
"Papa dan Om Micko atau siapapun itu jangan pernah membahas masalah perjodohan aku dengan Dania ya, aku marah loh nanti." kata Nanta pada Papa dan Om Micko, juga semua keluarganya yang ada disana, ia tidak sengaja mendengar pembicaraan Papa dengan Om Micko tadi. Untung saja Dania masih sibuk dengan kedua adiknya dan Wilma masih sibuk foto disetiap spot hotel yang menurutnya menarik.
Yang lebih mengejutkan, Oma dan Opa juga keluarga besar sudah setuju, mengingat mereka mengenal baik Oma Misha dan lagi Oma Misha pernah bekerja dikantor Opa dalam waktu yang lama, sampai akhirnya posisinya digantikan Om Micko saat ini.
Hal yang membuat Nanta kesal, kenapa para orang dewasa tidak memikirkan Dania yang baru saja bahagia bertemu keluarga barunya, mana Nanta tahu Dania mau apa tidak dijodohkan dengannya. Nanta juga mengingat beberapa tahun kebelakang, Papa juga tampak pasrah saat Ame Enji memaksa menjodohkan Nanta dengan Wilma, walaupun Papa sempat bilang pada Daddy Leo tidak akan memaksakan kehendak anak-anak, jika Nanta dan Wilma tidak berkenan.
Tanpa menunggu jawaban dari keluarganya Nanta keluar dari ruangan yang sudah disewa untuk mereka. Ia perlu udara segar, karena didalam rasanya pengap sekali.
"Duh anak gue marah tuh, Bang. Elu sih tidak sabar." Kenan langsung saja menyalahkan Micko.
"Bujuk dong." kata Micko pada Kenan, ia tertawa santai.
"Biarkan saja dulu, biar Nanta menenangkan diri sebentar." kata Opa apda keduanya.
"Bang Micko apa sudah tanya Dania, dia setuju tidak dijodohkan, Bang Micko saja baru dekat dengan Dania. Apa nanti tidak jadi masalah untuk Abang dan Dania?" tanya Nona pada Micko. Sebenarnya ia ingin mengejar Nanta, tapi ditahan oleh Kiki.
"Kenan lihat sendiri tadi malam, Dania cuma mau sama Nanta. Nanta hilang sedikit langsung dicari, pegangan tangan terus mereka." kata Micko pada Nona.
"Tapi benar sayang, mereka baru seminggu kenal." Lulu ikut memberikan pendapat.
"Justru itu, sebelum Dania memiliki banyak teman, biar saja temannya hanya Nanta. Aku khawatir Dania bertemu pria yang tidak tepat." kata Micko pada Lulu.
"Tunggu saja Nanta lulus kuliah." kata Oma pada Micko, walaupun setuju Nanta dijodohkan, ia tidak mau cucunya merasa tertekan, Nanta harus diperlakukan seperti Reza, dibiarkan serba mengalir.
"Oma, cucu Oma itu banyak sekali penggemarnya, aku khawatir Nanta kepincut wanita lain." Micko terbahak memandang Mama Nina.
"Teman wanita Nanta itu hanya Wilma, sekarang Dania." jawab Oma.
"Yah nanti bisa tambah lagi jadi si A, B, C terus saja begitu." jawab Micko.
"Gawat ini calon mertua Nanta posesif sekali." Reza terbahak memandang Micko.
"Hahaha iya ya, parah nih gue." Micko menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya sudah jangan bahas perjodohan ya, aku yang susah kalau anakku merajuk." Kenan menatap semuanya.
"Kapok ya, tiga tahun diacuhkan Nanta." Oma tertawa menepuk bahu Kenan.
"Nah itu, Mama tahu, lagi pula aku belum membahas dengan Tari." kata Kenan tertawa pada Mama.
"Tari setuju kok, aku sudah tanya." ternyata Micko gerak cepat. Kenan menggelengkan kepalanya.
"Baru tadi malam aku terharu loh Nanta bilang sayang aku." kata Kenan lagi mengingat percakapan dengan Nanta semalam.
"Tadi pagi juga Nanta bilang begitu, aku sayang Papa." Micko tertawa memandang Kenan, mengulang perkataan Nanta saat sarapan.
"Duh kan tambah terharu gue." kata Kenan lagi, celingukan melihat keluar mencari keberadaan Nanta.
Ayo masuk, kita mulai makan. Papa janji tidak akan bahas masalah perjodohan.
Pesan dari Kenan terkirim dan dibaca Nanta.
Iya, aku lagi ngobrol dulu sama Dania, Winner dan Lucky.
jawab Nanta membuat Kenan terkekeh, dikiranya Nanta akan menyendiri ternyata malah bergabung dengan Dania dan kedua adiknya.
"Ayo kita masuk, sudah lapar kan?" ajak Nanta pada ketiganya.
"Mana Wilma dan Kakak Ando?" tanya Dania mencari keberadaan keduanya.
"Itu masih foto-foto." jawab Winner menunjuk kearah dimana keduanya berada.
