I Love You Too

I Love You Too
Setia



"Kata Bunda terima kasih dendengnya, enak, sampaikan pada Nenek ya." kata Nanta pada Dania via telepon.


"Alhamdulillah suka ya. Nanti aku sampaikan." jawab Dania tertawa senang.


"Suka sekali, malah mau dibawa ke Malang, biar keluarga di Malang ikut makan." jawab Nanta jujur.


"Mas Nanta, mana cukup kalau untuk di bawa ke Malang, Biar kubawakan lagi aku ada kuliah besok." Dania menawarkan.


"Tidak usah, itu cukup kok. Lagi pula Papaku makan daging hanya sesekali." jawab Nanta teringat Papa. Entah kali keberapa Nanta menyebut Papaku pada Dania, sungguh membuat Dania iri.


"Enak sekali sih punya Papa." kata Dania kemudian.


"Kamu juga punya kan?" tanya Nanta tanpa dosa.


"Punya, tapi tidak ingat aku." kata Dania sedih.


"Karena kamu tidak mendekat. Mana ada Papa yang tidak ingat anaknya." kata Nanta pada Dania.


"Ada Mas Nanta, itu banyak sekali." jawab Dania tegas.


"Kamu sudah berapa lama sih tidak bertemu Papamu?" tanya Nanta ingin tahu.


"Sejak Mama dan Papa pisah." jawabnya jujur.


"Tapi tahu tinggal dimana?" tanya Nanta lagi.


"Tahu lah."


"Ya datangi saja, apa susahnya. Sekedar muncul menunjukkan diri, ini loh Pa, anakmu sudah gadis." kata Nanta terkekeh.


"Mas Nanta, kamu tidak merasakan sih orang tua yang bercerai." suara Dania lirih terdengar.


"Kata siapa? Nanta terkekeh.


"Butuh proses sih untuk kembali dekat, tapi setidaknya kalau kamu lihat Papamu sehat dan bahagia, itu sudah cukup, terlepas dia perhatikan kamu apa tidak, aku dulu begitu, benci sekali sama Papaku." kata Nanta kemudian.


"Hmm... pengalaman kamu seperti itu?"


"Iya Papa dan Mamaku juga bercerai, sekarang sudah punya keluarga masing-masing dan bahagia, kamu tahu mereka sangat akur, sudah seperti keluarga saja, kami sering berkumpul." jawab Nanta tersenyum walau Dania tidak melihatnya.


"Bagaimana ceritanya?" tanya Dania tertarik.


"Ah Panjang kalau diceritakan." jawab Nanta terkekeh.


"Aku penasaran, bagaimana bisa akur? mungkin mereka pisah baik-baik." tebak Dania.


"Kalau baik-baik tidak akan berpisah." Nanta tertawa jadinya.


"Mama kamu selingkuh atau Papa kamu yang selingkuh?" tanya Dania polos.


"Enak saja, Mama dan Papa aku setia." Nanta protes, Dania pun tertawa.


"Jadi bagaimana ceritanya, aku penasaran." desak Dania pada Nanta.


"Tidak usahlah, yang penting kami bahagia." jawab Nanta tertawa.


"Aku juga mau bahagia, Mas Nanta." kata Dania polos. Sebenarnya ada lagi yang Nanta heran, Dania yang besar di London, memanggil Nanta dengan sopannya, apa karena mereka bertemu di Kota Malang ya, pikir Nanta.


"Kalau bersyukur kita pasti bahagia." jawab Nanta tertawa.


"Menurut kamu aku tidak bersyukur ya?" dengus Dania kesal.


"Bukan begitu ish, kamu ternyata sensitif." Nanta kembali tertawa.


"Benci pasti ada sebabnya, aku bahkan menghindari Papa terus dulu, malas bicara, malas bertemu, namanya juga benci kan? Sampai satu waktu Papaku kecelakaan saja aku masih belum mau bertemu, saat Abang aku Kirim foto kondisi Papa, aku sadar ternyata aku tidak sanggup melihat Papa kesakitan, tidak sanggup juga kalau kehilangan Papa, aku selalu berdoa semoga Papaku sehat, Panjang Umur dan juga Bahagia, malah sekarang aku tinggal sama Papa. Lucu loh." Nanta akhirnya bercerita apa yang ia rasakan dulu.


"Bisa begitu ya, bersyukur dikasih kesempatan ya berbaikan dengan Papa."


"Kamu juga semoga bisa berbaikan dengan Papa kamu dan keluarganya. Dania, sudah dulu ya aku mau bobo, besok pagi ada quiz. Jangan lupa sampaikan pada Nenek terima kasih." kata Nanta.


