I Love You Too

I Love You Too
Pelajari



"Rumi mau lu terapi dimana, Yo?" tanya Erwin pada Mario. Nanta dengarkan saja, masih merasa tidak enak hati sampaikan ini pada Mario.


"Gue kirim tugas belajar ke Inggris saja, sekalian terapi mindfulness disana." kata Mario pada Erwin.


"Terapi Mindfulness tidak harus ke London, Yo. Di Jakarta juga ada. Jauh betul ke Inggris. Rumi minum alkohol pasti ada sebab, gue bukan memaklumi, gue tahu Rumi salah. Tapi jangan sampai dia merasa dikucilkan, karena bagaimanapun saat ini Rumi butuh support. Mentalnya sedang terganggu malah mau lu kirim jauh." Erwin mengingatkan Mario.


"Tadinya aku mau ajak ke dokter psikologinya Dania, Pi." kata Nanta pada Mario.


"Nah itu bisa, atau ke dokternya Risa istri Chico." sambung Erwin memandang Mario.


"Ok." jawab Mario setuju, ia kembali mengambil teleponnya.


"Rumi, kamu temui saya sekarang, di Cabang Utama." tegas Mario tanpa basa-basi, langsung saja hubungi Rumi, tidak sabar mau gerak cepat.


"Papi pinjam ruangan kamu ya, Biar kami bicara empat mata disana." kata Mario menepuk bahu Nanta.


"Siap Papi." jawab Nanta tersenyum manis.


"Mestinya bokap gue nelpon gue dong sekarang, kan gue sudah ngomong sama Steve tadi." keluh Mario, sampai saat ini belum dihubungi Opa Santoso juga.


"Mungkin Steve masih dikantor belum cerita sama Papi. Kenapa tadi tidak langsung telepon Papi saja?" tanya Erwin.


"Gue tadi lagi emosi, durhaka gue nyemprot bokap sendiri." Mario terkekeh.


"Sudah sadar ya." Erwin terbahak.


"Rese, dari dulu juga sadar." sungut Mario.


"Telepon saja sekarang." kata Erwin pada Mario.


"Ada apa ini, serius sekali." tanya Andi yang tiba-tiba ada dibelakang Erwin.


"Ish mengagetkan saja." sungut Erwin pada Andi yang tertawakan ekspresi Erwin.


"Sudah ucap salaam dari tadi, kalian serius sekali. Ada masalah apa?" tanya Andi.


"Tempat terapi kecanduan alkohol dimana friend?" tanya Mario pada Andi.


"Buat siapa?"


"Rumi."


"Rumi? kenapa dia?"


"Tidak tahu makanya gue suruh kesini deh cari tahu apa sebab, dia pecandu alkohol ternyata." kata Mario pada Andi. Selama ini tidak sadari itu karena Rumi tidak tinggal dirumah Mario. Lagipula Mario tidak pernah melihat Rumi mabok.


"Pi, kalau bisa tempat terapinya yang tidak menyolok, itu salah satu kekhawatiran Oma Lani, kalau ada yang tahu bisa merusak nama baik keluarga." Nanta mengingat apa yang Larry ceritakan padanya.


"Oke."


"Mintakan nomor telepon dokter istrimu Nan, Popo juga kasih nomor telepon dokternya Risa." kata Erwin pada Nanta.


"Dokternya Dania itu kenalannya Papa Micko." Nanta beritahukan Mario lalu kirimkan nomor handphone dokter tersebut pada Mario.


"Papi bisa tanya Papa Micko apa bisa dokternya ditemui di tempat yang lebih private, supaya tidak bertemu banyak orang." kata Nanta lagi.


"Rumi tidak terkenal, di Unagroup juga tercatat sebagai pekerja saja, bukan bagian dari keluarga, Papi rasa tidak masalah jika memang harus ke rumah sakit." jawab Mario.


"Mungkin dikhawatirkan saat dirumah sakit bertemu dengan orang yang kenal sama keluarga lu, Yo." Andi mengingatkan.


"Jadi bagaimana? sebenarnya di rumah sakit tempat Enji di rawat, dipinggiran kota bisa juga. Mau tinggal dirumah gue disana juga boleh, mau balik hari juga bisa." Erwin menawarkan.


"Nanti gue pikirkan deh sambil gue pelajari info dari kalian." kata Mario, segera tinggalkan ruangan karena Rumi sudah mengabarkan jika ia sudah didepan.


"Nanta mau bertemu, Rumi?" tanya Mario pada Nanta.