Nanta menepukkan tangannya dan memanggil keduanya dengan lambaian tangan.
Tidak lama mereka berjalan menuju ruang makan khusus. Semua sudah berkumpul, tinggal anak muda saja yang belum hadir. Nanta mencari keberadaan Mama, Wulan dan Om Bagus, mereka tidak tampak disana.
"Mama mana, Pa?" tanya Nanta pada Papanya, tidak terlihat marah, seperti biasa saja. Nanta duduk di sebelah Balen yang sangat dirindukannya, dari tadi belum sempat menegur kesayangannya itu karena keburu kesal saat masuk ruangan.
"Makan bersama panitia, kamu dicari Kevin tadi." jawab Kenan tersenyum pada Nanta.
"Tadi ngobrol sebentar." jawab Nanta kemudian duduk disebelah Balen, ada banyak bangku kosong, dekat Om Micko ada satu bangku kosong juga, biar Dania duduk disana, karena Tante Lulu duduk dekat Oma dan Bunda Kiki.
"Sayang Abang." Nanta langsung saja menciumi Balen.
"Ndak au, Baen nambek." melengos tidak mau melihat Nanta, masih saja marah rupanya.
"Aban pegi ndak ajak Baen." masih menolak dipangku Nanta.
"Itu ada Abang Ando loh." tunjuk Nanta pada Ando yang duduk diseberangnya.
"Bawa apa untuk Baen?" tanya Balen membuat Nanta dan Ando terbahak.
"Tidak bawa apapun, nanti kita beli ya." Ando mengarahkan kedua tangannya pada Balen.
"Jangan." ketus Nanta, ia tidak mau Balen berpindah tempat duduk. Sekarang Balen diapit Nanta dan Nona, sementara Papa duduk disebelah Om Micko. Dania entah kenapa malah duduk disebelah Nanta, padahal tadi bangku disebelah Om Micko masih kosong.
"Baen duduk sama Ban Ando don." kata Balen pada Nanta.
"Yang kangen Balen tuh Bang Nanta loh nanti saja dimobil dipangku Bang Ando ya?" bujuk Nanta pada Balen.
"Balen dekat Mamon saja, nanti susah makannya." kata Nona pada Balen.
"Paponnn." kembali Balen mengadu pada Papanya.
"Kenapa sayang?" tanya Kenan terkekeh, selalu saja jika dilarang Nona, Balen mengadu pada Kenan, walaupun akhirnya tetap mengikuti apa yang Nona mau.
"Mamon tuh." lapornya pada Kenan, semua tertawa melihat bayi kecil yang selalu menolak keinginan Mamanya.
"Mamon lagi, kamu tuh yang nakal, sana pindah duduk, tidak usah cari Mamon lagi." ancam Nona pada Balen.
"Disini saja, Abang minta maap, nanti ajak Balen jalan-jalan deh." Nanta kembali mencium Balen.
"Benel ya."
"Iya hahaha." Nanta tertawa melihat Balen bersedekap dan memonyongkan bibirnya menatap Nanta.
"Peluk Mamon dulu terus peluk Abang." perintah Nanta diikuti Balen, ia memeluk Nona kemudian beralih pada Nanta.
"Kenalan dulu sama teman Abang, namanya Kakak Dania." Nanta memangku Balen dan mengarahkan badannya pada Dania yang tersenyum menatap Balen.
"Pacal Aban?" tanya Balen pada Dania.
"Eh anak kecil tahu pacar dari mana?" Wilma terbahak mendengar pertanyaan Balen.
"Tak Yoma, iya tan Tak Yoma." Balen menunjuk Roma.
"Nih yang bilang nih." tunjuk Roma pada Raymond, Dania terkekeh dibuatnya. Nanta menggelengkan kepalanya.
"Siapa namanya cantik?" tanya Dania pada Balen yang memperhatikannya dari tadi.
"Baen ngkong ebus." jawabnya mengulurkan tangan.
"Namanya Balen Kakak." Nona membetulkan perkataan Balen.
"Cantik sekali Balen, ngkong ebus apa tuh?" tanya Dania menjawil pipi Balen gemas.
"ngkong ebus Aban, Tata..." bingung karena tidak tahu nama Dania.
"Dania, kakak Dania." Dania menyebutkan namanya.
"Singkong Rebus panggilan sayangku." Nanta menjelaskan, Dania dan Wilma terbahak.
"Siapa nama teman Abang?" tanya Nanta mengulang ingatan Balen.
"Ania." jawab Balen terkekeh.
"Pintar." Nanta kembali menciumi adiknya, sementara Raymond mengabadikan aktifitas Nanta, Balen dan Dania melalui foto close up dan mengirim pada group keluarga.
Cocok, seperti keluarga kecil bahagia.
*Raymond.
Hapus Ray, jangan cari masalah. *Kenan.
Maaf Om, handphoneku hang😝 *Raymond
beberapa menit kemudian.
Bodo Amat🥱 *Nanta