I Love You Too

I Love You Too
Laptop



"Sudah di rumah Boy?" tanya Kenan pada Nanta melalui telepon.


"Sudah Pa, tadi makan dulu sama Om Micko begitu sampai rumah, jadi tidak dengar telepon Papa." jawab Nanta, ini kedua kali Kenan menghubunginya. Papa masih saja perhatian, pikir Nanta tersenyum senang.


"Syukurlah, sekarang sudah dikamar?" tanya Kenan lagi.


"Iya sudah, mau mandi dulu baru tidur." jawab Nanta sesuai kebiasaannya.


"Ya sudah, salam untuk Dania. Papa hanya memastikan kamu sudah sampai dirumah." kata Kenan menutup sambungan teleponnya.


Nanta tersenyum memandang istrinya yang sudah menggunakan setelan piyama tangan pendek dan celana pendeknya. Sudah pernah Nanta lihat sebelumnya Dania berpakaian begitu dengan motif yang berbeda saat mereka menginap di Malang.


"Salam dari Papa." katanya pada Dania, kemudian kembali mengangkat teleponnya yang berdering kali ini dari Raymond.


"Iya Bang."


"Jangan lupa lihat tutorial." Raymond mengingatkan.


"Oh iya, nanti aku ambil laptopku dulu di mobil." jawab Nanta, ia lupa menurunkan laptopnya yang tadi sengaja betul dibawakan Raymond agar Nanta dan Dania bisa melihat tutorial yang Raymond kirim.


"Kenapa?" tanya Dania saat Nanta menutup sambungan teleponnya.


"Aku ambil laptopku dulu di mobil, Bang Ray suruh kita lihat bersama tutorial setelah menikah." jawab Nanta.


"Harus malam ini? aku sudah ngantuk." kata Dania dengan mata yang memang sedikit memerah, sudah pukul sebelas lewat empat puluh menit, pantas saja Dania mengantuk.


"Oh ya sudah besok saja ya. Tapi kamu jangan tidur dulu boleh ya? Kita harus sholat sunah dua rakaat dulu, terus aku baca ini." Nanta menunjukkan doa yang tadi Pak Jaya kirimkan. Dania menganggukkan kepalanya.


"Mas Nanta sudah sholat isha?" tanya Dania.


"Sudah, tadi." jawab Nanta.


"Mau langsung sholat sekarang atau bagaimana?" tanya Dania lagi.


"Mandi sebentar ya, bisa tahan kantuknya tidak? sebentar, paling lima menit." kata Nanta.


"Iya." jawab Dania. Ia menunggu Nanta mandi sambil menghubungi Mamanya, tapi seperti yang Mama bilang di rumah Oma Farah, orang tua Jack memang sulit signal, Mama tidak aktif handphonenya.


Dania mau jujur saja pada Mama, bahwa ia sudah bertemu Micko dan berkumpul bersama keluarganya, Dania tidak mau berbohong. Bukannya Mama bilang kalau sudah menikah bertemu Papa tidak apa. Sekarang Dania sudah menikah.


Tidak sampai Lima menit, Nanta sudah keluar dari kamar mandi, sepertinya sudah berwudhu, wajahnya tampak lebih segar dan wangi juga. Dania suka wangi suaminya.


"Sana ambil wudhu." kata Nanta pada istrinya.


Dania segera beranjak dari tempat tidur menuju kekamar mandi. Kemudian mereka melakukan ritual yang disarankan oleh Pak Jaya. Nanta berdoa sambil memegang ubun-ubun Dania setelah mereka sholat. Setelahnya Dania menyalami dan mencium tangan suaminya. Dibalas Nanta dengan mencium dahi dan kedua pipi Dania. Ia belum berani lebih dari itu walaupun sudah halal. Dania tampak malu-malu, keduanya jadi salah tingkah.


"Tadi kata Pak Jaya kita harus ngobrol lebih banyak, karena kita belum lama kenal." kata Nanta pada Dania setelah mereka berbaring di ranjang agak berjarak tapi tidak dibatasi guling.


"Ngobrol apa?" tanya Dania sambil menatap langit-langit kamarnya, ia betul-betul salah tingkah dari tadi, apa lagi Papa memberikan resep minuman yang harus Dania dan Nanta minum, ternyata supaya cepat punya anak, entah benar apa tidak.


"Apa ya? hmmm..." Nanta sedikit berpikir.


"Hobby... kamu hobby nya apa?" tanya Nanta.


"Traveling." jawab Dania terkekeh.


"Itu sih aku sudah tahu." Nanta ikut terkekeh.


"Sama cashless, iya kan." kata Nanta lagi, ingat tragedi uang cash yang membuat mereka berkenalan.


