
Nanta dan Dania mengantar Nek Pur pulang sesuai keinginan Nek Pur, awalnya Oma Misha ingin ikut Nanta dan Dania, tapi dilarang oleh Micko, karena belum aman jika Nanta dan Dania terlihat berjalan bersama Oma Misha, khawatir terjadi sesuatu yang penuh dengan intrik.
Nek Pur pun membenarkan, bisa saja Peter datang ke rumah Nek Pur karena ingin membawa Dania pergi begitu tahu Dania sudah berkumpul bersama Papanya, karena Peter belum tahu kalau Dania sudah menikah.
"Makanya aku mau jujur sama Mama, Pa." kata Dania sebelum naik ke mobil.
"Kamu mau bilang apa?" tanya Papa.
"Bilang saja kalau ternyata Nanta cucu Suryaputra ditempat Papa bekerja." jawab Dania, Micko pun mengangguk setuju.
"Tapi, handphone Mama belum aktif." kata Dania kemudian.
"Iya, nanti saja senin kamu kabari, senin pasti Mamamu sudah kembali ke kota kan." tanya Papa, Dania menganggukkan kepalanya, karena senin Jack dan adik-adik Dania pasti sudah beraktifitas normal.
"Nanti ketemu di rumah Papa, Boy." kata Micko pada menantunya.
"Iya Om." jawab Nanta tersenyum pada mertuanya. Ia pun melajukan kendaraannya perlahan meninggalkan Om Micko dan yang lain, mereka juga sudah siap pergi ke rumah Kenan, mungkin mereka yang lebih dulu sampai dibanding Nanta dan Dania nanti.
"Nek Pur, tidak apa kan Dania tinggal dirumah Papa dulu." tanya Dania meminta ijin.
"Untuk situasi sekarang lebih aman kamu dirumah Papa, karena ada yang menjaga kamu disana saat Nanta pergi." kata Nek Pur pada Dania.
"Memang Om Peter itu menyeramkan, Nek?" tanya Nanta pada Nek Pur.
"Tampangnya itu sopan sekali, Mas." kata Dania.
"Oh ya?" Nanta tidak percaya.
"Dia itu kalau dilihat secara penampilan sangat menyenangkan, bicaranya halus tapi ternyata penuh tipu muslihat." kata Dania lagi.
"Ish jangan begitu." Nanta mengingatkan.
"Ini kenyataan loh, buktinya ternyata transferan Papa ke Mama balik lagi ke rekening dia, pantas saja Mama tiap aku minta uang selalu bilang tidak punya uang. Mengharap semua dari Jack juga tidak mungkin, sudah mau tampung dan kasih makan aku saja selama sepuluh tahun sudah syukur." kata Dania.
"Itu memang kewajiban Jack deh, dia kan Papa kamu juga." kata Nanta mengacak anak rambut Dania, tidak mau Dania bertumpuk-tumpuk kesalnya.
"Jadi Om Peter ini, baiknya kita apakan? maksudku biar tidak lagi mengganggu kamu dan keluargamu?" tanya Nanta pada Dania.
"Kita datangi saja kekantornya, bagaimana?" Dania terkekeh.
"Ih kalian masuk saran penyamun itu." kata Nek Pur membuat Nanta dan Dania terbahak.
"Apa sih yang mereka khawatirkan?" tanya Nanta.
"Tidak ada, hanya asal Micko dan Misha susah saja." kata Nek Pur.
"Nenek tahu ceritanya?" tanya Nanta.
"Sedikit banyak tahu lah, Nenek kan sudah kenal Micko dan Maya sedari Dania belum lahir. Mereka itu tidak pernah ribut tahu-tahu pisah." kata Nek Pur.
"Masa lalu Nek, mungkin ada yang kita tidak tahu." kata Dania, teringat Mama dan Papanya sudah bahagia dengan. keluarga masing-masing saat ini.
"Iya sih, tapi kamu jadi korbannya." kata Nek Pur.
"Awalnya sih mungkin aku korban ya, tapi sekarang sudah tidak merasa tuh." kata Dania terkekeh.
"Sudah senang punya suami ya?" Nenek menggoda Dania.
"Hehehe Alhamdulillah baru juga satu hari, Nek." celutuk Nanta sambil fokus menyetir.
"Pesan Nenek, semua dibawa santai saja, jangan emosian." kata Nek Pur pada Nanta dan Dania.
"Yah kita kan anak-anak sabar, Nenek tidak lihat." kata Dania terkekeh.
"Terlihat sabar, tapi kadang kalau sama pasangannya sendiri manusia sabar itu malah lebih emosi." kata Nenek tertawa.
"Aduh, semoga kami tidak begitu, Nek." kata Nanta melirik Nek Pur melalui kaca spion.
"Dania nih suka merajuk." kata Nanta pada Nek Pur.
