
"Aku kangen mama papa kak." kata Kiki ketika mereka sudah berada dikamar.
"Telepon sayang, video call."
"Hiks pengen peluk mereka." Kiki mulai menangis. Reza mendekati istrinya dan memeluk juga mengusap bahunya.
"Sayang malu ah, kamu sudah ada aku loh. Jangan kaya anak kecil, apalagi sebentar lagi ada dedek bayi disini." Reza mengusap perut Kiki yang masih rata. Kiki masih terisak mengingat mama papanya yang baru saja beberapa hari tak bertemu.
"Kak Eja sih ga ngerasain apa yang aku rasa." katanya disela isak tangisnya.
"Ih, mama papa aku juga pergi ke malang urusin Kenan. Kita sama dek, tapi aku ga nangis tuh."
"Huhu, kakak kan laki-laki." Kiki memukul pundak suaminya.
"Kamu juga perempuan." Reza tak mau kalah membalas Kiki dengan menepuk pundaknya lalu mengecup keningnya.
"Istri Reza Suryaputra ga boleh cengeng." katanya lagi sambil mengecup pipi Kiki kiri dan kanan berganti-ganti tak henti-henti.
"Kak Eja... sama aja kaya mama." teriak Kiki gelagapan.
"Ini beda nih." Reza mengecup bibir Kiki lama dan akhirnya terjadilah yang Reza inginkan, Kiki pun tak menolak melupakan rasa kangennya pada papa dan mama, isak tangisnya pun kini berganti dengan suara yang lain, yang membuat Reza semakin menjadi-jadi.
...........
Keesokan harinya Kiki sudah berdandan cantik sesuai keinginan Reza, karena sudah tak bisa menggunakan lipstik dengan warna sekehendak hatinya dan Reza pun sudah rapi, terlihat tampan dengan poloshirt dan celana jeansnya. Santai saja, bersiap sarapan tapi menunggu rombongannya yang sedang baru pada mandi.
Tadi pagi-pagi sekali Kiki sudah sibuk membalas pesan dari Intan dan Monik, membahas rencana keberangkatan mereka ke Bali. Kiki belum bertukar nomor handphone dengan Regina. Jadi Reza saja yang berhubungan dengan Mario.
"Sayang, Regina belum punya nomor handphone jakarta, dia masih pakai nomor S'pore. Nanti kalau sudah punya nomor baru, kamu diberitahu." Kata Reza setelah membaca pesan dari Mario ketika Kiki menanyakan nomor handphone Regina agar mudah berkomunikasi.
"Kak, tanyakan juga sama Kak Erwin nomor handphone Kak Enji." pinta Kiki.
"Kemarin kamu ga tanya langsung?"
"Aku mau tanya saat dia pulang tapi akhirnya aku lupa. Aku suka kak Enji."
"Kamu jangan ikutan barbar juga ya dek." pesan Reza tak ingin Kiki berubah.
"Ga lah kak, aku ya aku, Enji ya Enji, begitu juga Intan ya Intan."
"Apasih ya ya ya." Reza mencubit pipi Kiki gemas.
"Kak Eja jangan mulai-mulai, badanku sudah rentek ini. Ngantuk juga kurang tidur semalam." Kiki khawatir Reza akan mulai beraktifitas, membuat Reza terbahak.
"Loh kamu ngapain, kok bisa kurang tidur?" Reza berlagak bodoh menggoda istrinya.
"Ga tau!!!" sungut Kiki berbarengan dengan dering telepon pada handphonenya.
"Mamaaaaa kangeeeen." teriak Kiki setelah menggeser tombol hijau.
"Ih mama ga kangen lu Ki, mas Herman nih yang kangen." terdengar suara Wina yang menggunakan nomor handphone mama.
"Ih kenapa pakai nomor mama sih, ga punya data ya."
"Enak aja, handphone kita lobat, nih kita lagi dijalan mau ke JB."
"Curaaang, kalian jalan-jalan. Aku ga diajak."
"Kamu kan lagi enak enak berduaan Ki." sahut Herman sambil tersenyum aneh.
"Mas Herman ngapain kangen sama aku?"
"Ish kalau aku nangis juga karena kangen mama papa."
"Nah berarti bener kan kamu nangis. Tuh ma anaknya masih cengeng aja." Herman mengadu pada Mama yang duduk didepan, disamping Papa yang sedang mengemudi.
