I Love You Too

I Love You Too
Barter



Sementara itu di rest area, Nanta dan rombongan sudah selesai makan, perut mereka penuh saat ini. Bagaimana tidak mereka harus habiskan makanan yang dipesan terlalu banyak, bahkan ada yang dibungkusi karena perut sudah tidak muat.


"Kenyang betul gue." kata Mike mengusap perutnya.


"Skipping satu jam deh nanti." Nanta terbahak.


"Sampai Jakarta langsung berenang atau basket." Larry ikut terbahak.


"Lain kali kalau pesan makanan yang masuk akal, jangan apa saja mau, akhirnya kita yang disuruh habiskan." omel Doni pada para wanita.


"Tadi sedikit ya lihat di gambar, ternyata pas datang piring besar." Dona tertawa, mereka juga terkecoh dengan gambar rupanya saat pesan batagor. Untung saja bisa dibungkusi.


"Ada yang mau ke toilet lagi?" tanya Nanta, istrinya sudah pasti mau.


"Mau." jawab Dania, benar saja dugaan Nanta.


"Yuk." Nanta ulurkan tangannya pada Dania.


"Sama aku saja." Dona tawarkan diri. Dania pun menuju toilet bersama Dona. Tapi tetap saja Nanta ikuti dari belakang, ia juga mau ke Toilet, mumpung lagi di rest area, perjalanan masih sekitar dua jam lagi, harusnya sih nanti istrinya tidak minta mampir lagi. Semoga saja tidak macet, pikir Nanta. Kasihan juga teman-temannya harus ikuti kemauan Dania yang tiap sebentar mampir.


Yang lain pun akhirnya ikuti jejak Nanta, Dania dan Dona, mereka bergantian ke toilet baru setelahnya kembali Ke Mobil.


"Kak Rumi di mobil Abang, aku di mobil Bang Mike ya." ijin Daniel pada Abangnya dengan wajah penuh harap, Larry tersenyum simpul tahu tujuan Daniel pindah ke mobil Mike. Dekati Nanta apalagi.


"Minum vitamin dulu tuh biar tidak aneh." kata Larry tertawakan Daniel.


"Ayolah aku sudah deal-dealan tadi." pinta Daniel melihat Abangnya belum putuskan iya atau tidak.


"Ok." jawab Larry setujui deal-dealan adiknya.


"Memang tadi deal-dealan apa?" tanya Larry.


"Aku minta Kak Rumi tukaran, aku mau satu mobil dengan Bang Nanta." kata Daniel terkekeh, Larry menoyor kepala adiknya lalu ikut terkekeh.


"Nan, titip Daniel nih. Dia mau jadi adik lu saja." kata Larry saat Nanta mendekat.


"Ayo." Nanta langsung merangkul Daniel yang dari tadi dekati dirinya.


"Elu kira dekati Abangnya bisa dapati adiknya, belum tentu." Larry kembali tertawakan Daniel.


"Itu urusan nanti, iya kan Bang." Daniel minta persetujuan Nanta.


"Iya, kan persyaratan belum terpenuhi, masih panjang prosesnya." jawab Nanta terkekeh. Di sekolah saja sudah banyak cewek cantiknya, pasti Daniel hanya suka sesaat pada Balen, pikir Nanta.


"Kak Rumi, dimobil Bang Larry kita barter." kata Daniel begitu Rumi mendekat.


"Oke." jawab Rumi terkekeh, tadi dia penuhi keinginan Daniel yang mengajaknya bertukar tempat.


Daniel masuki mobil Mike dengan wajah bahagia, walaupun harus duduk paling belakang ditemani Seiqa, padahal Dania sudah minta Seiqa duduk dibangku tengah tapi khawatir Dania ingin rebahan maka Seiqa menolak.


"Elu yang setir Nan, Dania biar didepan." pinta Mike pada Nanta.


"Mau Dan pindah depan?" tanya Nanta.


"Daniel saja yang didepan." kata Dania yang sudah dapat posisi enak, enggan untuk pindah lagi. Tentu saja Mike senang bisa berduaan dengan Seiqa duduk dibelakang.


"Ingat belum muhrim." pesan Nanta saat lajukan kendaraannya. Semua sudah duduk diposisi yang sudah diatur.


"Iya Pak Ustadz." jawab Mike tertawa.


Dimobilnya, Larry tertawakan Daniel yang acungkan jempol kearah Larry saat pindah duduk di depan. Tambah enak ngobrolnya sama Nanta kalau begini. Walaupun ada Mike yang kadang suka provokasi Nanta untuk bercandai Daniel.


"Kenapa tuh bocah?" tanya Doni yang duduk disebelah Larry.