"Ih, iya." jawab Dania masih menatap langit-langit, Nanta juga dengan posisi yang sama tidur telentang tapi kepalanya sesekali mengarah pada Dania.


"Tapi, mulai sekarang setidaknya siapkan beberapa lembar di dompet, jangan terlalu kosong, bersiap jika mesin di kasir rusak atau mereka tidak terima debit seperti waktu dibandara." Nanta mengingatkan.


"Mas Nanta, makanan kesukaannya apa, kata Papa besok aku belajar menyiapkan sarapan untuk Mas Nanta. Aku bilang Mas Nanta sarapannya jus. Apa ada sarapan selain itu?" tanya Dania.


"Tidak, kalau repot bikin jus, buah potong saja cukup." jawab Nanta.


"Kamu juga ya, sarapan seperti aku." ajak Nanta pada Dania.


"Iya, dengan catatan tidak ada makanan lain yang menarik." Dania terkekeh Nanta jadi tertawa.


"Apa hasil pemeriksaan kamu kemarin sudah keluar? selanjutnya bagaimana pengobatannya?" tanya Nanta teringat Dania yang beberapa hari lalu kedokter psikiater.


"Sudah, semua sehat. Tinggal terapi saja." jawab Dania.


"Harus sehat ya, aku mau pergi jauh soalnya. Tidak bisa temani kamu terapi." pesan Nanta pada Dania.


"Hu uh." mulai mengantuk berat.


"Sudah mau tidur?" tanya Nanta mendengar suara Dania yang mulai berat.


"Hmm..." Dania menatap Nanta dengan mata sayu, Nanta terkekeh, rupanya ia sudah berubah posisi dengan badan menyamping mengarah pada Dania.


"Tangan." Nanta meminta tangan istrinya.


Dania mengulurkan tangannya pada Nanta. Langsung saja Nanta menggenggam tangan istrinya dan meletakkan di dadanya, ia pun sudah mengantuk. Tidak lama mereka tertidur pulas dengan saling bergenggaman tangan.


Menjelang shubuh Nanta terbangun dan hampir melompat kaget karena posisi tidurnya dengan Dania begitu dekat, entah siapa yang memulai, wajah Dania sudah menempel didadanya. Meskipun mereka tidak berpelukan tapi ini dekat sekali, Nanta jadi salah tingkah, untung saja Dania masih pulas. Ingin sekali mencium Dania tapi takut Dania terbangun, lagi pula Nanta belum mandi.


Pelan-pelan Nanta beranjak menuju kamar mandi, ia harus bersiap sholat shubuh. Pertama kali tidur dirumah Om Micko, mesjid agak jauh saat Sholat jumat kemarin. Jadi harus berangkat lebih cepat dibandingkan dirumah Papa.


"Mas Nanta mau kemana? katanya libur." tanya Dania yang terbangun saat melihat Nanta sudah rapi.


"Ke Mesjid kan tidak libur." jawab Nanta terkekeh, Dania jadi ikut tertawa ia lupa jika laki-laki harus sholat di Mesjid.


"Aku antar kebawah." kata Dania pada suaminya, ia bangun perlahan dari tidurnya. Duduk dikasur sedikit melamun.


"Hei kenapa?" tanya Nanta mendekat. Ia khawatir kalau Dania sudah terbengong begitu.


"Dania..." Nanta segera berjongkok memandangi wajah istrinya.


"Hmmm..." Dania terkejut melihat wajah Nanta begitu dekat dihadapannya.


"Aku kira kamu kenapa, kaget aku." Nanta terbahak.


"Aku kenapa?" tanya Dania.


"Kamu melamun, aku takut panikmu kumat." kata Nanta.


"Ish penghinaan." dengus Dania tersenyum.


"Bukan begitu, kenapa melamun?" tanya Nanta ingin tahu.


"Seperti mimpi saja bangun, lihat Mas Nanta disini." Dania tersenyum.


"Kaget?" tanya Nanta, Dania menganggukkan kepalanya.


"Aku juga tadi begitu." Nanta terkekeh.


"Ayo bangun. Katanya mau antar kebawah." kata Nanta pada Dania. Ia mengulurkan tangannya bersiap membantu Dania bangun dari kasur. Dania menyambut uluran tangan suaminya, ah entah tarikan Nanta yang terlalu kencang atau badan Dania terlalu lemah hingga badan mereka menempel dan wajah Dania kembali bersandar di dada suaminya.


"Aduh..." gumam Dania jantungnya berdebar keras.


"Hehehe minta dipeluk ya." kata Nanta mengajak Dania bercanda padahal ia sendiri salah tingkah, tapi tetap memeluk Dania yang sekarang tangannya ikut mendekap punggung Nanta karena takut terjatuh. Jantung keduanya berdebar cepat dan mereka dapat merasakan itu.