
Setelah berpamitan dengan Oma Misha, Tante Lulu juga Om Micko, Nanta dan Dania bergandengan tangan menuju mobil Raymond yang sudah menunggu mereka didepan rumah, sementara Winner dan Lucky sudah berangkat ke sekolah.
"Tadinya aku mau menginap dirumah Papa." kata Nanta pada Abangnya yang cengengesan saja melihat Nanta dari tadi.
"Lebih enak disini kan." kata Raymond tertawa jahil.
"Sama saja sih, mau disini atau dirumah Papa tapi aku kangen kamarku." kata Nanta tertawa.
"Balen tanya kamu terus." kata Roma pada Nanta.
"Iya, aku janji hari ini tidur bersama Balen, eh malah berangkat ke Bandung." Nanta sedikit menyesal mengecewakan adiknya.
"Telepon Mas." pinta Dania pada suaminya.
"Belum bangun jam segini." kata Nanta pada istrinya.
"Rom, Dania panggil Nanta Mas, loh. Kamu panggil aku Ray, Ray saja." sungut Raymond pada istrinya.
"Iya Mas Raymond, mau dipanggil Mas juga kah?" Roma terkekeh menggelitiki Raymond yang sedang menyetir, tentu saja Raymond tertawa kegelian.
"Abang lah biar sama." kata Nanta pada Roma.
"Bang Lemon I love you." kata Roma terkekeh menggoda suaminya.
"Bang Lemon, Bang Lemon." protes Raymond sambil tertawa.
"Aku bilang I love you loh tidak dijawab." sungut Roma.
"I love you too, so much so much sayang." jawab Raymond membuat Nanta terkekeh saling berpandangan dengan Dania. Manis sekali pemandangan didepan mereka pagi ini, kemesraan Raymond dan Roma.
"Dalam rangka apa sih kita ke Bandung?" tanya Nanta pada Abangnya.
"Temani kalian honeymoon." jawab Raymond santai.
"Hahaha dekat sekali honeymoonnya, pakai ditemani lagi. Kak Roma apa tidak masalah dimobil selama itu, kandungannya bagaimana?" Nanta tampak khawatir.
"Ini yang aku suka dari Nanta, perhatian." Roma langsung saja melirik suaminya.
"Adik siapa dulu." Raymond malah bangga punya adik seperti Nanta.
"Kamu mestinya lebih perhatian lagi, nih anakmu tanya dong kondisinya." protes Roma.
"Anak kita pasti senang temani Om Nanta bikin adek." kata Raymond terkekeh.
"Ish Istriku merah padam ini." Nanta tertawa memandang istrinya. Ingin sekali memeluknya tapi malu sama Raymond dan Roma. Benar sekali wajah Dania memanas saat mendengar perkataan Raymond.
"Kak Roma, Bang Ray itu sangat perhatian loh, aku belajar banyak dari Bang Ray." Nanta malah membela abangnya.
"Dasar Abang adek." Roma terkekeh.
"Mereka saling back up. Percuma saja komplen dihadapan mereka" kata Roma pada Dania. keduanya pun tertawa.
"Dan... kamu belum pernah ke Bandung kan?" tanya Nanta pada Dania.
"Belum." jawab Dania.
"Kita kuliner disana. Paris Van Java." Nanta langsung saja bergaya ala tour leader.
"Makanan apa khas Bandung Mas?" tanya Dania penasaran.
"Batagor, Mie kocok banyak lah." Nanta mengingat lagi kuliner khas Bandung.
"Kalau aku sih malah makan ayam goreng Jakarta kalau di bandung." Roma ikut promosi.
Perjalanan Jakarta Bandung mereka tempuh kurang lebih tiga setengah jam. Untung saja Roma tidak ada keluhan, ia malah menikmati perjalanan yang ada, tidak hentinya mengajak semua yang ada di mobil bercanda, terutama Raymond agar tidak mengantuk menyetirnya.
Sementara Nanta tiap sebentar menguap, beberapa hari ini aktifitasnya sedikit lebih banyak dan menyita energi. Dania sudah dari tadi tertidur bersandar di lengan Nanta.
"Pengantinnya terlalu lelah." Raymond mentertawakan adiknya.
"Ish aku kan sibuk Bang. Kurang istirahat, jumat setelah menikah langsung ke GBK pulang malam, Sabtu seharian sampai malam keluar rumah, minggu dari habis shubuh juga sudah keluar, sekarang senin pun begitu." Nanta menjelaskan kepada Abangnya.
Hahaha padat ya, belum lagi dikamar kan." Roma terbahak.
"Ish Kak Roma mancing-mancing." Nanta ikut terbahak.
"Kasihan tuh Dania, tidurkan saja di paha kamu Nan." perintah Roma pada Nanta, melihat posisi tidur Dania yang terlihat tidak nyaman. Nanta melirik pada istrinya kemudian tersenyum.
"Biarkan saja dulu begini."
"Nanti lehernya sakit." kata Roma.
"Nanti terbangun kalau aku bergerak. Lagi pula kalau begini dia bisa cium aroma tubuhku." jawab Nanta, langsung saja Raymond dan Roma bersorak.
