
Pagi-pagi sekali, supir kiriman Kenan sudah datang menjemput Nona. Padahal Nona bisa menyetir sendiri, tapi Kenan tidak mengijinkan hanya karena dua kesalahan Nona, mobil mogok karena bensin kosong lalu hampir menabrak pos satpam karena melamun memikirkan Kenan. Bisa dibayangkan kalau jadi istri Kenan, sepertinya Nona nanti tidak perlu lagi memperpanjang surat ijin mengemudinya.
Siang ini Nona menghubungi Kevin untuk membatalkan pertemuan mereka yang direncanakan sore hari. Rasanya tidak nyaman jika bertemu terburu-buru, sementara Nona harus ke rumah Papa sesuai pesan Papa kemarin.
"Ada masalah?" tanya Kevin saat Nona menghubunginya.
"Tidak, bukan masalah. Papa hanya minta aku datang kerumahnya sepulang bekerja."
"Papamu tidak ke kantor?"
"Tidak setiap hari."
"Baiklah, kabari saja kapan kita bisa bertemu."
"Pasti, thank you Vin."
"Sama-sama Nona."
Setelah menutup sambungan teleponnya, Nona kembali sibuk dengan pekerjaannya yang berkutat dengan angka-angka. Sesekali melirik handphone berharap pujaan hati menghubunginya. Harapan tinggal harapan ya, Kenan menghubungi Nona hanya tadi pagi saat mengabarkan kalau supir sudah standby didepan rumah. Setelah itu tidak lagi menghubungi menanyakan sudah makan atau apa gitu. Aku saja yang menghubungi, murahan tidak ya? pikir Nona menimbang-nimbang.
Sekian lama berpikir, maju mundur, iya tidak Maka Nona mematikan gengsinya, ia pun menghubungi Kenan dengan rasa rindunya. Inginnya ada Kenan terus disampingnya. Ah Nona sudah terperangkap pada persona Kenan, seperti yang Raymond bilang dulu.
"Saya lagi meeting." bisik Kenan saat mengangkat telepon, padahal belum dengar suara Nona. Langsung saja Nona matikan. Kecewa? sedikit. Mungkin Mas Kenan memang sangat sibuk, pantas saja tidak menghubungiku dari tadi, batin Nona.
Sepulang kantor, Nona meminta supir mengantarnya ke rumah Papa.
"Rumah Pak Baron ya Non?" tanya sang supir. Mereka langsung akrab, supir enak saja panggil nama hehehe, salahkan Baron memberi nama Nona, jadilah semua art, tukang kebun, supir dan pekerja lainnya dengan enteng memanggilnya Non. Tapi Nona tidak masalah, ia senang saja.
"Kamu kenal Papa saya?"
"Pernah disuruh Pak Kenan mengantar Pak Baron pulang saat mobilnya lagi dibengkel." jawab pak supir.
"Oh iya jadi sudah tahu alamatnya ya, jadi saya bisa tidur." jawab Nona tersenyum.
"Silahkan Nona."
Sepanjang perjalanan Nona tertidur, ia tidak mau terlalu memikirkan peristiwa semalam yang cukup menyita energinya, sekarang harus menemui Papa sudah Nona tebak pasti dalam konteks yang sama.
"Non, sudah sampai." Pak supir membangunkan Nona dengan suaranya, tidak perlu sampai digoyangkan badannya karena Nona langsung terbangun walau mata sedikit memerah.
"Bapak kalau mau pulang, pulang saja." kata Nona pada pak supir.
"Belum ada perintah dari Pak Kenan, Non." tetap ya harus ikuti arahan Kenan.
"Ya sudah terserah Bapak, coba saja hubungi Pak Kenan, kasih tahu kalau saya suruh Bapak pulang. Kasihan nanti Bapak pulangnya kemalaman, istri sudah menunggu dirumah."
"Siap Non." hanya bilang siap, karena setelah Nona masuk kedalam tetap saja mobil Kenan yang hari ini di pakai untuk mengantar dan menjemput Nona masih terparkir manis didepan rumah Baron.
"Kamu sudah datang." sambut Mita ramah.
"Papa mana, Tante?"
"Ada di dalam, sebentar Tante panggilkan." Mita meninggalkan Nona dan memanggil Baron yang masih berada dikamar.
Baron keluar kamar dengan wajah sumringah. Mita langsung menuju dapur meminta ART menyiapkan makan malam dengan menu yang sudah dimasaknya dilanjut menata meja makan.
"Ayo ke kamar kamu." katanya menarik tangan Nona menuju kamar yang memang sudah disiapkan untuk Nona. Nona mengikuti Papa sambil bertanya-tanya dalam hati.
"Bagus." jawab Nona senang.
"Mulai hari ini sampai akad nikah kamu tinggal disini." kata Papa membuat Nona terkejut.
