I Love You Too

I Love You Too
Pemusatan Pelatihan



"Bulan depan aku dan Tim Basketku ke Amerika Om, pemusatan latihan selama sebulan lebih. Persiapan menghadapi Asia Cup tahun depan." jawab Nanta pada Micko.


"Lama sekali di Amerika." keluh Micko menghela nafas.


"Apa boleh menikah sebelum ke Amerika?" tanya Micko kemudian.


"Tapi, kami juga belum dapat restu dari Tante Maya, Om. Aku harus buktikan jika aku dapat memberikan fasilitas layak untuk Dania." Nanta menjelaskan.


"Itu gampang Nan, Om bisa berikan fasilitas itu."


"Maaf Om, boleh ya tidak difasilitasi, Nanta bisa." tegas Nanta tak ingin dibantu.


"Om tahu kamu bisa, Boy. Tapi Dania masih kuliah dan itu masih tanggung jawab Om."


"Oh kalau itu silahkan saja, tapi untuk tempat tinggal yang diminta Tante Maya, sementara sampai lulus kami tinggal di rumah Papa, itu maunya Mamon. Kalau aku berpikir untuk kontrak rumah sampai aku mampu beli sendiri tanpa kredit." Nanta tampak menerawang.


"Tante Maya tidak masalah mau kredit atau ngontrak yang penting Dania terfasilitasi." Nanta nyengir lebar, hingga gigi putihnya berderet rapi terlihat sempurna menghias wajahnya.


"Apa yang bisa Om bantu?" tanya Micko pada Nanta.


"Doa saja Om, supaya semua berjalan lancar, menikah setelah pertandingan tahun depan bagaimana Om?" tanya Nanta minta pendapat Om Micko.


"Terlalu lama, situasi darurat. Om khawatir Peter saudara tiri Om, mengetahui Om dan Dania sudah bertemu dan sedekat ini." Micko menyampaikan alasannya.


"Kalau kami menikah, bagaimana nanti Om, Tante Maya pasti akan datang kan?" tanya Nanta menyampaikan ke khawatirannya.


"Om bisa atur agar Maya tidak kembali Ke Indonesia, pastikan dulu waktu kalian menikah kapan." Nanta menoleh pada Dania yang tampak menyender di sofa, menyimak percakapan Nanta dengan Papanya.


"Kamu siap menikah denganku?" tanya Nanta.


"Siap." jawab Dania pasti.


"Yang seperti Tante Maya bilang, yang pacaran lama saja bisa pisah loh, pernikahan bukan untuk main-main." tegas Nanta pada Dania.


"Iya."


"Aku juga akan sering ke luar kota atau luar negeri dalam waktu lama, seperti bulan depan, kamu akan kutinggal sebulan, apa tidak masalah?" tanya Nanta lagi.


"Apa sering begitu?"


"Pasti ada dalam beberapa tahun atau bahkan dalam beberapa bulan." jelas Nanta lagi pada Dania.


"Apa kamu akan terus aktif di dunia basket, Boy?" Micko malah bertanya, padahal Dania belum menjawab pertanyaan Nanta.


"Inginku seperti itu Om, berhenti dalam batas usia maksimal." jawab Nanta tegas.


"Bagaimana perusahaan keluargamu? Restaurant Ayah? semua menunggu kamu." tanya Om Micko.


"Aku masih berpikir agar bisa menjalani semuanya Om."


"Pada akhirnya nanti pasti ada yang harus dikorbankan." Micko tersenyum pada Nanta.


"Om tidak akan mengintervensi kamu, pilihan semua ada padamu, Boy." kata Micko lagi.


"Kamu Dania, betul yang Nanta bilang, apa siap dengan aktifitas suamimu ini? Semua sudah berjalan jauh sebelum Nanta mengenal kamu. Papa tidak mau kamu merusak mimpi Nanta." kata Micko pada putrinya. Dania tampak berpikir, maunya Nanta ada terus didekatnya.


"Maaf aku belum bisa meninggalkan dunia basket." kata Nanta melihat Dania tampak ragu.


"Iya, aku terima." jawab Dania akhirnya.


"Papa, apa kami akan menjalankan pernikahan seperti yang Papa bilang, Ijab Kabul dulu tapi masih pisah kamar sampai kami lulus kuliah?" tanya Dania pada Om Micko.


"Hahaha kalau itu Kalian bicarakan saja nanti, kalian yang menjalankan, Papa hanya memberi opsi, kalau kalian takut punya anak sebelum lulus kuliah, itu bisa menjadi pilihan." jawab Micko menyeringai.


