I Love You Too

I Love You Too
Matrealistis



Dania menghubungi Nanta tepat pukul tiga lewat tiga puluh menit, sore hari. Nanta yang baru saja tiba diparkiran mengangkat sambungan video di handphonenya di dalam mobil, tampak wajah Dania dan wajah wanita seusia Mama Tari dengan wajah yang tak kalah cantik.


"Assalamualaikum Tante." sapa Nanta pada Mama Dania, karena tujuannya memang ingin mengenalkan diri dan meminta restu.


"Waalaikumusalaam." jawab Mama Dania dengan senyum tipis, sementara Dania tersenyum sumringah memandangi Nanta dari layar handphonenya.


"Ini Mas Nanta yang aku ceritakan, Ma." kata Dania pada Mama, entah apa yang diceritakannya tadi. Mama Dania menganggukkan kepalanya, keningnya sedikit berkerut seperti berpikir.


"Salaam Kenal, Tante." Nanta menganggukkan kepalanya sopan.


"Salaam Kenal, Nanta. Saya Maya, mama Dania. Betul ya kamu baru seminggu kenal Dania?" tanya Mama Dania pada Nanta.


"Iya Tante." jawab Nanta singkat.


"Tante bingung deh, Dania baru kenal kamu sudah bilang mau menikah." kata Mama Dania menggelengkan kepalanya.


"Iya Tante, kalau Tante ijinkan, kami tidak mau pacaran." jawab Nanta tersenyum.


"Duh yang pacaran lama saja bisa pisah loh." kata Mama Dania sedikit gusar.


"Mama jangan samakan dengan pengalaman Mama dong." protes Dania pada Mama.


"Nanta apa kamu sudah tahu, Dania itu tidak punya Bapak." kata Maya lagi pada Nanta, Nanta menarik nafas panjang, bagaimana ya, ia kenal betul dengan Papa Dania.


"Mama aku kan punya Papa." protes Dania.


"Papa apa, cari kamu juga tidak pernah." kata Maya lagi pada Dania yang memonyongkan bibirnya, masih saja Mama bilang Papa tidak pernah cari Dania.


"Saya tahu, Tante. Dania sudah cerita." jawab Nanta lugas.


"Kamu kan juga masih kuliah, kalau kalian sudah menikah Tante akan stop kirim uang untuk Dania loh, Kamu mau kasih makan apa nanti? terus kuliah Dania bagaimana, berhenti?" cerocos Maya membuat Nanta tersenyum.


"Mama, Mas Nanta ini atlet basket nasional, dia bisa kok biayain aku, Walau kami sudah menikah aku tetap kuliah." Dania membela Nanta, pikirnya kalau Mama stop Kirim uang sudah ada Papa.


"Mama tanya Nanta, bukan kamu Dania." ketus Maya pada putrinya.


"In Syaa Allah Nanta bisa, Tante." jawab Nanta yakin, setelah pertandingan saja menikahnya, kalau menang tabungan Nanta akan bertambah, setelah pertandingan Nanta akan bekerja di restaurant Ayah, awalnya Nanta tidak memikirkan gaji, tapi kalau harus menikah dalam waktu dekat, Nanta akan minta digaji untuk menafkahi istrinya, tidak mau membebani Papa dan Mama.


"Kamu yakin penghasilan basket kamu bisa membiayai Dania?" pikiran Maya hanya uang saja, ia tidak mau Dania kesusahan setelah menikah, Maya harus memastikan Dania hidup layak jika sudah menikah nanti.


"In syaa Allah Tante." jawab Nanta tersenyum, satu hal yang Maya suka dari Nanta, terlihat tenang dan menanggapi semua ucapan Maya dengan senyum, bikin penasaran sebanyak apa uang anak ini. Kalau di London atlet sih memang terkenal banyak uangnya, mereka semua punya rumah mewah.


"Nanta, saya tidak akan minta uang dari kamu, tapi saya harus memastikan anak saya hidup layak setelah menikah dengan kamu, sebenarnya saya agak ragu karena kamu masih kuliah, lagi pula penghasilan atlet di Indonesia apa bisa diharapkan?" Maya sangat blak-blakan apa adanya, ia tidak menutupi sikapnya yang berorientasi pada uang.


"Iya Tante."


"Kamu naik mobil itu punya kamu atau pinjam orang tua?" duh risih sekali ditanya begini, kan Mobil Nanta Papa yang belikan, bukan beli sendiri.


"Saya yang pakai terus sih Tante, bukan beli sendiri, masih dibelikan orang tua." jawab Nanta tertawa, ia jujur saja deh dari pada repot.


"Tapi kalau menikah tetap kamu yang pakai kan?"