"Aku diusir dari Paviliun?" tanyanya menduga-duga.
"Tidak, hanya saja kami sangat menjaga supaya kamu tidak bertemu dengan Kenan. Kamu harus dipingit. Tapi malam ini Papa pastikan kamu akan bertemu dengan Kenan. Sekarang istirahatlah." kata Baron pada Nona.
"Baju dan perlengkapan lainnya masih di Paviliun, Pa dan aku juga belum ijin Mama Nina."
"Mama Nina sudah tahu, Papa juga sudah siapkan segala keperluanmu di lemari. Tidak usah dipikirkan. Sekarang kamu mandi setelah itu kita makan malam bersama. Jangan lupa dandan yang cantik, Kenan akan makan malam disini." kata Baron sambil terkekeh.
"Papa setuju aku menikah Minggu depan?"
"Kenapa tidak? ini yang Papa harapkan."
"Deni dan Samuel belum tahu. Aku belum sempat cerita."
"Sebentar lagi mereka sampai, kamu bisa cerita sepuasnya." jawab Papa terkekeh meninggalkan Nona dikamarnya.
"Deni dan Samuel ada seminar lagi?" tanya Nona sedikit berteriak karena Papa sudah menjauh.
"Hmmm." hanya itu jawaban Papa, Nona segera menutup pintu kamarnya dan memeriksa isi lemari, apa benar sudah Papa siapkan. Ternyata Papa tidak bohong, lemari penuh dengan baju kerja, baju pergi, baju rumah seperti isi lemari Nona di Cirebon, pakaian dalam pun sudah lengkap.
Nona menuju meja rias kemudian tersenyum, karena kosmetik, body lotion, parfume dan lainnya tersusun dengan rapi sesuai merk yang Nona pakai selama ini. Beralih ke kamar Mandi, semua kebutuhan pun tersedia sesuai merk yang biasa Nona pakai. Papa memang juara. Hmm... Tante Mita juga juara, Nona kembali mengakui keunggulan Ibu sambungnya.
"Nona, sudah siap?" Tante Minta mengetuk kamar Nona. Sedari tadi Nona tidak keluar kamar, menikmati kamarnya secara keseluruhan membuatnya nyaman dan betah berlama-lama di dalamnya. Nona membuka pintu kamar, ia baru saja selesai mandi, wajahnya tampak segar tapi sedikit pucat karena terlalu lama berendam.
"Nona ganti baju dulu, Tante. Mas Kenan sudah datang?" tanya Nona ingin tahu.
"Belum, sepertinya agak terlambat, kamu ditunggu di meja makan ya. Sekarang!" tegas Tante Mita tanpa menghilangkan kesan ramahnya.
"Iya Tante."
Nona segera berganti pakaian, dandan tipis-tipis setelah bercermin dan cukup puas dengan tampilannya, Nona segera keluar kamar menuju meja makan. Bertepatan dengan bunyi pintu ruang tamu dibuka. Pasti Mas Kenan pikirnya, ia segera berlari kedepan mengejar sosok yang dirindukannya padahal baru semalam bertemu. Benar saja Kenan yang datang, langsung saja Nona tersenyum lebar menyambut Kenan.
"Cantik betul sih." bisik Kenan ingin mengecup Pipi Nona rasanya, tapi ingat tadi malam sudah disemprot Mama, jadi Kenan menahan diri saja.
"Gombal." senyum Nona sekarang agak merona, dipuji Kenan bikin Nona melambung, padahal sudah banyak yang bilang Nona cantik dari dulu.
"Ramai ya di dalam?" tanya Kenan sambil berjalan beriringan menuju meja makan.
"Hanya Papa dan Tante Mita." jawab Nona kemudian terperangah begitu tiba di ruang makan karena keluarga Kenan ikut berkumpul dengan Papa dan Tante Mita.
"Aku kira tidak ada yang lain." bisiknya menatap Kenan yang tampak santai melihat kehadiran Mama Nina, Papa Dwi berikut Bang Eja beserta istri dan anak menantunya.
"Surprise." teriak Raymond sambil mentertawakan Nona yang tampak pongo.
"Iya surprise sangat." kata Nona akhirnya ikut tertawa dan menyalami calon mertuanya berikut semua yang ada disana.
"Kamu ditunggu dimeja makan malah menyambut Kenan di depan." protes Mama Nina pada Nona.
"Aku kira tamunya hanya Mas Kenan, Ma. Papa dan Tante Mita tidak bilang sama aku." kata Nona membela diri tapi sambil cengar-cengir.
"Iya memang sengaja tidak bilang-bilang." kekeh Mama Nina yang sudah tidak terlihat galaknya. Nona langsung duduk mengambil posisi didekat Roma yang kebetulan kosong, disusul Kenan duduk disebelah Nona.