"Ih Mas Nanta, cuma sekali." protes Dania, Nek Pur tertawa mendengarnya.
"Merajuk bagaimana?" tanya Nek Pur kepo.
"Mas Nanta tidak kasih tahu waktu dapat kabar mau ke Amerika, Nek. Aku tahunya saat Mas Nanta cerita sama Papa, padahal aku sudah lebih lama bersama Mas Nanta." adu Dania pada Nek Pur. Nanta tersenyum melirik istrinya.
"Iya tapi aku bukan yang pertama tahu." sungut Dania.
"Ih kesalnya panjang deh." kata Nanta tertawa melirik Dania.
"Mas Nanta sih pancing emosi aku." kata Dania ikut tertawa.
"Nah itu mesti tahan-tahan emosi." kata Nek Pur menepuk bahu Dania.
"Nanti kalau lagi training Camp Mas Nanta mesti rajin kabari aku." kata Dania pada suaminya.
"Iya, kalau ada kesempatan pasti aku kabari." janji Nanta.
"Awas ya kalau bohong." ancam Dania.
"Memang aku pernah bohong?" tanya Nanta terkekeh.
"Ya kali nanti bilangnya sibuk ternyata lagi senang-senang." sungut Dania.
"Pasti senang-senang disana, basket kan memang kesenanganku." Nanta terkekeh.
"Yah maksud aku senang-senang sama cewek lain." kata Dania mencibir, ingat Nanta banyak penggemarnya.
"Tuh Nek, sudah curiga saja." adu Nanta, Nek Pur terbahak.
"Jangan pikir begitu, doakan saja suami kamu selalu dijalan Allah dan takut sama Allah." pesan Nenek.
"Iya, suami tuh di doakan." kata Nanta tertawa.
"Nenek bela Mas Nanta terus." sungut Dania, Nek Pur dan Nanta tertawa bersama.
"Betul ya ternyata kamu ini suka merajuk." Nek Pur terbahak.
"Tidak apa Nek, asal jangan keseringan." kata Nanta tertawa.
Tidak terasa mereka sudah sampai dirumah Nek Pur, Nanta turun membawakan barang-barang bawaan Nek Pur, sedikit lebih banyak karena Oma Misha memberikan oleh-oleh untuk Nek Pur.
"Kalian hati-hati ya." pesan Nek Pur pada Dania dan Nanta.
"Nenek juga hati-hati dirumah, kalau ada apapun kabari Dania." kata Dania pada Nek Pur.
"Tenang, seperti biasa pasti Nenek akan hubungi kamu." kata Nek Pur pada cucu angkatnya.
"Nek, terima kasih ya. Nanta pamit dulu." Nanta pamit pada Nek Pur.
"Dania juga Nek." Dania ikut pamit, mereka berdua menyalami Nenek.
"Assalamualaikum, Dania apa kabar?" mereka dikejutkan oleh suara seorang Pria dari luar pagar. Semua menoleh kearah suara.
"Waalaikumusalaam." jawab Nek Pur, sementara Dania terperangah.
"Om Peter." sapanya pelan sambil memegangi suamianya, ah Nanta khawatir serangan panik Dania kambuh, ia menggenggam erat jemari istrinya, tangan yang satu membelai pelan punggung tangan istrinya.
"Itu suami kamu ya?" tanya Peter tersenyum, benar kata Dania, Om Peter terlihat sangat menyenangkan, tapi karena sudah diceritakan Nanta jadi sedikit waspada. Ia tersenyum pada Peter dan menganggukkan kepalanya.
"Mau bertemu saya apa Dania?" tanya Nek Pur sedikit judes.
"Bertemu Dania keponakan saya." tegas Peter. Nanta hanya menyimak sambil menerka-nerka apa tujuan Om Peter saat ini. Ia melirik istrinya yang sedikit lebih tenang, Alhamdulillah bisa menguasai rasa paniknya.
"Aku mules." bisik Dania membuat Nanta terkekeh.
"Mau ke Toilet?" tanya Nanta, Dania menganggukkan kepalanya.
"Om Peter mau disuruh masuk atau bagaimana?" tanya Nanta bingung karena Dania berlari ke Toilet, sebelumnya minta ijin dulu pada Peter.
"Kalian bicara di taman saja ya, Nenek tidak pernah menerima tamu asing." tegas Nek Pur enggan mempersilahkan Peter masuk.
"Iya saya juga tidak lama-lama." kata Peter terkekeh.
"Ya sudah Nenek masuk saja." kata Nanta tersenyum pada Nek Pur. Nek Pur meninggalkan Nanta dan Peter diluar pagar rumahnya.
"Mau ke taman sekarang?" ajak Peter.
"Tunggu Dania dulu, Om. Biar kita sama-sama kesana." kata Nanta sopan. Peter menganggukkan kepalanya setuju.