"Kalau masalah menunda kehamilan juga ada cara lain." kata Micko lagi terkekeh.


"Kalau Nek Pur minta kami tetap tinggal di rumah Nek Pur, bagaimana Pa? Nek Pur sendiri, kasihan juga." kata Dania kemudian, teringat Nek Pur.


"Nah bagaimana itu, Nan. Sementara Nona mau kalian tinggal bersama mereka." kata Micko pada Nanta.


"Hmmm... aku juga bingung Om, ini sih akibat menikah dini, jadi masih dianggap anak kecil kan kami." kata Nanta terkekeh.


"Anak sampai tua tetap saja diperlakukan seperti anak kecil, kamu lihat saja nanti." Micko tertawa sendiri jadinya.


"Kalian menikah saja dulu diam-diam, internal keluarga saja, public tidak perlu tahu dulu, karena kalian masih kuliah juga kan." kata Micko pada keduanya.


"Tidak masalah sih, jika publik tahu, hanya saja aku harus diskusikan dengan pengurus dulu, apa ada ketentuan-ketentuan yang aku tidak tahu, supaya tidak jadi masalah dikemudian hari." kata Nanta pada Micko, betul juga yang Nanta bilang, banyak hal yang harus dipertimbangkan jika ia harus menikah dalam waktu dekat.


"Berat sekali pembahasannya." Kenan tiba-tiba muncul diruangan Micko.


"Cepat sekali, lancar ya urusan disana?" tanya Micko pada Kenan yang baru saja kembali dari luar kota.


"Disana hanya pembukaan saja, terus kembali lagi ke Jakarta, lebih lama diperjalanan." Kenan terkekeh.


"Anak lu mau ke Amrik nih bulan depan." kata Micko pada Kenan.


"Jadi, Boy?"


"Jadi Pa, tadi surat resminya baru keluar." jawab Nanta pada Papa.


"Sebelum ke Amrik ya, mereka menikah?" kata Micko pada Kenan.


"Bagaimana Boy? secepat itu?"


"Restu belum keluar, Pa. Mana bisa diburu-buru." jawab Nanta terkekeh.


"Itu kan tinggal menunjukkan tempat tinggal layak saja. Kamar kamu cukup layak kan?" kata Kenan ikut terkekeh.


"Papa siap aku menikah muda? jadi ingat percakapan waktu aku test drive sama Papa, pernikahan dini. Dan ini akan terjadi." Nanta menatap Papa tajam.


"Kamu jangan tanya Papa siap atau tidak, jujur saja Papa gamang." kata Kenan menghela nafas.


"Yang penting kamu dan Dania siap Boy, menikah karena Allah ingat, jangan karena Dania cantik atau Nanta tampan. Semua itu bisa luntur saat sudah tua." Micko mengingatkan keduanya.


"Iya, semua harus karena Allah." kata Kenan menganggukkan kepalanya.


"Aku kabarkan setelah mendapat persetujuan dari pembina ya Om." kata Nanta pada Micko.


"Apa perlu Om yang maju?" tanya Micko, Kenan langsung saja meninju bahu Micko pelan.


"***** kali Abang nih." kata Kenan terbahak.


"Elu pasti mengerti, kenapa gue push Nanta begini." kata Micko membuat Kenan menganggukkan kepalanya.


"Maaf, Om egois Nanta, memikirkan kondisi keluarga Om saja, sampai lupa memikirkan kondisi kamu." kata Micko akhirnya sadar sendiri.


"Iya Om, Nanta mengerti."


"Kalau memang harus diundur sampai kalian lulus, dengan berat hati Om terima." kata Micko menghela nafas.


"Tapi selama itu gue kebat kebit memikirkan Dania." kata Micko kemudian.


"Apa yang Papa khawatirkan tentang aku?" tanya Dania.


"Kita akan terpisah lagi jika mereka tahu kamu sedekat ini dengan Papa, mereka punya berjuta cara seperti mereka bisa memisahkan Mama dan Papa dulu." kata Micko tersenyum miris.


"Dan lagi ternyata kamu punya serangan panik, itu yang jadi pertimbangan berikutnya." Micko menghela nafas panjang.


"Yang bikin kesalnya itu, Nanta yang bisa menenangkan kamu, senyaman itu kamu sama Nanta ya?" Micko tertawa kemudian menggelengkan kepalanya.