"Godain gue karena dia duduk disebelah Nanta." Larry tertawa.


"Tadi minta aku tukar tempat supaya bisa dekat Nanta." Rumi ikut tertawa.


"Kamu tidak tolak." tanya Dona.


"Tidak, dia janji mau bintangi iklan yang aku tawarkan." kata Rumi tertawa.


"Kamu tawari Daniel iklan apa?" tanya Larry penasaran.


"Multivitamin." jawab Rumi tersenyum.


"Daniel ganteng, punya nilai jual." jawab Rumi lagi.


"Dia setuju?" Larry tidak percaya, Daniel pernah ditawari jadi model pakaian bersama Redi tapi menolak.


"Setuju tuh, dengan syarat aku pindah mobil." jawab Rumi.


"Kenapa?" tanya Rumi pada Larry.


"Tidak apa." Larry tersenyum simpul.


"Mungkin dia mau kumpulkan uang buat modal nikahi Balen." jawab Doni membuat seisi mobil terbahak tertawakan Daniel.


"Kenapa begitu?" tanya Rumi.


"Waktu bilang mau serius sama Seiqa, Mike dibantu Om Micko Papanya Dania." Dona tertawa.


"Eh buset, temen gue tuh dighibahi." Larry tertawakan Dona.


"Ya kan aku bilang Daniel lebih berani dari Mike. Dia berani bilang Nanta kalau dia mau jadi suami Balen nanti." kata Dona lagi.


"Kamu dengar?" tanya Doni.


"Dania cerita." jawab Dona membuat Doni menepuk dahinya. Istrinya ini paling cepat dapat berita.


"Gosip saja." kata Doni gelengkan kepala.


"Hanya dikalangan kita saja kok." jawab Dona memang benar begitu, ia tidak pernah ceritakan Mike pada yang lain, ia hanya membahas saat bersama sahabat suaminya.


"Kamu kira aku penggosip handal." sungut Dona.


"Takutnya begitu." jawab Doni.


"Tenang saja, aku lebih pilih jadi peshopping handal." jawab Dona menepuk bahu suaminya.


"Habis deh duit gue." kata Doni membuat mereka kembali tertawa.


Dimobil Nanta, Daniel senyum-senyum saja senang jadi navigator Abang Iparnya. Langsung dia anggap Abang Ipar biar saja disuruh Abangnya minum vitamin sering-sering.


"Bang, aku juga mau shooting iklan loh." lapornya pada Nanta.


"Rumi tawari kamu?" tanya Nanta.


"Iya iklan multivitamin. Senin aku kekantornya, harus ditemani apa tidak sih?" tanya Daniel


"Sudah punya ktp belum?" tanya Nanta.


"Belum." jawab Daniel jujur.


"Harus ada pendamping deh, kan kamu harus tanda tangan kontrak." Nanta ingat Balen yang harus didampingi.


"Abang Leyi saja yang dampingi aku." katanya tersenyum.


"Iya boleh, tapi ijin dulu sama Papa dan Mama loh." Nanta ingatkan Daniel.


"Harus ya?" tanya Daniel.


"Harus dong biar rejekimu lancar dan penuh berkah." kata Nanta sambil fokus menyetir.


"Iya nanti aku bilang Papa sama Mama." Daniel menurut.


"Pintar." kata Nanta perlakukan Daniel seperti anak kecil.


"Nanti uangnya untuk apa Daniel?" tanya Mike kepo.


"Tabung saja." jawab Daniel tertawa senang.


"Hebat betul sih pada dapat tawaran iklan." Dania tertawa.


"Kakak mau?" tanya Daniel.


"Tidak usah." jawab Nanta cepat. Dania langsung terbahak.


"Balen kok boleh, Kak Dania tidak boleh?" tanya Daniel pada Nanta.


"Balen kan belum punya suami." Nanta tersenyum.


"Suami boleh larang istri ya?" tanya Daniel.


"Boleh dong." jawab Mike yang sebentar lagi jadi suami.


"Nanti Balen tidak aku larang deh jadi model." kata Daniel tersenyum.


"Memangnya kamu pasti jadi suaminya Balen." Mike mencibir.


"Yah siapa tahu, iya kan Bang." lagi-lagi minta persetujuan Nanta.


"Iya." jawab Nanta terbahak, lucu sekali Daniel.


"Nanti juga lihat cewek cakep disekolah atau dikampus lupa sama singkong rebus." kata Mike terbahak.


"Siapa singkong rebus?" Daniel bingung.


"Balen kan seperti singkong rebus waktu kecil." Nanta tertawa.


"Ish calon Istriku dibilang singkong rebus." sungut Daniel tidak terima Balen dipanggil begitu.