"In Syaa Allah." Nanta menganggukkan kepalanya.


"Terus nanti mau tinggal dimana setelah menikah? Kalian kos juga dirumah Nek Pur?' tanya Maya lagi.


"Belum tahu Tante, bagaimana nanti saja." Nanta mulai pasrah, jelas-jelas belum ada rumah.


"Loh yang jelas dong Nanta, pokoknya kalau kamu tidak yakin bisa menyenangkan Dania secara moril maupun materi lebih baik kamu mundur. terserah kamu mau bilang saya matrealistis tapi saya harus pastikan itu." ketus Maya pada Nanta.


"Kalau saya bisa mencukupi semua kebutuhan Dania, apa Tante merestui hubungan kami?" tanya Nanta memastikan.


"Buktikan dulu sama saya, tunjukan dimana kalian tinggal nanti, kalau perlu penghasilan kamu kasih tahu saya, kamu tidak punya hutang kan, terus kamu sehat tidak? punya penyakit bawaan?" Nanta tertawa jadinya mendengar pertanyaan Mama Dania.


"Kamu malah tertawa." Maya jadi kesal sendiri.


"Ini pertanyaan penting Dania, jangan sampai setelah menikah ternyata suami kamu punya banyak hutang, penyakitan lagi. Aduh itu mesti kamu pikirkan."


"Nanta sehat Tante, tidak punya hutang juga." jawab Nanta tertawa.


"Bagaimana cara saya biar bisa percaya kamu?"


"Tante bisa cek di internet, sepuluh atlet Indonesia berpenghasilan terbanyak, ada nama Nanta disitu." kata Nanta terpaksa memberitahu Mama Dania.


"Sebentar Tante cek dulu." beneran di cek tuh sesuai perkataan Nanta.


"Ini tahun lalu Nanta, tahun sekarang bagaimana?"


"Yang tahun sekarang beda-beda sedikit Tante."


"Naik apa turun?"


"Hahaha Nanta tidak tahu Tante." Nanta terbahak, Tante Maya ketus-ketus lucu, jujur lagi kalau dia matrealistis.


"Ya sudah, tempat tinggal yang layak siapkan dulu untuk kalian nanti, baru boleh menikah."


"Boleh ngontrak rumah dulu tidak, Tante? kalau beli khawatir jadi tidak punya tabungan. Kami perlu saving untuk biaya kuliah." Nanta meminta ijin.


"Aku juga punya saving." kata Dania cepat.


"Saving kamu jangan diganggu dong Dania, Mau ngontrak atau nyicil rumah itu tanggung jawab suami kamu. Kalau dia tidak mampu, jangan mau diajak menikah cepat." kata Maya pada Dania.


"Siap Tante, Tante sudah dulu ya, sudah mau mulai latihannya." kata Nanta pamit pada Mama Dania.


"Oh iya, Kalau sudah siap kabari saja." kata Maya pada Nanta.


"Mama keterlaluan deh." keluh Dania ketika Nanta sudah tidak bergabung lagi.


"Keterlaluan kenapa, Dania jangan naif deh, menikah itu tidak cukup dengan hanya modal cinta. Kamu realistis saja. Kalau Mama jadi kamu, Mama cari suami yang mapan, yang hidupnya tidak kusut."


"Mas Nanta mapan kok, tidak kusut juga. Dania sudah kenal semua keluarganya, bahkan Opa dan Omanya."


"Bagaimana, mereka baik sama kamu?"


"Sangat baik, kemarin Dania ke Malang difasilitasi semuanya."


"Mereka orang kaya?"


"Mana Dania tahu mereka kaya apa tidak." dengus Dania kesal.


"kalau bisa fasilitasi kamu berarti kaya dong, dapat uang saku kemarin?"


"Dapat, Ma. Tapi dari sponsor."


"Loh sponsor apa?"


"Papa Tirinya Nanta itu punya event organizer, kemarin mendatangkan pemain ice skating dari New Zealand. Dania dan teman Nanta yang lain ikut Nonton, karena ada tiket gratis mewakili tamu VIP yang berhalangan hadir."


"Oke, punya EO, lumayan mampu lah ya."


"Mama Norak deh."


"Ish belum tahu saja, kalau sudah menikah kamu itu butuh cash money bukan hanya cinta. Nanta banyak yang tapi keluarganya susah repot juga nantinya." Dania tertawa melihat Mama yang sibuk mengorek kekayaan Nanta dan keluarganya.


"Jadi Mama restui kami tidak?" tanya Dania.


"Tunggu dia bisa kasih tempat tinggal layak untuk kamu dong." duh Mama, pantas saja pisah sama Papa, pikir Dania kesal.