I Love You Too

I Love You Too
Pedagang online



Meski sedikit kecewa karena tidak bisa menunjukkan betapa mengagumkannya aksi duet Roma dan Nona pada keempat sahabatnya secara langsung, terlebih Kiki ingin sekali mengadakan selamatan kecil untuk Nanta, mau tidak mau acara tersebut batal karena padatnya jadwal Kenan dan Raymond di Jakarta.


"Lain kali saja, kan masih bisa bulan depan." kata Kenan pada Kiki dan Reza yang mengantar mereka ke bandara.


"Tapi tidak ada Raymond dan Roma." jawab Reza tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya.


"Nanti saja kalau Ray dan Roma ke Jakarta lagi." kata Raymond pada ayahnya.


"Iya Ayah dan Bunda harus menunggu beberapa bulan lagi, ah susahnya kalau pisah kota begini." keluh Kiki ikut kecewa.


"Nanti aku cuti khusus deh Bunda, setelah semua bisa aku handel sepeninggalan Om Kenan. Bunda tenang saja." janji Raymond pada Bunda Kiki.


"Kamu disana baik-baik ya, tidak ada Om Kenan."


"Iya Bunda, aku juga rada kikuk membayangkan harus sendiri disana tanpa Om Kenan, Walaupun kadang Om ini sedikit menyebalkan." jawab Raymond menggoda Om Kenan.


"Nanti kamu rasakan, rindu itu berat Ray. Tidak ada Om dan Nanta yang sering kamu jahili." kekeh Kenan disambut tawa yang lain.


"Kamu sudah pamit sama Wilma, Nan?" tanya Bunda Kiki sambil tersenyum jahil.


"Ih Bunda, seperti apa gitu pakai pamit."


"Memang tidak saling telepon?" tanya Nona ikut menggoda Nanta.


"Aku tuh cuma ngobrol kalau Wilma datang kerumah Ame, kan aku main basket di taman dia ikut nimbrung. Tidak sedekat itu Bunda saling tukar nomor telepon." kata Nanta menjelaskan, Enji dipanggil Ame oleh anak dan keponakannya, Raymond dan yang lain pun memanggil Enji dengan sebutan Ame.


"Loh kata Ame kalian pacaran?" kata Kenan ikut menggoda.


"Ih Papa, kan kemarin ditelepon aku sudah bilang hanya teman. Kami akrab kalau bertemu saja." Nanta menjelaskan pada Papanya.


"Wah Wilma pasti kecewa kalau tahu kamu kembali Ke Malang, Nan." kata Roma pada Nanta.


"Bang Ray punya nomor handphonenya, kamu mau?" Ray menawarkan pada Nanta.


"Tidak." jawab Nanta kesal.


"Kenapa tidak, kan akrab." desak Raymond, Reza tertawa saja.


"Ya tidak saja, terima chat yang ada sekarang saja aku sudah pusing." Nanta menggoyangkan handphonenya.


"Mana coba lihat." Raymond tampak Kepo segera mengambil handphone ditangan Nanta, kemudian terbahak saat melihat ratusan pesan yang belum terbaca, tidak semua pesan yang masuk ada di phone book Nanta. Roma pun ikut tertawa melihatnya, belum ada yang dibalas Nanta, kebanyakan kalau dilihat foto profilenya adalah wanita. Mereka mengucapkan selamat pada Nanta.


"Nan, kamu seperti pedagang online ya, chat ratusan begini berderet. Coba bikin status dibalas satu-satu ya sis, dimulai dari bawah." kata Roma sambil terbahak. Semua ikut terbahak dibuatnya.


"Dapat nomor handphone kamu dari mana?" tanya Nona.


"Ini mungkin teman-temanku disekolah, kan dibuku tahunan itu dicantumkan nomor handphone." jawab Nanta menyugar rambutnya.


"Banyak penggemarnya ya, seperti siapa sih?" tanya Reza terkekeh.


"Seperti Ayah dan Papa ya?" tanya Nanta melihat pada Reza dan Kenan yang duduk didepan.


"Tidak, kamu lebih populer." jawab Kenan tersenyum melalui kaca spion.


"Sebenarnya Om juga populer kan." kata Roma memastikan.


"Tidak!" tegas Kenan cepat, tidak mau istrinya berpikir macam-macam.


"Duh dua orang saja yang mengganggu bikin aku emosi, apalagi seperti Nanta yang seperti pedagang Online." Nona langsung saja terpancing, Kenan tidak menanggapi.


