I Love You Too

I Love You Too
Latihan



Jumat menjelang weekend, semua berjalan seperti biasa, kecuali Balen yang sudah lima hari ini masih juga bertahan tidak mau telepon Aban Leyi yang selama ini dibanggakannya, setiap kali ditanya jawabannya hanya sebatas gitu.


"Mana sih Baen gue kangen sekali sama singkong cantik nih?" tanya Larry saat Nanta menghubunginya dalam perjalanan mau ke Warung Elite.


"Tidak tahu, kita serumah juga bingung setiap tawarkan mau telepon Aban Leyi, dia bilang tidak mau." jawab Nanta tertawakan Larry.


"Tanya dong kenapa." Larry penasaran.


"Hanya sebatas, habis Aban Leyi ditu sih." jawab Nanta.


"Berarti si unyil kesal sama gue?" tanya Larry.


"Meneketehe, minggu kan ketemu saat berenang, tanya saja sendiri."


"Rese... pagi-pagi sepi tahu, tidak terima morning call sudah lima hari, gue telepon juga elu tidak angkat." sungut Larry kesal.


"Telepon gue kalau pagi dipegang Richie sama Balen, entah lihat apa. Kalau elu telepon tidak diangkat, berarti Balen sengaja tuh tidak mau angkat.


"Rese juga nih si unyil, lagi pengen apa sih dia?" tanya Larry, maksud hati mau belikan hadiah hari minggu nanti.


"Mau Oten aban Leyi." Nanta dan Larry tertawa bersamaan.


"Aban nyerah deh kalau begitu." Kembali Larry terbahak.


"Oke sampai nanti sore ya." Nanta akhiri teleponnya.


Rencananya sore nanti, Nanta bersama sahabatnya akan melaksanakan latihan selama satu jam Non Stop sesuai janji mereka saat itu. Bukan karena Larry mulai suka sama Rumi, yang sekarang dalam pengawasan ketat Mario, tetapi karena mereka memang sudah berjanji sebelumnya, demi Indonesia mereka akan berlatih setelah mereka pulang dari S'pore.


"Sore ini aku pulang tepat waktu ya?" ijin Nanta pada para bosnya ketika menjelang sore.


"Jadi latihan basket?" tanya Erwin pada Nanta yang melongok dipintu ruangan petinggi.


"Jadi, Po." jawab Nanta tersenyum manis.


"Masuklah, Boy. Kalian berempat saja?" tanya Reza ingin tahu, Nanta mengikuti masuk kedalam ruangan dan duduk dikursi tamu Reza.


"Ada yang lain, mereka bantu kita hitung waktu, nanti gantian saat mereka yang mulai kita yang hitung waktu mereka." jawab Nanta kembali tersenyum.


"Kapan iklannya Nanta tayang nih?" tanya Andi pada Mario.


"Belum tahu, urusan Aditia sama production house deh. Yang penting kalian sudah dibayar semua kan?" Mario terkekeh memandang Nanta.


"Nanta sih tidak tayang tidak masalah." sahut Erwin terbahak memandang Nanta.


"Jangan dong Popo, Balen sudah pamer kesana kemari kalau dia mau masuk tv." jawab Nanta pikirkan Balen, semua terbahak ingat singkong rebusnya Nanta.


"Iya, heboh sekali itu setiap telepon gue tanya sudah lihat Balen di TV belum." Reza terbahak ingat Balen yang tadi pagi menghubunginya tanyakan itu.


"Padahal Rumi sudah bilang Balen, kalau tayang akan dikabarkan." Nanta tertawa geli sendiri.


"Ya sudah sana jalan." kata Mario pada Nanta.


"Lima belas menit lagi kok baru aku jalan. Senin kita sudah bisa ke Cabang utara, Pi?" tanya Nanta pada Mario.


"Papi lagi hilang konsentrasi, urus Rumi dulu sebentar, sabar ya." Mario gelengkan kepalanya.


"Bagaimana Rumi, Pi?" tanya Nanta pada Mario.


"Beberapa hari lalu sudah Mami bawa ke psikolog, doakan saja. Kita butuh waktu, bagaimana sih yang sakiti Papanya sendiri, yang harusnya jadi cinta pertama anak gadisnya." Mario menghela nafas.