"Kalau begitu kamu saja yang temui dulu, langsung ajak keruanganmu, Boy. Nanti Papi menyusul." kata Mario pada Nanta.


"Baik Papi." Nanta langsung beranjak keluar temui Rumi yang sudah menunggu Mario.


"Mau kemana, Boy?" tanya Reza saat berpapasan didepan pintu ruangan.


"Mau temui Rumi dulu, Ayah dari mana?"


"Tadi mampir ke Syahputra Group dulu, biasa ada yang harus Ayah urus sedikit." Reza terkekeh menepuk bahu Nanta.


"Aku temui Rumi dulu ya Ayah." ijin Nanta pada Reza.


"Oke Ayah masuk dulu." Reza segera tinggalkan Nanta yang matanya mulai menyapu ruangan mencari keberadaan Rumi. Belum terlihat, Nanta pun berinisiatif mencari Rumi di lobby.


"Nanta..." panggil Rumi yang sedang duduk santai dekat pintu masuk.


"Rumi, kenapa duduk disini. Ayo keruanganku saja." ajak Nanta pada Rumi.


"Saya ada urusan sama Pak Mario." kata Rumi hampiri Nanta.


"Iya nanti Papi susuli kamu keruanganku. Ayo..." Nanta tersenyum pada Rumi.


"Nanta, Pak Mario sudah tahu saya pecandu, mungkin kamu juga tahu. Tadi Steve hubungi saya. Mungkin Pak Mario mau bahas ini, bisa temani saya saat nanti bicara dengan Pak Mario?" tanya Rumi pada Nanta saat mereka sudah berada diruangan Nanta.


"Bukannya lebih baik bicara berdua Dari hati ke hati, mungkin bisa dapat pencerahan."


"Saya takut."


"Papi baik, Rum. Aku saja sudah seperti anaknya sendiri. Apalagi kamu yang jelas-jelas masih bagian dari keluarganya." kata Nanta pada Rumi.


"Kadang sama orang luar lebih baik daripada sama keluarga sendiri. Banyak yang seperti itu." Rumi terkekeh.


"Ish bisa dihitung dengan jari itu. Kamu memangnya kenapa sih? Pecandu itu apa?" tanya Nanta pada Rumi.


"Alkohol, saya tidak bisa lepas dari Alkohol." Rumi menjelaskan.


"Memangnya seenak apa sampai tidak bisa lepas? bukannya malah merepotkan?" tanya Nanta pada Rumi.


"Merepotkan kalau kebanyakan." Rumi terbahak.


"Kalau kamu?"


"Saya bisa atur sesuai kebutuhan." jawab Rumi bangga.


"Apa tidak menghambat pekerjaan kamu? Juga apa tidak pikirkan dampaknya bagi kesehatan kamu. Minum air putih kebanyakan saja tidak baik untuk kesehatan. Apalagi ini alkohol yang sudah jelas-jelas dilarang." kata Nanta pada Rumi.


"Menghambat kalau terpaksa harus ganti minuman seperti di S'pore kemarin. Larry ambil botol minumku di tas, begitu malam temanku antar yang merk lain tepat deh aku tidur sampai sore." Rumi tertawa sendiri.


"Itu kan tidak sehat, lambung jadi tidak terisi makanan, waktu sarapan dan makan siang terganggu. Dan lagi nanti cowok yang dekati kamu bisa mundur begitu tahu kamu pecandu." Nanta mengingatkan.


"Larry apa mundur?" tanya Rumi pada Nanta.


"Memang Larry dekati kamu?" Nanta malah balik bertanya.


"Saya pikir iya." Rumi terkekeh.


"Itu kalau dibawah pengaruh minuman, tidak bisa berpikir jernih. Larry baik sama siapapun. Kenapa bisa berpikir dia dekati kamu?" tanya Nanta tersenyum, jangan-jangan kalau berdua Larry tebar pesona, pikir Nanta.


"Mau antar pulang, sita minuman saya. Kalau tidak suka sama saya pasti biarkan saja saya minum."


"Hmmm... katakanlah begitu dia suka kamu, hati orang siapa yang tahu. Tapi asal kamu tahu saja, Larry tidak mungkin jadikan kamu pasangannya kalau kamu masih mabok-mabokan, orangtuanya mana mau punya menantu alcoholic. Nanti bagaimana mau urus anak kalau kamunya tiap sebentar mabok." Nanta to the point sekali. Tidak peduli Rumi tersinggung apa tidak.