikirkan Dania yang tidak ada aksen luarnya saat bicara tadi.
"Mungkin memang dia hanya sebentar disana." jawab Pak Atang menduga-duga.
"Mungkin juga dia bohong." Pak Atang terbahak.
"Tidak boleh buruk sangka." kata Nanta mengingatkan.
"Hahaha maaf suka khilaf." kata Pak Atang kembali terbahak. Nanta pun ikut terbahak.
Pukul sebelas lewat baru Nanta dan Pak Atang tiba dirumah, baru terasa lelahnya, besok pagi sudah harus kekampus lagi. Untung saja dua hari ini bakal sibuk, jadi Nanta tidak terlalu kesepian karena singkong rebusnya masih tertahan di Malang.
Nanta masuk kekamarnya yang tampak rapi, tidak ada sisa mainan Balen di karpet. Langsung saja Nanta membersihkan diri, selanjutnya menghubungi Mama dan Mamon juga Papa. Walaupun sudah semalam ini biasanya mereka tetap menunggu kabar dari Nanta.
Nanta melakukan panggilan video bersama termasuk Oma dan Opa juga Bang Ray dan Kak Roma. Wajah mereka bermunculan satu persatu.
"Aku sudah sampai rumah, tadi mandi dulu. Siap-siap bobo." kata Nanta tersenyum, wajahnya masih tampak segar.
"Malam sekali." kata Mama pada Nanta
"Pak Atang kena macet jadi aku makan dulu dibandara." jawab Nanta jujur.
"Oh yang sama Dania itu ya? yang tadi kamu antar pulang." celutuk Raymond, Nanta sudah tahu siapa si pembuat ulah, sudah pasti Pak Atang. Pantas saja tadi saat Nanta menyetir ia sibuk chat, Nanta pikir sama istrinya ternyata sama Bang Raymond. Nanta jadi tersenyum saja.
"Sudah kemajuan Om, Nanta antar cewek pulang. Padahal baru kenal." kata Raymond lagi tanpa disaring.
"Nanta kamu jangan genit-genit loh, keluarga kita tidak ada yang playboy." pesan Oma pada Nanta, langsung saja kasih warning.
"Aku tidak genit Oma, jadi ceritanya begini, bla...bla...bla...bla..." Nanta menceritakan kejadian dari awal hingga akhir.
"Nekat juga tuh cewek, traveling tidak bawa uang cash." Roma menggelengkan kepalanya.
"Mengingatkan aku sama Mamon, ceroboh." jawab Nanta.
"Enak saja Nanta, aku ceroboh bagaimana?" Nona tidak terima.
"Lupa isi bensin, mau menabrak pos security, banyak lagi deh tidak perlu dijelaskan. Tapi tetap asik, nah Dania juga begitu, Dania kuliah dikampus sebelah kampus kita Pa." tambah semangat saja Nanta menceritakan Dania.
"Mau kamu jadikan pacar ya?" tanya Mama pada Nanta.
"Tari, Nanta jangan dikasih pacaran. Langsung menikah saja." teriak Oma pada Tari. Nanta terkekeh, pikirannya pada kesana kemari.
"Aku saja baru kenal tadi, masa langsung mau dijadikan pacar, yang benar saja." Nanta terkekeh.
"Mau kerja dulu kan, baru dekati cewek." kata Kenan pada Nanta.
"Kerja dulu baru menikah, Pa." Nanta meluruskan ucapan Kenan, pikirnya kalau hanya dekat kan tidak apa-apa. Kenan dan Opa langsung terbahak.
"Wilma bagaimana?" tanya Mama menggoda Nanta.
"Wilma teman, Dania teman. Oma kalau berteman boleh kan?" tanya Nanta pada Oma.
"Boleh, tapi jangan bersahabat ya, sekedar teman saja." Oma memperingati Nanta.
"Memang kenapa kalau bersahabat?" tanya Nanta, Kenan cengengesan saja waktu Nona mencubit perutnya, teringat Sheila. Walaupun hubungan mereka dengan keluarga Sheila sekarang baik, tetap saja masa lalu membuat Kenan, Tari dan Nanta terpisah.
"Yah mana ada persahabatan pria dan wanita tanpa memakai perasaan." jawab Oma polos, lupa kalau anaknya pernah punya kisah.
"Seperti siapa Oma?" pancing Raymond jahil.
"Seperti kamu dan Roma." jawab Kenan cepat sebelum namanya di sebut.
"Aku mau kalau seperti Bang Ray dan Kak Roma." jawab Nanta terkekeh.
"Jangan Nanta, kami pernah putus." jawab Roma terbahak memukul bahu Raymond. Semua ikut terbahak jadinya.
"Pokoknya kalau kamu sampai pacaran, Oma nikahkan kalian. Dengar ya Kenan, Tari kalau kalian tidak bisa tegas sama Nanta, Mama yang bergerak." Oma langsung saja mengancam.
"Iya Oma, tenang saja. Nanti aku kenalkan dengan Dania, kalau kami bertemu lagi dan menjadi akrab loh ya." kata Nanta pada Oma.
"Dikenalkan terus apa?" tanya Nona terkekeh.
"Ya Oma pilihkan saja lebih suka sama Wilma atau sama Dania." kata Nanta terbahak.
"Kamu yang menjalankan, Oma yang memilih bagaimana sih." Kenan jadi terbahak melihat kekonyolan Nanta.
"Mereka berdua itu kurang lebih saja menurutku, sama-sama konyol. Kalau kukenalkan dijamin akrab mereka." jawab Nanta.
"Bukannya malah sinis-sinisan ya, berebut Nanta." kata Roma terbahak.
"Ish Kak Roma seperti apa saja berebut aku." Nanta ikut terbahak.
"Aku bobo dulu ya, besok kuliah pagi sampai malam." kata Nanta pada semuanya.
"Sama aku juga kerja pagi sampai shubuh." jawab Raymond tersenyum jahil melirik Roma.
"Please deh Bang Ray, aku dibawah umur." dengus Nanta, semua terbahak.
"Oke jadi dompetmu tipis dong sekarang." kata Raymond tertawa.
"Iya kan dibantu Dania transfer ke rekeningku." jawab Nanta ikut tertawa
"Kalau tadi jadi kutransfer mana bisa kenalan sama cewek kamu Dek." kata Raymond lagi.
"Berarti minggu depan kasih cash lagi saja ya Bang." kata Nanta terbahak.
"Ish Tante Tari anakmu ini mulai tahu duit." kata Raymond pada Tari.
"Tahu cewek kali Ray, kalau duit sih dari dulu juga tahu." jawab Tari terbahak. Oma menggelengkan kepalanya, mulai khawatir pada cucunya ini.
"Kamu tidak bisa dilepas sendiri sekarang ya, Oma takut kamu tiap pulang ke Malang dapat kenalan satu cewek, bayangkan berapa cewek itu karena kamu dua minggu sekali pulang ke Malang." cerocos Oma menyampaikan kekhawatirannya.
"Hahaha Oma, tidak seperti itu juga tadi hanya kebetulan." kata Nanta jadi malu sendiri.