"Bokapnya juga mesti di bawa ke psikolog gue rasa, merusak mental anak. Ada anak selain Rumi?" tanya Reza pada Mario.


"Rumi satu-satunya dari istri yang sebelumnya. Kalau sama istri yang sekarang ada empat anak. Masih krucil." jawab Mario tersenyum.


"Sama anaknya yang sekarang begitu juga tidak, kasih pisau kalau marah?" tanya Andi, Mario mengedikkan bahunya, Nanta dengarkan saja.


"Tidak tahu ya, elu tahu sendiri gue jarang komunikasi sama para sepupu. Tahu cerita Rumi juga belakangan. Ternyata Rumi bukan hanya di ancam dengan pisau, tapi juga pernah diancam mau disundut rokok. Stupid lah saat masih tumbuh kembang sampai besar dikasari begitu " Mario jadi kesal sendiri.


"Tidak mau cari tahu tentang anaknya yang di Brunei? gue khawatir seperti Rumi juga." Andi jadi berpikir keras.


"Biarkan saja Tante Lani sama bokap yang urus deh, sampai sekarang mereka juga belum hubungi gue." sungut Mario sedikit kesal, mestinya Papinya tahu kalau Rumi sekarang sudah tinggal di rumah Mario, karena Mario kerahkan beberapa orang untuk bantu pindahkan barang Rumi dari tempat tinggal sebelumnya.


"Nan, coba atur waktu kita ke Brunei minggu depan." kata Mario membuat sahabatnya terbahak, belum juga satu menit sudah berubah pikiran.


"Ish kalian bikin gue kepikiran, bagaimanapun mereka keponakan gue juga." desis Mario menatap ketiga sahabatnya.


"Hari rabu santai Pi, mau menginap apa balik hari?" tanya Nanta pada Mario.


"Menurut kalian bagaimana?" tanya Mario minta pendapat sahabatnya.


"Suruh orang dulu awasi, nanti setelah dapat cerita baru temui sepupu elu." kata Erwin pada Mario.


"Oke, rabu pesan tiket Nan, malam ini orang gue ke Brunei deh, lumayan bisa awasi sampai rabu kan." Mario mengangkat alisnya.


"Siap Papi, aku berangkat sekarang ya." ijin Nanta pada semuanya.


"Bagaimana sih latihan satu jam Non Stop?" tanya Erwin pada Nanta.


"Popo mau lihat? ke gelanggang yuk Po, aku tunggu." kata Nanta pada Erwin.


"Penasaran sih, tapi besok pagi acaranya Wilma." Erwin terkekeh.


"Elu tidak ikut ritual adat?" tanya Mario pada Erwin.


"Mana ada pakai adat, Liana sama Leo koboi juga seperti kita." Erwin terkekeh.


"Tapi pakai Wedding Organizer loh, Po." kata Nanta pada Erwin.


"Iya, tidak ada yang bantu urus, Anggita sedang hamil juga kan. Ame mau bantu, Liana menolak, selain khawatir akan kesehatan Ame, Liana mau kita duduk santai saja." jawab Erwin.


"Iya, aku juga tanya Ando mau dibantu apa, tidak usah katanya. Malah Wilma tuh minta dijitak." Nanta jadi tertawa sendiri.


"Minta angpau dimuka ya?" tanya Erwin tertawa, karena kembarnya pun diminta begitu oleh Wilma. Hanya beraninpada Nanta, si Kembar, Raymond dan Romi sajam Nanta tertawa anggukan kepalanya.


"Kocak, anaknya Leo ya." Mario tertawa.


"Seperti Liana dulu kan, elu jadi korbannya." Tawa Andi langsung meledak


"Rese..." Mario ikut tertawakan dirinya sendiri.


"Ya sudah sana jalan. Kalau ada video kalian latihan saja nanti Kirim ke Popo." kata Erwin pada Nanta.


"Untuk apa Po?" tanya Nanta heran.


"Popo hanya penasaran, seperti apa sih latihan kalian yang nonstop itu." Erwin terkekeh.


"Siap Popo." Nanta ikut terkekeh, lalu menyalami semuanya segera berangkat menuju gelanggang di mana sahabatnya sudah menunggu. Tadi Mike sudah mengabari jika ia sudah menunggu di parkiran menanti kehadiran yang lain.