"Tenang saja, kalau mereka macam-macam kita sikaaattt." kata Roma tertawa memandang Nona.


"Sikat pakai not balok." sahut Raymond membuat keduanya tertawa.


Tidak terasa mereka tiba di bandara Soekarno Hatta, meskipun masih banyak waktu, begitu turun Mobil setelah bersalaman pada Reza dan Kiki, kelimanya langsung masuk kedalam, Roma dan Nona menuju cek in konter, sementara yang lain menunggu di pojokan.


"Papa dan Bang Ray langsung kekantor, Kamu diantar Kak Nona dan Kak Roma ya." kata Kenan pada Nanta ketika mereka sudah tiba di Kota Malang. Saat ini mereka sedang mengikuti Pak Atang menuju ke parkiran.


"Aku ikut ke kantor Papa boleh, Mama dikantor kan?" kata Nanta yang tidak sabar ingin bertemu Mamanya.


"Nanta mau ikut ke kantor, kamu bagaimana?" tanya Kenan pada Nona.


"Ke salon saja yuk, Kak." ajak Roma pada Nona.


"Boleh Mas?" tanya Nona pada Kenan.


"Boleh." jawab Kenan tersenyum.


"Kesalon saja atau melipir ke Mal, Sis?" tanya Raymond menggoda Roma.


"Ke Salon terus makan di Mal, gitu kan Kak?" Roma minta persetujuan Nona.


"Kita makan ditempat lain saja." kata Nona pada Roma.


"Dibatu, banyak restaurant disana, Bagus buat foto." Nona memberi ide.


"Saya tuh cuma ijinkan kalian ke salon, ini kenapa idenya jadi melebar ke batu. Makan didekat sini saja." kata Kenan tegas.


"Ih Om posesif." Raymond terkekeh.


"Bukan begitu Ray, nanti malam kalau Nona capek Om yang repot. Bakal jadi Oma-oma yang minta dipijit." Kenan mengangkat dahinya menunjuk Nona.


"Rese." Nona mencubit perut Kenan tanpa bisa menahan senyumnya.


"Kamu jangan jauh-jauh jalannya sayang, nanti saya mau ajak kamu ke rumah Papa." kata Kenan saat masuk kedalam mobil. Nanta sudah mengambil posisi duduk disebelah Pak Atang atas arahan Kenan.


"Iya." jawab Nona menurut.


"Roma, kita makan bakso President mau?" tanya Nona pada Roma.


"Aku belum pernah, enak ya Kak?"


"Sensasional, apa lagi duduk diluar." sahut Nanta terkekeh.


"Kenapa?" tanya Roma penasaran.


"Coba saja langsung. Nanti ceritakan ya." kata Nanta lagi masih tertawa.


"Itu didekat rel kereta, jadi kamu kalau makan suka ada kereta api lewat." kata Kenan menjelaskan.


"Ih Papa jangan diceritakan." protes Nanta pada Kenan.


"Cuma begitu saja apanya yang sensational." Roma jadi tertawa.


"Berisik." kata Nona terkekeh.


"Nanti cerita ya kasih tahu kesan-kesannya." Nanta jadi geli sendiri.


"Iya." jawab Roma tersenyum pada Nanta.


"Kita kerja dulu ya." pamit Nanta pada Roma dan Nona saat turun di lobby kantor Kenan. Pertama kali Nanta menginjakkan kakinya lagi di kantor Papa sejak perceraian kedua orang tuanya.


"Oke bye sis." kata Roma melambai genit pada Nanta, membuat semuanya tertawa.


"Ish Kak Roma, menyebalkan." kekeh Nanta pada Roma.


"Aku ingat deretan pesan kamu hahaha." Roma terbahak.


"Ingat ya hanya kesalon dan makan bakso." kata Raymond mengingatkan Roma sambil mengedipkan matanya tersenyum pada Roma.


"Kalau Om Kenan mengijinkan kita maunya lebih." kata Roma tertawa.


"Jangan ya Rom, Jam empat kalian sudah harus sampai disini." tegas Kenan pada Roma.


"Hahaha iya Om ku."


"Jangan lupa nanti ceritakan pengalaman makan baksonya." kata Nanta pada Roma.


"Ah cuma makan bakso dipinggiran rel saja kan. Ada apa lagi selain bakso disana?"


"Ada sate ayam, bungkusin aku ya nanti." pesan Nanta lagi, rupanya Nanta penggemar sate ayam. Nona jadi teringat saat Kenan pertama kali memeluknya sepulang dari menemani Nanta makan tengah malam beberapa bulan yang lalu.