"Oke Mas Nanta, terima kasih sudah sharing. Nanti saat aku siap mau ya temani aku temui Papaku." pinta Dania pada Nanta.


"Boleh, bilang saja kapan kamu siap." jawab Nanta, akhirnya ia benar-benar menutup sambungan teleponnya, setelah sholat Isha kemudian langsung saja pulas, tidak lagi memikirkan quiz besok.


Esok harinya Nanta terbangun menjelang sholat shubuh, sebelum Ayah mengetuk pintu kamarnya, Nanta langsung bersiap mandi karena sebentar lagi Ayah pasti mengajaknya ke Mesjid.


Benar saja, saat Nanta selesai mandi dan memakai bajunya, terdengar suara Ayah memanggil Nanta.


"Sebentar, Ayah." teriak Nanta dari dalam kamar.


"Ayo." ajak Ayah saat Nanta keluar kamar. Papa Andi dan Popo Erwin rupanya sudah menunggu Ayah diteras rumah.


"Kamu menginap?" tanya Popo saat melihat Nanta berjalan mengikuti Ayah dari belakang.


"Iya Popo, dirumah sepi." jawab Nanta tersenyum menyalami Papa Andi dan Popo Erwin.


"Kemarin Wilma makan Pepes dimana? heboh sekali bilang sama Ame kalau itu Pepes terenak yang pernah dia makan." tanya Erwin pada Nanta saat dalam perjalanan menuju mesjid.


"Di Rumah Ando Sahabatku." jawab Nanta tertawa mengingat Wilma.


"Kok bisa dia makan di rumah sahabat kamu?" tanya Andi pada Nanta.


"Kan aku kalau jemput Wilma selalu sama Ando, terus antar Ando pulang, kadang kita disuruh makan dulu sama Mama Ando. Nah kemarin, Wilma yang minta makan disana kebetulan Tante beli Pepes." jawab Nanta bercerita detail.


"Pesan Nan, Papa Andi mau kalau enak." kata Andi pada Nanta.


"Iya Pa, Nanti aku bilang Ando." jawab Nanta kembali tertawa, Wilma sukses mempromosikan Pepes terenak yang pernah dia makan, entah Mama Ando beli dimana.


"Dendeng juga boleh tuh kamu pesan buat Papa Andi. Maklum Mama Pipit tidak boleh kedapur." kata Ayah pada Nanta.


"Kalau dendeng Nenek yang bikin, aku tanya dulu dia terima pesanan apa tidak." Nanta terus saja tersenyum, ada saja cara untuk menghubungi Dania dan juga selalu ada cara untuk direpoti Wilma. Kenapa jadi ingat mereka berdua, Nanta kembali senyum sendiri.


"Semester depan, Nanta mulai dikasih pekerjaan di Warung Elite ya friend." kata Reza pada sahabatnya.


"Serius Nan? bisa tambah ramai restaurant kita." kata Andi terkekeh.


"Warung Elite selalu ada Idola disetiap generasi rupanya." kata Erwin teringat masa lalu. Arkana dan Steve pun sempat menjadi Idola Warung Elite.


"Iya Papa, nanti ajari Nanta." pintanya sopan pada Papa Andi.


"Tenang, datang saja setiap pulang kuliah disaat senggang, nanti kita yang standby akan didik kamu sampai jadi." kata Andi semangat, Reza tersenyum bahagia, banyak yang akan mengajari Nanta.


Mereka tiba di Mesjid, belum adzan tapi sudah banyak yang berdatangan, senang sekali banyak yang beribadah tepat waktu dan di mesjid pula. Kebanyakan laki-laki karena memang laki-laki. yang wajib sholat lima waktu dimesjid, sementara perempuan ada beberapa yang hadir, mungkin yang rumahnya dekat atau yang lewat karena harus berangkat sebelum shubuh menuju kantornya.


"Nan kalau kamu bisa mengikuti apa yang kami ajarkan, bisa nikah muda kamu." bisik Erwin pada Nanta saat mereka selesai sholat shubuh.


"Popo bisa saja." Nanta jadi tersenyum malu, bisa-bisanya Popo membahas menikah muda pada Nanta, mungkin teringat masa lalu saat menikah dengan Ame, pikir Nanta kemudian tersenyum lebar.


"Sudah ada calonnya? jadi sama Wilma?" tanya Erwin lagi masih berbisik tapi seperti mendesak.


"Terserah Allah saja Popo, nanti jadinya sama siapa." jawab Nanta terkekeh.


"Ish diapakan anak gue?" tanya Reza curiga melihat Erwin dan Nanta bisik-bisik.


"Ada deh." jawab Erwin tersenyum jahil mengacak anak rambut Nanta.