"Kamu ga malu sama Reza Ki, nangis begitu." kata Mama menggoda Kiki.
"Ih aku ga nangis, iya kan kak." Kiki meminta pembelaan suaminya.
"Jangan bohong, semalam Reza chat mama kok." Hmm ketahuan ternyata bukan kontak bathin, tapi sang suami yang melapor pada mama. Kiki melotot pada suaminya.
"Kamu tukang ngadu ya ternyata." katanya mengomeli Reza yang menggaruk kepalanya.
"Ih suami dimarahi begitu, ga boleh nak." tegur Ryan sambil fokus mengendarai laju kendaraannya.
"Huhu papa aku kangeeeen." kata Kiki mulai mewek mendengar suara papa.
"Ih mama tutup ah teleponnya kalau mewek." kata mama tak ingin Kiki menangis.
"Ah mama ga asik, aku kan mau dimanja."
"Kamu kalau kangen papa mama peluk aja suami kamu." kata Ryan membuat Reza senang bukan kepalang.
"Ah papa kan beda."
"Sama aja, papa sudah titip kamu sama Reza, jadi dia perwakilan papa."
Lagi-lagi senyum Reza mengembang, mertuanya sangat mengerti keinginan Reza, Kiki bermanja-manja padanya.
"Ja, gimana kabar kamu?" tanya Ryan pada menantunya.
"Alhamdulillah sehat pa, in syaa Allah senin kami mau ke Bali pa, Kiki ada endors, sekalian deh pa aku ikutan."
"Waaah kalian honeymoon terus ya, Kiki baru berapa minggu jadi istri sudah bolos kuliah lama. Yakin mau lanjut S3?" mama langsung saja menggoda anak mantunya. Semua tertawa mendengarnya.
"Sebentar lagi juga cuti kuliah lu dek, honeymoon terus ya cepat tekdung lah." goda Wina lagi.
"Senang ya cita-cita aku berubah haluan, sepertinya habis dari Bali aku juga harus ke Malang, mama Nina berapa kali nanya kapan ke Malang."
"Malang dingin dek, tambah cepat jadi deh, rapet terus." goda Wina lagi.
"Wah Ki pesan sama Reza jangan ngidam aneh-aneh nanti. Tunggu Wina lahiranlah baru kamu ngidam. Jangan sampai rebutan Mama." Herman tak mau kalah menggoda adik iparnya.
"Kapan mama suruh kita ke Malang dek?" tanya Reza setelah Kiki menutup sambungan teleponnya. Lepas kangennya pada Mama dan Papa dapat pula bonus mas Herman dan kak Winanya.
"Kemarin waktu disemarang, mama bilang lanjut ke Malang kamar kita sudah Mama siapkan."
"Nanti ya dek, habis dari Bali aku urus kerjaan dulu, Lama ga kekantor kerjaanku pasti menumpuk. Yang di Warung mungkin ga terlalu, tapi yang di kantor Papa, sudah banyak sekali berkas yang harus aku tanda tangan. Nanti setelah dari Rumah Sakit, aku sudah minta staffnya tante Misha antar berkas kerumah. Kamu jangan marah ya kalau sampai rumah aku lanjut di ruang kerja papa, kamu bisa packing dan istirahat. Nanti malam kamu pasti sibuk."
"Kak Eja, nanti malam kamu juga harus istirahat, karena kamu lelah seharian aktifitas dan besok shubuh kita harus ke bandara lagi." Kiki memperingati suaminya, selain itu ia juga tak mau wajahnya terlihat kuyu karena kurang tidur dan terlalu lelah.
"Iya, kalau capek juga aku pasti tidur. Yuk ke Resto, mereka sudah menunggu disana." sahut Reza
"Ah kita menunggu dari tadi, mereka malah sudah disana duluan." Kiki protes karena tak berbarengan turun kebawah.
"Aku yang suruh mereka duluan, karena tadi kita lagi online." jawab Reza menggandeng Kiki keluar kamar menuju Restauran. Setibanya disana semua komplit sudah berkumpul dan berfoto bersama.
"Aaah aku ditinggal." gerutu Kiki yang ketinggalan berfoto bersama walaupun sudah diulang Kiki tetap protes karena tak ikut dari awal.
"Kalian lagi tanggung kata kak Eja," jawab Intan, membuat yang lain bersorak. Kiki memandang suaminya dengan mata membesar, sementara Reza hanya cengengesan saja seperti tak terjadi apapun.