"Ah Kak Roma dan Bang Ray ini goda aku terus, aku serius." Nanta bersungut.
"Ya kan Kak Roma hadir dipernikahanku."
"Iya makanya lucu, ternyata kamu tuh sudah besar." kata Roma lagi tertawa.
"Kita yang sudah tua sayang." kata Raymond ikut tertawa.
"Ish sok tua ah." Nanta terbahak. Benar kata Roma posisi Dania semakin lama semakin merunduk, pulas sekali istrinya tidur.
"Duh kok aku gemas ya." gumam Nanta membuat Raymond terkekeh.
"Cium saja kalau gemas." kata Raymond pada adiknya.
"Masa didepan Bang Ray dan Kak Roma. Nanti kalian iri?" kata Nanta tengil.
"Cium sayang." kata Raymond pada istrinya, langsung saja Roma mencium pipi suaminya.
"Ish kalian ini." dengus Nanta menggelengkan kepalanya.
"Siapa yang iri, kamu kan?" Raymond terbahak, makin mengerucut saja bibir Nanta jadinya. Akhirnya ia membenarkan posisi tidur istrinya, yang tidak terganggu saat Nanta meletakkan kepalanya di paha Nanta.
"Benar-benar seperti Mamon, tidur di Mobil bisa pulas begini." kata Nanta menggelengkan kepalanya.
"Bunda juga begitu." kata Raymond ingat Bunda Kiki.
"Kak Roma tidak ya?" tanya Nanta.
"Dari kecil aku selalu ditugasi Mami temani Papi ngobrol kalau Papi sedang menyetir." jawab Roma.
"Maminya tidur?" tanya Nanta tertawa.
"Tidak, Mami juga ikut ngobrol. Kadang bernyanyi bersama sepanjang jalan." Roma jadi tersenyum mengingat masa kecilnya.
"Kamu tidak pernah bernyanyi saat aku nyetir kok?" tanya Raymond pada istrinya.
"Karena kamu tidak pernah menyalakan music saat kita di Mobil." Roma tertawa.
"Iya aku jadi bingung mau dengarkan yang mana, karena selalu ada pembicaraan kita diantara radio yang menyala, jadi lebih baik ngobrol saja." kata Raymond terkekeh.
Mereka pun akhirnya tiba dikota Bandung, Dania masih tertidur. Nanta bangunkan istrinya pelan tapi tidak juga terbangun.
"Tidur seperti pingsan saja." Nanta terkekeh.
"Aku check in kan dulu kamarnya, nanti kalau sudah dapat baru kamu bangunkan istrimu. Tunggu saja di Mobil." perintah Raymond pada adiknya, selalu tidak tega membangunkan orang yang sedang tidur pulas, untung saja istrinya tidak pernah tidur di Mobil.
"Iya." jawab Nanta menurut. Nanta semakin gemas saja melihat Dania tidur dengan mulut sedikit terbuka. Dibangunkan dari tadi tidak terbangun, mungkin harus di cium, pikir Nanta. Langsung saja Nanta menciumi pipi istrinya sambil berbisik.
"Bangun, sudah sampai."
"Hmm..." Dania terbangun begitu merasakan nafas suaminya begitu dekat dengan wajahnya.
"Bangun juga akhirnya, kita sudah ditinggal Bang Ray dan Kak Roma ini." kata Nanta pada istrinya.
"Sudah sampai?" tanya Dania setengah nyawa.
"Sudah." Nanta tersenyum manis.
"Duh senyumnya jangan begitu." gumam Dania sambil mengerjab, Nanta terkekeh mendengarnya.
"Maunya aku senyum bagaimana?" tanyanya menggoda Dania yang sedang berkaca membenarkan rambutnya.
"Hehehe, jangan senyum begitu sama cewek lain ya." kata Dania memandang Nanta.
"Jangan lebay." Nanta kembali mengacak rambut Dania yang sudah rapi.
"Aku serius." kata Dania bersungut kembali berkaca, suasana basement yang gelap dan sepi membuat pikiran Nanta berkelana.
"Dan... ayo turun jangan lama-lama disini." ajak Nanta tidak sabar.
"Kenapa?" tanya Dania.
"Aku jadi berpikir aneh, ingin lakukan itu di Mobil." Nanta menyeringai jahil.
"Hehehe kapan-kapan kita coba." Dania terbahak menanggapi ide gila suaminya.
"Nanti saja kalau punya rumah sendiri." kata Nanta mengangkat alisnya.
"Hah?"
"Iya di garasi rumah kita saja jangan di parkiran atau ditempat umum." kata Nanta lagi buru-buru keluar dari Mobil dan mematikan Mobil Raymond, walaupun Abangnya belum menghubunginya. Dania tertawa saja mengikuti suaminya turun dari Mobil.
"Jangan sampai kita di grebek warga atau satpam." Nanta berbisik sambil terbahak, Dania ikut tertawa memukul pelan bahu suaminya, yang pikirannya selalu saja kesana. Mereka pun bergandengan tangan menyusul Raymond dan Roma masuk ke hotel.